Adriana Aslia, Si Anak Ketapel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (77)
| Pak Ketapel (Kaslem) itu. |
Suasana malam di Kota Pontianak dipenuhi bising kota, beradu dengan deru air yang mengalir dari arah Sungai Kapuas.
Di dalam sebuah kedai kopi tua yang hangat. Adriana, putri dari mendiang Pak Kaslem, duduk bersama beberapa alumni Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN).
Aroma kopi saring yang pekat mengepul. Memancing ingatan mereka terbang jauh ke masa lalu, ke sebuah lembah subur di kaki Gunung Poteng yang selalu diselimuti kabut dingin dan jajaran pohon pinus yang sunyi.
Baca Pintu Terakhir Lim Kheng Siang yang Tak Pernah Terbuka Lagi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (76)
Pembaca yang bijaksana, sesungguhnya budi kebaikan seorang guru itu laksana air pegunungan yang mengalir tanpa henti.
Demikian pulalah kenangan indah yang masih basah di ingatan Adriana. Belum lama berselang, pada 4–6 September 2026, ia menghadiri perhelatan besar Reuni Akbar 110 Tahun PKN. Di sanalah, jalinan rasa hormat yang luar biasa dari para murid ayahnya kembali terbukti.
Baca Lim Kheng Siang dan Jurus Pamungkasnya Mendidik Murid Bandel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (65)
"Kalian tahu," kata Adriana dengan mata berkaca-kaca, memecah bising kota di luar meja kedai. "Tiap kali aku berjalan di koridor sekolah saat reuni kemarin, beberapa anak didik Pak Kaslem selalu menyapaku dengan seruan yang sama. Mereka tersenyum lebar dan berteriak, "Hai, anak Pak Ketapel!"
| Adriana Aslia, Si Anak Ketapel. Ist. |
Mendengar penuturan Adriana, para alumni yang hadir malam itu tertegun, lalu tersenyum penuh keharuan. Julukan itu bukanlah sebuah olok-olok, melainkan sebuah tanda penghormatan tertinggi dari para pendekar kehidupan yang telah sukses merantau di tanah Jabodetabek dan kota-kota besar lainnya.
Baca Doa Rosario di Kapel yang Menautkan Cinta - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (75)
Bagi para alumni PKN, sosok Pak Kaslem adalah legenda yang berjiwa ksatria. Beliau adalah kepala sekolah sekaligus guru olahraga yang terkenal sangat galak dan memegang teguh disiplin baja. Saat mengajar pasukan baris-berbaris di lapangan Nyarumkop, sebilah ketapel kayu selalu berada di tangannya. Ketapel itu menjadi momok sekaligus penyelamat.
Setiap kali ada kaki murid yang melangkah sumbang atau tidak sesuai dengan aba-aba, sebuah kerikil kecil akan melesat cepat, memberikan teguran perih di betis mereka.
"Dulu kami menganggap ayahmu sangat kejam, Adriana," bisik salah seorang alumni dengan suara parau menahan tangis. "Namun setelah dua puluh dua tahun beliau wafat, dan setelah kami dihantam kerasnya ombak kehidupan di perantauan, kami baru sadar. Ketapel Pak Kaslem tidak pernah berniat melukai. Beliau sedang meluruskan kaki-kaki kami yang bengkok agar kami mampu berjalan tegak menghadapi ujian dunia."
Memang demikianlah watak manusia jelita. Kadang kala, didikan yang dirasa pahit bagai empedu di masa muda justru menjadi obat penawar mujarab di hari tua. Maka tidak heran, setiap kali para alumni berkunjung kembali ke Nyarumkop, mereka selalu menyempatkan diri mendatangi rumah tua Pak Kaslem. Di beranda rumah itulah, para pria perkasa yang kini telah menjadi orang sukses sering kali saling berangkulan dan bertangisan sejadi-jadinya bersama sang guru, menumpahkan rasa rindu dan syukur yang tak terbatas.
Adriana mengangguk pelan. Setitik air mata kebahagiaan lolos dari pelupuk matanya. Ia lalu menatap para alumni dan membisikkan sebuah rahasia keluarga yang suci.
"Sampai saat ini, ketapel bersejarah itu masih ada," ucap Adriana dengan suara lembut, namun bergetar. "Benda itu disimpan dengan sangat baik oleh adikku, Amin, yang kini tinggal di Tangerang. Ketapel itu tidak pernah dibuang, karena di dalam serat-serat kayunya tersimpan jiwa ketegasan, cinta kasih, dan berkah dari seorang guru sejati yang telah melontarkan murid-muridnya menuju gerbang kesuksesan."
Malam kian larut di Pontianak, namun kehangatan hati mereka tak luntur oleh waktu. Didikan Pak Kaslem telah abadi, mengalir bersama hembusan angin Nyarumkop di dalam nadi anak-anak didiknya. Sungguh, seorang guru sejati tidak pernah mati karena jasanya tertanam kuat di dalam dada para murid yang tahu membalas budi.
Para pembaca yang budiman, sesungguhnya sebatang pohon yang tumbuh kuat di puncak bukit tidak pernah dihasilkan oleh embusan angin yang lemah lembut. Pohon itu menjadi kokoh karena ia berulang kali dihantam badai, dicambuk angin ribut, dan dipanggang terik matahari.
Demikian pulalah jiwa seorang manusia. Kasih sayang seorang ayah dan guru tidak selamanya berwujud belaian lembut yang membuai. Kadang kala, ia menjelma menjadi disiplin baja yang terasa perih bagai sengatan kerikil ketapel Pak Kaslem.
Beruntunglah para murid yang menderita di masa muda demi menempa budi pekerti, karena mereka akan memetik buah yang manis di hari tua. Ketahuilah bahwa emas murni hanya bisa berkilau setelah ia terbakar habis di dalam tungku api yang membara.
Angin gunung berdesau di pucuk pinus Nyarumkop,
Membawa kisah ketapel kayu yang takkan pernah redup.
Langkah yang sumbang diluruskan dengan ketegasan hati,
Menempa raga dan jiwa para ksatria pembela budi.
Dua puluh dua tahun sudah sang guru berpulang tenang,
Namun namanya di hati para alumni tetap gemilang.
Biar bising Kota Pontianak memekakkan telinga,
Bakti dan rindu pada Pak Kaslem abadi sepanjang masa.
Masri Sareb Putra
Jakarta ketika malam merangkak perlahan, 1 Oktober 2026.
0 Comments