Melintas Pagar Bidadari Sekabu yang Dijaga Ketat 9 Pendekar Perempuan Sakti Berkerudung Putih- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (89)
| Sebelum masuk pelataran para bidadari Sekabu, harus lolos melintas lebih dulu susteran atau pagar bidadari yang dijaga 9 pendekar perempuan sakti berkerudung putih. Ist. |
Tabir gaib yang membekap Padepokan Bidadari Sekabu perlahan tersingkap di depan mata kami. Semakin lama kami berada di sana, kian kuat pula rasa bahwa Sekabu menyimpan sesuatu yang tidak mudah dibaca oleh sembarang orang.
Bagi kami anak-anak muda dari Wisma Widya. Tempat itu bukan kampung biasa di tepian sungai. Ada rahasia dalam diamnya. Ada wibawa dalam kesunyiannya. Dan ada sesuatu yang membuat siapa pun yang mendengar kisahnya ingin datang, meski belum tentu sanggup menghadapi apa yang akan ditemuinya.
Baca Menjaga Sekabu dalam Pusaran Konflik Madura-Dayak 1979 di Sendoreng - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (88)
Di sepanjang Sungai Sekabu terdapat dua celah utama yang tampaknya mudah diterobos.
Celah pertama berada di hilir, di arah bawah aliran sungai. Tidak ada benteng batu, pagar, atau rimbunan pohon berduri. Hanya air sungai yang mengalir tenang. Justru ketenangan itulah yang dapat menipu mata. Bagi orang biasa, sungai tetap menjadi penghalang. Namun, bagi pendekar yang menguasai ilmu meringankan tubuh atau pandai berenang, jalur itu seakan mengundang langkah untuk mendekat.
Celah kedua berada di hulu, di arah atas aliran Sungai Sekabu. Bagian ini pun terbuka. Dari hulu, orang dapat mendekati kawasan Sekabu tanpa harus berhadapan dengan tebing terjal. Dari seberang sungai pun terdapat jalan untuk mendekat.
Dua celah itu seolah berkata kepada orang luar, “Masuklah, jika kau berani.” Akan tetapi, orang yang terlalu percaya diri justru dapat terperosok ke dalam kesalahannya sendiri.
Sebab Sekabu bukan tempat yang dapat ditaklukkan hanya dengan keberanian dan rasa ingin tahu.
Terutama bagi lelaki hidung belang yang mendengar cerita tentang sembilan perempuan penjaga padepokan. Cerita semacam itu tentu mudah membangkitkan khayal. Ia mungkin membayangkan sebuah tempat terpencil, sembilan sosok perempuan yang penuh rahasia, dan sebuah dunia yang seolah tertutup dari pandangan orang luar. Tetapi lelaki yang datang dengan niat kotor akan segera mengetahui bahwa Sekabu bukan tempat untuk memuaskan nafsu atau kesombongan. Di sana, yang diuji bukan keberanian mulut, melainkan keberanian hati.
Baca Pernikahan Silang Dayak-Tionghoa sebagai Bu-tong Literasi Budaya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (85)
Pada sebelah kanan sungai, terutama dari arah Poliklinik, keadaan berubah sama sekali. Jalan setapak di sana diapit tebing yang curam. Bagi orang biasa, mendakinya saja sudah cukup menguras tenaga. Hanya mereka yang memiliki kepandaian silat tinggi, bahkan menguasai ilmu meringankan tubuh, yang mungkin mampu melompati tebing itu. Seakan-akan alam sendiri telah memasang pagar sebelum tangan manusia sempat membangunnya.
Namun, ada satu tempat yang tampak lebih sederhana daripada semuanya. Ujung jalan hitam yang sedikit beraspal, dengan hamparan batu-batu tajam di atasnya.
Bagi mata yang tidak memahami rahasia Sekabu, tempat itu mungkin tampak sebagai jalan biasa. Justru di situlah letak keanehannya.
Mengapa jalan yang terbuka itu malah menjadi titik yang paling sulit ditembus?
Jawabannya terletak pada apa yang kami sebut garis hidup sembilan pendekar perempuan penjaga kemurnian para perawan. Garis hidup bukan hanya batas tanah. Itulah titik pusat tempat sembilan suster menjalankan penjagaan, berkumpul, dan mengerahkan kekuatan untuk melindungi Sekabu. Di sanalah keberadaan mereka seakan menyatu dengan padepokan yang mereka jaga.
Baca Tan Un Mao dan Lim Kheng Siang: Dua Resi Sakti PKN dengan Jurus Naga Api - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (83)
Maka siapa saja yang datang dengan niat buruk dan menginjak jalan itu harus bersiap menghadapi sembilan pasang mata yang tenang. Tidak perlu pedang terhunus. Tidak perlu suara benturan senjata. Ada ketenangan tertentu yang justru lebih menakutkan daripada teriakan perang. Lelaki hidung belang yang semula datang dengan dada dibusungkan dapat saja mendadak merasa langkahnya berat. Sebab ia mulai menyadari bahwa di Sekabu, yang tampak terbuka belum tentu dapat dimasuki, dan yang tampak sunyi belum tentu tidak berjaga.
Malam kembali turun di atas atap sirap pendopo. Lima anak asrama Wisma Widya duduk terpekur. Sungai Sekabu mengalir dalam gelap, membawa suara air yang seolah membisikkan rahasia dari hulu ke hilir.
Kami saling berpandangan....
Semakin banyak yang kami ketahui tentang Sekabu, semakin banyak pula yang terasa belum kami ketahui. Dan mungkin, justru di situlah daya pikat tempat itu: Sekabu tidak pernah membuka seluruh rahasianya kepada orang yang datang dengan niat yang salah.
Based on a true story.
Jakarta siang yang berubah arah, 3 Oktober 2026.
0 Comments