The History of Java | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (9)
![]() |
| Saya dan The History of Java di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta: buruk-buruk papan jati, Ist. |
The History of Java buku sudah sering mampir di telinga saya sejak SD. Via cerita guru bernama Amok yang bersemangat, imajinasi masa kecil saya langsung melompat jauh membayangkan sebuah kitab kuno yang menyimpan seluruh rahasia, intrik, serta kejayaan masa lalu tanah leluhur.
Saat itu ketertarikan saya hanyalah rasa kagum polos seorang anak kecil. Saya hanya terpukau oleh kemegahan judulnya.
Baca Sam Walton, Biografi Nir-gambar yang tidak Biasa | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (8)
Lalu, kehidupan membawa saya berjalan menjauh. Lembar demi lembar kalender berganti hingga tanpa terasa empat dasawarsa telah terlewati begitu saja. Rasa penasaran itu mengendap lama di dasar sanubari.
Tak dinyana. Empat puluh tahun kemudian. Takdir mempertemukan saya dengan impian lama itu.
Momen itu datang tiba-tiba. Saya tidak lagi hanya mendengar desas-desus cerita orang, atau melihat fotonya di layar kaca. Tangan ini akhirnya memegang langsung fisik buku aslinya. Sungguh sebuah kejutan yang membahagiakan.
Baca Master Your Mind, Design Your Destiny-nya Adam Khoo | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (7)
Ketika jemari mulai menyentuh dan membalik lembar demi lembar kertas tebal yang menyimpan rekaman peradaban kolosal kuno tersebut. Dada saya berdesir hebat. Kesan pertama saya: sungguh mengagumkan!
Seluruh penantian panjang luruh selama empat puluh tahun runtuh seketika. Rasa penasaran saya terbayar lunas. Menyaksikan langsung goresan sejarah itu rasanya seperti pulang ke rumah setelah perjalanan yang sangat melelahkan.
Keajaiban sebuah pustaka
Pertemuan pertama saya dengan The History of Java di Taman Mini Indonesia Indah pada tahun 1990 adalah sebuah momen magis yang tidak akan pernah saya lupakan.
Baca Dibawah Bendera Revolusi| Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (5)
Buku asli terbitan 1817 itu berada di depan mata saya. Maka bukan lagi sebuah mitos yang sering dideklamasikan oleh guru sejarah saya semasa SD. Ketika jemari saya menyentuh lembarannya, ada getaran garis waktu yang runtuh. Saya merasa ditarik masuk ke dalam labirin peradaban Jawa yang megah, intim, sekaligus penuh teka-teki. Buku ini bukan hanya tumpukan kertas tua, melainkan sebuah artefak hidup yang merekam denyut nadi kejayaan Majapahit hingga intrik politik keraton-kerajaan kecil yang saling beradu pengaruh.
Di sinilah letak kekuatan magis dari memori sejarah (memory of history) yang pernah diuraikan oleh Cicero. The History of Java bertindak sebagai jangkar waktu yang mengikat masa lalu agar tidak hanyut tersapu zaman. Lewat goresan penanya, Sir Thomas Stamford Raffles berhasil membekukan detail-detail kebudayaan yang luar biasa. Mulai dari bayang-bayang magis pertunjukan wayang kulit hingga resonansi mistis dari alunan gamelan.
Baca Permainan Bulan Desember, Mira W. | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (4)
Bagi saya yang menyaksikannya di TMII, miniatur Indonesia di sekeliling saya seolah hidup dan divalidasi oleh narasi besar yang ada di dalam buku tersebut. Kehadiran edisi bahasa Indonesia di masa modern pun kian mempertegas fungsinya sebagai Penyemangat (inspiration) bagi generasi muda untuk merayakan warisan leluhur mereka sendiri. Membaca buku ini pada tahun itu mengajarkan saya satu hal: sejarah mungkin ditulis oleh para penguasa kolonial dengan segala egonya. Namun, jiwa dari peradaban Jawa yang ada di dalamnya akan selalu hidup.
