Terkenang Yan-sek (Bruder Yan) dan Sepotong Singkong Goreng Kantin Samping Gereja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (79)
| Bruder Yan pada era kami (1975-1980) yang di masa tua kembali ke negeri Belanda memilih menjadi Cu-su. Ist.. |
Pembaca yang budiman, tentu masih segar dalam ingatan kita akan riwayat yang telah lalu. Pada setiap awal bulan, dua orang pemuda, seorang penulis muda dan kakaknya yang gagah perkasa personel grup band masyhur waktui itu Wid Bros, Bang Maliki, selalu melangkahkan kaki menuju kediaman seorang pertapa budiman yang rambutnya telah memutih keperakan.
Pertapa itu bernama Yan-sek, yang dalam panggilan akrab disebut Paman Yan. Dialah orang yang pada sore hari senantiasa membawa termos berisi air panas, sehingga orang-orang pun biasa menyapanya dengan sebutan Bruder Yan.
Lengkap nama Cu-su (pendekar tua yang memilih hidup membiara) yang kini bermukim di Belanda adalah: Yan Wijnans.
Baca Bruder Yan dan Nalo dalam Amplop Putih - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (21)
Akan tetapi, janganlah pembaca mengira bahwa Yan-sek hanyalah seorang pertapa biasa. Di balik rambutnya yang telah memutih dan sikapnya yang tenang itu, tersimpan kewibawaan seorang tua yang telah banyak makan garam kehidupan. Dan setiap awal bulan, kedua pemuda itu selalu datang kepadanya untuk suatu urusan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka.
Namun, zaman itu adalah zaman di mana para pemimpin adalah ksatria sejati. Mereka bekerja sepenuhnya demi rakyat dengan hati yang putih bersih, bertarung melawan ketidakadilan tanpa memikirkan pundi-pundi emas. Pendapatannya terkadang justru minus karena sifatnya yang terlalu idealis dan lurus.
Demi membela kaum lemah, sang ayah rela hidup bersahaja. Memang demikianlah watak seorang ksatria tulen, lahir untuk mengabdi, bukan untuk menumpuk harta benda yang sesungguhnya hanyalah barang titipan yang kelak akan sirna!
Baca Pasir Panjang, Ketika Debur Ombak Menautkan Dua Hati - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (78)
Maka, setiap awal bulan, bergulirlah uang saku sebesar Rp 5.000 bagi kedua pemuda kita. Sebuah jumlah yang di masa itu harus dicukup-cukupkan untuk menyambung napas kehidupan.
Ritual mengambil uang saku itu selalu terjadi pada pagi hari Minggu di awal bulan, tepat seusai Misa. Tempatnya adalah di Kantor Br. Yan di SMP Timonong, sebuah ruangan yang bagi kami terasa sangat sakral.
Kewibawaan tempat itu begitu memancar, hingga jangankan untuk melangkah masuk ke dalamnya, baru memandang bayang-bayang Yan-sek dari kejauhan saja, lutut kami sudah gemetar dibuatnya. Hawa kewibawaan yang keluar dari tubuh orang suci memang sanggup menggetarkan sanubari orang-orang muda yang jiwanya belum matang.
"Gunakan dengan bijak, anakku. Angin di luar sedang kencang, dan kehidupan menuntut ketabahan," ujar Yan-sek dengan suara berat yang berwibawa, memecah kesunyian ruangan.
Si pemuda mengangguk takzim. Namun di dalam hatinya, bergejolak sebuah rahasia besar. Yan-sek pasti tidak akan sudi menyerahkan semua uang itu jika sang pertapa mengetahui tabiat asli si pemuda.
Ya, sebagian besar dari uang saku itu tidaklah digunakan untuk membeli beras atau keperluan tubuh, melainkan dihabiskan demi memuaskan dahaga batinnya: berburu perangko-perangko langka yang datang dari negeri seberang!
Perangko baginya adalah kitab pusaka yang membuka jendela dunia. Ah, kesenangan manusia memang aneh-aneh wujudnya, dan seringkali nafsu memburu kesenangan ini mengalahkan akal sehat.
