Buih-Buih Tepian Sungai Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (91)

Sungai Sekabu. Apa sebenarnya daya pesonanya? Bukan alamnya, tapi bayangan indah di kepala pembaca. Ist.
Sungai Sekabu. Apa sebenarnya daya pesonanya? Bukan alamnya, tapi bayangan indah di kepala pembaca. Ist.

Angin rimba pada tahun 1978 bertiup laksana hembusan napas dewa asmara. Mengusap lembut pucuk-pucuk cemara menyendandungkan kidung sunyi ke dalam riak-riak Sungai Sekabu yang tiada henti mengalirkan nyanyian cinta. 

Airnya yang bening berkilauan memantulkan cahaya. Bagaikan sebilah pedang pusaka yang terbuat dari lelehan permata surga. Mengalir tenang membelah keheningan bumi purba.

Buih-buih tepian Sungai Sekabu

Di bawah bayang-bayang dedaunan rimbun yang menapis sinar mentari menjadi hamparan permadani emas, aku bersama Busianus dari Entakai ada di sepotong surga yang jatuh ke bumi. Sahabatku itu memiliki raga sekuat karang di lautan, namun jiwanya selembut hembusan angin senja.

Kami berdiri di sana. Bukan hanya sebagai tukang batu yang memindahkan raga batuan sungai. Setiap kubik batu Sungai Sekabu yang kami panggul dengan peluh yang menetes bagai butiran mutiara sesungguhnya adalah sebentuk bakti suci.

Baca Pak Slamet: Butuh Jawa Beda dengan Butuh Dayak yang Bikin Kelas Grrr - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (90)

Kami sedang merajut fondasi bagi sebuah mahligai agung bernama Wisma Rini. Di sanalah kelak. Para bidadari dunia yaitu gadis-gadis jelita yang kecantikannya sanggup meruntuhkan benteng pertahanan hati para pendekar akan bersemayam. Jemari lembut nan lentik memetik kecapi rindu, dan merayakan mekarnya kuntum-kuntum asmara yang harum mewangi.

Kidung rindu sang pengelana

Pesona tempat ini laksana magnet mustika yang memancarkan daya pikat gaib. Anak-anak dari Wisma Widiya hanya bisa memandang dari kejauhan dengan tatapan mata yang dipenuhi kabut kerinduan, memendam hasrat tersembunyi untuk menjejakkan kaki di sini, namun tembok takdir belum memberi mereka kesempatan.

Sungguh sebuah misteri alam yang sulit dicerna oleh akal budi. Bukankah di kampung halamanku sendiri, Sungai Ence dan Sungai Ittu mengalir dengan kejernihan yang tak kalah murni, layaknya cermin air yang menembus dasar lubuk paling dalam?

Namun, Sungai Sekabu memiliki daya teluh yang berbeda. Ia tidak hanya membasuh raga, melainkan telah menanamkan benih-benih kegilaan indah di dalam sanubari.

Antara bayangan dan mimpi

Memang tidak dapat disangkal oleh mata batin, pemandangan murni di Sungai Sekabu itu teramat indah, sebuah mahakarya alam yang melenakan setiap insan yang memandang. Namun, seperti yang kerap digoreskan dalam kitab-kitab persilatan klasik, apalah artinya keindahan kasat mata yang terikat oleh ruang dan waktu?

Ketahuilah, wahai budiman! Jauh lebih indah dan megah lagi adalah bayangan serta mimpi-mimpi yang terlahir darinya dan mekar di dalam dada.

Sebab, pemandangan alam laksana raga yang kelak akan berubah termakan zaman, sedangkan mimpi adalah sukmanya. Mimpi abadi. Ia tak tersentuh oleh lapuknya usia, dan bebas terbang menembus batas langit ketujuh tanpa sekat.

Di dalam dunia nyata, kita adalah tukang batu yang terikat oleh beratnya bumi dan dinginnya batu kali; namun, di dalam jagat impian, kita adalah raja dari nasib kita sendiri, berhak merajut takdir cinta sekokoh rajutan bintang-bintang. 

