Permainan Bulan Desember, Mira W. | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (4)
![]() |
| Membaca novel Mira W. waktu itu untuk dinikmati dan diemulasi (emulate). Ist. |
Jujur. Novel ini telah menyihir saya. Belum TAMAT belum hendak berhenti membacanya.
Anehnya, tiap kali membaca novel Mira W., seolah-olah saya pelakunya. Dalam bayangan, atau satu dua hal pengalaman meski lebih banyak imajinasi dan fiksi. Novel. Begitulah cara bekerjanya.
Fenomena ini membuktikan bahwa sihir fiksi itu memang ajaib. Ketika sebuah narasi ditulis dengan kuat, garis batas antara realitas dan lembar-lembar kertas mendadak hilang.
Sihir fiksi itu memang ajaib. Ketika sebuah narasi ditulis dengan kuat, garis batas antara realitas dan lembar-lembar kertas mendadak hilang.
Membaca novel Mira W., terutama ketegangan emosional dalam Permainan Bulan Desember (terbit 1979, ekranisasi ke film 1980) sering kali memicu sensasi magis. Ada alasan psikologis. Mengapa imajinasi pembaca langsung "menceburkan" diri ke dalam cerita dan menjadikan kita seakan-akan pelaku utamanya.
Baca Ali Topan Anak Jalanan| Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (3)
Dalam dunia kepenulisan, fenomena ini disebut narrative transportation. Mira W. adalah maestro dalam membangun ketegangan batin. Tulisannya mengalir lincah. Tanpa basa-basi, gaya bahasanya langsung menyeret kesadaran pembaca masuk ke dalam ruang cerita. Anda tidak lagi hanya berdiri di luar sebagai penonton. Pembaca larut, turut merasakan detak jantung tokohnya, menghirup udara di sana, dan memikul dilema mereka yang berat.
Mengapa rasanya mirip pengalaman pribadi? Jawabannya sederhana: karena fiksi yang baik selalu berakar pada kebenaran emosional manusia. Anda mungkin belum pernah berada di posisi ekstrem para tokoh di buku itu. Namun, Anda pasti pernah merindukan seseorang, menghadapi kebuntuan pilihan, atau merasakan rasa bersalah yang mendalam. Kemiripan rasa itulah yang ditarik oleh imajinasi Anda. Semua itu lalu dijahit bersama plot novel hingga menciptakan ilusi kuat bahwa "ini adalah kisahku."
Baca The Joy of Not Working | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (2)
Membaca novel yang belum tamat memberikan kenikmatan tersendiri. Otak kita langsung mengaktifkan mode kreatif tingkat tinggi karena ceritanya belum selesai. Di sinilah letak kekuatan utama fiksi dibanding film. Buku menyisakan ruang kosong yang sangat luas untuk diisi oleh proyeksi diri, fantasi, dan tebakan-tebakan liar kita.
Membaca dengan keterlibatan emosional sedalam ini adalah sebuah kemewahan batin. Hal ini membuktikan bahwa karya tersebut tidak hanya dibaca oleh mata, tetapi sedang didekap erat oleh jiwa. Ada keinginan untuk membacanya perlahan. Menikmati setiap jengkal petualangan imajiner yang kini sedang menari-nari di kepala.
SINOPSIS
Novel ini mengisahkan tentang dinamika batin yang pelik antara cinta, pengabdian religius, dan masa lalu yang kelam.
Cerita berpusat pada Yosi (Yosephine), seorang gadis yang memilih jalan hidup untuk mengabdi sebagai biarawati. Ia digambarkan sebagai sosok suci, teguh pada panggilannya, dan penuh kasih.
Di sisi lain, hadir Anton Rio Turangga, seorang pemuda berandal dengan latar belakang hidup yang keras, suram, dan penuh gejolak. Anton jatuh hati secara mendalam kepada Yosi. Bagi Anton, perjumpaannya dengan Yosi dan segala situasi yang terjadi di sepanjang bulan Desember menjadi sebuah "permainan" emosional yang mengasyikkan sekaligus berbahaya bagi masa depannya.
Anton mencoba menggoyahkan keyakinan Yosi dengan berbagai cara. Ia mempertanyakan keputusan Yosi untuk menjadi biarawati dan melontarkan pernyataan penuh emosi:
"Buat apa jadi biarawati, Yos? Biarawati sudah banyak. Semua perempuan bisa jadi biarawati. Tapi hanya seorang gadis yang dapat menjadi istriku!"
Namun, Yosi tetap bergeming pada prinsip panggilannya:
"Tuhan telah memanggilku, Anton. Dia datang lebih dulu darimu... Tuhan tak pernah keliru, Anton. Kesalahanku yang pertama adalah membiarkanmu jatuh cinta padaku."
Konflik semakin dalam ketika Anton terus mendesak Yosi dengan logika manusiawi dan rasa cintanya yang besar, mempertanyakan bagaimana bisa seorang wanita memilih jalan rohani sementara pria yang paling mencintainya merasa hancur. Di balik hubungan yang tampak kontras antara si "berandal" dan "biarawati" ini, novel menyuguhkan pergulatan batin tentang takdir, batas antara cinta manusia dan cinta kepada Tuhan, serta bagaimana masa lalu seseorang dapat diuji oleh kehadiran cinta yang tulus.
Cetak-biru kepenulisan dari lembar Mira W.
Saya memamah-biak novel ini taun 1984.
Membaca karya seorang maestro memang menjadi kelas menulis yang paling bertenaga. Lewat Permainan Bulan Desember. Sang pengarang, Mira W. secara tidak langsung membagikan cetak biru kepenulisan yang sangat mahal bagi siapa saja yang ingin mendalami seni merangkai cerita.
