Pasir Panjang, Ketika Debur Ombak Menautkan Dua Hati - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (78)
| Aku, model rambut Ali Topan, dan kenangan Pasir Panjang 1981. |
Ketika fajar menyingsing, pertanda hari riang telah tiba. Anak-anak Wisma Widya dan Wisma Rini berbondong-bondong naik ke atas sebuah truk terbuka yang siap membelah jalanan.
Piknik rekreasi menuju Pantai Pasir Panjang ini menjadi lembaran romantika yang takkan pernah terlupa dalam sejarah kehidupan remaja kami. Perjalanan di atas bak truk terbuka itu terasa begitu riuh, dipenuhi gelak tawa bebas dan canda gurau yang memotong hembusan angin pagi.
Baca Adriana Aslia, Si Anak Ketapel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (77)
Pemandangan alam yang indah membentang di sepanjang jalan, seolah ikut bersukacita, larut dalam kegembiraan jiwa-jiwa muda kami.
Di beberapa sudut bak truk, tampak para guru dan pengawas asrama yang berdiri dengan sigap. Sepasang mata mereka senantiasa mengawasi dengan penuh tingkat kewaspadaan yang tinggi, bertindak bagaikan resi sakti yang menjaga agar batasan suci tidak sampai dilanggar oleh darah muda kami yang gampang bergejolak.
Namun, di balik deru mesin yang menderu dan pengawasan yang sedemikian ketat, hari itu sesungguhnya menjadi sebuah momen yang teramat sakral. Inilah saat yang dinanti untuk memadu dua hati yang selama ini terpenjara oleh batas-batas suci aturan asrama.
Di bawah bentangan langit pantai yang luas dan disaksikan oleh sapuan ombak lepas, sekat-sekat pembatas itu runtuh, digantikan oleh getaran rasa murni yang mengharu biru sanubari.
Ingatan masa silam di Pasir Panjang
Kala itu, dua tahun sebelum sebuah potret bersejarah di atas batu karang diambil, suasana Pantai Pasir Panjang sungguh dipenuhi oleh kemurnian rasa yang jujur.
Kami, anak-anak dari Wisma Widya, bersukaria menikmati kebebasan di sepanjang hamparan pasir putih bersama anak-anak dari Sekabu. Seketat apa pun benteng pengawasan yang membentengi kami dari atas truk hingga ke tepi pantai, getaran asmara yang halus tetap menemukan celah tersendiri untuk menyelinap masuk ke dalam dada.
Di atas salah satu sudut batu pasir panjang. Aku teringat akan si dia. Kekasih hatiku dulu yang berinisial KY, seorang gadis manis murid Sekolah Pendidikan Guru. Ia asal Takong.
Baca Pintu Terakhir Lim Kheng Siang yang Tak Pernah Terbuka Lagi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (76)
Pertemuan kami di pantai ini sungguh bersahaja, diselimuti rasa jengah dan malu-malu yang membuat lidah mendadak kelu untuk berucap kata.
Kami berdiri berdampingan tanpa berani bertukar banyak kalimat. Namun, ketika sepasang mata saling berpapasan, meskipun hanya sekejap mata, desiran hangat yang dahsyat langsung mengalir deras di dalam dadaku.
Suara berdesir yang halus, "srrr", menjadi sebuah getaran rasa yang begitu indah, suci, dan sudah lebih dari cukup bagi jiwa remajaku.
Di dalam lubuk hatiku, aku tahu pasti bahwa watak manusia pada masa muda adalah sama. Desiran misterius dan manis seperti yang kurasakan itu tidak hanya milik diriku sendiri.
Anak-anak lain yang berada di dalam truk terbuka dan di sepanjang hamparan pasir putih ini sebenarnya sedang menyembunyikan getaran cinta monyet yang sama di balik tawa canda mereka. Sungguh mengharu biru jika mengenang bagaimana waktu perlahan merenggut detik-detik berharga itu, membuat siapapun yang mengingatnya terharu hingga meneteskan air mata atas kemurnian rasa yang kini telah menjadi milik masa lalu.
Kunjungan Siswa Seminari Sekadau ke Nyarumkop
Tahun demi tahun berganti, memotong untaian kenangan indah di Wisma Widya tersebut. Garis takdir kemudian membawaku melangkah ke jenjang yang lebih tinggi pada tahun 1980. Itulah tahun di mana lembaran hidup baru dimulai ketika aku harus pindah ke Sekadau dan bergabung menjadi siswa di Seminari Santo Gabriel Sekadau.
Baca Lim Kheng Siang dan Jurus Pamungkasnya Mendidik Murid Bandel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (65)
Waktu berjalan setahun lamanya di Sekadau di bawah tempaan rohani dan kedisiplinan yang tinggi. Hingga tibalah hari yang dinanti pada tahun 1981, saat kami para siswa seminari Sekadau melakukan kunjungan bertandang kembali ke bumi Nyarumkop.
