Tan Un Mao dan Lim Kheng Siang: Dua Resi Sakti PKN dengan Jurus Naga Api - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (83)
| Tan Un Mao (Petrus Rostandy, OFM Cap.) dan Lim Kheng Siang (Patrik Hartadi, OFM Cap.) di balik bayang-bayang kebesaran PKN: Dua Resi Sakti yang tak pernah mati. Ist. |
Kegelapan yang pekat dan pekat lagi laksana tumpahan tinta hitam raksasa telah menyelimuti seluruh jagat Lembah Sekabu. Nun jauh di atas sana, Gunung Poteng berdiri dengan angkuh dan menyeramkan, laksana sesosok siluman purba bertubuh raksasa yang sedang murka dan siap menelan siapa saja.
Angin malam bertiup dengan sangat kencang. Melintasi tebing-tebing batu dan menerjang barisan pepohonan sawo tua serta rumpun bambu.
Terkenang Herman Ahie : Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (82)
Tiupan angin itu menimbulkan suara berdesau yang melengking tinggi, membelah keheningan malam laksana jeritan arwah penasaran yang menuntut balas. Bulu roma siapa pun yang mendengarnya pasti akan berdiri tegak seketika akibat rasa ngeri yang teramat sangat!
Kabut putih yang dingin, tebal, dan berhawa mistis merayap perlahan dari lereng gunung, menjilap permukaan tanah laksana juluran lidah naga salju, lalu membungkus dinding-dinding semen tebal asrama putra Wisma Widya.
Di bawah temaramnya sinar rembulan yang tertutup awan hitam, dinding yang putih keabuan itu tampak pucat laksana mayat, memancarkan aura ketegangan yang sangat pekat dan mencekam. Inilah suasana luar biasa bertensi tinggi yang membuat para cantrik merasa ngeri-ngeri sedap!
Baca Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (81)
Di balik kepekatan kabut yang berbau misteri itu, siluet kapel tua berdiri tegak dengan keagungan yang sakral sekaligus angker.
Dinding-dinding kapel yang putih bersih tampak laksana benteng hantu di tengah hutan liar, sedangkan atap sirap kayu ulinnya yang hitam legam bertingkat-tingkat rapat laksana sisik naga purba yang sedang tertidur. Kayu ulin tua pada atap itu telah puluhan tahun dihantam hujan dan dipanggang terik matahari, menyisakan gurat-gurat alami yang kasar, legam, dan memancarkan wibawa gaib. Di puncak menaranya yang meruncing tajam menantang kepekatan langit malam, sebuah salib kayu berdiri dengan kokohnya, menjadi saksi buletin yang membisu di tengah-tengah keganasan alam pegunungan yang liar.
Hanya sepelemparan batu dari kapel, barak asrama putra Wisma Widya berdiri dengan kaku. Berbeda dengan rumah panggung kayu penduduk sekitar, bangunan ini dibangun dengan semen tebal bercat putih keabuan yang terkesan sangat kokoh, dingin, dan tidak kenal ampun. Di dalam barak loteng yang gelap gulita dan remang-remang, ratusan cantrik muda berbaring dengan tubuh gemetar dan napas yang tertahan di tenggorokan.
Bau minyak solar yang menyengat menguap bersama dinginnya hawa gunung, bercampur dengan kelembapan semen basah, menciptakan atmosfer yang sangat pekat, menekan batin, dan luar biasa tegang. Di kawah candradimuka yang sunyi senyap seperti kuburan inilah, anak-anak muda digembleng secara kejam fisik dan batinnya di bawah pengawasan dua pendekar besar berwatak besi yang bertindak sebagai suhu pemilik sekaligus pengawas tertinggi Wisma Widya.
Sepanjang dekade 1970-an hingga penutupan tahun 1979, padepokan putra ini berada di bawah cengkeraman wibawa mutlak yang sangat dingin dari Pendekar Tan Un Mao. Dialah sang penguasa keheningan malam yang memimpin dengan mata elang. Fisiknya tinggi kurus laksana sebatang bambu ulin tua yang tumbuh di lereng Poteng.
