Oevaang Oeray, Anak Seminari dengan Jurus-Rahasia Surat-surat Politiknya | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (115)

Surat-surat Politik Oevaang Oeray | Yang Perlu Segera Dibukukan

Oevaang Oeray: Anak Seminari yang mengguncang dunia.
Oevaang Oeray: Anak Seminari yang mengguncang dunia. Darimana putra Tanjung Kuda, Melapi dapat kedigdayaan macam itu? Ist.

Pontianak sore itu muram. Cuaca suram akibat musim hujan yang sedang melanda. Di antara gerimis yang menitis, saya diantar menuju sebuah jalan yang dulunya merupakan bekas rumah kediaman Gubernur Dayak pertama di Kalimantan Barat, Oevaang Oeray.

Agenda saya ke situ hanya satu. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri, memegang, membaca, lalu mempelajari surat-surat politik sang tokoh.

Anak seminari dengan seribu nyali

Bagi pendekar pena, tak sah jika hanya mendengar kisah dari pihak ketiga saja tanpa berusaha mengalami dan menyaksikan sendiri. Sebab "Aku adalah apa yang kusaksikan". Dalam langgam bahasa para pesilat tangguh, berburu ke sumber dan dokumen asli digambarkan sebagai "mencuri kitab suci".

"Conspicio, ergo sum" adalah ungkapan Latin yang paling perkasa untuk menegaskan marwah seorang penulis sejati di hadapan kecerdasan buatan. Menggelincirkan sedikit ucapan terkenal guru-besar kami Rene Descartes "Cogito, ergo sum" adagium ini menegaskan bahwa pembeda mutlak antara seorang penulis manusia dan AI adalah: "Aku mengamati dan melihat dengan mata kepala sendiri, maka aku ada."

AI bisa merangkai jutaan kata dalam sekejap, namun ia tidak memiliki raga untuk menembus gerimis Pontianak. Ia tidak memiliki jemari untuk merasakan kasarnya kertas kuno yang robek dirayap ngengat, dan ia tidak mempunyai mata kepala sendiri untuk bersaksi di muka rumah Oevaang Oeray. Hanya manusia yang mampu mengalami, menyaksikan, dan merasakan getaran emosi dari sebuah pembuktian sejarah secara langsung.

Usai perburuan menegangkan 
 "mencuri kitab suci" masuk jalan Pahlawan, Pontianak. Dan berhasil menjejakkan kaki ke dalam rumah dengan ilmu meringankan tubuh meski dijaga seribu pendekar. Saya pun mafhum semua rahasia orang penting dalam dunia persilatan politik bukan hanya Kalimantan Barat, juga nasional, bahkan dunia.

Kitab pun terbuka! Maka hari itu satu demi satu siapa alumnus PKN terhebat di arena politik itu pun perlahan-lahan terkuak....

Tak syak lagi. Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray satu-satunya alumnus Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) yang berhasil menembus puncak karier politik tertinggi sebagai Gubernur Kalimantan Barat. 

Salut lagi hormat pada senior kita kelahiran Melapi 18 Agustus 1922 ini. Sosok berani, berpendirian teguh yang menginspirasi. Sekaligus memotivasi kita semua. Membuktikan bahwa bukan tempat yang mengubah manusia, namun manusialah yang mengubah tempat.

Catatan sejarah menorehkan bahwa J.C. Oevaang Oeray (periode jabatan 1960–1966) merupakan simbol nyata dari dedikasi alumni PKN bagi kemajuan bangsa bukan hanya Kalimantan Barat. Karakter dan visi kepemimpinannya yang luar biasa merupakan bukti otentik bahwa integritas pribadi serta tekad manusialah yang mampu merombak dan memajukan sebuah wilayah.

Acara Tetap Memikul Kayu di Jungkit, Sidomet, dan Sungai Tangket - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (114)

Menjabat pada periode 1960 hingga 1966, ia menorehkan tinta emas bukan hanya bagi almamaternya melainkan juga sebagai putra Dayak pertama yang dipercaya memimpin provinsi tersebut.

