Pintu Terakhir Lim Kheng Siang yang Tak Pernah Terbuka Lagi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (76)

Pintu Putih Lim Kheng Siang yang Tak Pernah Terbuka Lagi
Aku di hadapan kamar Pintu Putih Lim Kheng Siang yang tak pernah kembali lagi. Ist.

Pagi itu langit di atas Sungai Raya tampak tenang damai, setelah tiga kali hujan deras menyapu debu dan jerebu yang sempat menyelimuti bumi Khatulistiwa.

Empat bulan kemarau panjang telah menghukum tanah ini akibat deforestasi dan kerakusan industri tambang serta perkebunan sawit yang tak kenal ampun. 

Baca Lim Kheng Siang dan Jurus Pamungkasnya Mendidik Murid Bandel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (65)

Tanah yang retak kini basah kembali, udara yang semula pekat oleh asap kini dapat dihirup lega, namun aroma tanah basah itu justru membuat dada sesak.

Angin laut yang melintas Sungai Kapuas berhembus pelan. Membawa bau air sungai yang asin-manis bercampur kelembapan khas Pontianak.

***

Di depan bangunan kuning pucat yang dindingnya sudah retak dimakan usia, berdiri seorang lelaki. Jari telunjuk tangan kanannya gemetar hebat menunjuk ke sebuah pintu putih tua yang catnya mengelupas di beberapa sudut. 

Baca 
Siasat Bantal Berselimut Menghapus Jejak Malam ke Taenam hingga Singkawang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (64)

Di atas pintu itu terpasang papan kecil yang hampir pudar, masih terbaca tulisan “Kamar Pastor”.

Itulah pintu terakhir!

Pintu yang selama bertahun-tahun dibuka dan ditutup oleh sepasang tangan kurus namun masih kuat, urat-uratnya menonjol jelas.

Tangan yang selalu bangkit sebelum matahari terbit, yang menanam pisang di kebun belakang dengan penuh kesabaran meski tanah sering kering kerontang, yang memperbaiki alat-alat rusak tanpa pernah mengeluh, yang menandatangani laporan ekonomi hingga larut malam di bawah lampu redup.

Baca Doa Rosario di Kapel yang Menautkan Cinta - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (75)

Tangan yang tak pernah mau merepotkan orang lain, bahkan ketika tubuh sang pemiliknya sudah renta.

Baca 
Siasat Bantal Berselimut Menghapus Jejak Malam ke Taenam hingga Singkawang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (64)

Di balik pintu itu pernah tinggal seorang resi sejati, Patrick Hartadi OFMCap, yang oleh warga setempat disapa dengan penuh hormat “Pastor Kakek”.

Namun di dalam hati sang peziarah yang berdiri di depan pintu itu, nama tersebut selalu bergema dengan bunyi lain yang lebih dalam dan lebih menusuk: Lim Kheng Siang. Nama Cina-nya. Nama yang dulu tak berani disebut keras-keras di Wisma Widya Nyarumkop karena rasa segan dan takut bercampur jadi satu.

Malam itu...
Di lereng Gunung Poteng, angin pegunungan bertiup kencang, menggoyang dedaunan pohon hingga berdesir. Hawa dingin menusuk hingga ke dalam Asrama Putra Nyarumkop yang riuh oleh suara canda remaja dan derap langkah kaki di koridor.

Di tengah-tengah lingkungan asrama yang dihuni anak-anak muda SMA dan SPG, hidup sesosok tua yang belum terlalu bangka, namun penampilannya sangat mengacaukan pandangan mata. Tubuhnya sedang tidak kurus, punggungnya sedikit membungkuk, rambut hitam lurusnya sudah beruban di pelipis, wajahnya penuh garis-garis dalam yang seolah menyimpan ribuan rahasia.

Orang tua yang kepalanya persis gambar "aggur cap orangtua" macam tempurung kelapa itu tidak lain adalah Pak Aki. Di kalangan kaum persilatan dikenal dengan nama aslinya Patrick Hartadi, atau nama lahirnya Lim Kheng Siang.

