Terkenang Herman Ahie : Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (82)
| Herman Ahie: lulusan SMA lain yang menjalani Topang bersama kelas IV SMA tahun 1978/1979. Ist. |
Di bawah naungan mega kelabu di ufuk barat, Wisma Rini, Sekabu. Berdiri kokoh bagai benteng sebuah sunyi yang memisahkan dunia luar dengan keheningan batin. Tahun 1979.Ketika angin zaman mulai berhembus membawa modernisasi. Di dalam tembok-tembok seminari itu. Sebuah kisah tentang keteguhan iman, duka, dan kelembutan cinta manusiawi tengah terukir dengan tinta emosi yang dalam.
Baca Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (81)
Adalah Herman Ahie. Seorang pemuda perkasa asal Singkawang. Kulitnya putih bersih khas peranakan, namun guratan wajahnya memancarkan tekad yang sekeras baja. Ia datang bukan untuk berburu kedudukan duniawi, melainkan untuk menyerahkan raga dan jiwanya kepada Sang Khalik, menjadi seorang gembala umat atau seorang pastor.
Pada masa itu, ia menjalani masa magang yang dikenal sebagai Topang (Tahun Orientasi Panggilan). Sebuah masa di mana batin seorang calon imam digembleng untuk menghadapi berbagai ujian panggilan.
Namun, adakah manusia yang benar-benar kebal terhadap getaran kehidupan?
Meskipun Ahie telah membulatkan tekadnya, sekeping hati manusianya tidak luput dari hukum alam. Di luar jam-jam doa yang khusyuk, ketangkasan raga Ahie pun teruji di lapangan hijau yang becek dan berdebu di sekitar seminari.
Baca Membaca Surat Cinta Bersama-sama- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (80)
Siapa sangka, di balik pembawaannya yang tenang, Herman Ahie adalah seorang jago menggocek bola yang mumpuni. Jika kakinya sudah menyentuh si kulit bundar, gerakannya lincah menembus pertahanan lawan.
Bahu-membahu bersama para pemain lainnya, yaitu Thomas Daliman yang tangguh, Kanis yang cerdik, dan Maliki yang kokoh, kesebelasan mereka seringkali memetik kemenangan gemilang. Sepak bola menjadi olah rasa bagi mereka untuk melatih keteguhan mental sebelum mengarungi panggilan hidup.
Badai duka dan nyala pelita bidadari Sekabu
Di dekat tempat mereka biasa berlaga, seringkali melintas sekelompok siswi SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Di antara mereka, ada seorang dara yang keanggunannya bagai bunga teratai di tengah telaga sunyi.
Namanya terbisik halus bagai angin malam: YA, sang bunga Wisma Sekabu. Melihat kecocokan di antara mereka, kawan-kawan seperjuangan Ahie, termasuk aku, mulai berseloroh dan bertindak sebagai mak comblang.
Baca Terkenang Yan-sek (Bruder Yan) dan Sepotong Singkong Goreng Kantin Samping Gereja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (79)
Kami menjodoh-jodohkan mereka, memancing senyum malu-malu di sudut bibir Ahie yang biasa kaku karena doa. Bagaimana awal mula getaran itu tumbuh di antara mereka, dan bagaimana akhirnya, tiada seorang pun dari kami yang tahu pasti.
Rahasia hati tetaplah menjadi rahasia mereka. Namun, kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan.
Ketika Ahie sedang berada dalam persiapan rohani untuk memantapkan panggilan sucinya, sebuah berita duka datang: ayah tercintanya, tiang pelindung hidupnya di Singkawang, telah berpulang ke haribaan Yang Kuasa.
Seketika itu, dunia Ahie berubah. Pemuda yang biasanya tegap dan lincah di lapangan bola itu mendadak lunglai. Aku menyaksikan sendiri bagaimana ia terpukul sangat hebat.
Jiwanya terguncang dan ia terseret ke dalam masa yang sangat gelap. Panggilan suci yang tadinya terang kini tertutup kesedihan. Ahie mengurung diri, air matanya menetes di lantai wisma yang dingin.