Akibat kegandrungannya pada perangko, uangnya selalu menipis. Sisanya yang tinggal sedikit barulah dipaksa untuk membeli sabun, odol, dan keperluan mendesak lainnya. Kulitnya mungkin bersih karena sabun, namun perutnya seringkali menyuarakan kelaparan yang hebat.
Beruntunglah, di dunia persilatan hidup ini. Si pemuda dikelilingi oleh sahabat-sahabat berhati emas. Mereka adalah para pendekar budiman yang berjiwa pahlawan. Jika lonceng kantin bertalu dan perut si pemuda mulai keroncongan, selalu saja ada uluran tangan yang menyelamatkannya dari bencana kelaparan.
Letak tempat pengisi perut itu berada di samping gereja. Jika ditelusuri, ada sebuah lorong sunyi di belakang gereja, di mana dua pohon kelapa meliuk tinggi berpadu dengan dua pohon sawo yang tumbuh subur berdaun lebat di sekitarnya.
Pohon sawo itulah yang menjadi dewa penyelamat, menghidupi dan menyambung napas kami ketika malam-malam gulita kami memetik buahnya dalam diam secara sembunyi-sembunyi. Sungguh sebuah perbuatan yang didorong oleh rasa lapar, namun untunglah alam selalu menyediakan rezeki bagi makhluk-Nya yang bersahaja.
Selain lewat lorong belakang, kantin tersebut bisa didatangi dengan berjalan dari depan gereja, lalu membelok tajam ke arah kiri. Maju sekitar tiga puluh meter ke depan, berdirilah sebuah bangunan kantin sederhana.
Ketika jam-jam istirahat tiba, suasana sepi langsung berubah riuh, dipenuhi oleh hiruk-pikuk anak-anak SPG, SMA, dan anak-anak asrama yang kelaparan. Di tengah keramaian itulah, terkadang terselip kesempatan berharga buat saling bertemu dengan si dia, meskipun hanya sekejap mata saja.
Baca Adriana Aslia, Si Anak Ketapel - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (77)
Perjumpaan sekejap yang mendatangkan kebahagiaan di dalam dada. Membuktikan bahwa asmara anak manusia mampu mekar di mana saja, bahkan di tengah kepulan asap kantin yang sederhana.
Di kantin yang riuh itulah, muncul para penolong setianya. Ada Benyamin Ngui yang jenaka namun luar biasa setia kawan, Jitmen (William Chang) yang tangkas, Gunawan yang selalu tenang, dan juga Chun Kho yang berbaik hati.
Di antara mereka, Benyamin Ngui-lah yang paling sering menunjukkan keluhuran budinya. Dengan senyuman tulus yang memancarkan kehangatan jiwa, ia menyodorkan sepotong singkong goreng yang sudah direbus. Makanan ini terasa sangat nikmat tiada tara bagi perut yang keroncongan di kala jam istirahat sekolah, tanpa pernah ia mengharapkan pamrih sedikit pun.
"Makanlah, sahabatku," kata Benyamin Ngui sambil tersenyum tulus, menyodorkan sepotong singkong. "Seorang pendekar tidak boleh bertarung dengan perut kosong."
Baca Pintu Terakhir Lim Kheng Siang yang Tak Pernah Terbuka Lagi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (76)
Si pemuda menerima kebaikan itu dengan rasa haru yang membuncah di dada. Di tengah kemiskinan harta, ia sadar bahwa dirinya adalah orang paling kaya di dunia karena memiliki sahabat-sahabat sejati yang dikirim oleh Yang Maha Kuasa.
Persahabatan yang tulus adalah mutiara yang paling berkilau di jagat raya ini, melampaui segala kemewahan emas dan permata.
Bagaimanakah kelanjutan kisah pemuda pemburu perangko ini dalam mengarungi ombak kehidupan? Apakah Yan-sek akhirnya akan mengendus rahasia uang sakunya?
Sungguh, hidup manusia tiada yang tahu, bagaikan awan di langit yang tertiup angin nasib! Bersambung ke jepisode berikutnya!
Masri Sareb Putra
Jakarta dinihari 2 Oktober 2026.
0 Comments