Pendidikan berasrama di Nyarumkop menjadi tempat utama pembentukan intelektualitas, disiplin, dan kesadaran sosial politik Oevaang Oeray.

 Momentum perjuangan 1941 

Pada tahun 1941. Saat masih berstatus sebagai murid di Nyarumkop, Oevaang Oeray yang berusia 19 tahun mengambil langkah berani yang mengubah jalannya sejarah .

Baca Surat-surat Politik Oevaang Oeray | Yang Perlu Segera Dibukukan

Ia menulis sepucuk "surat terbuka" yang sangat visioner yang ditujukan kepada para guru Katolik se-Kalimantan Barat yang saat itu sedang berkumpul untuk retret di Sanggau.

Aku tak Peduli: Kidung Senja Lereng Poteng - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (113)

Surat tersebut berisi seruan keras agar para guru tidak hanya mengajar, tetapi juga bergerak aktif memperbaiki kondisi sosial, ekonomi, serta ketertinggalan masyarakat adat Dayak. Akibat pemikiran kritisnya yang dianggap terlalu bermuatan politis oleh misionaris Belanda, Oevaang Oeray akhirnya harus keluar dari jalur seminari (calon pastor) dan memilih mengabdi penuh melalui jalur pergerakan masyarakat 

Baca Gunung Poteng dan Rahasia Sunyi di Puncak Langit - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (113)

 Karier politik dan pemerintahan

Keluar dari Nyarumkop tidak menghentikan langkah lelaki bertubuh tambun kelahiran Melapi. Pemikirannya justru semakin berkembang luas di panggung publik:

• Pendiri Partai Politik (1945): Ia menjadi salah satu arsitek utama berdirinya Partai Persatuan Dayak (PPD), wadah politik lokal yang sukses mendulang suara besar di Kalimantan Barat pada Pemilu 1955.

• Bupati Kapuas Hulu (1951–1955): Oevaang Oeray dipercaya memimpin tanah kelahirannya sebagai bupati pertama pasca-era pemulihan kedaulatan NKRI.

• Gubernur Kalimantan Barat (1960–1966): Ia diangkat secara resmi oleh Presiden Soekarno pada 1 Januari 1960. Sebagai gubernur, ia dikenal sebagai tokoh Soekarnois yang gigih mempertahankan keutuhan NKRI dan menolak gagasan negara federal.

• Pelopor Pendidikan Tinggi (1964): Demi mengatasi krisis tenaga guru di Kalbar, pada tahun 1964 ia menandatangani SK pendirian IKIP Swasta Pontianak, lembaga pendidikan yang menjadi cikal bakal dari FKIP Universitas Tanjungpura (Untan) saat ini.

Oevaang Oeray wafat di Pontianak pada 17 Juli 1986 dalam usia 63 tahun. Namanya kini diabadikan sebagai nama kompleks olahraga dan kolam renang legendaris di Pontianak untuk mengenang jasa besarnya bagi masyarakat Kalimantan Barat.

Linimasa sejarah yang ditorehkan Oevaang Oeray

Tahun / Periode Peristiwa Sejarah Utama Dampak dan Signifikansi

Tahun / PeriodePeristiwa Sejarah UtamaDampak dan Signifikansi
1941Menulis surat terbuka visioner saat bersekolah di Nyarumkop Lahirnya kesadaran politik terorganisir bagi masyarakat adat Kalbar.
1951–1955Menjabat sebagai Bupati Kapuas Hulu.Menata birokrasi daerah asal di masa awal kemerdekaan.
1960–1966Menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Barat Satu-satunya alumnus Nyarumkop yang menjadi gubernur 
1964Mendirikan IKIP Swasta Pontianak.Cikal bakal lahirnya FKIP Universitas Tanjungpura (Untan).
1977–1982Menjadi Anggota DPR-RI.Melanjutkan pengabdian politik di tingkat nasional pasca-Orde Lama.