Baca Membaca Surat Cinta Bersama-sama- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (80)
Namun, jangan sekali-kali berani meremehkan tubuh kurus itu! Di dalam raga yang ramping tersebut, tersimpan aliran hawa murni sakti yang luar biasa kuat dan dahsyat. Sepasang matanya sipit, namun tajam laksana mata burung elang yang sedang mengintai mangsa dari langit tertinggi. Sekali saja beliau melayangkan pandangan dinginnya, nyali cantrik yang paling bengal dan berkulit badak sekalipun akan langsung runtuh berkeping-keping menjadi abu.
Tan Un Mao adalah tipe resi yang sangat jarang mengumbar amarah di depan publik. Wataknya sedingin es abadi di puncak gunung tertinggi. Beliau lebih banyak diam, bergerak tanpa suara bagaikan bayangan hitam yang melayang di koridor asrama yang remang-remang.
Justru dalam kesunyian dan ketidakpastian itulah letak kengerian yang sesungguhnya! Para cantrik tidak pernah tahu kapan dan dari arah mana sang pendekar akan muncul secara tiba-tiba untuk menjatuhkan hukuman besi.
Baca Terkenang Yan-sek (Bruder Yan) dan Sepotong Singkong Goreng Kantin Samping Gereja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (79)
Kehebatan utama Tan Un Mao tidak hanya terletak pada ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkat sempurna, melainkan pada ketajaman otaknya yang luar biasa encer. Beliau adalah seorang konseptor ulung yang mengendalikan padepokan lewat jaring-jaring spionase yang sangat rapi dan tak kasatmata.
Jaringan informan rahasia berkepala hitam, yang dijuluki oleh para cantrik sebagai kepinding berkaki dua, adalah senjata andalan utamanya untuk mengendus setiap riak kecil pengkhianatan atau pembangkangan di dalam barak semen yang sunyi itu.
Di balik penampilannya yang tenang seperti air telaga, Tan Un Mao adalah penganut hukum disiplin besi yang sangat absolut. Beliau tidak mengenal kata kompromi atau belas kasihan dalam hal aturan padepokan. Jika ada satu orang saja yang berbuat noda pelanggaran dan tidak ada yang mau mengaku, maka beliau tanpa ragu seujung rambut pun akan menjatuhkan hukuman massal yang teramat berat, seperti mengunci rapat-rapat pintu dapur utama dan membiarkan perut seluruh isi asrama keroncongan berhari-hari. Baginya, solidaritas, kepatuhan, dan ketangguhan mental hanya bisa dibentuk lewat jalan kepasrahan dan penderitaan bersama.
Batu karang hitam
Namun malam ini, di tengah gemuruh angin gunung yang kian mengganas dan melolong-longol misterius, kekuasaan Tan Un Mao telah genap masanya. Suasana di pelataran kapel mendadak berubah menjadi medan pertempuran batin yang teramat menegangkan dan menegakkan bulu roma ketika sosok penerusnya, Pendekar Lim Kheng Siang, melangkah maju menembus kepekatan kabut dari kegelapan koridor yang remang!
Transisi kekuasaan ini tidak berjalan dengan gegap gempita, melainkan dalam kesunyian yang mencekam dan sangat menakutkan. Udara di sekitar pelataran kapel seolah-olah membeku seketika.
Angin yang tadinya menderu-deru mendadak tertahan di udara, menyisakan keheningan yang begitu pekat, berat, dan menekan dada, seolah-olah seluruh makhluk gaib penunggu Gunung Poteng pun ikut menahan napas menyaksikan pergeseran dua kekuatan besar berwatak besi ini!
