Membaca Surat Cinta Bersama-sama- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (80)
| Membaca surat cinta bersama-sama. Ist. |
Takdir manusia laksana jalannya awan di langit, ditiup angin nasib berputar-putar tanpa ada yang mampu menebak ujungnya!
Yan-sek, yang di masa mudanya memiliki hawa kewibawaan begitu sakral hingga mampu menggetarkan lutut anak-anak muda, kini telah menjelma menjadi seorang Lo-cian-pwe (tokoh sesepuh sakti) yang menarik diri dari keramaian dunia.
Beliau memilih hidup menyepi. Bertapa di sebuah biara tua di negeri Belanda nan amat jauh membelah samudera.
Sang Lo-cian-pwe tentu tidak pernah tahu, ke mana atau menjadi apa sebenarnya uang saku tiap bulan sebesar Rp5.000; sebuah rezeki halal yang dikirimkan oleh Pak Sareb dari Jangkang; mengalir pergi. Beliau tiada tahu untuk apa Bang Maliki menghabiskan bagiannya. Namun bagi si pemuda, uang saku itu laksana air jernih yang terserap habis oleh gurun pasir yang gersang, ludes demi memuaskan dahaga nafsunya: membeli perangko-perangko dari negeri seberang!
Zaman itu....
Jagat persilatan anak-anak muda sedang dilanda oleh sebuah tren kegandrungan yang dinamakan pen pal (sahabat pena). Ilmu jurus menulis surat ini sebenarnya juga ditekuni oleh Jitmen dan Benyamin Ngui. Namun, kedua sahabatnya itu memiliki ilmu pengendalian diri yang sudah matang. Mereka sanggup menahan rem nafsu batiniah, tetap fokus bertapa menuntut ilmu di sekolah, dan hanya sesekali saja membelanjakan pundi-pundi peraknya untuk membeli perangko.
Baca Bruder Yan dan Nalo dalam Amplop Putih - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (21)
Sebaliknya, watak si pemuda sungguh bertolak belakang! Jika nafsu berburu perangko sudah kumat, ia bagaikan kuda liar yang putus kendalinya, melesat kencang membuta menuju jurang tanpa bisa direm lagi!
Maka, setiap siang hari seusai ritual makan bersama di dalam asrama, suasana mendadak berubah menegangkan bagi si pemuda. Ketika sang pengawas asrama berjalan membawa tumpukan surat, si pemuda selalu ada di sana, hampir setiap hari tanpa pernah absen, dengan sepasang mata yang berkilat-kilat penuh harap.
Dari manakah datangnya musuh sekaligus sahabat pena yang tiada habis-habisnya menantang surat si pemuda? Ternyata, jalinan persahabatan itu bermula dari sebuah ruangan rahasia bernama "Ruang Tunas Muda" di dalam Majalah Hidup.
Baca Pasir Panjang, Ketika Debur Ombak Menautkan Dua Hati - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (78)
Di dalam samarnya kabut masa lalu, ingatan si pemuda melayang kembali pada tahun 1979, saat jemarinya menggoreskan pena menorehkan sebuah tulisan bertajuk "Ada apa di Persekolahan Katolik Nyarumkop?" Dimuat majalah mingguan Hidup di rubrik "Nusantara".
Di dunia persilatan masa lalu, nama Pendekar Jitmen atau kemudian menjadi Pendekar Chang adalah sepasang bayangan yang tak terpisahkan. Jauh sebelum mereka dikenal sebagai tokoh-tokoh sakti berwibawa di mana Jitmen kemudian hari tersohor sebagai sang ahli kitab bergelar Prof. Dr. William Chang; mereka hanyalah dua pemuda bengal dengan ikatan persaudaraan sehidup semati.
Masa muda mereka dipenuhi oleh wangi tanah sehabis hujan dan tawa riang. Apa-apa selalu dikerjakan bersama. Mulai dari urusan perut hingga urusan nyali.
Jika malam merambat senyap dan gulita mulai membekap malam. Maka empat-sekawan pemuda (Masri, Benyamin, Doraman, dan Jitmen) ini sering terlihat mengendap-endap di belakang pekarangan gereja tua.
