Sekolah 4 Tahun SMA St. Paulus Nyarumkop yang Terakhir - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (93)
Di bawah kolong langit persilatan akademis, coretan takdir ini mencatat salah satu fragmen sejarah yang amat langka dari Bumi Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN).
Baca Teringat Benny Nungkat yang tak Ingin Menyendiri - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (92)
Inilah kisah heroik tentang angkatan pamungkas sekaligus kelas terakhir dari Kelas IV SMA St. Paulus Nyarumkop. Sebuah skuad legendaris tempat berkumpulnya para ksatria tangguh yang digembleng oleh waktu dan tempaan nasib yang tiada duanya.
Pandanglah tingkah pola dan gaya mereka lamat-lamat. Keren habis pada zamannya pada ketika itu.
Historia vero testis temporum
Selembar potret usang terbentang, memancarkan pesona hitam-putih hasil bidikan tangan dingin sang maestro P.astor Williwagemakers, OFM Cap. pada tahun 1977. Willi ini seorang misonaris Belanda, pamong Wisma Widya pula. Badannya setinggi tiang listrik: 2 meter.
Dalam bingkai sejarah itulah kita ingat Cicero, sang pakar dan pujangga sejarah dunia yang agung. Dalam kitab kebijaksanaannya pernah menguraikan tabir fungsi sejarah bagi umat manusia. Di antara untaian sabdanya, salah lima yang paling masyhur menegaskan
"Historia vero testis temporum"
Kata-kata dalam bahasa malaikat itu bermakna luhur: sejarah adalah saksi dari perputaran zaman.
Di bawah payung takdir jagat persilatan akademis Nyarumkop, para siswa terakhir kelas IV SMA St. Paulus ini berdiri tegak bukan hanya sebagai pelakon, melainkan sebagai ksatria saksi zaman yang abadi. Mereka pelaku sekaligus saksi yang mengunci sebuah era lama yang tak akan pernah berulang lagi dalam sejarah bumi Nusantara.
Di dalam bingkai abadi itu, tampaklah bayangan para pendekar muda kelas IV SMA Seminari St. Paulus Nyarumkop yang sedang menempa diri. Jagat persilatan sekolah itu mencatat bahwa skuad ini mungkin merupakan ras terkuat yang pernah dilahirkan dalam sejarah Nyarumkop.
Baca Buih-Buih Tepian Sungai Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (91)
Mereka adalah angkatan pamungkas yang harus mengarungi kawah candradimuka selama empat tahun penuh. Belum cukup ujian berat itu. Takdir menghendaki mereka menambah lagi separuh tahun pengembaraan akibat pergeseran kebijakan pemerintah mengenai awal tahun pelajaran dari Januari ke Juli.
Maka genaplah empat setengah tahun waktu yang mereka habiskan untuk mengasah raga dan jiwa. Waktu yang panjang itu tidak membuat mereka goyah, melainkan justru semakin memperkokoh urat kawat dan tulang besi di dalam diri para pendekar muda tersebut.
Badai Seleksi Alam dan Pendekar Pengganti
Sayang seribu sayang, dalam potret bersejarah itu, sang takdir menyembunyikan satu sosok. Pendekar Lim Jiu Shang asal Sungai Duri - Mempawah, berhalangan hadir untuk mengabadikan bayangannya bersama saudara seperguruan. Pada fajar tahun 1977, sejatinya ada 16 orang pendekar yang berkumpul mengikat janji setia.
Baca Pak Slamet: Butuh Jawa Beda dengan Butuh Dayak yang Bikin Kelas Grrr - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (90)
Namun, roda nasib terus berputar dan menyeleksi siapa yang paling tangguh. Memasuki kelas 4 di tahun 1978, jumlah mereka menyusut menjadi 15 orang setelah Siprianus Seper memilih pamit undur diri dari perguruan. Tak berselang lama, di pertengahan tahun yang sama, Silvester Thomas pun turut angkat kaki meninggalkan medan laga, menyisakan 14 orang pendekar saja.
Di tengah penyusutan itu. Maka pucuk dicinta ulam pun tiba, langit mengirimkan bantuan yang tak disangka-sangka. Skuad ini mendapat tiupan angin segar dengan hadirnya Herman Ahie, seorang lulusan SMA St. Ignasius Singkawang. Sang pendekar baru ini bergabung dengan satu tujuan suci, demi mempersiapkan diri menuju jenjang Seminari Tinggi yang lebih sakral. Dan memang Herman nantinya ditahbiskan menjadi pastor. Baca Terkenang Herman Ahie : Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (82)
Ujian Ebtanas dan Musibah yang Menimpa Tangga
Hingga akhir tahun pelajaran 1978/1979, sekumpulan anak muda ini menyisakan 14 orang pasukan berani hidup. Merekalah yang dengan dada tegap maju ke garis depan, siap menantang ujian sedahsyat EBTANAS demi meraih pengakuan tertinggi di dunia persilatan akademis.