Di alam mimpi, sebatang sungai kecil bisa menjelma menjadi telaga surga, dan setiap gemercik airnya adalah bisikan cinta yang abadi. Manusia sering kali terpenjara oleh apa yang mereka lihat, padahal kebahagiaan sejati justru bersemayam di dalam apa yang mereka angankan.

Baca Melintas Pagar Bidadari Sekabu yang Dijaga Ketat 9 Pendekar Perempuan Sakti Berkerudung Putih- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (89)

Ketika sang surya mulai condong ke barat dan remang malam mulai merayap, jiwaku yang mabuk kepayang mulai mengembara ke alam awang-awang. Bersamaan dengan pecahnya buih-buih putih di tepian sungai, membubung pula lukisan khayal yang mahaindah: sesosok bidadari kahyangan dengan kulit seputih salju sedang membasuh diri di sela-sela bebatuan. 

Aduhai! Hai, hai!
Andai diri ini memiliki ilmu meringankan tubuh secepat bayangan? Ingin rasanya aku menyusup di balik tirai kabut selembut sutra, lalu mencuri sehelai kemben wangi miliknya. Bukan didorong oleh niat nista seorang berandal. Melainkan demi memenjarakan hatinya yang suci, menjerat raganya dalam pelukan asmara yang abadi. Supaya sang dewi kehilangan kepak sayapnya untuk kembali ke langit dan selamanya terkunci, tak lagi mampu berpindah ke lain hati hingga jagat raya ini runtuh menjadi debu.

Baca Menjaga Sekabu dalam Pusaran Konflik Madura-Dayak 1979 di Sendoreng - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (87)

Libur panjang tahun 1978 itu telah lama berlalu digulung oleh sang waktu. Namun, buih-buih rindu di Sungai Sekabu dan getar asmara yang tertinggal di celah batu fondasi Wisma Rini akan tetap abadi. Terpatri indah dalam lembaran kitab kehidupan yang paling sunyi. Sebab, pada akhirnya, batu fondasi itu mungkin akan berlumut, namun mimpi romantis di tepian Sekabu akan tetap suci, tak tersentuh oleh rusaknya usia.

Keindahan yang diciptakan oleh imajinasinya sendiri

Ketika mata memandang buih putih yang pecah di antara batu-batu, pikiran mulai mengembara. Gemercik air berubah menjadi bisikan. Kabut menjadi tirai. Batu-batu menjadi singgasana. Dan sungai kecil itu, tanpa mengubah setetes pun airnya. Tiba-tiba menjelma menjadi sebuah negeri yang dihuni bidadari, asmara, dan juga rahasia.

Sesungguhnya bukan Sekabu yang berubah. Kitalah yang berubah ketika memandangnya. Alam hanya memberikan secuil kenyataan. Selebihnya, imajinasi manusialah yang membangun istana di atasnya.

Maka, bertahun-tahun kemudian. Ketika tubuh telah meninggalkan tepian Sekabu dan langkah kaki telah membawa seseorang jauh ke negeri lain. Yang dirindukannya belum tentu lagi sungai itu. Yang dirindukannya adalah dunia yang pernah diciptakannya sendiri di sana. Dunia yang tidak pernah benar-benar ada, tetapi justru karena itulah tidak pernah pula benar-benar musnah.

Batu dapat berlumut. Air dapat berubah arah. Hutan dapat ditebang dan waktu dapat menghapus jejak kaki manusia. Tetapi bayangan indah yang pernah lahir di dalam sukma tidak mudah dibunuh oleh zaman.

Itulah rahasia Sekabu.
Bukan keindahan alamnya yang membuat orang terkenang, melainkan keindahan yang kemudian diciptakan oleh imajinasinya sendiri.

Masri Sareb Putra
Based on a true story.
Malam yang mendiamkan kelam, 3 Oktober 2026.


0 Comments

Type above and press Enter to search.