Dalam keadaan itu, YA hadir tanpa pamrih. Ia datang bukan dengan nafsu duniawi, melainkan dengan kasih yang murni.
Baca Bruder Yan dan Nalo dalam Amplop Putih - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (21)
Kehadirannya, untaian kata-katanya, dan kelembutan tatapannya menjadi penghiburan bagi Ahie. YA membasuh luka di hati pemuda itu dengan kesabaran seorang ibu dan kesetiaan seorang sahabat sejati.
Perlahan, berkat kehadiran YA, semangat Ahie tumbuh kembali. Ia bangkit dari keterpurukannya dan melangkah lagi di jalan sunyi seminari.
Melihat pemandangan itu, aku tertegun di sudut selasar wisma. Benarlah kiranya, kehadiran seorang perempuan bagi laki-laki, bahkan bagi seorang calon pastor sekalipun, tak melulu soal eros atau urusan berahi semata.
Ada kalanya, perempuan hadir sebagai perpanjangan tangan Tuhan, membantu seorang lelaki memeluk salibnya dan memantapkan langkah menuju altar suci sebagai seorang imam.
Peristiwa mengharukan itu merekatkan persahabatan kami menjadi sedemikian akrab, sekental darah saudara pemerintahan rohani.
Titah Gembala dari Pahauman dan tapak suci pendekar pena
Waktu terus berjalan. Jalan hidup kemudian membawa kami ke persimpangan masing-masing, namun takdir rupanya belum selesai merajut kisah persahabatan ini.
Tahun 1989, sepuluh tahun setelah masa-masa penuh gejolak di seminari. Herman Ahie kini telah menggenapi sumpah sucinya, berdiri tegap sebagai seorang Pastor Paroki di tanah Pahauman. (Bagi yang belum tahu, Ksatria altar ini menerima Tahbisan Imam pada 19 Juli 1986. Sejak saat itu, hidupnya dipersembahkan bagi pelayanan, melewati beragam tugas dan perjalanan pastoral hingga akhir hayat. Namun, setiap peziarahan manusia pada akhirnya sampai juga pada pintu keabadian. Setelah menempuh perjalanan panjang dalam pelayanan, sang gembala yang dicintai itu mengembuskan napas terakhir dan wafat pada 4 Oktober 2023.)
Guna memajukan wawasan dan menyebarkan firman di wilayah tugasnya, ia berencana menghidupkan sebuah majalah paroki. Mengingat keahlian yang kumiliki, sang Pastor mengirimkan sepucuk surat undangan yang tak mungkin kutolak.
Maka berangkatlah aku ke Pahauman untuk memberikan pelatihan jurnalistik kepada para pengelola majalah paroki di sana. Di bawah atap pastoran yang sederhana namun hangat, kami kembali bertukar pikiran.
Terkenang Yan-sek (Bruder Yan) dan Sepotong Singkong Goreng Kantin Samping Gereja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (79)
Guratan masa lalu di wajah Ahie telah berganti dengan pancaran kebijaksanaan seorang gembala umat yang matang. Persahabatan lama kami menemukan bentuk barunya dalam dunia literasi dan pewartaan.
Pertemuan para ksatria di Tebet demi menggenapi kitab kenangan
Namun, kejutan takdir terjadi bertahun-tahun setelah itu, di sebuah tempat yang jauh dari ketenangan pedalaman.
Ketika fajar perayaan 75 tahun PKN menjelang, sebuah hajatan besar digelar untuk menyusun buku kenangan yang akan mencatat sejarah emas pergerakan tersebut.
Tanpa disengaja, guratan nasib mempertemukan kami kembali di Pastoran Tebet, Jakarta. Bukan lagi sekadar kunjungan singkat, melainkan berkumpul dalam satu wadah perjuangan sebagai satu tim kerja.