Mengungkap  Surat-Surat Politik Oevaang Oeray


Pontianak sore itu muram. Cuaca suram akibat musim hujan yang sedang melanda. Di antara gerimis yang menitis, saya diantar menuju sebuah jalan yang dulunya merupakan bekas rumah kediaman Gubernur Dayak pertama di Kalimantan Barat, Oevaang Oeray. 

Agenda saya ke situ hanya satu: melihat dengan mata kepala sendiri, memegang, membaca, lalu mempelajari surat-surat politik sang tokoh.

Kumpulan Surat-Surat Politik Oevang Oeray yang sempat saya genggam dan foto. Langka dan amat sangat berharga. Dokpri.

Ketika bundelan itu berada di tangan, tampak helai demi helai surat-surat politik itu sudah kusam. Sebagian ujungnya robek. Sisi halamannya kian berkurang ditelan zaman dan dirayap ngengat. Dokumen asli tersebut diketik secara manual, dan beberapa di antaranya merupakan tulisan tangan asli dari Oevaang Oeray.

Kertasnya sudah menguning. Sementara satu dua lembar ujungnya tidak lagi utuh karena dimakan rayap. Dokumen-dokumen mahapenting ini bahkan pernah ditawar untuk dibeli oleh seorang "bule yang bosan kaya" dengan nilai mencapai miliaran rupiah.

Saya di muka rumah kediaman Oevang Oerang, jantung kota Pontianak, menemukan berkas-berkas penting dan rahasia berharga. Inilah yang dalam kisah-kisah silat disebut dengan "mencuri kitab suci".
Saya di muka rumah kediaman Oevaang Oeray, jantung kota Pontianak, menemukan berkas-berkas penting dan rahasia berharga. Inilah yang dalam kisah-kisah silat disebut dengan "mencuri kitab suci".

Saya merasa termasuk periset dari-dalam yang sangat beruntung karena bisa langsung memegang dan membaca dokumen yang menjadi "harta karun" sejarah ini. Bahkan periset sekelas Davidson pun mungkin belum pernah melihat dan memegang dokumen aslinya.

Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Menurut saya, siapa pun peneliti yang meneliti dan menulis tentang Oevaang Oeray tetapi belum pernah melihat dan membaca dokumen ini, maka ia belum bertemu dengan sumber primernya. Bukankah demikian inti dari metode penelitian dokumentasi dan hermeneutika?

Toh, saya sangat menikmati membaca surat-surat politik itu. Perburuan dokumen ini terasa persis seperti kisah dalam cerita silat. Inilah makna dari “mencuri kitab” itu; sebuah kebahagiaan luar biasa karena seluruh jurus kini dapat kita ketahui dan kuasai. Betapa lega rasanya saya bisa "mencuri" kitab ini, meskipun ia dijaga oleh seribu prajurit luar-dalam di padepokan tempat penyimpanannya.

Melalui surat-surat politik yang diketik langsung oleh jemari Oevaang Oeray ini, semuanya menjadi terang benderang. Tempus omnia revelat! Ya, waktu akan menyibak segalanya. Sebagai bagian dari mata-waktu yang tidak pernah surut menoleh ke belakang. Saya hadir sebagai alat untuk menjadi saksi atas setumpuk surat yang bercerita itu.

Bicara tentang tokoh Dayak Kalimantan Barat, rasanya belum sah dan belum lengkap jika tidak menyebut nama Oevaang Oeray. Lelaki bertubuh tambun ini memiliki nama lengkap Johannes Chrisostomus Oevaang Oeray, atau yang lebih dikenal sebagai J. C. Oevaang Oeray. Ia lahir pada 18 Agustus 1922 di Tanjung Kuda, Desa Melapi I, Kabupaten Kapuas Hulu. Ayah dan ibunya, Ledjo dan Hurei, adalah penganut Katolik yang taat. Kedua orang tuanya berasal dari suku Dayak yang sehari-hari menyambung hidup sebagai penoreh karet dan petani ladang berpindah. OO merupakan anak keempat dari empat bersaudara, bersama Ding Oeray, Mering Oeray, dan Tepo Oeray.