Baca First Things First| Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (1)
Mira W. tidak pernah membuang waktu pembaca dengan deskripsi latar yang bertele-tele. Caranya membuka novel langsung melempar kita ke tengah pusaran situasi. Tokoh utama langsung diperkenalkan lewat kontras atau tindakan yang memicu rasa ingin tahu. Pola in media res ini mengikat perhatian pembaca sejak kalimat pertama. Kita dipaksa bertaruh pada nasib tokoh tersebut.
Kekuatan pembukaan itu ditopang oleh pembangunan watak yang sangat kokoh. Tokoh dibentuk bukan lewat daftar sifat, melainkan melalui dialog yang tajam dan pilihan hidup mereka. Karakter yang kuat selalu memiliki pertentangan batin yang jelas. Karakter ciptaan Mira yang ternyata seorang dokter memiliki ruang abu-abu yang manusiawi. Ruang inilah yang membuat pembaca merasa mengenali mereka dalam kehidupan nyata.
Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Konflik dalam novel ini tidak pernah bergerak datar. Beliau sangat mahir menyusun benturan kepentingan antartokoh. Setiap bab menaikkan tensi sedikit demi sedikit, layaknya tangga yang menuju puncak. Mira menaruh teka-teki kecil di sepanjang jalan cerita. Hal ini membuat pembaca terus membalik halaman tanpa sadar, terjebak dalam rasa penasaran yang pekat.
Baca Justina Hendry| Proses Kreatif Menulis dan Menerbitkan Biografi Rasa Novel
Ketika cerita harus berakhir, trik menutup novel yang beliau gunakan meninggalkan gema yang panjang. Akhir cerita yang berkesan tidak selalu berarti akhir yang bahagia atau tuntas tanpa sisa.
Ciri khas Mira W. sering kali menyisakan sedikit ruang renungan, sebuah ironi. Atau kalimat penutup yang puitis namun menohok. Penutupan seperti itu bertindak sebagai ketukan terakhir yang membuat pembaca tetap terpaku di tempat duduk mereka, bahkan setelah buku itu ditutup rapat.
Dari buku catatan kecil menuju halaman utama Jawa Pos
Proses kreatif itu selalu menemukan jalannya yang unik. Kebiasaan mencatat kata-kata menarik, mengumpulkan kalimat yang mengikat hati. Kemudian meresapi alinea yang penuh inspirasi sebenarnya adalah cara seorang calon pengarang besar mengisi "tabungan" imajinasinya.
Ketika membaca novel Mira W. Benih keyakinan itu tumbuh kuat di dalam hati, "Saya juga bisa bikin novel macam itu."
Tiga tahun setelah momentum magis tersebut,. Mimpi itu bukan lagi hanya angan-angan di lembar catatan. Keberanian imajinasi dan ketekunan mempelajari teknik kepenulisan langsung berbuah manis.
Baca Wrong or Wrong My Country dan Cara Jaya Suprana secara Jenaka Memandang Indonesia
Novel Flamboyan Kembali Berbunga, akhirnya lahir dan mendapat kehormatan besar untuk dimuat secara bersambung di harian Jawa Pos, koran terbesar di Jawa Timur pada masanya. Suatu capaian luar biasa bagi saya yang usia kepala dua. Terutama membuktikan bahwa sihir fiksi tidak hanya berhenti sebagai bacaan, tetapi mampu menuntun lahirnya seorang pengarang baru ke gelanggang sastra.
Read and emulate great writing
Roda waktu selalu punya cara terbaik untuk menyatukan intuisi masa muda dengan kematangan akademis. Apa yang dahulu saya lakukan secara alami di depan lembar-lembar novel Mira W. kini menemukan pembenaran ilmiahnya. Mencatat untaian kata indah yang tidak biasa, menangkap getar-getar kalimat yang memikat. Dan menyimpan inspirasi ke dalam batin ternyata bukan aktivitas pasif.
Puluhan tahun kemudian, setelah Anda mendalami teori sastra secara akademis, rahasia itu terbuka lebar. Saat berdiri di depan kelas dan mengampu mata kuliah "Creative Writing" di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Surya University, istilah ilmiah untuk proses tersebut menjadi sangat benderang. Pekerjaan membaca, meresapi, dan mencatat pustaka yang saya lakukan di masa lalu itu tidak lain adalah metode "read and emulate great writing."
Metode ini membuktikan bahwa seorang penulis besar tidak lahir dari ruang hampa. Saya memulainya dengan membedah isi kepala para maestro, meniru polanya dengan penuh kekaguman. Hingga akhirnya berhasil menemukan karakter dan warna tulisan sendiri yang otentik. Sebuah perjalanan literasi yang kini kuwarisi kembali kepada generasi muda di bangku belajar mengenai dasar-dasar menulis novel.
Bahkan pada 2010 saya menulis dan menerbikan how to book menulis novel yang diterbitkan Sangkan Paran Media. Tulisan judul utama dengan tinta emas, emboss. Berbagi pengalaman proses kreatif menulis novel berjudul 101 Hari Menulis & Menerbitkan Novel. Kemudian diambil alih dan dicetak oleh PT Gradindo. Terbit dengan sampul kuning, judul tulisan utama emboss.
Tak dinyana. Buku itu salah satu best seller. Artinya, terjual 3.000 eksemplar/ tahun.
Puji Tuhan! Rezeki anak bibliofili (penggila-baca) tidak ke mana. Semua menjadi indah pada waktunya.
Tangsel siang 19-10-2026.

0 Comments