Bagi mereka yang belum mengenalnya, penampilan Pak Aki tampak seperti pengemis jompo yang sudah dekat dengan liang kubur. Ia berjalan tertatih di antara koridor asrama yang bising. Sandal jepitnya berbunyi pelan di lantai semen.

Baca Jurus Genderang dan Pemeo Kimbot mengatasi Masalah SMA tak ada Siswa Wanita- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (63)

Namun siapakah yang dapat menduga garis suratan takdir yang digariskan Yang Maha Kuasa?

Di balik wajah renta itu bersembunyi seorang pendekar linuwih yang telah kenyang makan asam garam dunia, matanya masih tajam bagai mata elang meskipun sering disembunyikan di balik kelelahan.

Ketika mengasuh anak-anak asrama yang penuh gejolak darah muda, ketegasannya tetap terasa bagai pedang yang tak pernah tumpul. Akibat sebuah kesalahpahaman dan sifat kepala batu sang murid yang melanggar aturan, Pastor Kakek mengerahkan wibawanya.

Dengan suara tenang namun tajam bagai bilah pedang, ia mengeluarkan sang murid dari tempat itu. Sang murid masih ingat betul bagaimana dadanya sesak saat itu, bagaimana air mata yang ditahan di depan teman-teman, bagaimana rasa malu dan marah bercampur jadi satu.

Hubungan mereka membeku. Jarak menyelimuti bertahun-tahun, meninggalkan luka yang menganga di dalam hati.

***

Hingga suatu hari, di kawasan Puri Kembangan, Jakarta, saat sang murid berjalan kaki mencari ikan hias, ia melihat sosok yang tak terduga.

Di depan rumah kakaknya, sang pendekar tua sedang nongkrong santai, duduk di kursi plastik dengan kaos oblong longgar, rambutnya lebih putih, wajahnya lebih kurus, namun senyumnya masih sama, lembut dan sedikit nakal. Pertemuan tak disengaja itu menjadi awal mencairnya hubungan mereka.

Di bawah langit Puri Indah, di antara obrolan ringan dan hembusan angin, mereka akhirnya berbaikan. Ganjalan masa lalu perlahan hilang dalam percakapan dan tawa, meskipun di sudut mata sang murid masih terasa basah oleh rasa lega yang tak terkatakan.

Waktu berlalu. Hubungan yang pulih membawa sang murid kembali ke Pastoran Sungai Raya. Ia bahkan kerap menginap di kamar yang tepat berada di sebelah kamar tidur sang resi.

Baca Gelar Para Pendekar Padepokan Widya Diberi Para Murid yang tak Tahu Diri - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (48)

Setiap kali langkah kaki membawanya kembali ke pastoran itu. Sayup-sayup aroma kayu tua, heningnya malam, dan suasana tempat itu selalu membuatnya teringat kembali pada sosok Lim Kheng Siang.

Dia, sang pendekar yang menyembunyikan masa lalunya di balik kesederhanaan seorang pamong asrama. Telah pun meninggalkan kenangan yang mendalam, kenangan yang kini terasa bagai pisau yang menusuk perlahan.

***

Pagi ini, 1 Oktober 2026....
Setelah hujan ketiga kali membersihkan debu dan jerebu yang sempat menghukum bumi ini. Sang peziarah berdiri di depan pintu kamar yang sama.  Almanak di dinding tersobek enta sudah berapa kali? Sebab masa sudah meninggalkan tahun lebih empat puluh kali berlalu.

Tubuhnya yang sudah tak muda lagi terasa berat. Bahu-bahunya turun, napasnya pendek. Angin laut yang melintas Sungai Kapuas menyapu wajahnya. Membawa kelembapan yang dingin dan bau sungai yang khas.

Air mata tulusnya menetes tanpa suara. Membasahi tanah yang masih basah di depan kamar terakhir Lim Kheng Siang. Mmbuat dada sesak hingga hampir tak mampu berdiri tegak.

“Pastor… Pak Aki… Lim Kheng Siang… maafkan kami…”

Suara itu pecah di udara, serak dan bergetar.

Maafkan kami yang dulu bandel. Maafkan kami yang tak mengerti mengapa engkau begitu keras di Nyarumkop. Begitu disiplin di Sungai Raya. Begitu diam dalam memberi.