Menjadi inspirasi dan patok-duga
Namun, kekaguman murni itu tidak bertahan lama. Setahun berselang, tepatnya pada tahun 2021. Takdir membawa saya kembali berhadapan dengan mahakarya ini dalam konteks yang jauh berbeda. Saat itu, saya sedang bersiap dan masuk dalam proses menulis buku THE HISTORY OF DAYAK. Sebagai seorang penulis, saya memerlukan semacam patok-duga yang kukuh tentang bagaimana sebuah masterpiece sejarah dunia dilahirkan.
Baca Baca Ali Topan Anak Jalanan| Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (3)
Apakah pustaka itu disusun berdasarkan kronologis waktu, ataukah tematik? Demi menjaga kemurnian perspektif, saya tak sudi membaca versi terjemahannya. Pencarian itu menenggelamkan saya seharian penuh di ruang sunyi Perpustakaan Nasional, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta.
Di antara deretan arsip-arsip sejarah itulah. Dalam keheningan terdalam sebuah sumber primer. Saya membaca versi aslinya secara utuh, lembar demi lembar.
Di tengah keheningan Perpustakaan Nasional itulah, tabir romantisme saya terhadap Raffles runtuh seketika. Saya mulai mafhum pada kenyataan pahit yang sebelumnya hanya menjadi desas-desus samar. Karya agung ini ternyata menyimpan noktah hitam yang lumayan besar. Ia adalah hasil tindak plagiat berskala kolonial. Raffles bukanlah pemegang pena yang sesungguhnya memeras keringat di lapangan. Ia mempekerjakan orang-orang Madura untuk menjarah dan menerjemahkan naskah-naskah kuno dari perpustakaan Buitenzorg.
Baca The Joy of Not Working | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (2)
Informasi berharga ini makin benderang setelah saya mendapat wejangan dari Polycarpus Swantoro. Seorang pakar sejarah, bibliofili, dan petinggi Kompas yang akrab disapa Pak Swan.
Raffles terbukti mengutip bulat-bulat dan menerjemahkan isi buku The History of Priboemi karya Middelkoop tanpa pernah menyebutkan sumbernya, terutama pada Bab 10. Tidak hanya itu, paparan megah mengenai Candi Prambanan ternyata merupakan hasil kerja keras Colin Mackenzie. Sedangkan detail mengenai Borobudur ditengarai kuat dicolong dari hasil dokumentasi Hermanus Christian Cornelius. Raffles hanya menyalinnya begitu saja di bawah namanya yang mentereng.
Sejarah yang mengajari
Dari sini saya belajar sebuah kebenaran fundamental tentang historia docet. Sejarah mengajarkan kita untuk bersikap kritis. Siapa yang menolak belajar dari kesalahan sejarah, ia akan dikutuk oleh sejarah itu sendiri.
Sekonyong-kongong hati dan pikiran saya terlempar pada petuah abadi Cicero tentang sejarah. Dapat dibilang sebuah manifesto agung yang telah berulang kali saya gaungkan dalam pelbagai guratan pena, hingga ia menjelma menjadi kompas komitmen yang menuntun arah studi dan penulisan sejarah saya. Inilah perwujudan nyata dari apa yang disuarakan oleh Blair (2006) sebagai sebuah prinsip adiluhung: read and emulate great writing. Yakni membaca dan mengemulasi (meng-ATM-kan secara kreatif) karya-karya besar agar menyamai, bahkan melampaui mutu buku itu sendiri.
Baca Dayak Writing from Within
Menurut Cicero, sang orator ulung Katolik Romawi, sejarah bukanlah hanya tumpukan angka tahun yang mati belaka. Sejarah yang penting adalah sebuah simfoni kehidupan yang sarat makna, yang dapat kita saripatikan ke dalam empat pilar agung.
- Testis Temporum (Saksi Zaman): Sejarah berdiri kokoh sebagai saksi bisu dari pergulatan peradaban manusia melintasi waktu.
- Lux Veritatis (Obor Kebenaran): Cahaya abadi yang menyala hebat untuk menembus kegelapan kebohongan dan menyingkap tabir masa lalu.
- Vita Memoriae (Memori Kehidupan): Denyut nadi yang menghidupkan kembali ingatan kolektif manusia agar tak sirna ditelan zaman.
