Menjaga Sekabu dalam Pusaran Konflik Madura-Dayak 1979 di Sendoreng - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (87)

 

Anak-anak Wisma Widya menjaga Sekabu dalam pusaran Konflik Madura-Dayak 1979 di Sendoreng
Anak-anak Wisma Widya menjaga Sekabu dalam pusaran Konflik Madura-Dayak 1979 di Sendoreng. Ist.
Ringkasan kisah sebelumnya:
Pada siang hari, 8 November 1979, Asikin bin Asmadin, lelaki Madura berusia 45 tahun, sedang mengarit rumput untuk sapinya di pematang sawah Desa Sendoreng. Ketika Sidik mengingatkan, “Hati-hati, Pak… nanti kena padi,” Asikin merasa tersinggung. Ia pulang mengambil calok, lalu kembali ke pematang dan menebaskan senjatanya ke tubuh Sidik. Sidik terjatuh dan kemudian meninggal. Peristiwa tersebut memicu amuk massa dan bentrokan (clash) yang meluas dalam rangkaian Peristiwa Sendoreng–Samalantan–Monterado, 8–15 November 1979.

Dalam situasi yang semakin tegang, Sekabu dijaga oleh anak-anak Wisma Widya, dan kami berada di sana bersama mereka. Dari Sekabu, kami mengalami langsung suasana mencekam yang menyertai meluasnya bentrokan pada hari-hari berikutnya.

Malam jahanam itu bergulir bagai kereta maut yang ditarik oleh iblis dari neraka jahanam. Kegelapan pekat menyelimuti bumi Sekabu, sementara hawa sedingin es merayap dari lereng gunung, membawa bau anyir darah dan asap kebakaran dari kejauhan.

Di bawah perintah suster kepala, kami, yaitu saya, Benediktus, Wiwi, Doraman, Patrisius, dan anak-anak Wisma lainnya, berdiri mengepung perimeter asrama.

Tubuh kami menggigil hebat. Bukan hanya karena hawa dingin, melainkan oleh cekaman ketakutan yang meremas dada.

Di tangan kami hanya ada kayu pencolok dan bambu runcing seadanya. Kami tahu, di dalam gedung tua itu, puluhan gadis asrama sedang berlutut dan menangis dalam doa. Di pundak kami yang masih muda, beban hidup dan mati mereka dipertaruhkan.

Baca Tan Un Mao dan Lim Kheng Siang: Dua Resi Sakti PKN dengan Jurus Naga Api - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (83)

Tiba-tiba, dari balik kegelapan kabut, terdengar lolongan mengerikan bersahut-sahutan. “Serbuuu...! Bakarrr...!”

Gelombang manusia bermata merah tanpa kendali akal budi muncul bagai siluman maut. Senjata tajam berkilatan memantulkan cahaya api yang berkobar di kejauhan. Doraman mencengkeram bambu runcingnya hingga jemarinya memutih, sementara Benediktus dan Wiwi bersiap mengambil posisi pasrah, namun nekad. Patrisius entah menjaga di mana? Saat sebilah parang hampir saja melayang, sebuah bayangan berkelebat cepat bagai kilat di musim hujan!

Ciaaattt...!

Sesosok pemuda perkasa menerjang maju. Liong Han! Pendekar berdarah campuran itu telah tiba. Dengan gerakan Sian-li-shian-to (Dewa terbang membawa golok), ia mengamuk bagai singa terluka di garis depan halaman wisma kami. Setiap tebasan senjatanya menahan gelombang maut.

Baca Terkenang Herman Ahie : Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (82)

Denting benturan besi beradu melengking, memekakkan telinga di tengah malam yang buta. Liong Han menjadi benteng bernyawa, menahan kepungan ratusan perusuh sendirian demi melindungi kami yang tak berdaya.

Menjelang fajar, suara truk militer akhirnya terdengar, menderu-deru memecah keheningan yang mencekam. Pasukan dari Batalyon 641 Beruang Hitam, Brimob, Kodim 1202, dan Hansip-Wanra turun dari bak truk dengan bedil terhunus.

Serta-merta mnyaksikan bala bantuan yang perkasa ini, massa bubar kocar-kacir, menyusup kembali ke dalam kegelapan hutan.

Baca Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (81)

Perlahan, kabut mulai surut, menyingkapkan pemandangan mengerikan sisa pertempuran semalam.

Liong Han berdiri di tengah halaman yang basah oleh embun dan darah. Tubuhnya goyah, napasnya memburu satu-satu bagai naga kehabisan napas. Luka di lengannya menganga, menyemburkan darah segar akibat tangkisan ilmu kebal Thih-pous-sam (Baju Besi Tembaga) yang pecah oleh pengeroyokan brutal.

Saya, Benediktus, Wiwi, Patrisius, dan Doraman melangkah maju dengan kaki lemas, menatap sang pendekar dengan rasa takjub sekaligus ngeri. Di saat itulah, ia menatap suster biarawati yang keluar dengan langkah goyah dari pintu asrama yang penuh bekas hantaman senjata.

Liong Han menyeka darah yang mengalir ke matanya. “Asrama masih utuh,” katanya pelan. “Gadis-gadisnya masih hidup.”

Suaranya bergetar berat, namun memancarkan kelegaan seorang ksatria sejati.

Suster biarawati menatapnya lama dengan pandangan mata yang kosong sekaligus penuh syukur. “Tuhan mengirimmu di malam yang paling gelap,” bisiknya lirih, lalu menatap hamparan padang di luar pagar wisma. “Tapi... berapa banyak yang sudah mati di luar sana?”

Liong Han tidak menjawab. Pertanyaan itu terlalu berat, bahkan untuk seorang pendekar berilmu tinggi. Ia hanya menatap ke arah Sendoreng yang masih mengepul asap hitam, meratapi angkara murka manusia yang telah membakar hangus kedamaian.

Beberapa hari kemudian....
Ketegangan mereda berganti duka yang mendalam. Di lapangan Samalantan, Tugu Perdamaian didirikan. Batu-batunya masih basah oleh semen, berdiri angkuh di bawah langit khatulistiwa. Di atasnya terukir kata-kata yang sederhana, tapi berat: “Damai adalah jalan.”

Baca Membaca Surat Cinta Bersama-sama- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (80)

Seluruh masyarakat, termasuk kami, anak-anak Wisma Sekabu, berdiri berjejer mengikuti upacara adat dengan khidmat. Namun, di manakah sang penyelamat?

Liong Han berdiri jauh di belakang kerumunan. Ia tidak ikut upacara. Bagi seorang murid perguruan budi luhur, pujian hanyalah racun duniawi. Ia hanya menatap tugu itu dari kejauhan, memastikan bahwa tugasnya telah usai, lalu berbalik menuju hutan.

Ia melangkah pergi, perlahan menghilang di balik rimbunnya belantara Kalimantan. Kabut masih ada. Hanya saja, sekarang kabut itu lebih sunyi.

Dan di balik kesunyian itu....
Jauh di kedalaman rimba yang gelap, seseorang masih bisa mendengar suara celurit yang digesekkan ke batu... seolah menunggu malam berikutnya. Sebuah isyarat mencekam bahwa iblis dendam di hati manusia belumlah mati, dan ia hanya sedang bersembunyi, menunggu waktu untuk bangkit kembali. (bersambung)

Masri Sareb Putra
Based on a true story..
Jakarta pagi yang teduh, 3 Oktober 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.