Prahara Kalender Maut: Berakhirnya SMA Empat Tahun dan Perpanjangan Enam Bulan Sekolah yang Mencekam - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (74)
| Kanisius, salah satu anggota PKI-A (kedua dari kiri pembaca, panah) di antara personel Wid Bros, grup musik legendaris PKN di masanya: Jayaseputra, Maliki, dan Akong. Ist. |
Gunung Poteng berdiri kokoh dengan puncaknya yang selalu diselimuti kabut tipis, menjaga sebuah lembah sunyi di mana Seminari SMA St. Paulus Nyarumkop tegak berdiri.
Setiap desau angin pegunungan, setiap dentang lonceng kapel, terasa menyertai detak jantung para cantrik yang sedang menempa diri.
Baca Justina Hendry: Peserta Reuni Terjauh Melintas Benua Membawa Sang Bunda - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (73)
Sejak lama, tempat ini terkenal dengan gemblengan garis kerasnya: para cantrik harus menempuh empat tahun akademik, dari Kelas 1 hingga Kelas 4, demi mematangkan jiwa dan ilmu sebelum benar-benar siap turun ke medan laga kehidupan.
Namun ketenangan lembah suci itu mulai terusik ketika sang waktu mendekati akhir tahun 1977. Angin pegunungan membawa bisikan-bisikan dari ibu kota yang jauh di seberang lautan. Kabar burung yang berembus akhirnya mewujud menjadi sebuah kenyataan pahit yang mengguncang keteguhan hati para penghuninya.
Kebijakan penambahan tahun ajaran
Pemerintah pusat, melalui tangan dingin Mendikbud Daoed Joesoef, telah mengeluarkan sebuah titah sakti: kalender pendidikan nasional resmi diubah. Tahun pelajaran yang semula selalu diawali pada bulan Januari kini digeser ke bulan Juli mulai tahun pelajaran 1979. Sebuah masa peralihan yang penuh gejolak pun tidak dapat dihindari.
Baca Datanglah ke Majalah Dinding, Aku Menunggumu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (72)
Bagi anak-anak Nyarumkop, maklumat itu bukanlah sekadar urusan kertas administrasi di Jakarta. Dampaknya langsung memukul pundak mereka seperti hantaman tenaga dalam yang kasatmata. Karena perguruan mereka menerapkan sistem empat tahun, pergeseran kalender ini memaksa tahun pelajaran 1978 diperpanjang selama enam bulan ke depan, hingga menembus pertengahan tahun 1979.
Maka, hitungan matematika nasib pun berubah seketika. Bagi mereka yang terperangkap dalam masa peralihan ini, masa gemblengan empat tahun yang tadinya sudah terasa sangat lama kini membengkak menjadi empat tahun setengah!
"Empat tahun saja sudah membuat rambut kita hampir beruban di lembah sunyi ini, kini kita harus menambah setengah tahun lagi?" bisik seorang siswa dengan wajah kuyu di bawah temaram lampu asrama.
Kabar tersebut bagai racun yang perlahan menggerogoti keteguhan hati. Satu demi satu, para siswa mulai menimbang-nimbang kesetiaan mereka pada jalan sunyi ini. Ketika fajar tahun 1978 menyingsing, gelombang keputusasaan tak lagi membendung tekad sebagian besar dari mereka untuk angkat kaki.
Baca Tarian Massal Meriahkan Reuni 110 Tahun PKN: Makna dan Pesannya untuk Zaman Now
Beberapa di antara mereka benar-benar memutuskan untuk "turun gunung" dan menanggalkan jubah cantriknya. Paulinus Pauji, Kinjung, Ojang, hingga Hilarion Asan termasuk dalam barisan mereka yang melangkah pergi, meninggalkan gerbang Nyarumkop demi mencari peruntungan di sekolah luar yang jalannya lebih lempang.
Empat Karang di Tengah Samudra
Suasana kelas yang semula riuh kini berubah menjadi sepi yang mencekam. Kursi-kursi kosong berserakan seperti medan perang yang ditinggal mati pasukan. Namun, di tengah rontoknya mental para siswa, sejarah mencatat ada empat pasang kaki yang tetap berdiri tegak, sekokoh akar pohon beringin tua. Mereka adalah Parbubu, Kanis, Irwan, dan Aloysius Iyun.
"Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga akan ikut turun gunung?" tanya seorang pengasuh asrama pada suatu sore.