Baca Bruder Yan dan Nalo dalam Amplop Putih - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (21)
Jika Tan Un Mao adalah lambang dari taktik jaring laba-laba yang sunyi, misterius, dan dingin, maka Lim Kheng Siang adalah pendekar linuwih yang menghadapi jagat persilatan dengan kegagahan yang lurus, bersahaja, namun sekeras batu karang hitam di dasar samudra. Sosoknya yang saleh, penuh kasih, dan rajin bersujud berdoa di keheningan kapel tua mencerminkan keteguhan batin seorang resi sejati yang telah mencapai tingkat kesucian tinggi. Pakaian dan pembawaannya sangat bersahaja, mencerminkan watak seorang pertapa suci yang telah menanggalkan segala kemewahan duniawi demi sebuah pengabdian tulus yang tanpa pamrih.
Tokoh linuwih ini memiliki keunikan luar biasa yang sangat jarang dimiliki oleh pendekar lain di kolong langit. Beliau paling pantang merepotkan orang lain dan sangat gemar melakukan pekerjaan fisik yang menguras tenaga secara mandiri. Tangan besinya yang perkasa tidak canggung memegang kapak besar untuk bertukang membelah kayu, mencangkul tanah keras di kebun padepokan, hingga memperbaiki alat-alat elektronik yang rumit dan rusak. Setiap guratan tebal dan kapalan di tangannya adalah lambang nyata dari keringat, kerja keras, dan kemandirian yang mutlak, sebuah keteladanan nyata yang ia tunjukkan langsung di depan mata para cantriknya agar mereka malu untuk bersikap manja.
Jangan sekali-kali ada yang berani mengira bahwa kesalehan dan kesederhanaan itu adalah sebuah kelemahan yang bisa dipermainkan! Di balik kebaikan jubah kesederhanaannya, Lim Kheng Siang adalah perwujudan hidup dari hukum kedisiplinan yang sekeras batu karang. Wataknya lurus, bicaranya tegas, dan tindakannya langsung menghunjam ke jantung masalah tanpa basa-basi. Gemblengannya terkenal sangat keras, kejam, dan bahkan sering kali dirasa sudah keterlaluan serta melewati batas peri kemanusiaan oleh para cantrik yang bermental lemah dan berjiwa lembek.
Ketegasan prinsip disiplin besi miliknya sempat diuji dalam sebuah peristiwa benturan langsung yang teramat menegangkan. Di pelataran kapel yang suci, di bawah tatapan dingin menara salib kayu yang membisu, seorang cantrik yang dikenal sangat bengal, nekat, dan keras kepala mencoba menguji sampai di mana batas ketegasan sang suhu yang baru. Murid bandel itu dengan sengaja melakukan pembangkangan terbuka di depan umum, mengira kebaikan jubah kesederhanaan sang guru baru bisa dilunakkan dengan rayuan atau alasan.
Namun, ia keliru besar dan harus membayar mahal untuk kebodohannya! Menghadapi api pembangkangan yang mencoba merusak tatanan perguruan, prinsip besi Lim Kheng Siang justru menyala dengan berkobar-kobar semakin hebat laksana api neraka. Dengan ketegasan kilat yang luar biasa cepat dan mengejutkan, sang master menjatuhkan tindakan disiplin yang begitu telak, keras, dan tanpa keraguan sedikit pun. Guncangan tenaga sakti membuat tubuh sang cantrik terenyak dan roboh terkapar di atas tanah pelataran kapel yang keras dan berdebu.
Pada detik yang teramat kritis itulah, sang cantrik mencicipi rasa ngeri dan tak berdaya yang sejati di hadapan sang suhu. Di bawah langit Lembah Sekabu yang menggelap pekat, hatinya terguncang hebat laksana dihantam gada raksasa. Perasaannya campur aduk antara amarah yang tertahan di dada, rasa malu yang membakar habis harga dirinya, dan ketakutan yang mengekik dada hingga tak mampu mengeluarkan suara.
Pada saat itu ia merasa gemblengan tangan besi sang suhu teramat kejam, tidak adil, dan melampaui batas, menyiksa raganya yang lebam dan membelenggu jiwanya yang merindukan kebebasan liar. Air mata kekesalan dan keputusasaan menetes membasahi pipinya, menyatu dengan debu pelataran kapel dalam keheningan malam yang sunyi dan dingin.
Isak tangis haru
Malam itu....
