Pak Slamet: Butuh Jawa Beda dengan Butuh Dayak yang Bikin Kelas Grrr - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (90)
| Slamet Prajaka butuh kapur. Dokpri. |
Matahari memancarkan sinarnya di dua tempat yang berbeda, memisahkan jarak ribuan mil namun dipersatukan oleh sebuah ruang digital.
Di tengah hiruk-pikuk megapolitan Jakarta, saya sedang duduk santai melepas penat. Sementara jauh di seberang pulau, tepatnya di daerah Bodok, Kalimantan Barat, Benyamin Ngui juga sedang menikmati siang yang tenang.
Baca Melintas Pagar Bidadari Sekabu yang Dijaga Ketat 9 Pendekar Perempuan Sakti Berkerudung Putih- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (89)
Kedua orang sahabat lama yang rambutnya kini mulai memutih bagai perak itu tidak lagi memegang senjata pusaka. Melainkan, jemari mereka sibuk menggenggam sebuah benda ajaib modern bernama ponsel pintar, siap bersilat kata lewat chat WhatsApp.
Nostalgia masa muda mendadak hidup kembali saat Masri mengetikkan sebuah pesan dari Jakarta ke Bodok dengan rentetan emoji tertawa sampai berguling-guling. Menembus jaringan melintasi Laut Jawa hingga berdenting di ponsel Benyamin di Bodok, Kalimantan Barat sana.
Masri: "Woi Min (BenyaminNgui). Kau masih ingat tidak kejadian di kelas bawah waktu kita kelas I SMA dulu? Pas siang bolong yang gerah, kita belajar sama Guru Slamet?"
Membaca pesan itu di layarnya, Benyamin Ngui yang berada di kota kecil Pusat Damai terkekeh keras hingga kumis tipisnya bergetar. Tangannya dengan lincah membalas pesan sang sahabat di Jakarta.
Baca Menjaga Sekabu dalam Pusaran Konflik Madura-Dayak 1979 di Sendoreng - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (87)
Benyamin Ngui: "Ahahaha! Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kejadian yang mengocok perut itu, Mas! Gara-gara kapur secuil itu, kan? 🤣🤣"
Seketika itu juga. Ingatan kedua pendekar tua ini langsung terlempar kembali ke masa lima puluh tahun yang lalu. Bayangan sosok Slamet Prajaka langsung melintas dengan jenaka. Beliau adalah seorang guru yang didatangkan langsung dari tlatah Jawa.
Postur tubuh guru lulusan IKIP Sanata Dharma sedang, bahkan cenderung mungil untuk ukuran pendekar, namun pembawaannya selalu tegak bagai gagang tombak. Rambutnya yang lurus selalu disisir klimis rapi jali dengan minyak rambut yang mengilat memantulkan cahaya matahari.
Penampilannya senantiasa necis tanpa cela. Kulitnya berwarna cokelat matang khas manusia Jawa tulen, dan yang paling penting, di usianya yang sudah matang kala itu, Guru Slamet masih berstatus single alias pendekar pengelana yang belum menemukan belahan jiwanya.
Hari itu, tepat di siang bolong yang membuat gerah, Pak Slamet sedang mengeluarkan seluruh jurus ilmunya di depan kelas bawah. Menggunakan papan tulis kayu yang hitam, jemarinya lincah menggoreskan kapur putih. Namun, tiba-tiba gerakannya terhenti. Kapur di tangannya sudah habis, tinggal secuil kecil yang tersisa di ujung jari.
Baca Pernikahan Silang Dayak-Tionghoa sebagai Bu-tong Literasi Budaya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (85)
Dengan suara baritonnya yang berwibawa, Guru Slamet berbalik menatap murid-muridnya yang merupakan anak-anak asli Kalimantan Barat.
"Saya butuh kapur. Tolong ambilkan di kantor guru!" seru Guru Slamet dengan wajah polos tanpa dosa.
Bagaikan petir di siang bolong! Kata "butuh" yang keluar dari mulut sang guru langsung menyengat telinga seluruh kelas. Bagi anak-anak Kalbar, kata tersebut memiliki arti yang luar biasa sensitif, tabu, sekaligus sangat menggelikan karena merujuk pada alat kelamin pria!
"Grrrrr...!!"
Satu kelas langsung meledak dalam tawa durjana! Chun Kho buru-buru menutup mulutnya sampai matanya berair, sementara Patrisius dan Pian sampai memukul-mukul meja bagai kerasukan spirit monyet. Raymundus dan Jitmen bahkan harus memegangi perut mereka yang kaku kram karena terpingkal-pingkal. Suasana kelas bawah itu benar-benar pecah berantakan oleh tawa yang tidak tertahankan.
Guru Slamet tertegun. Alisnya yang rapi bertaut heran. Beliau yang memang jujur dan sama sekali tidak memahami bahasa gaul maupun dialek lokal setempat menjadi kebingungan setengah mati. Mengapa perintah mengambil kapur tulis bisa memicu badai tawa sedahsyat ini?
Baca Pernikahan Silang Dayak-Tionghoa sebagai Bu-tong Literasi Budaya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (85)
Melihat seluruh kelas makin menjadi-jadi dan tidak bisa dikendalikan, Guru Slamet berusaha memberikan penjelasan dengan nada serius demi menegakkan wibawanya. Namun, justru kalimat inilah yang menjadi puncak khasanah komedi siang itu!
"Kenapa kalian tertawa? Butuh Jawa itu beda dengan butuh Dayak!" tegas Guru Slamet dengan suara lantang, bermaksud menjelaskan bahwa kata "butuh" dalam bahasa Jawa berarti "memerlukan".
Mendengar penegasan yang begitu mantap itu, suasana kelas bukannya tenang, malah makin runtuh oleh air bah tawa bertubi-tubi! Seluruh kelas makin terpingkal-pingkal sampai menangis di tengah terik siang itu.
Bagi mereka, kalimat sang guru terdengar luar biasa menggelitik iman. Pikiran nakal anak-anak muda itu langsung melayang bebas tanpa rem, membayangkan arti kata tersebut dalam bahasa lokal mereka. Doraman, Gunawan, dan seisi kelas saling berbisik di sela-sela tawa, membayangkan dengan penuh rasa penasaran yang menggelitik: di mana letak perbedaannya? Bentuknya kah? Ukurannya kah? Ataukah kesaktian jimatnya?
Kembali ke ruang obrolan digital masa kini, layar ponsel Benyamin Ngui di Bodok dan Masri di Jakarta terus berkedip beruntun saling mengirim emoji jenaka.
Sungguh sebuah kesalahpahaman budaya yang tidak akan pernah mereka berdua lupakan seumur hidup. Sebuah jurus banyolan tiada tanding dari Guru Slamet, yang berhasil menaklukkan hati seluruh murid tanpa perlu mengeluarkan ilmu kesaktian tenaga dalam.
Based on a true story.
Senjakala, 3 Oktober 2026.
0 Comments