- Magistra Vitae (Guru Kehidupan): Penuntun langkah peradaban, tempat kita berkaca dan memetik kearifan demi menatap masa depan.
Dalam pada itulah maka buku sejarah The History of Java memang tetap menjadi dokumen kolonial yang sangat berguna untuk menyibak masa lalu. Namun, sudut pandangnya yang cacat sejak lahir membuat buku ini hanya merekam sejarah versi penguasa. Isinya berkutat tentang para raja, pangeran, dan gemerlap seputar keraton. Rakyat jelata dan masyarakat adat sama sekali tidak diposisikan sebagai subjek.
Baca Writing Skill sebagai Salah Satu Materi Sekolah Kepemimpinan dan Konglomerasi Koperasi (SK-3)
Ironi inilah yang justru membakar semangat saya di Perpustakaan Nasional hari itu. Jika Raffles bisa menulis sejarah Jawa dari sudut pandang penguasa dengan cara menyalin kerja keras orang lain, maka saya harus menulis sejarah Dayak dengan cara yang benar. Masyarakat adat dan manusianya harus menjadi subjek utama. Mereka tidak boleh menjadi penonton pasif di tanah leluhur mereka sendiri.
Lahirnya sebuah mahakarya baru
Bagaimana pun juga, buku The History of Java sangat menginspirasi. Khususnya bagi saya pribadi. Dalam berbagai kesempatan dan forum literasi, saya selalu menekankan satu prinsip universal yang saya yakini. Tidak ada buku yang jelek di dunia ini. Yang ada hanyalah buku yang gagal mendatangkan inspirasi bagi pembacanya.
Baca Penerbit dan Percetakan Lembaga Literasi Dayak (LLD) Perluas Jejaring Literasi Dayak di Sarawak Literature Festival 2026
![]() |
| The History of Dayak terinspirasi dari The History of Java. Ist. |
Meskipun he History of Java menyimpan catatan sejarah kolonial yang problematik, pustaka ini tetap menjadi pemantik api yang luar biasa. Buku itulah yang membuka jalan pikiran saya hingga akhirnya melahirkan The History of Dayak pada tahun 2025. Sebuah opus magnum jika boleh dikatakan demikian. Sebuah maha-karya yang saya susun bersama kolaborator hebat, Prof. Dr. Tiwi Etika, seorang profesor yang mumpuni di bidang sejarah dan filsafat Dayak. Secara akademik, ia belajare filsafat-formal di India. Sementara saya kuliah filsafat formal dengan 7 cabangnya di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana, Malang. Dilanjutkan pada program Pasca-Sarjana di (sebut gak ya?).
Kembali ke laptop.
Buku The History of Dayak bisa dikatakan sebagai pelopor utama di bidangnya. Memang, selama ini sudah banyak penulis yang mencoba membahas topik-topik serupa mengenai Kalimantan dan masyarakat adatnya. Namun, belum ada satu pun karya yang membedah dan menyajikannya secara terstruktur serta sistematis dari sudut pandang antropologi, sejarah, dan filsafat yang mendalam.
Buku pertama pada genrenya dengan ketebalan lebih dari 400 halaman ini hadir untuk mengisi kekosongan literatur tersebut. Ia tidak sekadar mencatat peristiwa, melainkan menjahit kembali ingatan kolektif sebuah peradaban yang selama ini sering kali terabaikan dalam narasi besar sejarah nasional.
Baca First Things First| Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (1)
Tidak berlebihan jika menyebut buku setebal 400 halaman ini sebagai mahakarya komparatif. Sambutan publik yang luar biasa di pasar literasi segera menobatkan buku ini sebagai salah satu kategori best seller. Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa ada dahaga yang besar akan sejarah lokal yang ditulis dengan metodologi yang sahih dan jujur.
Ketika The History of Java menginspirasi saya dengan segala keterbatasan sudut pandang kolonialnya, The History of Dayak lahir sebagai jawaban penyeimbang. Sebuah buku yang menaruh hormat penuh pada manusia dan kebudayaan Dayak sebagai pemilik sah narasi mereka sendiri.
Pagi 21 Oktober 2026


0 Comments