Menjaga Sekabu dalam Pusaran Konflik Madura-Dayak 1979 di Sendoreng - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (88)
| Menjaga Sekabu? Benarkah demikian? Direnung-renung ketika ini, Sekabulah yang menjaga rasa dahaga dan lapar kami anak-anak Wisma Widya. Ist. |
Ringkasan kisah yang lalu:
Pada 8 November 1979, di Desa Sendoreng, Samalantan, pertengkaran antara petani Dayak, Sidik, dan warga Madura, Asikin bin Asmadin, berkembang menjadi perkelahian. Sidik terluka parah dan meninggal keesokan harinya di Rumah Sakit Bethesda Serukam. Kematian Sidik kemudian memicu kemarahan dan aksi balasan, sehingga insiden yang semula bersifat pribadi berkembang menjadi konflik antarkelompok.
Eskalasi berlangsung cepat. Pada 11 November, bentrokan meluas dari Sendoreng ke Monterado. Rumah-rumah terbakar, korban berjatuhan, dan warga mengungsi. Karena keadaan semakin sulit dikendalikan, pada 13 November 1979 aparat dikerahkan untuk menghentikan bentrokan. Dalam suasana yang masih dibayangi ketegangan itulah Kamp Perawan Sekabu menjadi tempat yang perlu dijaga. Kami, anak-anak muda dari Wisma Widya, datang ke Sekabu sebagai bagian dari rombongan yang bertugas mendampingi dan menjaga kamp tersebut. Jadi, Wisma Widya adalah tempat kami berasal, sedangkan Sekabu adalah tempat kami hadir untuk menjalankan tugas menjaga dan mendampingi anak-anak. Di sanalah kami berhadapan langsung dengan suasana yang masih menyimpan jejak ketakutan dan trauma akibat konflik masa lalu.
Setelah badai mereda dan darah yang membasahi tanah mulai mengering. Pemerintah bertindak sebagai mediator untuk mempertemukan perwakilan masyarakat Dayak dan Madura. Sebuah ikrar suci dicapai di atas meja perundingan: berjanji demi langit dan bumi untuk tidak lagi mengulangi tindakan kekerasan.
Baca Menjaga Sekabu dalam Pusaran Konflik Madura-Dayak 1979 di Sendoreng - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (87)
Sebagai segel ghaib penanda perdamaian tersebut, didirikanlah Tugu Perdamaian di Samalantan pada awal tahun 1980-an, yang juga dikenal sebagai Tugu Pancasila.
Sementara di Monterado, tegak berdiri Tugu Bendera sebagai saksi bisu bersatunya kembali hati yang sempat pecah.
Namun, mengertilah wahai para pembaca yang bijaksana, memahat batu perdamaian jauh lebih mudah daripada menyembuhkan luka di dalam dada. Meski tugu-tugu itu berdiri megah, bayangan masa lalu yang kelam tidak serta-merta sirna.
Hawa ketakutan dan trauma purba masih bergentayangan di sudut-sudut kampung. Di sana-sini, masih terlihat wajah-wajah lelah yang menyimpan kewaspadaan tinggi, seolah telinga mereka selalu dipasang tajam-tajam, cemas menunggu suara geraman maut yang sewaktu-waktu bisa bangkit kembali dari kegelapan malam.
Meskipun demikian, ada sebuah oase suci di tengah padang tandus yang gersang itu. Di Kamp Perawan Sekabu: Tempat Anak-Anak Masih Bisa Tertawa, suasananya sungguh berbanding terbalik.
Kehidupan di sana mengalir tenang laksana air telaga di puncak gunung yang sunyi. Anak-anak kecil bermain dengan lepas, melompat dan berlari seolah dunia ini hanya dipenuhi kebaikan. Tawa mereka murni, memantulkan sinar mata yang cerah, sama sekali belum teracuni oleh benih curiga atau dendam kesumat yang sempat membakar tanah leluhur mereka. Mereka adalah sisa-sisa keindahan surgawi yang masih utuh di tengah-tengah hamparan luka yang belum sepenuhnya mengering.
Di sekeliling makhluk-makhluk suci bertubuh halus itu, berdiri sembilan pendekar perempuan yakni para suster yang menjaga mereka dengan benteng kasih sayang.
Sembilan wanita suci ini tidak memegang pedang pusaka atau memasang kuda-kuda silat yang mematikan. Senjata mereka adalah kehadiran dan ketulusan batin yang tiada batas. Setiap hari mereka mendampingi, memastikan agar jiwa anak-anak itu tetap kokoh dan tidak layu dihantam bayangan kelam masa lalu.