Suasana hari kunjungan itu mendadak bangkit kembali dengan sangat jelas di dalam benakku. Kami bertanding ketangkasan bermain voli dengan penuh semangat di sebuah lapangan yang terletak persis di samping kapel seminari. Tepat di dekat lapangan itu, tumbuh tegak sebatang pohon flamboyan yang meranggas.
Pemandangan pohon flamboyan yang kusaksikan hari itu rupanya mengendap begitu dalam ke lubuk sanubariku, menggetarkan jiwa sastra yang bersemayam di dalam dadaku. Aku sudah bisa meramalkan saat itu, bahwa getaran rasa dari pohon flamboyan itulah yang kelak menjadi sumber inspirasi utama bagi lahirnya novel perdanaku pada tahun 1986 yang kuberi judul Flamboyan Kembali Berbunga.
Setelah letih memeras keringat bermain voli di bawah bayangan flamboyan, kami melangkah masuk dengan khidmat untuk mengikuti Misa suci di Kapel seminari. Di bawah dampingan rohani Pastor Carlo Marziali, CP, seorang gembala berhati emas yang berasal dari negeri seberang, aku bisa merasakan ketulusan iman yang mengalir dalam ibadah yang berlangsung dengan penuh keheningan suci ini.
Di tengah suasana yang sakral itu, suara Hamdi dari Jangkang menggema berwibawa memimpin koor pujian. Aku tahu ia bernyanyi dengan seluruh jiwanya; suaranya yang merdu, mantap, dan berbobot meresap ke dalam sanubari, membawa kedamaian ilahi bagi kami semua yang mendengarnya. Sastra kehidupan yang agung seakan terpahat dalam melodi itu, sebuah momen indah yang membuat hati terenyuh pasrah.
Usai seluruh rangkaian Misa yang teduh di Nyarumkop itu selesai, kami semua bertolak menuju tempat ini, Pantai Pasir Panjang, untuk melepas penat dan berekreasi.
Di sinilah potret bersahaja ini diambil. Angin laut dari Pantai Pasir Panjang bertiup kencang, menggulung ombak Selat Karimata hingga pecah berderai menghantam barisan batu karang hitam. Di atas sebongkah batu besar pada sore hari itu, aku duduk bertumpu bersama seorang sahabat karibku.
Aku tampak gagah dengan pakaian rajutan bergaris-garis merah putih mendatar. Di tanganku, seolah telah menjadi belahan jiwa yang tak terpisahkan, tergenggam erat sebuah kitab bacaan bersampul usang. Orang-orang di dunia persilatan remaja mengenalku dengan julukan "Si Ali Topan".
Ke mana pun kakiku melangkah menuruti panggilan takdir, kitab bacaan selalu menemaniku. Rambutku hitam lebat, tebal, dan tumbuh bergelombang ditiup angin laut, sebuah mahkota kepala khas masa muda yang kini sangat aku dirindukan keindahannya hingga meneteskan air mata haru.
Di depanku, duduk sahabat karib seperguruanku yang mengenakan kaos berkerah kuning gading dipadu celana cokelat tua. Kami duduk berdampingan, mengunci kebersamaan dalam sebuah potret masa SMA kelas III yang kelak akan menembus ruang dan waktu.
Baca Doa Rosario di Kapel yang Menautkan Cinta - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (75)
Potret bersahaja ini menjadi saksi abadi yang merangkum perjalanan hidupku sebagai Si Ali Topan yang gagah dan penuh mimpi. Mengunci erat seluruh fragmen cerita persahabatan sejati serta kisah kasih pertama agar takkan pernah lekang oleh sapuan ombak zaman.
Para pembaca yang budiman.
Sesungguhnya kehidupan manusia di kolong langit ini tak ubahnya seperti awan yang berarak di angkasa, bertebaran ditiup angin takdir tanpa pernah bisa kembali ke tempat semula.
Rasa asmara, kerinduan, dan persahabatan yang murni adalah mutiara-mutiara batin yang paling berharga. Biarpun sang waktu perlahan-lahan mengikis keindahan jasmani, merenggut lebatnya rambut masa muda, dan memisahkan raga dari orang-orang tercinta, namun apa yang telah terpahat di dalam lubuk sanubari yang paling dalam akan tetap abadi. Menangis karena mengenang masa lalu bukanlah tanda kelemahan jiwa, melainkan sebuah bukti bahwa manusia itu memiliki rasa tahu terima kasih atas keindahan hidup yang pernah dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa.
Jakarta ketika malam kian temaran, 1 Oktober 2026.
0 Comments