Bruder Claudius dengan Ilmu Sin-kong Mengendus Kolak yang Disembunyikan di Kelas - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (94)

Bruder Claudius alias Pak Is dengan  in-kong
Bruder Claudius alias Pak Is dengan  in-kong (tenga dalam / ilmu sakti) berbasis pada indra penciuman (bun/wen). Dokpri.

Pagi itu sang surya baru saja merangkak naik di ufuk timur, memancarkan sinarnya yang kekuningan menembus celah-celah jendela kayu SMA Seminari St. Paulus Nyarumkop. Sementara angin pegunungan yang sejuk berembus lembut membawa aroma tanah basah seolah menyapa para cantrik belia yang sedang bersenda gurau di dalam ruangan. 

Jika kita memutar kembali tirai waktu ke masa-masa awal pengembaraan mereka di kelas bawah, ketika debu-debu kedewasaan belum sepenuhnya melekat pada jubah para ksatria muda ini, terukirlah sebuah fragmen jenaka yang takkan pernah luntur digerus oleh derasnya arus zaman.

Ciri khas Pak Is

Alkisah, tersebutlah seorang pengajar bernama Bruder Claudius, atau nama lengkapnya Claudius Kuypers.

Di kalangan anak-anak asrama yang jenaka dan akrab, sang bruder memiliki nama sapaan kesayangan yang teramat masyhur, yakni Pak Is. Beliau adalah sebuah sosok luar biasa yang sangat disegani, namun di balik kewibawaannya, ia menyimpan keunikan tersendiri yang selalu membekas di dalam ingatan.

Baca Sekolah 4 Tahun SMA St. Paulus Nyarumkop yang Terakhir - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (93)

Tubuhnya tinggi ramping bagaikan sebatang bambu pilihan. Kakinya melangkah dengan wibawa seorang tetua yang sarat akan ilmu pengetahuan, dibantu sepasang kacamata tebal yang bertengger kokoh di atas batang hidungnya.

Namun, ada dua ciri khas yang paling melekat pada diri Pak Is dan selalu menjadi buah bibir yang menggelitik hati para murid.

Pertama, celananya yang selalu menggantung di atas mata kaki. Suatu gaya busana unik yang kerap kali kami sebut dengan istilah jenaka: gaya sehabis keluar dari ruang gabung (ruang gabung ini berbatas dinding dengan tangga naik loteng tidur anak-anak asrama kelas bawah. Sebelahnya ruang rekreasi bersama. Sementara di baliknya ada: majalah dinding).

Kedua, sebuah kebiasaan ajaib yang sulit dicari tandingannya di belahan bumi mana pun. Di kala benaknya sedang tenggelam dalam lautan rumus-rumus Matematika yang rumit bagi kami, Bruder Claudius suka sekali mengulum kapur tulis di sela-sela saking seriusnya beliau mengajar! Sungguh sebuah pemandangan yang membuat para cantrik harus berjuang keras menahan otot-otot wajah mereka agar tidak meledak dalam tawa.

Rahasia murid dan Ilmu Sin-kong Claudius

Pada suatu hari yang cerah, ketika sang waktu membawa Bruder Claudius melangkahkan kaki ringannya memasuki ruangan kelas untuk mengajarkan ilmu hitung mapel Matematika, sebuah peristiwa tak terduga pun meletus. Baru saja ujung selop Pak Is menginjakkan kaki di ambang pintu kelas, seisi ruangan langsung gempar oleh suara kekehan yang tertahan di kerongkongan. 

Baca Teringat Benny Nungkat yang tak Ingin Menyendiri - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (92)

Suasananya sungguh ganjil; para cantrik muda itu saling pandang satu sama lain dengan mata yang berkilat-kilat jenaka, seolah-olah sedang berbagi sebuah rahasia besar yang amat menggelitik dada mereka.

Melihat gelagat yang tidak biasa dari para muridnya, Bruder Claudius menghentikan langkahnya tepat di depan papan tulis.

"Mengapa kamu tertawa?" tanya Pak Is dengan nada suara yang datar namun penuh keheranan, sementara matanya yang tajam mengedarkan pandangan menyelidik dari balik lensa kacamatanya yang tebal dan melorot sedikit ke bawah.

