Surminto Lie : Kidung Kasih di Lembah Poteng dan Urat Rahasia sang Pendekar Tenor - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (111)
![]() |
| Surminto Lie (tengah, duduk santai) bercengkerama dan bernostalgia bersama adik-adik lintas-angkatan pada Reuni Akbar 110 tahun PKN di Wisma Emaus. Ist. |
Matahari musim panas awal September tahun 2026 mulai condong ke barat. Memancar rona sinar kemilau keemasan yang menembus sisa-sisa kabut tipis di lereng Gunung Poteng.
Suasana di kompleks Persekolahan Katolik Nyarumkop begitu riuh bergemuruh. Reuni Akbar 110 Tahun PKN yang berlangsung dari tanggal 4 hingga 6 September 2026 telah mempertemukan kembali para pendekar pelana yang terpisah puluhan tahun oleh jarak, nasib, dan waktu.
Baca Sihir Magis "Susu Ibu" Poteng yang Memanggil Pulang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (110)
Sore itu, di seputaran tangga Wisma Emaus, berteduhlah belasan alumni dari berbagai angkatan. Mereka duduk bersila dan bersandar di undakan batu purba yang dingin, melepaskan lelah setelah sekian lama mengarungi samudera kehidupan yang penuh ombak badai.
Di sinilah. Di bawah naungan atap yang sakral, jurang usia melenyap laksana embun tersapu surya. Sukacita berhamburan bagai kuntum-kuntum bunga persaudaraan yang mekar serentak, membuat air mata haru merembes di sudut-sudut mata yang mulai keriput. Menangis bombay mereka menatap satu sama lain, menyadari bahwa rambut boleh memutih dan raga boleh menua, namun jiwa Nyarumkop tetaplah abadi membakar dada.
Di tengah-tengah keharuan yang menggetarkan sukma itu, tiba-tiba angin berdesir lembut menyambut kehadiran seorang pendekar sepuh yang amat kesohor di masa mudanya. Dialah Surminto Lie! Dahulu, namanya menggetarkan seisi Asrama Widya lewat ilmu meringankan vokal yang sanggup meliuk tinggi mencapai mega-mega langit dengan lengkingan tenor "ngiuk" di kala fajar menyingsing. Namun, kali ini Pendekar Surminto tidaklah sebatang kara.
Baca RPL Suyadi Kusumaprawira, Jurus Melawan Kantuk di Kelas dan Doa "Bapa Kami" Sebelum Pelajaran yang Dinyanyikan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (109)
Bagai sepasang burung belibis yang terbang seiring, ia melangkah mantap sembari menggandeng erat jemari belahan jiwanya: sang istri tercinta yang berwajah teduh laksana telaga di tengah hutan cemara.
Dengan senyum dikulum dan dada membusung bangga, Surminto memperkenalkan sang dewi kepada saudara-saudara seperguruannya, termasuk kepada saya. Kami semua memandang takjub, terharu melihat bagaimana sepasang angsa ini telah bersama-sama mendayung biduk rumah tangga melewati seribu satu musim.
Serangan mendadak sang bekas pacar
Tetapi, jalannya takdir di panggung dunia selalu menyimpan kejutan yang tak terduga! Ketika obrolan tengah mengalir hangat sehangat arak manis, membicarakan kisah-kisah nista penuh tawa di masa asrama yang membuat perut berguncang hebat karena tawa terpingkal-pingkal, tiba-tiba suasana yang damai itu diguncang oleh sebuah badai kecil.
Seorang wanita paruh baya dari angkatan sebelah tiba-tiba melangkah maju. Dengan sepasang mata yang berbinar jenaka dan senyum penuh rahasia, ia menudingkan telunjuknya tepat ke arah Surminto, lalu berseru lantang membelah keheningan sore,
"Eh, ketahuilah kalian semua! Ketahuilah wahai seisi Nyarumkop! Aku ini adalah bekas pacar Surminto di masa remaja dulu!"
Deg!
Seketika itu juga, waktu seolah berhenti berputar. Desir angin lereng Poteng mendadak senyap. Beberapa kawan alumni sampai menahan napas dalam-dalam. Menyalurkan chi mereka demi meredam ketegangan.
Dalam kitab persilatan asmara dunia fana, ucapan semacam itu laksana sebuah pukulan Tapak Geni yang membakar ekor naga. Jadi amat sangat sangat berbahaya!
Hati kami berdebar keras, cemas bercampur ngeri. Mata kami melirik waspada. Bersiap melihat sang istri murka, menjerit histeris menangis bombay karena cemburu. Atau barangkali melontarkan jurus cakaran pemutus urat leher kepada Pendekar Surminto.
Namun, sungguh di luar dugaan! Manusia hanya bisa menebak, tetapi kebesaran jiwa seorang wanita sejati tiada batasnya.
