Gunung Poteng dan Rahasia Sunyi di Puncak Langit - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (113)

 

Gunung Poteng tampak dari dari halaman bersaama SPG dan SMA
Gunung Poteng tampak dari dari beranda halaman bersaama SPG dan SMA kala itu. Keindahan sempurna, sepotong surga yang jatuh ke bumi. Ist.

Di puncak sunyi puting Poteng yang bertahtakan batu hitam nan angkuh. Raga fana berdiri terasing dari segala keelokan. Ketika manusia menyatu dengan keindahan, ia lenyap menjadi bagian semesta yang hanya mampu dipandang oleh mata orang lain.

"Apakah kamu, Masri, pernah mendaki lalu meraih puting Poteng?"

Pertanyaan dari seorang sahabat lama di pelosok Kalimantan Barat itu laksana desau angin gunung yang melintasi waktu 46 tahun. Menembus jarak ribuan mil antara Jakarta dan bumi Khatulistiwa. Sebuah tanya yang menggelitik, namun seketika meruntuhkan sekat ruang. 

Baca Surminto Lie : Kidung Kasih di Lembah Poteng dan Urat Rahasia sang Pendekar Tenor - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (111)

Reuni akbar 110 tahun PKN memang telah menjadi semacam mantera sakti yang memangkas segala gersang perpisahan. Menyatukan kembali jiwa-jiwa yang pernah searah. Pertanyaan itu kini abadi dalam guratan pena, menggenapi serial narasi PKN yang ke-113.

Ya, saya pernah! Kaki ini pernah memijak batu-batu angkuh puting Poteng.

Dalam dunia persilatan jiwa, manusia sering kali tertipu oleh fatamorgana keindahan. Gunung Poteng dari kejauhan tampak seperti seorang dewi yang sedang telentang tidur menghadap langit, anggun dan penuh misteri. 

Namun, ketahuilah wujud asli dari metafora "cantik gunung" itu! Ketika raga ini berdiri tanpa jarak di puncaknya. Di atas cadas lingkaran batu yang hanya berdiameter 6 meter itu, tiada keindahan yang kasat mata. Yang ada hanyalah keterjalan. Batu-batu hitam yang bisu. Gersang. Dan ketiadaan tanah.

Ya, manakala kita di dalam keindahan maka keindahan itulah diri kita yang sebenarnya. Maka kita tidak lagi mengalaminya. Orang lain yang menikmati indah itu. 

Baca Sihir Magis "Susu Ibu" Poteng yang Memanggil Pulang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (110)

Di sinilah rahasia alam semesta berbicara, laksana petuah para pendekar kuno: Kadang, untuk melihat keindahan sejati, kita tidak boleh berada terlalu dekat dengannya. 

Jarak adalah kebijaksanaan. Justru dari puncak yang tandus itulah, sejauh mata memandang, terhampar lukisan mahakarya Sang Maha-penyusun Semesta.

Nyarumkop tampak bagai sepotong surga yang sengaja dijatuhkan dari langit ke atas bumi. Sementara Kota Amoi Singkawang bersolek dengan cantiknya. Secantik paras Moi Ciang dalam kisah-kisah lalu yang menggetarkan sanubari.

Jejak langkah para penakluk puting Poteng

Perjalanan itu adalah takdir yang beruntung. Waktu itu, di sela-sela memeras keringat menjadi tukang batu demi membangun fondasi asrama bidadari Sekabu. Langkah kaki ini tergerak. Pagi-pagi benar, bermula dari Wisma Widya, kami mendaki melewati Poliklinik dan menyusuri jalan tikus yang sunyi.

Baca RPL Suyadi Kusumaprawira, Jurus Melawan Kantuk di Kelas dan Doa "Bapa Kami" Sebelum Pelajaran yang Dinyanyikan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (109)

Di tengah jalan. Tampaklah pipa-pipa besi bulat sebesar betis orang dewasa yang mengalirkan air ke asrama Widya dan Sekabu. Menyaksikan air yang mengalir di dalam besi itu, hati kecil ini sempat membatin jenaka: betapa beruntungnya air itu, karena ia mengalir untuk menyentuh kulit-kulit halus para bidadari Sekabu.