Beruntung, Oevaang berhasil keluar dari cangkang pedalaman Kapuas Hulu untuk mengenyam pendidikan di sekolah misi Katolik Nyarumkop, yang terletak di kaki lembah Gunung Poteng, tak jauh dari kota Singkawang. Oevaang boleh dikatakan sebagai produk Misi Katolik yang cukup militan. Karakter militan ini kelak tercermin jelas dalam perjuangannya mengangkat harkat masyarakat Dayak dan eksistensi Gereja di wilayah Kalimantan Barat.

Dalam sebuah acara retret para guru Dayak di Sanggau, misalnya, Oevaang mengirimkan semacam surat “agitasi”. Surat tersebut mendorong agar para guru Dayak yang berkumpul dapat menjadi agen perubahan atau yang dalam bahasa C. Wright Mills disebut sebagai elite power untuk bergerak dan segera melakukan perubahan.

Alhasil, agitasi Oevaang ini sukses mendorong terbentuknya Daya in Action (DIA). Organisasi DIA inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Partai Persatuan Daya (PPD) pada 30 Oktober 1945.

Merasakan bahwa hak dan martabat puaknya hanya akan diperhatikan melalui jalur politik, Oevaang pun terjun ke dunia politik secara total. Ia berhasil melakukan posisi tawar (bargaining) dengan penguasa pusat hingga akhirnya dilantik menjadi Kepala Daerah Swatantra Tingkat I pada 22 Juni 1956, dan kemudian terpilih sebagai Gubernur KDH Tingkat I Kalbar periode 1960–1966. Jabatan ini mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai gubernur dari suku Dayak pertama di Kalimantan Barat.

Namun, sejarah berjalan ironis. Oevaang Oeray diberhentikan dari jabatannya sebagai Gubernur oleh Menteri Dalam Negeri Basuki Rachmat pada 12 Juli 1966. Sebelum pemberhentian itu, entah hanya pura-pura agar tampak demokratis atau karena nama pengganti memang sudah dikantongi oleh Jakarta, DPRD-GR Kalbar dalam sidangnya pada 18 Juli 1966 menetapkan dua orang calon gubernur, masing-masing Kol. CHK Soemadi, B.C.H.K. serta F.C. Palaunsoeka.

Sosok Oevaang Oeray memang tidak dapat dilepaskan dari F.C. Palaunsoeka. Keduanya adalah dwitunggal bagi Partai Dayak, mirip seperti dwitunggal Soekarno-Hatta bagi Republik ini. Namun, sejarah mencatat akhir yang serupa dengan Soekarno-Hatta: keduanya yang semula dwitunggal berubah menjadi "dwitanggal".

Apa sebabnya? Jawaban atas pertanyaan itu akan ditemukan kemudian, setelah kedua tokoh Dayak Kalimantan Barat ini memilih jalan politiknya masing-masing.

Setelah PPD dibubarkan oleh Bung Karno, orang Dayak kehilangan kendaraan politiknya. Para politisi Dayak tercerai-berai dan bergabung dengan partai politik yang ada saat itu. Oevaang sendiri memilih bergabung dengan Partindo (Partai Indonesia). Kita semua mafhum, situasi inilah yang menjadi pintu masuk bagi Rezim Orde Baru untuk "mengkadali" orang-orang daerah dengan menaruh (dropping) pejabat-pejabat yang mewakili kepentingan pusat (Jakarta).

Oevaang dipandang sebagai sosok yang multidimensional. Meski demikian, satu hal yang pasti: ia sangat gigih memperjuangkan martabat dan hak-hak masyarakat Dayak. Sangat boleh jadi, justru demi memuluskan rencana penyeragaman politik pusat itulah OO akhirnya disingkirkan. Ia digulingkan dari kekuasaannya atas tuduhan sebagai "orang Soekarno", hanya karena posisi politiknya di Partindo; sebuah partai yang didirikan oleh Soekarno. Penyingkiran ini berdampak luas; selain tokoh-tokoh politik Partai Dayak dihabisi oleh penguasa, banyak PNS dari suku Dayak yang turut diberhentikan dengan tuduhan terlibat partai terlarang pada masa itu.

