Pak Lopak, Maafkan Anak-anak PKN yang Belum Bayar! | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (121)
![]() |
| Pak Lopak dalam sketsa alumni yang pernah "beli tiga gratis satu". Ist. |
Pak Lopak kerap muncul di WAG "REUNI AKBAR (MAGNA REUNIO) 110 TAHUN PKN", memicu getaran serentak dalam ingatan kolektif dari ratusan hati para alumni.
Di tengah hingar-bingar usai perayaan 110 tahun sekolah mereka. Ruang obrolan itu mendadak hening dan khidmat saat bait kenangan kembali melayang pada sesosok nama luhur yang amat dihormati.
Baca Spathodea Tulipifera yang Tumbuh di Halaman | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (120)
Dialah sang sesepuh penumpas lapar, pengembara jalanan yang setia mendorong kereta roda duanya di bawah Wisma Emaus. Sebuah tempat yang oleh anak-anak asrama dianggap keramat laksana lembah pualam tempat bermukimnya para pertapa. Keramat untuk mengisi perut agar tidak keroncongan. Sekaligus cara pada ketika itu untuk mendapatkan makan bergizi gratis.
Sepeda pusaka sang penakluk lapar serta dahaga
Perhatikanlah dengan saksama rajutan memori yang kini berhasil diwujudkan kembali lewat keajaiban lukisan buatan di atas. Tampak sesosok orang tua berwajah teduh dan bersahaja, berdiri dengan gagah namun penuh kelembutan di samping sepeda ontel pusakanya.
Guratan-guratan di wajahnya memancarkan kearifan seorang bapak. Dilengkapi sehelai kain putih yang tersampir di pundak. Yaitu senjata setianya untuk menghalau peluh selama mengembara demi menyuapi para cantrik yang kelaparan.
Baca Suster Adriana, Kenangan Itu Selalu Kuingat.... | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (119)
Di atas keranjang bambu tuanya, bertengger panci tembaga dan botol-botol ramuan rasa yang kini telah bersih tanpa tulisan, menjadi saksi bisu keikhlasan sang pendekar yang bertarung bukan dengan pedang, melainkan dengan ketulusan hati.
Siasat licik para cantrik
Melihat gambar sketsa itu. Tampillah gema penyesalan mendalam yang melepaskan sebuah kalimat jenaka, "Pak Lopak, maafkan kami! Beli tiga gratis satu!"
Ah, sebuah siasat licik dari para cantrik muda yang perutnya serupa sumur tanpa dasar, namun kantongnya sekering gurun pasir! Mereka sering kali mempergunakan ilmu meringankan tangan untuk mengelabui sang orang tua demi mendapat pengganjal perut.
Namun, senyum penuh kearifan segera menepis rasa bersalah itu; Pak Lopak yang berhati budiman bukanlah seorang yang bodoh. Beliau yang memiliki ketajaman rasa tentu tahu akan segala ulah jenaka dan nakal dari para cantrik asrama itu. Hanya saja, sang orang tua sengaja berpura-pura buta dan tuli! Itu adalah bentuk jurus kebaikan tingkat tinggi yang beliau amalkan untuk memberi restu dan kenyang bagi anak-anak muda yang kelak akan mengguncang dunia.
"Kini, Pak Lopak telah muksa dan berbahagia di alam baka. Sungguh agung budi jasanya bagi segenap murid PKN," demikian untaian doa bergaung penuh takzim.
Pak Lpak yang membuka pintu kenangan
Ketika bait pertanyaan berseru menanyakan, "Siapa yang menyimpan potret wajah asli sang penolong pemenuhan perut dan perbaikan gizi?". Tak ada satu pun yang menjawab karena kesemuanya terdiam dalam keheningan.
Baca Kelopak Mawar yang Terkoyak: Bukan di Pemangkat Tertambat Cintanya! | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (116)
Namun, rupa paras Pak Lopak rupanya telah terpatri mati di dalam kalbu Susanto Chin dan Supardi. Sedemikian rupa, sehingga menggunakan daya pikir tingkat tinggi dibantu keajaiban "kecerdasan buatan", mereka berhasil melukiskan kembali bayangan masa lalu itu dengan begitu sempurna.
Kenangan pun bertambah seru saat penuturan lama kembali terangkat,
"Pada zaman kami dahulu, pendekar yang bergelar Pak Lopak ini sejatinya ada dua orang, keduanya sama-sama menunggangi sepeda ontel," Supardi menuliskan pengalamannya.
Sementara itu, kisah kuliner masa lalu ditutup dengan ingatan rasa yang tak tertandingi, "Pada masa yang silam itu, belum dikenal mantra nama 'mie ayam'. Yang ada hanyalah 'Mie Bungkus Daun Simpur' racikan suci dari tangan Pak Lopak sendiri." sela Marsell Hary Ane.
Air mata penebus utang dosa
Namun di balik tawa nostalgia itu. Terseliplah sepotong penyesalan yang teramat menghunjam sanubari, mencabik-cabik dada hingga tiada tertahankan lagi. Bagi para alumni yang dahulu sering mempraktikkan "jurus makan tiga bayar satu". Ruang obrolan WAG sore jelang senja itu (15/10-2026) mendadak menjelma bagai pelataran pengadilan nurani yang maha luas.
Menyadari sang penolong telah tiada. Muksa ke haribaan Yang Maha Kuasa. Dan tak mungkin lagi bisa ditemui di dunia fana ini untuk menjabat tangannya yang legam dan kasar demi memohon maaf, pertahanan batin mereka pun hancur lebur.
Seketika itu juga. Tangis mereka pecah tak tertahankan. Menangis bombay sejadi-jadinya, meratapi setiap butir nasi dan mi yang dahulu berpindah ke perut mereka lewat jalan kelicikan.
Air mata penyesalan yang menganak sungai itu akhirnya menuntaskan sebuah sumpah suci yang menggetarkan angkasa. Di hadapan ratusan saudara seperguruan. Dengan jemari gemetar di atas layar dan dada yang sesak oleh sedan. Mereka yang dahulu berutang perut berikrar:
“Pak Lopak... demi langit dan bumi, utang perut kami padamu akan kami tebus hingga lunas! Namun karena engkau telah tersenyum bahagia di taman surga. Maka seluruh uang tebusan dan bunga kasih dari kenakalan kami ini akan kami himpun dan kami hantarkan atas namamu yang mulia ke panti asuhan!”
Baca Oevaang Oeray, Anak Seminari dengan Jurus-Rahasia Surat-surat Politiknya | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (115)
Meski pada papan keranjang sepedanya kini telah bersih tanpa tulisan. Keluhuran budi sang orang tua kini telah menjelma menjadi aliran berkah yang menyuapi anak-anak yatim yang telantar.
Nama Pak Lopak akan tetap abadi selamanya. Terpatri dengan tinta emas kasih sayang yang takkan pernah luntur dalam kitab kenangan para alumni PKN yang paling nakal sekalipun!
Pak Lopak! Ampunilah salah dan khilaf anak PKN yang dahulu makan empat namun hanya membayar tiga!
Pak Lopak! Abadi namamu dalam hati kami!
Masri Sareb Putra
Tangsel jelang senja 15 Oktober 2026.

0 Comments