Doa Rosario di Kapel yang Menautkan Cinta - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (75)
| Doa Rosario yang ditunggu-tunggu: sebuah ruang ibadah yang menjelma menjadi medan pertempuran batin yang luar biasa dahsyat. Ist. |
Malam kelam di bulan Oktober selalu membawa kabut yang lebih tebal dari biasanya dari lereng Poteng menembus Sekabu. Udara dingin berembus laksana bisikan maut, menusuk hingga ke tulang sumsum, seolah memberi tahu bahwa di balik kesunyian malam, ada bahaya yang selalu mengintai.
Namun bagi para cantrik muda di Wisma Widya. Hawa mencekam itu sirna setiap kali lonceng kapel tua berdentang membelah kegelapan.
Baca Prahara Kalender Maut: Berakhirnya SMA Empat Tahun dan Perpanjangan Enam Bulan Sekolah yang Mencekam - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (74)
Suara dentang itu adalah panggilan suci. Sekaligus satu-satunya celah bagi seberkas cahaya cinta untuk masuk ke dalam hidup mereka yang dikekang aturan keras perguruan.
Di dalam kapel yang temaram, wangi dupa bercampur dengan aroma minyak lilin yang terbakar. Di sinilah mereka berkumpul, para cantrik Wisma Widya dan para gadis dari Asrama Sekabu.
Peraturan rimba persilatan di bukit itu sangat kejam. Mereka dilarang keras saling bicara. Bahkan, berpapasan di siang hari bisa berujung pada hukuman cambuk. Maka ruang ibadah ini menjelma menjadi medan pertempuran batin yang luar biasa dahsyat.
Baca Justina Hendry: Peserta Reuni Terjauh Melintas Benua Membawa Sang Bunda - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (73)
Ketika untaian rosario mulai bergulir di jemari, suara gumaman doa terdengar laksana melodi yang menyayat kalbu. Sepuluh kali "Salam Maria" diucapkan, berputar dalam lima peristiwa suci yang terasa berjalan berabad-abad lamanya.
“Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu…”
Bibir bergetar merapal doa suci. Namun di dada mereka ada badai yang sedang berkecamuk. Air mata kerinduan diam-diam menetes di pipi seorang gadis asrama.
Sementara itu, di barisan belakang, seorang cantrik muda menatap punggung gadis itu dengan hati yang tersayat. Mereka begitu dekat, namun dipisahkan oleh jurang aturan yang tidak menoleransi cinta.
Dalam keremangan itu, mata mereka saling mencari. Ketika dua pasang mata akhirnya beradu, serrr! Darah muda mengalir deras. Ada rasa hangat yang membakar dada di tengah dinginnya malam yang mencekam. Sungguh sebuah keindahan yang magis sekaligus menyakitkan. Bagaimana mungkin ketenangan doa dan gelora asmara yang begitu murni dapat menyatu, menciptakan rasa cinta masa remaja yang begitu indah namun penuh kepasrahan?
Rasa tidak sabar bergejolak. Mereka ingin doa ini cepat usai agar dapat saling memandang lebih dekat. Namun, di sisi lain, hati mereka perih karena tahu setiap butir rosario yang terlewati membawa mereka semakin dekat pada perpisahan malam itu.
***
Begitu doa Rosario berakhir....
Suasana mendadak senyap dan menegangkan. Malam memang belum larut. Namun kegelapan di luar kapel terasa semakin pekat dan mengancam.
Inilah momen yang paling dinanti sekaligus paling menyiksa. Para cantrik Wisma Widya berjalan mengawal anak-anak Asrama Sekabu menembus jalan setapak yang gelap, hanya ditemani cahaya obor yang bergoyang ditiup angin malam.
Baca Datanglah ke Majalah Dinding, Aku Menunggumu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (72)
Mereka berjalan berdekatan. Jemari mereka sesekali bersentuhan secara tidak sengaja, mengirimkan getaran hebat yang membuat jantung berdegup kencang. Tidak ada kata-kata yang terucap. Hanya pandangan mata yang menyiratkan janji setia dan rasa cinta yang begitu mendalam, seolah malam ini adalah malam terakhir mereka di dunia.
Namun, tanpa terasa, batas itu tiba. Para cantrik harus berbelok ke belakang, kembali ke asrama, dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Wajah dan senyum adalah bahasanya. Batas suci telah di depan mata.
Di atas tangga pelataran, berdiri "Sembilan Pendekar Wanita" (suster) pembela kesucian Asrama Sekabu. Mereka berdiri tegak laksana arwah penjaga, dengan jubah hitam yang berkibar ditiup angin gunung. Wajah mereka dingin tanpa ekspresi. Pedang di tangan mereka berkilau mengerikan, memantulkan cahaya bulan. Suasana berubah menjadi sangat mencekam, mematikan seluruh tawa yang hampir pecah.
Baca Tarian Massal Meriahkan Reuni 110 Tahun PKN: Makna dan Pesannya untuk Zaman Now
Para cantrik tahu betul, satu langkah saja kaki mereka melewati batas pelataran itu demi mengejar cinta, maka sembilan bilah pedang akan langsung mencabut nyawa mereka tanpa ampun.
Di bawah tatapan dingin sembilan suster penjaga dan “pelindung para perawan” padepokan Sekabu. Sepasang kekasih muda itu hanya bisa saling melempar tatapan perpisahan yang menghancurkan hati.
Cinta remaja mereka yang indah harus terpasung oleh kejamnya takdir perguruan. Namun di situlah letak indahnya!
Pembaca yang budiman, demikianlah roda nasib berputar di atas puncak Bukit Sekabu, karena benarlah apa yang tersurat dalam kitab kuno bahwa di mana ada cinta yang murni, di situ pula keteguhan iman manusia akan diuji hingga ke batasnya. Dalam tradisi agung Gereja Katolik yang luhur, bulan Oktober memang telah ditetapkan menjadi Bulan Rosario yang suci, di mana umat manusia di seluruh kolong langit mendaraskan doa setiap hari demi memohon perlindungan Bunda Maria yang penuh welas asih.
Begitu pula yang terjadi pada hati muda para cantrik Wisma Widya dan gadis-gadis Asrama Sekabu yang diam-diam saling jatuh cinta. Di antara mereka tumbuh rasa kasih yang tidak dapat diucapkan, sebab aturan perguruan melarang keras para cantrik dan gadis-gadis asrama saling berdekatan, apalagi menjalin hubungan. Mereka hanya dapat bertukar pandang di dalam kapel, menyimpan rindu dalam diam, dan membiarkan senyum menjadi bahasa rahasia di antara dua hati yang saling terpaut.
Baca Panitia Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) yang tak Banyak Duduk
Mereka hanya bisa menggantungkan rasa rindu dendam yang membara pada setiap butir manik-manik rosario yang dingin di jemari, sembari memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberi kekuatan untuk menanti datangnya hari esok, ketika mereka mungkin dapat kembali bertemu dalam keheningan doa yang suci.
Sungguh sebuah asmara remaja yang amat indah sekaligus menyayat kalbu: cinta diam-diam antara para pemuda Wisma Widya dan gadis-gadis Asrama Sekabu, yang tumbuh subur di antara keturunan Dayak dan Cina. Namun harus mereka serahkan kepada suratan takdir di atas sana.
Pontianak, malam jelang bulan Rosario 2026.
0 Comments