Kami terus mendaki menuju hulu. Di atas, kami menjumpai sebuah pemandian berupa kolam besar alamiah. Suasananya begitu hening, sejuk, dedaunan hijau memayungi bumi, dan tanahnya masih subur bersahabat. 

Di sanalah kami melepas lelah sejenak dan membuka bekal. Namun, jalan pedang kehidupan tidak pernah membiarkan manusianya bermanja-manja dalam kenyamanan. Selepas kolam itu, medan mendaki berubah menjadi ujian nyali yang sesungguhnya. Curam, berat, dan menguras napas.

Hanya ada segelintir manusia yang berhasil menaklukkan puting Poteng hari itu: Saya (Masri), Bus, Darmo, dan, ah, ingatan manusia memang memiliki batasnya, satu nama lagi tergelincir dari benak, lenyap ditelan waktu.

Baca Ketika Sihir Gunung Poteng Memanggil Pulang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (106)

Kami mendaki tanpa membawa setetes pun air minum. Ketika rasa haus mencekik tenggorokan, kami langsung meminum air murni yang memancar langsung dari jantung Gunung Poteng.

Air gunung adalah darah bumi. Murni tanpa rekayasa manusia. Nyatanya, air itu tidak membawa sakit, melainkan membasuh jiwa dan raga hingga membuat kami tetap awet muda hingga hari ini.

Bekal kami pun bersahaja, hanya ubi dan singkong rebus yang didapat tergesa, karena saat kami berangkat, nasi bulgur di dapur umum belum lagi matang ditanak. Namun, bukankah kebahagiaan sejati tidak diukur dari kemewahan hidangan, melainkan dengan siapa kita berbagi rasa lapar?

Petualangan menaklukkan puting Poteng hari itu telah menjadi prasasti batin, sebuah rasa yang takkan pernah bisa dilukiskan, bahkan oleh ribuan kata yang paling indah sekalipun.

Misteri air suci dan kesunyian para penjaga

Suasana di sekitar kolam pemandian alamiah itu mendadak berubah magis ketika kabut tipis mulai turun memeluk pepohonan purba. Air yang tertampung di sana begitu bening, laksana cermin raksasa yang memantulkan langit kelabu di kaki Gunung Poteng. Di sinilah kami yaitu saya, Bus, dan Darmo, berlutut di atas tanah subur, menyendok air langsung dengan tangkup telapak tangan demi mengusir dahaga yang membakar tenggorokan.

Ketika air murni itu menyentuh lidah, rasanya dingin luar biasa, menjalar dengan cepat laksana aliran tenaga dalam yang membasuh seluruh letih di raga. Ada getaran ghaib yang aneh.

Mata air yang memancar dari jantung Poteng ini seolah menyimpan daya hidup purba. Nyatanya, walau diminum tanpa dimasak, ia tidak membawa penyakit sama sekali, melainkan mengalirkan kesegaran yang membuat jiwa dan wajah kami tetap awet muda, mengunci kenangan masa remaja itu agar tidak ikut menua bersama sang waktu.

Sambil memandang riak air yang tenang, pikiran ini mendadak melayang pada benteng pertahanan Sekabu di bawah sana. Sungguh sebuah kebetulan yang diatur oleh takdir langit. Karakter air Poteng yang kami minum ini sangat selaras dengan watak sembilan pendekar wanita berkerudung putih, para suster biara yang menjaga kemurnian para perawan di padepokan Sekabu.

Baca Misionaris yang Bertaruh Nyawa, Menabur, Menyiram, dan Memelihata PKN - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)

Filsafat air adalah mengalah namun menghidupi. Air selalu mengalir ke tempat yang paling rendah, bersahaja, dan rela menembus celah-celah batu yang gersang demi memberi kesegaran pada tanaman di lembah.

Begitu pula dengan kehidupan para suster tua itu. Mereka mengubur dalam-dalam ego keduniawian, memilih tinggal dalam kesunyian biara, Mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk sesama. Jiwa dan raga mereka itu kudus adanya. Sekudus mata air Poteng yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan cagar alam Raya Pasi.

Maka, sangatlah tepat jika para perawan suci dijaga oleh mereka yang berjiwa air. Siapa yang berani menantang dan menembus benteng utama gerbang Sekabu? Para penyusup bertopeng pun akan mati kutu hanya dengan kewibawaan batin dan ilmu totokan suara yang dimiliki suster tua, tanpa perlu mengalirkan darah sekejap pun. 