Untuk mengingat jasa-jasanya, nama Oevaang Oeray kini diabadikan menjadi nama jalan dan nama kolam renang di Pontianak. Surat-surat politiknya kala itu memang banyak mengejutkan dan menggemparkan publik. Sayang tidak seperti rekan sesama Gubernur Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut, Oevaang tidak menulis buku sendiri semasa hidupnya. Namun, justru karena buah pikirannya dituangkan dalam bentuk surat, dokumen-dokumen ini menjadi sangat berharga di kemudian hari. Jika pemikiran tersebut "diobral" bebas di media sosial seperti era saat ini, niscaya dokumen-dokumen ini tidak akan terasa sepenting sekarang.

Bagi saya pribadi, kumpulan surat politik ini sesungguhnya adalah sebuah BUKU yang ditulis langsung oleh Oevaang Oeray. Dan saya telah berkesempatan melihat, membaca, serta mencermati isi dari buku berharga yang belum pernah diterbitkan itu. Lembaran-lembaran berharga inilah yang kini bersiap untuk dirangkai menjadi buku utuh mengenai Partai Daya (PD).

Pertandingan maraton kehidupan yang baru dimulai

Meminjam bahasa Bruder Claudius, "Kesimpulan apakah yang bisa kita menarik?" dari sosok Oevaang Oeray yang hiperaktif, ciri khas manusia super-cerdas dan kreatif yang tidak bisa dikerangkeng oleh waktu dan tempat sebuah asrama dan penjara bernama sekolah?

Baca Bruder Claudius dengan Ilmu Sin-kong Mengendus Kolak yang Disembunyikan di Kelas - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (94)

Ada kalanya University of Life (sekolah kehidupan) berjalan di atas rel yang sama sekali berbeda dengan sekolah formal biasa. Letak perbedaan fundamentalnya sangat sederhana namun menohok: di sekolah formal, kita belajar dulu baru ujian; sedangkan di sekolah kehidupan, kita dipaksa menghadapi ujian dulu, baru kemudian bisa memetik pelajarannya.

Perjalanan semacam inilah yang ditempuh oleh sang tokoh, Johannes Chrisostomus Oevaang Oeray dan banyak alumnus Seminari Nyarumkop (PKN) lainnya. Mereka dilemparkan langsung ke dalam arena ujian sejarah yang mahadahsyat sebelum sempat memahami seluruh konsekuensinya.

Apakah sekolah dan tempaan hidup di PKN itu menjadi sia-sia ketika badai politik akhirnya menyingkirkan mereka?

Bagi Oevaang Oeray, tidak ada yang sia-sia. Segala kepahitan, penggulingan, dan pengasingan politik itu adalah bagian dari proses, sebuah jalan terjal yang memang mesti ditempuh demi sebuah takdir sejarah.

Baca Alexius Alex: Penyanyi yang "Tersesat" menjadi Pastor - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (10)

Ada invisible hand, yakni tangan-tangan tak terlihat yang bekerja di balik layar kehidupan Oevaang Oeray. Andai saja dahulu ia tidak keluar dari "gelanggang nyaman" PKN, ia mungkin tidak akan pernah menjadi sosok yang merdeka. Anak muda Melapi tidak akan pernah bebas melebarkan sayap perjuangannya untuk mengangkat martabat puak Dayak secara total di panggung nasional.

Dalam riuh rendah kehidupan, gemuruh tepuk tangan dan kilau bintang penghargaan yang diraih seseorang di masa mudanya sering kali bertransformasi menjadi beban yang berat di kemudian hari. Itu adalah analogi dari sebuah lari cepat (sprint) di mana hasilnya bisa dinikmati seketika, namun energinya cepat habis.

Namun sejarah mencatat ada satu jenis lari yang jauh lebih hebat dan mulia yaki: maraton. Itulah sejatinya sekolah kehidupan!