Panitia Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) yang tak Banyak Duduk
Parbubu Lumban Tobing, pemuda yang memiliki keteguhan sikap, bertukar pandang dengan Petrus Kanisius, atau yang akrab disapa Kanis, pemuda bertubuh tenang, namun memiliki tatapan mata yang tajam bertenaga. Di samping mereka, Irwan yang tekun dan Aloysius Iyun yang bersemangat baja mengangguk mantap. Hati mereka sudah bulat. Mereka memilih bertahan, menghadapi badai ketidakpastian itu dengan dada dibusungkan.
Melihat keteguhan hati yang luar biasa dari keempat pemuda ini, para petinggi sekolah bersama para pengurus Yayasan Perum tergerak hatinya. Mereka mengadakan rembuk rahasia di ruang doa. Membiarkan empat murid ini belajar sendirian di sebuah kelas selama sisa waktu yang panjang tentu bukan perkara bijak. Akhirnya, sebuah keputusan besar dan berani dikeluarkan demi menyelamatkan masa depan mereka.
Empat serangkai ini diberi hak istimewa yang tak pernah ada sebelumnya: mereka diperbolehkan melompati batas waktu, bergabung dengan kakak angkatan mereka yang sudah duduk di Kelas 4 untuk langsung mengikuti ujian akhir bersama!
PKI-A: Julukan Sakti Pembelah Takdir
Dengan jalan pintas yang direstui takdir itulah, hitungan waktu berbalik memihak mereka. Masa pendidikan mereka terpangkas menjadi hanya sekitar tiga setengah tahun Tiga tahun pertama mereka babat habis hingga Kelas 3, dan tahap terakhir yang menentukan itu mereka tempuh berdampingan dengan para senior di Kelas 4.
Sebuah keunikan nasib yang luar biasa di tengah kekacauan zaman. Ketika siswa angkatan normal harus menghabiskan waktu empat tahun dan kawan-kawan mereka yang terjebak masa peralihan harus menderita selama empat tahun setengah, empat pemuda ini justru melesat melompati takdir hanya dalam waktu tiga setengah tahun saja.
Di tengah kesibukan mempersiapkan diri menghadapi ujian akbar yang menegangkan itu, tersebutlah Pastor Bertus. Beliau adalah seorang guru sepuh yang sangat dihormati di Nyarumkop. Selain bijaksana dan penyabar, ia memiliki kecerdasan tingkat tinggi yang memungkinkannya menguasai "ilmu lidah asing" berupa Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman dengan sangat fasih.
Baca Reuni Akbar 110 Tahun PKN dan Kisah Kasih di Sekolah Para Alumni
Pada suatu hari, Pastor Bertus berdiri di depan meja kayunya yang besar, memandangi daftar empat nama murid yang tersisa di hadapannya: Parbubu, Kanis, Irwan, dan Aloysius Iyun. Jari-jarinya yang mulai keriput mengetuk-ngetuk meja, sementara seulas senyum jenaka yang penuh arti perlahan menghias bibirnya yang tertutup jenggot tipis. Beliau mendongak, memandang keempat pemuda yang berdiri dengan sikap hormat di depannya.
"PKI-A,” katanya memecah kesunyian ruangan, dibarengi sebuah senyuman misterius.
Mendengar kata-kata itu, keempat pemuda tersebut sempat tertegun. Namun, sebagai murid-murid yang cerdas, mereka segera menangkap kilatan jenaka di mata sang guru sepuh. Mereka tentu tahu bahwa nama yang diucapkan sang pastor hanyalah sebuah permainan huruf, sebuah utak-atik kata yang cerdik.
Huruf P diambil dari nama Parbubu, K dari Kanis, I dari Irwan, dan A dari Aloysius Iyun. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia yang pernah mengguncang tanah air. Itu hanyalah sebuah candaan seorang guru tua untuk mencairkan ketegangan jiwa murid-muridnya yang sedang bertarung melawan waktu.
Tetapi, seperti sebuah julukan pendekar di dunia persilatan, nama itu telanjur melekat erat dan bergema ke seantero kompleks sekolah. Empat pemuda yang berhasil bertahan di tengah badai perubahan zaman itu kemudian selamanya dikenang dengan nama yang menggetarkan sekaligus menggelitik tersebut: PKI-A, empat serangkai dari Nyarumkop.
Baca Misa Pagi: Mencuri Pandang dan Bertemu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (70)
Mereka telah membuktikan bahwa di mana ada kemauan yang keras dan hati yang bersih untuk menerima kenyataan, di situ pula Tuhan Yang Maha Kuasa akan membukakan jalan rahasia yang tak terduga menuju kemenangan.
Based on a true story seperti dikisahkan Bang Maliki kepadaku.
Pontianak malam 30 September 2026.
0 Comments