Dan ketika malam tiba, di saat jagad raya diselimuti kegelapan yang mencekam, sembilan perempuan ini bertindak sebagai penjaga gaib yang diam, memastikan roh ketakutan tidak berani menyentuh tubuh-tubuh mungil yang sedang terlelap tidur.
Baca Pernikahan Silang Dayak-Tionghoa sebagai Bu-tong Literasi Budaya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (85)
Kami, para darah muda dari Wisma Widya, datang berkunjung ke tempat itu dengan jantung yang bertalu-talu laksana jidor perang. Sepanjang perjalanan, sanubari kami dicengkeram oleh bayang-bayang konflik yang mengerikan.
Pikiran kami dipenuhi fantasi tentang tanah yang masih berbau darah, wajah-wajah penuh curiga, dan suasana tegang yang mencekik leher. Namun, begitu melangkah kaki memasuki Kamp Perawan Sekabu dan menyaksikan ketenteraman mistis di sana, seketika hawa dingin ketakutan di dalam dada kami lumer. Sebuah kelegaan yang luar biasa datang menyergap, disusul oleh keheningan batin yang sangat dalam, membuat bulu kuduk kami meremang oleh rasa takjub.
Padaha, jika jujur di hadapan matahari dan rembulan, kami tidaklah berbuat apa-apa. Kami tidak memiliki ilmu meringankan tubuh untuk berpatroli, tidak pula mempunyai kesaktian untuk berjaga. Kami hanya berjalan kian kemari dengan canggung, membawa puntung bambu dan kayu, bahkan sesekali menyembunyikan getaran gemetar di lutut yang tak berani kami tampakkan. Kami hanya duduk di sana, di tengah-tengah suasana yang sebenarnya masih terasa mencekam bagi jiwa-jiwa muda kami.
Namun sungguh luar biasa, kami justru disambut dengan kehangatan sejati oleh sembilan perempuan penjaga tersebut. Tidak ada sekat, tidak ada kecurigaan, seolah kami adalah kerabat lama yang baru kembali dari perantauan jauh. Di bawah naungan pondok yang sederhana, jemari-jemari mereka yang lembut menyuguhkan teh dan kopi yang mengepul panas, bersanding dengan kue-kue, pisang rebus, serta singkong rebus. Hidangan bersahaja itu terasa laksana obat dewa yang luar biasa menenangkan; uap teh yang hangat berhamburan di udara, perlahan-lahan mengusir hawa dingin mencekam yang sempat membekukan dada kami.
Di tempat yang sunyi itulah, sebuah pencerahan batin yang agung mengetuk sanubari kami. Kami tersadar akan sebuah filsafat hidup yang mendalam: bahwa kekuatan terbesar seorang manusia adakalanya tidak terletak pada tajamnya bilah senjata, bukan pula pada pekik keberanian di tengah medan pertempuran. Kadang kala, kesaktian tertinggi itu justru mewujud pada kesediaan untuk hadir, duduk bersama tanpa prasangka, dan saling menjaga di tengah-tengah bayangan masa lalu yang belum sepenuhnya sirna.
Baca Tan Un Mao dan Lim Kheng Siang: Dua Resi Sakti PKN dengan Jurus Naga Api - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (83)
Di Kamp Perawan Sekabu, di bawah perlindungan sembilan perempuan suci itu, kami memetik pelajaran berharga yang akan kami kenang seumur hidup. Ketika Kehadiran Lebih Berarti daripada Keberanian, di sanalah kedamaian sejati akan lahir—bukan dari kepalan tangan yang siap menghantam, melainkan dari keberanian batin untuk tetap hadir, saling memandang dengan mata murni, dan saling menjaga satu sama lain di ambang kegelapan.
***
Goresan pena ini ingin mengingatkan kita semua: bahwa ilmu silat tertinggi adalah ilmu menaklukkan diri sendiri. Sementara senjata paling sakti di kolong langit ini tidak lain adalah cinta kasih yang tulus tanpa pamrih.
Kisah di Kamp Perawan Sekabu dan bumi Samalantan ini adalah bukti nyata. Bahwa di atas tanah yang pernah terluka oleh amarah manusia, benih perdamaian tetap bisa tumbuh subur jika dirawat oleh jiwa-jiwa yang murni.
Baca Terkenang Herman Ahie : Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (82)
Apakah para darah muda Wisma Widya ini akan melanjutkan perjalanannya menyusuri bumi Kalimantan Barat? Ataukah masih ada rahasia batin lain yang ingin digali di bawah naungan sembilan pendekar perempuan suci tersebut?
Katakanlah! Dan biarkan pena ini kembali menari-nari mengikuti kehendak hatimu!
Based on a true story.
Jakarta pagi yang teduh, 3 Oktober 2026.
0 Comments