Di dalam ruangan pastoran yang dipenuhi tumpukan kertas, aroma tinta, dan derik mesin tik itu, sang Pastor Herman Ahie bertindak sebagai tiang pengayom. Kami tidak berdua, sebab di sana telah berkumpul pula para pendekar pena dan aktivis handal yang satu visi, yakni Frans Tshai yang tekun dan Anna Lim yang penuh semangat. Juga ada Mariatmo, manajer Toko Buku Obor, Jakarta. Juga Bong Fat Fui, seorang tuan takur.
Kami berempat bekerja siang dan malam bahu-membahu menuntaskan tugas. Kenangan tahun 1979 di Wisma Sekabu saat air mata Ahie diusap oleh ketulusan YA, kebersamaan di lapangan bola, masa-masa pelatihan di Pahauman tahun 1989, hingga ruang kerja di Tebet ini seolah menjadi satu rangkaian kenangan yang tak terputus.
Sungguh benar pepatah kuno, bahwa sahabat sejati yang diikat oleh ketulusan rasa, ke mana pun angin dunia meniupnya pergi, pada akhir perjalanan akan selalu dipertemukan kembali untuk menggenapi sebuah karya mulia.
Gugurnya sang bintang lapangan dan air mata abadi sang sahabat
Maka benarlah ungkapan lama, bahwa perjalanan hidup manusia berada dalam rahasia kehendak Ilahi yang melampaui segala rencana fana.
Baca Pasir Panjang, Ketika Debur Ombak Menautkan Dua Hati - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (78)
Dari selembar tanda dukacita yang berselimut warna kelam, terpampang wajah teduh sang mendiang, RP Yordanus Herman Ahie, OFM.Cap., yang semasa hidupnya mengemban amanah suci sebagai Pastor Paroki Sanggau Ledo.
Di sudut atas lambang kesetiaannya, terpatri tanda salib suci berhias hati merah bertuliskan "RIP". Lambang itu seakan menjadi saksi bisu perjalanan seorang hamba Tuhan yang telah menapaki jalan panggilan dengan setia hingga sampai pada batas akhir peziarahannya di dunia.
RP Yordanus Herman Ahie, OFM.Cap.
*12 April 1958.
+ 4 Oktober 2023.
Sekonyong-konyong mata menatap selembar maklumat duka itu, hati terasa hening. Ada kesedihan yang sulit diucapkan ketika seorang sahabat seperjalanan dipanggil pulang oleh Sang Pemilik kehidupan.
Angin pegunungan bertiup kencang dari lereng Gunung Poteng, membawa kabut senja yang perlahan turun menyelimuti kompleks Nyarumkop yang sunyi. Di bawah langit yang kian menggelap, sebuah nama terukir abadi dalam kenangan tempat suci ini.
Herman Ahie (Ahie sebenarnya nama ayahnya). Seorang putra tanah Kalimantan yang lahir pada 12 April 1958. Ia telah menyelesaikan seluruh babak perjalanan tirakatnya di dunia fana.
Kehilangan seorang kakak sekaligus sahabat yang teramat baik dan tulus seperti mendiang Pastor Herman Ahie tentu meninggalkan kerinduan yang sangat dalam. Ikatan persaudaraan dan kenangan saat melayani bersama, mulai dari menggarap buku hingga memberikan pelatihan jurnalistik di Pahauman dahulu, menjadi jejak pelayanan yang abadi.
Pie Jesu Domine,
Dona eis requiem.
Sempiternam requiem.
Ya, Yesus Tuhan yang Mahabaik,
Karuniakanlah istirahat kepadanya.
Istirahat yang kekal....
Bait ini terasa begitu menyayat sekaligus menyejukkan. Di satu sisi, ia menyentuh sudut hati yang rapuh karena perpisahan ragawi.
Namun di sisi lain. Bait lagu abadi ini juga membawa penghiburan iman bahwa sang ksatria altar yang rohani dan penuh perhatian. Kakak dan sahabat yang suci hatinya itu kini telah dibaringkan dalam dekapan damai yang abadi oleh Sang Pencipta.
Jakarta, siang ketika terik matahari 2 Oktober 2026.
0 Comments