Pernikahan Silang Dayak-Tionghoa sebagai Bu-tong Literasi Budaya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (85)

 

Pernikahan Silang Dayak-Tionghoa sebagai Literasi Budaya
PKN bukan hanya sekolah akademik, juga bu-tong laboratorium hidup perkawinan silang Dayak-Tionghoa sebagai ujud literasi budaya. Ist.

Malam telah merayap tua, menyelimuti Lembah Asri di kaki Gunung Poteng dengan kegelapan pekat yang berselimut kabut. Angin pegunungan mendesau di antara dahan pohon sawo purba, mengeluarkan lengkingan halus seperti ratapan roh-roh penunggu hutan. 

Di tengah kesunyian yang mencekam itu, berdirilah Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN). Di malam hari. Kawasan itu sunyi senyap seperti naga raksasa yang sedang tertidur dalam semadi.

Baca Surat Bertinta Darah dari Ruang Tunas Muda - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (84)

Para pembaca yang budiman!
Nyarumkop bukanlah semata-mata bu-tong (perguruan silat) untuk melatih kekokohan otot dan ketajaman ujung pedang belaka.

Sungguh, perguruan ini adalah University of Life. Sebuah kawah candradimuka yang teramat wingit. Tempat jiwa-jiwa muda ditempa. Keangkuhan mereka diluruhkan. Lalu dibangun kembali dalam wujud kemandirian rohani yang sejati.

Di bawah temaram lampu pijar dan dingin yang menggigit tulang, para murid digembleng untuk membelah kayu, menanam ubi serta bermeditasi di atas batu gilang di bawah air terjun yang menderu deras.

Di PKN, musuh terbesar bukanlah pendekar sakti dari dunia luar, melainkan hawa nafsu dan kekerdilan jiwa yang bersembunyi di dalam dada sendiri!

Namun lihatlah bagaimana rahasia kehidupan terjalin di lembah yang wingit ini. Tempat ini menjadi kancah pertemuan dua latar budaya yang semula dipisahkan oleh prasangka: anak-cucu suku Dayak dengan kekayaan tradisi dan keteguhan budayanya, berpadu dengan para pemuda-pemudi keturunan Tionghoa yang membawa pengalaman, tradisi, dan latar kehidupan mereka masing-masing.

Baca Tan Un Mao dan Lim Kheng Siang: Dua Resi Sakti PKN dengan Jurus Naga Api - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (83)

Sebelum mereka melangkah ke dalam lingkungan PKN yang sunyi ini, perjalanan hidup telah mempertemukan dua sosok pilihan saat mereka sama-sama menjadi siswa Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Mereka adalah Salikin dan Minarni.

Ah, jika mengingat masa remaja mereka, dada ini bagai bergetar halus! Minarni, seorang dara jelita keturunan Tionghoa yang parasnya laksana rembulan di malam purnama, putih pualam dan menyimpan keanggunan mistis, rupanya adalah seorang pemain bola basket yang sangat jago! Gerakan kaki dan kelihaian tangannya menari-nari di lapangan bola basket seperti seekor burung belibis yang meliuk menghindari sambaran elang.

Sementara itu, Salikin, pemuda Dayak yang tubuhnya sekokoh batang pohon ulin, dikenal sangat piawai sebagai penjaga gawang sepak bola yang tangguh sekaligus pemain bola voli yang pukulannya menggelegar membelah angin!

Setiap kali Salikin melompat di depan net bola voli atau menerjang menyelamatkan gawang, auranya seperti seekor harimau loreng yang sedang melindungi wilayahnya. Ketangkasan fisik inilah yang menjadi pembuka jalan bagi bertautnya dua hati.

Ketika malam berganti dan mereka kemudian memasuki PKN. Cinta yang semula berupa riak kecil berubah menjadi samudra spiritual yang dalam. Kehadiran Salikin dan Minarni kemudian memicu gelombang besar di perguruan tersebut. Terjadilah sebuah "prestasi luar biasa" yang teramat langka dalam sejarah persilatan! Lebih dari sepuluh pasangan lintas etnis mengikatkan diri dalam pertalian sakral kawin-mawin.

Lihatlah betapa indahnya rangkaian peristiwa tersebut! Benyamin Ngui, pemuda Tionghoa yang memiliki kecerdasan dan ketekunan dalam menempuh kehidupan, memahat jodohnya dengan seorang dara manis dari Dayak Jangkang.