Dengan qinggong (ilmu gerakan meringankan tubuh) yang belum sempurna, mereka saling bantu memetik buah sawo milik pastor. Kadang, saat dompet kempes tak berisi sekeping perak pun, mereka duduk di pinggir pasar sambil lahap menyantap singkong goreng hangat hasil berbagi rata.
Di hari yang terik jika terdengar denting lonceng penjaja makanan, mereka akan berlarian menyisihkan uang saku demi membeli es lilin untuk dinikmati bersama-sama di bawah pohon rindang. Namun lebih sering es lilin itu sudah meleleh masuk kerongkongan sebelum tiba di asrama.
Keberanian mereka diuji bukan hanya saat menghadapi musuh, tetapi juga saat memanjat pohon kelapa milik orang kampung.
Tak jarang aksi pencurian kecil itu berakhir dengan kejar-kejaran seru melawan anjing penjaga atau teriakan murka sang pemilik tanah. Namun, di situlah letak keindahan persahabatan mereka: tertawa bersama dalam pelarian.
Namun dari semua petualangan itu, tak ada yang mengalahkan mendebarkannya urusan asmara.
Kala itu jika salah satu dari mereka menerima balasan surat cinta yang datang dari arah lembah sunyi yang kala itu penuh gejolak asmara bernama Sekabu, suasana akan mendadak gempar. Surat berbahu wangi bunga itu tidak akan dibaca sendirian.
Di bawah temaram lampu bohlam asrama, darah muda yang dilanda asmara akan mencondongkan kepala. Mereka membaca baris demi baris kata-kata manis dengan dada berdebar bersama, seolah-olah sang bidadari Sekabu ditakdirkan untuk mereka semua.
Ssesungguhnyalah suratan takdir manusia tiada yang mampu menebak! Boleh jadi, kedua pemuda itu sejak usia belia memang telah dijuruskan oleh Yang Maha Kuasa untuk menekuni dunia tinta dan menyusuri jalan pedang yang sama.
Jalur takdir itu bergulir tiada henti hingga waktu membuktikan di tahun 2026 di mana si pemuda berhasil mengikuti jejak langkah emas William Chang menembus puncak anak tangga keilmuan dan meraih gelar Doktor (Dr.) pula!
Sungguh ikatan jodoh persahabatan dan ketekunan dunia tinta telah melahirkan dua orang pendekar budiman yang ilmunya mekar di zaman yang berbeda.
Baca Adriana Aslia, Si Anak Ketapel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (77)
Kembali ke lorong belakang gereja yang dinaungi dua pohon kelapa dan dua pohon sawo malam itu. Si pemuda memegang erat surat bertinta merah darah yang baru diterimanya dari kurir pos.
Benyamin Ngui menggeleng-gelengkan kepalanya, wajahnya yang biasa jenaka kini berubah serius memandang amplop tersebut.
"Sahabatku, surat dari 'Ruang Tunas Muda' kali ini rasanya tidak membawa hawa persahabatan yang bersih. Siapa sebenarnya orang sakti yang mengirimkan surat bertinta darah ini?"
***
Si pemuda terdiam seribu bahasa. Matanya menatap tajam ke arah tulisan misterius itu. Di dalam dadanya bergejolak pertanyaan besar yang menggetarkan sukma: apakah surat ini merupakan ancaman dari musuh-musuh terselubung yang ingin merubuhkan perjuangan idealis ayahnya di Sanggau?
Ataukah ini merupakan petunjuk dari seorang tokoh sakti tersembunyi yang mengetahui rahasia masa lalu?
Baca Pintu Terakhir Lim Kheng Siang yang Tak Pernah Terbuka Lagi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (76)
Bagaimanakah kelanjutan riwayat si pemuda pemburu perangko ini dalam mengarungi ombak kehidupan yang penuh mara bahaya? Apakah ia akan meminta bantuan Bang Maliki untuk menyelidiki asal-usul surat misterius ini?
Sungguh! Hidup manusia tiada yang tahu, bagaikan awan di langit yang tertiup angin nasib! Bersambung ke episode berikutnya!
Masri Sareb Putra
Jakarta pabila pagi mulai ditinggalkan siang 2 Oktober 2026.
0 Comments