Baca Buih-Buih Tepian Sungai Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (91)

Seketika itu juga. Bagaikan tersihir oleh jurus totok urat bisu yang dilepaskan seorang tokoh sakti, seluruh kelas mendadak bungkam seribu bahasa! Suasana yang tadinya bising oleh tawa tertahan langsung berubah menjadi sunyi senyap seolah-olah malaikat maut baru saja lewat. Tak ada satu pun ksatria muda yang berani membuka mulut atau sekadar menarik napas dalam-dalam.

Namun, sehebat-hebatnya ilmu totok menahan suara, arah lirikan mata mereka sama sekali tak dapat menipu sang guru. Pandangan seisi kelas, entah disengaja atau tidak, serentak tertuju pada sebuah sudut rahasia yang tersembunyi tepat di balik daun pintu kelas yang terbuka setengah.

Di sanalah bertumpu sebuah rahasia besar yang menjadi biang keladi dari segala kegemparan hari itu. Di balik bayang-bayang kayu pintu tersebut, tersembunyi semangkuk kolak manis yang aroma santan dan gulanya mulai merebak memenuhi ruangan! Kolak curian itu sengaja diselundupkan dan disembunyikan dengan rapi di sana oleh dua pendekar jenaka yang terkenal paling cerdik di kelas, yang tak lain dan tak bukan adalah Songkiat dan Toton.

Pertemuan antara wibawa sang guru yang tinggi ramping dengan kacamata tebalnya. Celana menggantung khas ruang gabung. Kebiasaan unik mengulum kapur. Serta aroma manis semangkuk kolak curian yang bersembunyi ketakutan di balik pintu, menjadi salah satu lembaran paling lucu dan abadi yang pernah dipahat indah di dinding SMA St. Paulus Nyarumkop.

Baca Pak Slamet: Butuh Jawa Beda dengan Butuh Dayak yang Bikin Kelas Grrr - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (90)

Seketika itu juga, sepasang mata tajam dari balik kacamata tebal Pak Is bergeser perlahan, mengikuti arah pandangan murid-muridnya yang tertuju ke balik daun pintu. Waktu seolah membeku. Ketegangan memuncak di dalam dada seisi kelas, terutama bagi dua pendekar jenaka kita, Songkiat dan Toton, yang mendadak merasakan keringat dingin mengucur deras membasahi punggung mereka.

Dengan langkah tenang namun berwibawa, sang bruder bertubuh tinggi ramping itu melangkah mendekati sudut rahasia tersebut. 

Baca Pernikahan Silang Dayak-Tionghoa sebagai Bu-tong Literasi Budaya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (85)

Detak jantung para cantrik muda berdegup kencang bagaikan tabuh genderang perang. Ketika tangan Pak Is menyibak daun pintu. Serta merta terpaparlah dengan jelas semangkuk kolak manis yang menggoda selera. Lengkap dengan aroma nangka dan pandan yang menyeruak hebat. Kelas menjadi sepi mencekam, bersiap menghadapi badai amarah sang guru yang terkenal disiplin itu.

Namun di sinilah letak keajaiban jagat persilatan Nyarumkop! Pak Is tidak lantas mengeluarkan jurus murkanya. Beliau hanya membetulkan posisi kacamata tebalnya. Memandang mangkuk kolak itu bergantian dengan wajah pucat pasi Songkiat dan Toton. Lalu mengeluarkan kapur tulis yang sejak tadi dikulumnya.

Baca Terkenang Herman Ahie : Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (82)

Seulas senyuman tipis yang sangat langka misterius terukir di sudut bibir beliau. Disusul sebaris kalimat datar yang langsung meruntuhkan ketegangan: 

"Lain kali, kalau mau menyembunyikan pusaka manis seperti ini, pastikan aromanya tidak ikut mengajar di depan kelas."