Baca Terkenang Herman Ahie : Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (82)

Sebaliknya, pendekar Patrisius Patrik yang berdarah Dayak, menjatuhkan pilihan hatinya pada seorang perempuan keturunan Tionghoa yang juga berasal dari daerah Jangkang. Sementara itu, Erna, gadis Dayak yang riang, menikah dengan seorang pemuda Tionghoa asal Pontianak yang sama-sama digembleng menantang malam di lembah sunyi itu.

Dalam derap langkah waktu yang silih berganti itu. Seorang sahabat karib seperjuangan kami seangkatan yang berasal dari tanah Sekayam, yakni Kasianus Julin, rupanya tidak luput dari tarikan benang merah perjodohan langit yang teramat unik itu. Sang pemuda gagah berdarah Dayak ini pada akhirnya menjatuhkan pilihan hatinya dan menyunting seorang gadis keturunan Tionghoa sebagai pendamping hidupnya yang setia. 

Sungguh jalinan asmara mereka. Semua itu menjadi bukti nyata betapa kuatnya daya pikat cinta yang bersemi di bawah atap perguruan ini. 

Di kemudian hari. Saya sendiri melangkah membelah kabut Lembah Asri, mengikuti jejak-jejak emas mereka untuk menggenapi perjalanan luar biasa di laboratorium hidup ini. Saya menikah dengan seorang amoi yang asal usul silisah orangtuanya dari Segedong.

Tentu saja, di luar sana masih bertebaran banyak sekali nama-nama alumni lainnya yang saling silang perkawinannya antara rumpun darah Dayak dan Tionghoa. Kisah kasih mereka  masih terselip manis madunya di balik lipatan waktu dan belum sempat tertorehkan dengan tinta emas di dalam lembaran kisah ini.

Perguruan bernama PKN ini ternyata membuktikan diri berhasil melahirkan literasi budaya sekaligus literasi kebangsaan yang hidup dan senantiasa menyala dalam dada.

Lihatlah hasil persilangan Cinday (Cina Dayak) itu: sebuah perpaduan dua latar budaya yang memperkaya perjalanan kehidupan. Tradisi Dayak dan tradisi Tionghoa bertemu dalam keluarga-keluarga baru, melahirkan tunas-tunas muda yang elok parasnya dan tinggi budinya. Anak bujang dari pasangan Benyamin Ngui misalnya, tumbuh menjadi pemuda yang ketampanannya luar biasa dan akhirnya terpilih sebagai Bujang Sanggau.

Baca Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (81)

Para pembaca yang budiman!
Ketahuilah bahwa sesungguhnya hidup manusia di kolong langit ini laksana selembar daun kering yang terombang-ambing di tengah badai malam yang mencekam. Sering kali manusia terjebak dalam kegelapan pikiran. Menciptakan dinding-dinding angkuh dari batu prasangka. Dan memisah-misahkan sesamanya berdasarkan warna kulit atau asal-usul darahnya.

Mereka acapkali lupa. Bahwa kabut malam tidak pernah memilih daun mana yang akan dibasahinya, dan embun pagi tidak pernah bertanya apa warna bunga yang akan disegarkannya.

Cinta sejati adalah lentera suci yang dinyalakan langsung oleh tangan Ilahi di dalam ruang batin yang paling gelap. Ketika dua hati dari rahim budaya yang berbeda telah bertaut dalam ketulusan, maka sekat suku bangsa akan luntur dan hancur laksana garam disiram air.

Dari sanalah lahir tunas-tunas kehidupan yang tumbuh dalam keberagaman, membuktikan bahwa perbedaan etnis bukanlah sumbu ledak kehancuran, melainkan bentangan pelangi yang memperindah jagat raya.

Oleh karena itu, janganlah sekali-kali berjiwa kerdil dengan memandang perbedaan sebagai musuh yang menakutkan. Jiwa yang mandiri secara rohani akan selalu melihat bahwa di dalam diri setiap insan mengalir napas kehidupan yang sama.

Baca Membaca Surat Cinta Bersama-sama- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (80)

Kebangsaan yang sejati tidaklah tertulis pada guratan silsilah leluhurmu, melainkan terukir pada seberapa besar cintamu dalam menjaga keharmonisan. Dalam merawat persatuan dan menebarkan kedamaian di atas bumi tempat kakimu berpijak.

0 Comments

Type above and press Enter to search.