Dalam sebuah lintasan maraton ini, ada tipe manusia yang pada awal lomba tampak belum melaju kencang, bergerak lambat, tertatih-tatih menghadapi rintangan, bahkan sempat sedikit keluar dari marka jalan yang ditentukan. Namun pada akhir cerita, justru dialah yang paling pertama menembus garis finish; sementara mereka yang berlari sekencang kilat di awal lomba, justru bertumbangan dan tak pernah sampai ke ujung tujuan.

Oevaang Oeray satu di antara warga PKN yang keluar  gelanggang. Meski langkah mereka sempat keluar dari gelanggang, diterpa badai Orde Baru, dan dianggap tumbang oleh penguasa zaman, sejarah dengan jujur mencatat bahwa mereka berhasil menunaikan tugas besarnya dengan sukses dan abadi sebagai manusia-manusia merdeka yang dikenang zaman!

Itulah potret sejati dari Oevaang Oeray beserta sejumlah alumni lainnya, yang harus menjalani guratan takdir sejarah, sempat terlempar dan terusir dari kehangatan gelanggang PKN. Mengapa jalan sesunyi ini yang harus mereka tempuh? Sebab, jika angin ribut itu tidak meniup mereka keluar, mereka tidak akan pernah menjelma menjadi diri mereka yang seutuhnya di belantara dunia nyata. Mereka bagai emas murni yang harus pasrah dibakar dan diuji dalam perapian yang menyala-nyala, menahan lebur demi sebuah kemurnian. Mereka laksana sebutir mutiara yang harus disapih, diasingkan dalam gelapnya dasar samudra, dipaksa terluka, baru kemudian bisa memancarkan sinar yang menggetarkan jiwa.

Baca Justina Hendry: Anak Remaja yang Nangis Bombai Bawah Naungan Pohon Kamboja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (26)

Oevaang Oeray hanyalah satu di antara sekian banyak warga PKN yang jalannya harus dipatahkan, dipaksa keluar menantang badai di luar gelanggang. Namun, lihatlah bagaimana takdir membalas air mata mereka. Meskipun langkah kaki mereka sempat pincang dan tersisih dari gelanggang hangat, meskipun tubuh-tubuh lelah itu diterpa amuk badai Orde Baru yang dingin, dan kendati mereka dianggap telah layu serta tumbang oleh penguasa zaman yang congkak, keadilan sejarah tidak pernah memejamkan mata. 

Sejarah dengan jemari jujurnya yang bergetar mencatat, bahwa dalam kesunyian dan luka-luka itu, mereka telah berhasil menunaikan tugas mahabesar hidup mereka dengan gemilang. Mereka pulang ke haribaan keabadian bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai manusia-manusia yang merdeka seutuhnya, yang namanya akan selalu dikenang dengan rasa hormat dan isak takzim oleh zaman yang berganti!

Tangsel, Hari istimewa 10/10- 2026.

Daftar Pustaka 

Aju. (2012). J.C. Oevaang Oeray: Dari Federasi Ke NKRI. Pontianak: Penerbit Derwati.

Detikcom. (2025). "Oevaang Oeray: Tokoh Dayak, Guru hingga Gubernur Kalbar". Diakses dari Detikcom Regional.

R. Masri Sareb. (2017). 101 Tokoh Dayak yang Mengukir Sejarah 2. Jakarta: Lembaga Literasi Dayak.

Sekretariat Bersama J.C. Oevaang Oeray. (2020). Biografi Singkat Johannes Chrisostomus Oevaang Oeray. Diakses dari Sekber J.C. Oevaang Oeray Yogyakarta.

Wikipedia Bahasa Indonesia. (2026). Oevaang Oeray. Diakses dari Wikipedia Indonesia.

Surat-surat Politik Oevaang Oeray | Yang Perlu Segera Dibukukan dalam Bibliopedia, diakses 10 Oktober 2026, pukul 07.06.

0 Comments

Type above and press Enter to search.