Kini baru kami paham: demikianlah cara seorang resi sejati mendidik anak padepokan yang keras kepala.

Bukan dengan bentakan semata, melainkan dengan hidupnya sendiri. Dengan ketegasan yang pahit di masa muda, dengan kesetiaan menanam pisang di masa tua meski kemarau panjang, dengan pepatah Latin yang ditempel di jendela kamar: 

“Si non est satis, memento paupertatis.”
Jika engkau tidak puas, ingatlah orang miskin.

Kini pintu itu kosong. Kamar itu sunyi. Tidak ada lagi suara “Buon giorno, Padre!” di pagi hari. Tidak ada lagi langkah kaki yang kembali pukul delapan malam. Tidak ada lagi senyum lembut sang Pastor Kakek yang menatap anak-anak padepokan yang bandel dengan penuh harap.

Hanya aroma kayu tua yang samar-samar masih tersisa, bercampur dengan bau tanah basah setelah hujan dan angin laut dari Sungai Kapuas, seolah ingin mengingatkan bahwa ia pernah ada di sini.

Hanya angin laut yang masih berembus, membawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Dan seorang lelaki yang menunjuk ke pintu putih itu, air matanya jatuh ke tanah Sungai Raya yang baru dibasahi hujan, seolah membasahi jejak langkah yang sudah lama tak terlihat.

Dadanya naik-turun hebat, tenggorokannya tercekat, dan di dalam hatinya bergema rasa bersalah yang tak pernah benar-benar hilang.

Lim Kheng Siang telah pergi....

Namun di balik pintu yang tertutup itu, seolah masih terdengar bisikan lembut dari lereng Gunung Poteng hingga ke Pastoran Sungai Raya: “Age quod agis! Kerjakanlah apa yang harus dikerjakan dengan segenap hatimu.”

Sang peziarah itu menangis. Bukan hanya karena kehilangan, melainkan karena akhirnya ia mengerti: betapa mahalnya harga sebuah kasih yang diam-diam memberi, dan betapa dalam luka yang ditinggalkan oleh seorang guru yang tak pernah meminta apa-apa, kecuali agar anak-anak padepokannya kelak menjadi pendekar yang berguna.

Angin laut dari Sungai Kapuas bertiup lebih kencang. Pintu putih itu berderit pelan, seolah menghela napas terakhir.

Dan di hati setiap orang yang membaca kisah ini, terasa sesak. Karena pada galibnya kita semua pada suatu waktu. Pernah menjadi anak padepokan yang bandel, yang baru menangis setelah sang guru pergi selamanya....

***

Bagi pembaca yang ingin tahu mengapa murid bandel itu akhirnya pergi, inilah inti persoalan yang akan dikisahkan dalam episode tersendiri.

Kami, anak-anak Wisma Widya. Suatu sore kettika angin lereng Poteng mengembuskan hawa kering, pernah dihukum tidak diberi makan hanya karena ada seorang di antara kami yang mencuri barang dan tidak mau mengaku. Hukuman itu berlaku untuk semua. Kami tidak boleh makan sebelum ada yang mengakui perbuatannya.

Kami pun melakukan protes. Kami berdemo dan berjalan sampai ke pastoran untuk menyampaikan keberatan. Saya ikut dalam aksi itu. Namun, justru dari sanalah keberadaan saya terdeteksi sebagai pembangkang melawan serta tindakan mencemari kehormatan guru dan resi.

Bersama Julin (alm.). Sutar (alm.), dan Mateus Juli, kami ramai-ramai masuk pastoran. Maunya minta keterangan Pak Aki: mengapa kami semua dihukum dengan cara demikian? Belakangan saya menyadari: revolusi memang kerap terjadi ketika perut kosong dan lapar mendahului akal.

Apa yang kemudian terjadi, menjadi sebuah awal dari kisah kepergian murid bandel itu.

Masri Sareb Putra 
Kota khatulistiwa ketika pagi masih menyisa butir hujan, 1 Oktober 2026.


0 Comments

Type above and press Enter to search.