Sungguh, kami waktu itu sama sekali belum mengetahui kedalaman dan ketinggian ilmu Bruder Claudius. Ternyata ia memiliki 
in-kong (tenga dalam / ilmu sakti) yang berbasis pada indra penciuman (bun/wen). Seorang berilmu tinggi tidak lagi melihat dengan mata, melainkan mengendus "hawa murni" atau aroma yang keluar dari sebuah benda. Begitu aroma santan dan gula aren menyusup ke udara kelas, Bun-bin Sin-kong milik Pak Is langsung mendeteksi titik koordinat semangkuk kolak tersebut.

Tangan tangan kanan dan kirinya OK

Di dalam panggung jagat raya yang fana ini, acapkali muncul manusia-manusia pilihan yang diberkahi keajaiban oleh Yang Maha Kuasa. Begitu pula dalam ingatan seorang dara bernama Rosalina Nungkat. Sampai kapan pun, Rosalina tak pernah lupa satu hal ini pada sosok Claudius: Bruder Claudius manusia unik. Ada keunikan yang tidak semua orang miliki. Beliau mampu menulis dengan tangan kanan dan kiri secara bersamaan.

Melihatnya beraksi laksana menyaksikan seorang pendekar tinggi sedang memainkan jurus simfoni suling kembar yang menggetarkan sukma. Dua tangan bergerak dalam satu irama, dua arah berpadu dalam satu pikiran, seolah otak dan jemari sedang memainkan sebuah simfoni. Koordinasi otak kanan dan kirinya seimbang, memancarkan keselarasan batin yang tiada tara.

Di dunia persilatan ilmu pengetahuan modern, kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh Bruder Claudius tersebut dikenal dengan istilah ambidextrous tingkat lanjut, atau lebih spesifiknya simultaneous ambidexterity (kemampuan menulis dengan kedua tangan secara bersamaan). Sebuah keahlian langka yang konon hanya dikuasai oleh satu dari seratus orang di kolong langit ini, di mana belahan otak kiri dan kanan bekerja sama dalam harmoni yang sempurna, sedalam samudera dan setenang telaga di puncak gunung.

Yang ganjil dari bahasa Claudus: Kesimpulan apakah yang harus kita menarik?

Namun, di balik kehebatan yang mendekati kesempurnaan itu, jagat raya selalu menyisakan riak kecil yang jenaka. Manusia tidak ada yang sempurna, sebab kesempurnaan sejati hanyalah milik Sang Pencipta. Demikian pula dengan Bruder Claudius.

Lalu ada satu hal yang lebih unik lagi dari sosok Claudius ini. Jika beliau berbicara atau menulis dalam bahasa asing, untaian kalimatnya terdengar begitu fasih, mengalir deras bagaikan air terjun di celah gunung batu.

Akan tetapi, giliran menggunakan bahasa Indonesia, susunan katanya menjadi amat janggal dan aneh. Kejanggalan inilah yang kerap kali membuat kami, para cantrik yang menimba ilmu di bawah bimbingannya, harus bersusah payah menahan geli.

Pernah suatu hari, setelah jemarinya yang sakti selesai menggoreskan barisan rumus matematika yang rumit di papan tulis, beliau membalikkan badan. Dengan wajah yang sungguh-sungguh dan penuh wibawa seorang guru besar, ia memandang kami lalu bertanya dengan logatnya yang khas:

"Kesimpulan apakah yang harus kita menarik?"

Mendengar kalimat terbalik yang meminjam struktur bahasa asing itu, rasa menggelitik langsung menyerang ulu hati kami.

Kata-katanya ini bagi kami amat sangat lucu! Bayangkan, seorang yang otaknya seimbang dan mampu membelah konsentrasi, justru tersandung oleh tata bahasa yang sederhana. Namun, sekujur tubuh kami hanya bisa bergetar menahan tawa.

Kami semua hanya diam-diam tertawa di dalam hati. Mengunci dan menutup mulut rapat-rapat karena takut ketahuan. Sebab bagaimanapun juga, mengganggu keheningan kelas seorang guru sama saja dengan memancing badai di tengah telaga yang tenang!

Masri Sareb Putra
Based on a true story seperti dikisahkan Patrisius Patrik dan 
Rosalina Nungkat kepadaku.Minggu siang 4 Oktober 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.