Pipa-pipa besi bulat sebesar betis yang mengalirkan air ke asrama bidadari itu menjadi saksi bisu, bahwa kebaikan dan ketulusan, sekecil apa pun, akan terus mengalir menghidupi masa depan generasi muda Nyarumkop.

Bayang-bayang Sekabu dan Ciang Moi

Saat mentari mulai tergelincir ke barat, ingatan kami kembali ditarik ke bawah, ke dasar lembah tempat fondasi asrama bidadari Sekabu sedang dibangun.

Di sanalah. Dengan kedua tangan ini. Batu-batu kali disusun satu demi satu. Menjadi tukang batu untuk sebuah tempat yang kelak dihuni oleh para bidadari adalah sebuah ironi yang indah. Kami membangun tempat berteduh untuk keindahan yang mungkin tak pernah bisa kami miliki.

Seperti itulah hidup. Banyak manusia menghabiskan umurnya membangun 'istana' atau 'asrama' bagi kebahagiaan orang lain, tanpa pernah mencicipi kehangatan di dalamnya. Namun, di situlah letak kearifan tertinggi: Berbahagialah mereka yang bisa menjadi jalan bagi kebahagiaan orang lain, walau dirinya sendiri tetap tinggal dalam kesunyian.

Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Pipa besi bulat sebesar betis yang mengalirkan air dari mata air Poteng ke kamar mandi mereka seolah menjadi saksi bisu. Air itu mengalir tanpa henti, dingin dan suci.

Dari atas puncak ini, kami tahu dari mana sumber air itu berasal. Ia berasal dari gunung yang gersang dan berbatu tebal. Siapa yang menyangka, dari puncak yang tandus dan tak ramah, lahir mata air yang menghidupi dan menyegarkan para gadis di Sekabu dan Widya?

Begitu pula dengan cinta dan ketulusan. Kadang ia lahir dari hati yang luar mulanya tampak keras bagai batu gunung, namun di dalamnya mengalir kelembutan yang tak bertepi.

Dan pikiran ini kembali melayang pada sosok Moi Ciang. Gadis Singkawang yang kecantikannya bagai rembulan di malam musim gugur. Apakah si amoi juga meminum air yang sama?

Kota seribu-kuil Singkawang di kejauhan sana tampak begitu tenang. Di kota itulah, takdir-takdir kecil bertunas, bersemi, dan sebagian gugur diterpa badai kehidupan.

Pulang bawa prasasti jiwa

Kami turun ketika senja akan membekap gulita. Jalan pulang selalu terasa lebih berat bagi mereka yang menyisakan hatinya di puncak. 

Langkah demi langkah menuruni bebatuan terjal memaksa kami untuk selalu menunduk. Puncak mengajarkan kita untuk melihat luasnya dunia, tetapi jalan turun mengajarkan kita untuk melihat ke mana kaki berpijak, sebuah pelajaran tentang kerendahan hati.

Nasi bulgur yang belum sempat ditanak pagi itu pastilah sudah matang di Wisma Widya. 

Perut kami yang hanya diganjal ubi dan singkong sudah berkeroncong. Namun, jiwa kami kenyang. Kami pulang tidak dengan tangan hampa. Kami membawa pulang sekeping keabadian dari puting Poteng.

Siapa sangka? Serial narasi ke-113 ini harus ditulis setelah 46 tahun jarak memisahkan? Sahabat di pelosok Kalimantan Barat yang mengirim pesan pagi ini adalah bukti nyata bahwa waktu hanyalah ilusi bagi dua jiwa yang pernah mendaki gunung yang sama.

Reuni 110 tahun PKN bukan hanya tentang acara kumpul-kumpul orang tua, melainkan upacara penyelarasan kembali energi-energi yang pernah berserak di seluruh penjuru angin.

Kini, Poteng tetap tegak berdiri menghadap langit. Putingnya yang berbatu tetap sunyi. Namun di dalam dada saya, Bus, dan Darmo, Poteng telah menjelma menjadi sebuah kuil batin tempat kenangan masa muda takkan pernah bisa menua.

Masri Sareb Putra
Tangsel, pagi yang dini 9 Oktober 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.