 |
| Mendahului membeli buku: suatu yang rare, hanya orang tertentu saja, yakni para biblio-fili. |
When I get a little money. I buy books. And if any left, I buy food and clothes,
"Ketika saya punya sedikit uang, saya membeli buku. Dan jika ada sisanya, baru saya membeli makanan dan pakaian." (Erasmus).
Baca 12 Taktik Konkret Rust en Orde Hindia Belanda
Kutipan legendaris dari Desiderius Erasmus, filsuf abad ke-16 ini, bukan hanya kata-kata mutiara bagi sebagian orang.
Bagi para pencinta literasi sejati. Prinsip ini adalah sebuah realitas ekstrem yang benar-benar dijalani demi memuaskan dahaga akan ilmu pengetahuan.
Bibliofili (penggila kitab) dan manusia langka
Di Indonesia, pernyataan Erasmus ini ada kenanya. Saya mengalami langsung. Peristiwa itu terjadi pada momen Krisis Moneter (Krismon) 1998.
The 1st Dayak Book Fair 15–16 Mei 2026 di Sekadau : Pameran Buku Etnik Pertama di Indonesia
Saat nilai tukar Rupiah hancur lebur dan melonjak hingga belasan ribu per dolar AS, prioritas semua orang adalah bertahan hidup secara fisik. Umumnya masyarakat berbondong-bondong membeli sembako demi mengamankan kebutuhan pokok mereka. Namun, di tengah kepanikan ekonomi tersebut, muncul anomali luar biasa ketika seorang pencinta buku justru nekat membelanjakan uang sebesar 1.000 USD hanya untuk memburu literatur luar negeri.
Angka 1.000 USD pada saat krisis moneter bukan sebatas nominal dana yang besar. Nilai tersebut menjelma menjadi sebuah kekayaan yang luar biasa fantastis di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu. Hal ini terjadi karena nilai konversi dolar AS melonjak sangat tinggi saat Rupiah sedang anjlok ke titik nadir.
Books Give Wings
Pada ketika masyarakat berjuang keras demi pakaian dan makanan, persis seperti yang digambarkan dalam dilema Erasmus, keputusan untuk membeli buku terasa sangat kontroversial. Namun, langkah untuk membelanjakan dana sebesar itu demi tumpukan kertas berilmu dari luar negeri sesungguhnya adalah sebuah kegilaan yang indah.
Bagi seorang bibliofili (pencinta buku), pengetahuan memiliki nilai intrinsik yang melampaui fluktuasi mata uang.
Makanan dan pakaian hanya mampu memberi makan tubuh manusia yang sifatnya sementara. Sebaliknya, buku-buku impor yang dibeli di masa kritis itu merupakan bentuk investasi abadi yang terus memberi makan jiwa. Nilai ilmu di dalamnya mampu melintasi waktu dan tetap berharga jauh setelah krisis ekonomi itu sendiri berlalu.
Langkah perdana
Ketika roda takdir membawa sang pengelana menginjakkan kaki di gerbang kemandirian finansial pada tahun 1987, sebuah sumpah setia terhadap dunia aksara langsung ditancapkan.
Sejak bulan pertama menerima upah kerja dari keringat sendiri, tiada satu bulan pun terlewatkan tanpa membeli kitab-kitab ilmu pengetahuan. Membaca baginya bukanlah pelarian dari kepenatan dunia fana, melainkan sebuah perguruan batin untuk mengasah ketajaman pikiran dan memperluas cakrawala pandang.
Baca Justina Hendry, Born for Adversity: Bukan Biografi Biasa Setiap lembar buku yang dibeli segera dilalap habis dengan mata hati. Uniknya, ketekunan ini langsung membuahkan manfaat instan yang nyata. Setelah menuntaskan sebaris demi sebaris bab, jemari sang pendekar pena dengan cepat menari di atas papan ketik, merajut resensi buku yang tajam dan berbobot.
Tulisan-tulisan bernas itu kemudian dikirimkan ke berbagai redaksi surat kabar terkemuka. Hanya dalam waktu seminggu, ulasan tersebut terpampang di lembar budaya, mendatangkan honorarium yang menjadi bahan bakar tambahan untuk berburu lebih banyak kitab di pasar pusaka literasi.
Kepercayaan media dan berkah yang mengikutinya
Waktu terus berputar hingga memasuki era 1990-an, di mana reputasi dan ketajaman analisis sang penulis mulai diakui secara luas di jagat persilatan media. Tanpa diminta, tiga penerbit raksasa secara otomatis mengirimkan bundelan buku gratis langsung ke kediamannya setiap bulan. Tugasnya hanya satu: mengulas karya-karya terbaru itu untuk dimuat di media nasional sekelas Kompas, Suara Pembaruan, dan surat kabar besar lainnya.
Maka bergulirlah sebuah berkah melimpah yang jarang dijumpai di kolong langit. Buku didapat secara cuma-cuma, nama harum terpampang di koran nasional, dan honorarium mengalir deras dari meja redaksi. Tak jarang, pihak penerbit yang merasa terbantu dengan promosi tersebut masih memberikan insentif tambahan sebagai wujud penghormatan.
Relasi saling menguntungkan ini terus berjalan harmonis laksana simfoni yang indah. Mengukuhkan posisinya sebagai kritikus dan jurnalis sastrawi yang disegani.
Kolektor dan warisan peradaban 4.000 buku
Kini ketika waktu telah mengantarkan kita pada tahun 2026. Benih kecil yang ditanam puluhan tahun silam telah tumbuh menjadi pohon raksasa yang rindang.
Ruang demi ruang di kediaman sang penulis kini telah menjelma menjadi sebuah padepokan ilmu yang megah. Koleksi buku pribadinya telah kian berbilang-jumlah sehingga tembus angka lebih dari 4.000 jilid. Suatu jumlah yang fantastis untuk ukuran perpustakaan mandiri seorang pekerja literasi.
Baca 101 Tokoh Dayak Jilid 4: Sebuah Pertanggungjawaban Setiap jilid yang berjajar rapi di rak kayu memiliki cerita tersendiri. Di sana tersimpan jejak perjalanan pemikiran manusia, mulai dari teori-teori kritis, metode penelitian, hingga karya sastra universal yang abadi.
Ribuan kitab ini bukan hanya pajangan mati. Lebih dari itu menjadi saksi bisu dari dedikasi total dan kerja keras. Di samping ujud dari kecintaan yang tak pernah padam pada jagad literasi.
Sebuah warisan peradaban yang tak ternilai harganya, dibangun dari tetesan tinta dan ketajaman mata hati sang pendekar pena sejati.
Pagi yang dini, 15 Oktober 2026.
0 Comments