Baca Menjaga Sekabu dalam Pusaran Konflik Madura-Dayak 1979 di Sendoreng - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (87)
Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Bagaikan jatuh tertimpa tangga, ke-14 petualang ini harus menelan pil yang teramat pahit. Akibat terjadinya kebocoran ujian di Rayon SMA Singkawang yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab, nilai mereka hangus dan mereka dipaksa menempuh ujian ulang.
Bayangkan betapa remuk redamnya hati mereka saat itu. Baru saja kaki-kaki yang lelah itu menginjakkan selasar rumah masing-masing untuk melepas rindu dengan keluarga, sebuah titah kilat memaksa mereka berbalik arah. Mereka harus kembali ke Nyarumkop hari itu juga demi menempuh ujian serentak di SMAN 1 Singkawang!
Dewi fortuna dan takdir pendekar Negeri +62
Akan tetapi, langit rupanya tidak buta melihat perjuangan anak-anak muda ini. Dewi Fortuna turun dari kahyangan, memayungi kepala ke-14 ksatria dengan selendang keberuntungan. Melalui ujian ulang yang super ketat itu, mereka semua dinyatakan LULUS dan TAMAT dengan kepala tegak tanpa ada satu pun yang gugur.
Di kemudian hari, jalan hidup membawa mereka ke persimpangan yang tak terduga. Dua di antara mereka sempat melangkahkan kaki menuju gerbang Seminari Tinggi untuk memeluk kehidupan membiara, meski akhirnya pengembaraan suci itu harus terhenti di tengah jalan karena panggilan lain.
Baca Pernikahan Silang Dayak-Tionghoa sebagai Bu-tong Literasi Budaya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (85)
Untung ada Herman menebus dosa mereka
Angin malam berembus kencang di pelataran SMA Seminari St. Paulus Nyarumkop, membawa aroma tanah basah dan bisikan sunyi yang menyayat kalbu. Di ujung lorong kelas atas yang remang-remang, waktu seolah berhenti berputar. Takdir, dengan jemarinya yang dingin namun penuh rahasia, sedang menuliskan babak akhir dari sebuah epik yang mengharu biru.
Sungguh sebuah kenyataan yang mengiris hati, membuat siapa pun yang mendengar akan menitikkan air mata keharuan. Setelah bertahun-tahun mengarungi kawah candradimuka, saling berbagi peluh, air mata, dan doa di dalam kapel yang sunyi, memang tak satu pun dari para pendekar Nyarumkop ini yang akhirnya memilih jalan hidup suci menjadi seorang imam atau pastor. Jubah putih yang dahulu mereka impikan, perlahan-lahan harus tersimpan menjadi kenangan abadi di sudut sanubari.
Namun, di tengah kesunyian dan derai air mata perpisahan itu, langit menyisakan sebuah keajaiban. Herman Ahie, sang ksatria pindahan dari SMA St. Ignasius Singkawang yang bergabung di ujung lorong kelas atas pada detik-detik terakhir pengembaraan mereka.
Di saat saudara-saudara seperguruan yang lain berbelok arah menghadapi gelombang duniawi, Herman Ahie melangkah terus dengan dada tegap menembus kabut, memeluk erat panggilan suci tersebut demi menggenapi janji setia kepada Sang Khalik. Sebuah keteguhan jiwa yang membuat hati bergetar hebat penuh rasa takzim.
Namun, garis tangan yang digoreskan oleh Sang Pencipta memang misterius dan tak pernah salah. Jiwa-jiwa tangguh yang telah ditempa badai cobaan bertahun-tahun di Nyarumkop itu tidak lantas padam. Meski gagal mengenakan jubah imamat, mereka melesat tinggi bagaikan rajawali, terbang berkelana ke berbagai penjuru mata angin untuk menyebarkan kebaikan dengan cara yang berbeda.
Siapa yang menyangka, dari air mata kegagalan di dalam dinding seminari, lahir ksatria-ksatria tangguh di medan laga kehidupan nyata?
Beberapa di antara mereka tumbuh menjadi sosok tersohor yang namanya bergaung agung, mengguncang seantero jagat raya negeri +62. Mereka membuktikan bahwa air mata yang tumpah di Nyarumkop dahulu, telah menjelma menjadi mutiara yang menerangi seisi negeri.
Kehadiran Herman Ahie menjadi bukti abadi dari sebuah hukum alam yang tak terbantahkan: bahwa ketika sebuah pintu suci ditutup bagi banyak orang, Gusti Allah yang Maha Pengasih selalu menyisakan satu anak kunci pilihan.
Anak kunci itulah yang menjaga agar nyala api harapan dan kesucian di bumi Nyarumkop tidak pernah padam, melainkan tetap berkobar menjadi suluh yang menerangi kegelapan.
Dalam hidup nyata. Kita kerap menemukan anak kunci itu membuka pintu rezeki yang menyelamatkan. Atau justru kita menjadi anak kunci bagi orang lain....
Masri Sareb Putra
Based on a true story seperti dikisahkan Bang Maliki kepadaku.
Minggu pagi yang dini 4 Oktober 2026.
0 Comments