Seorang cantrik tua yang kini rambutnya telah memutih seluruhnya laksana perak, duduk terpekur sendirian di keheningan kamar yang gelap di Sungai Raya. Kamar itu terletak tepat di sebelah bekas kamar Pak Aki dahulu kala.
Di luar jendela, desau angin malam dan kepekatan kabut masih bertiup dengan cara yang sama persis seperti puluhan tahun lalu, namun malam ini hatinya tidak lagi dingin. Dada sang cantrik tua berombak dengan sangat hebat, sesak oleh tumpukan memori masa lalu yang mendadak menyeruak pecah dan menghunjam sanubarinya.
Bayangan ketegasan Pendekar Lim Kheng Siang saat menjatuhkan hukuman cambuk disiplin besi di pelataran kapel tua kembali terbayang dengan begitu jernih dan nyata di pelupuk matanya. Dahulu, didikan tangan besi itu dirasa begitu kejam, menyiksa raga, dan memicu rasa benci serta dendam yang mendalam di sanubari masa mudanya yang liar dan tak terkendali. Namun kini, setelah puluhan tahun berlalu, setelah ia mengarungi kerasnya jagat persilatan dunia luar dan menghadapi hantaman badai kehidupan yang sesungguhnya yang jauh lebih kejam dan tidak adil, kebenaran hakiki yang suci itu akhirnya tersingkap dengan begitu terangnya!
Baca Pasir Panjang, Ketika Debur Ombak Menautkan Dua Hati - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (78)
Air mata yang sejak tadi mengambang dan ditahan di pelupuk matanya yang mulai merabun akhirnya pecah juga. Isakan demi isakan kecil yang gemetar mulai terdengar memecah keheningan kamar yang sunyi itu. Lambat laun, isakan itu berubah menjadi aliran air mata yang tak terbendung lagi, mengalir deras membasahi kerutan di pipinya tua, menahan rasa haru yang teramat sangat besar dan menggetarkan seluruh sukmanya!
Sebuah kesadaran yang teramat dalam namun begitu suci kini menghunjam tepat di jantungnya. Sang cantrik tua akhirnya menyadari dengan penuh kesalehan bahwa dirinya yang dahulu laksana sebongkah batu kali yang kasar, bengal, hitam, dan keras kepala, tidak akan pernah bisa dibentuk menjadi sebutir permata yang berkilau indah, kuat, dan berwibawa tanpa adanya ketukan palu godam dan pahat besi yang tak kenal ampun dari sang guru.
Didikan tanpa kompromi dari Lim Kheng Siang dan ketegasan dingin dari Tan Un Mao bukanlah didasari oleh kebencian, kejahatan, atau rasa dendam pribadi sedikit pun. Melainkan, itu semua adalah sebuah bentuk pengejawantahan dari cinta kasih tertinggi dan paling suci, sebuah pengorbanan batin yang luar biasa dari seorang resi sejati yang rela dibenci, rela dikutuk, dan rela dianggap kejam oleh muridnya sendiri demi menyelamatkan masa depan sang murid agar tidak hancur terseret arus kesesatan dunia luar.
Mereka menempa agar para cantrik tumbuh menjadi pribadi yang kuat laksana ulin, tegap berdiri di atas kaki sendiri, dan memiliki iman yang kokoh sekeras batu karang dalam menghadapi badai dunia.
Di tengah keheningan malam yang dingin di Sungai Raya. Ditingkah oleh isak tangis haru yang menyayat namun sekaligus memberikan kelegaan luar biasa bagi jiwanya. Sang cantrik tua perlahan menyatukan kedua telapak tangan di depan dada, lalu menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya.
Dengan hati yang bergetar hebat. Ia menghaturkan rasa terima kasih yang tak terhingga serta tak lupa merangkai untaian doa paling suci kepada dua pendekar besar: dua resi berwatak besi yang telah berjasa besar membentuk dan menyelamatkan jalannya untuk pulang.
Masri Sareb Putra
Jakarta, malam yang bergetar 2 Oktober 2026.
0 Comments