Alih-alih menyemburkan api cemburu, belahan jiwa Surminto justru menarik napas dalam, lalu tertawa renyah! Suara tawanya berderai-derai laksana untaian mutiara yang jatuh di atas nampan perak. Begitu bersih, lepas, dan suci dari rasa curiga. Mendengar tawa yang begitu maklum dan penuh keikhlasan itu, runtuhlah ketegangan yang sempat menggantung.
Jurus kidung pembongkar rahasia masa lalu
Melihat reaksi sang istri, kawan-kawan seangkatan yang berjiwa degil tentu tidak tinggal diam. Darah muda mereka yang terpendam puluhan tahun mendadak bergejolak kembali. Dipelopori oleh pendekar-pendekar jenaka masa lalu, mereka segera mengerahkan ilmu sing-kang untuk menghimpun tenaga dalam di dada, bersiap melancarkan serangan balasan yang mematikan urat malu!
Melihat riuh rendah itu, Masri melangkah ke depan.
Sembari memandang lurus ke arah Surminto, Masri menarik napas dalam-dalam lalu menyanyikan ulang syair kuno alunan suara Kris Biantoro itu dengan lantang:
"Kau puasi, kau puasi niat hatimu... Yang akan membuat dirimu layu... Oh sayangnya, oh sayangnya, oh sayangnya... Kau telah jatuh di lembah nista..."
Lengkap dengan penekanan nada tinggi "Ngiuukkk!" di ujungnya!
Mendengar bait legendaris itu meluncur dari bibir Masri, Surminto langsung tertawa terbahak-bahak. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala. Terkejut sekaligus geli mendalam. Belum sempat gelak tawa reda, Masri kembali berdehem besar, menatap Surminto dengan tatapan penuh seloroh. "Eh, tunggu dulu!
Baca Ketika Sihir Gunung Poteng Memanggil Pulang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (106)
Pasukan pengocok perut belum selesai! Apakah kau mengira aku lupa dengan jurus andalanmu yang kedua? Nomor legendaris yang aslinya milik Trio Bimbo, meski dulu kita sering mengiranya lagu Ade Manuhutu, yang juga kerap kau lantunkan di bawah pancuran Asrama Widya?"
Seketika, Masri menyanyikan bait puitis dari lagu Flamboyan tersebut dengan gaya meliuk-liuk yang jenaka:
"...Flamboyan berguguran... Berjatuhan, berserakan..."
Dan persis seperti zaman puber dahulu, di akhir nada bait "berserakan...", suara Masri sengaja dibuat meliuk tinggi mencakar langit demi menirukan lengkingan sakti sang sahabat!
Surminto kembali tertawa lepas mendengar lagu kesayangannya dikumandangkan kembali di bawah langit Nyarumkop. "Benar-benar ingat sampai detail, kamu!" komentar Surminto yang kini hidup bahagia bersama belahan jiwa di kota Pontianak.
Suasana pun pecah sejadi-jadinya! Seluruh alumni dari berbagai angkatan tertawa terpingkal-pingkal hingga perut mereka kaku, bahkan ada yang harus berpegangan pada tiang selasar agar tidak terjungkal ke tanah.
Sungguh sebuah pemandangan yang tiada duanya: di satu sisi tertawa sampai pinggang mau patah, di sisi lain air mata meleleh haru melihat betapa agungnya cinta sang istri.
Sepuluh pendekar dalam satu prasasti visual
Tepat pada momen puncak kebahagiaan itulah, sebuah kilatan cahaya kamera menangkap dan mengunci detik-detik sakral tersebut ke dalam selembar prasasti visual yang abadi. Sebuah foto yang menampilkan Surminto tepat di tengah-tengah, dikelilingi oleh 9 orang pendekar tangguh lintas generasi!
Baca Misionaris yang Bertaruh Nyawa, Menabur, Menyiram, dan Memelihata PKN - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)
Mari kita lihat formasi pasukan berani hidup yang mengitari sang maestro vokal ini pada dinding kayu asrama berjalusi khas Nyarumkop:
Di sisi kiri, berdiri kokoh benteng pertahanan atas dan bawah. Paling ujung, seorang pendekar pria berkaos garis-garis hitam-merah berdiri tegap menantang angin.
Di sebelahnya, seorang pendekar wanita berbaju merah marun dengan tulisan "Be the Light" melempar senyum tipis. Turun ke bawah, duduk di bangku panjang, dua pendekar wanita berjiwa ceria memancarkan aura kegembiraan. Satu mengenakan kemeja garis biru-putih dengan jari membentuk simbol cinta, dan satunya lagi anggun berkaos merah muda dengan nomor punggung 65.
Tepat di titik pusat jagat foto, duduklah sang tokoh utama kita, Surminto Lie. Di lehernya melingkar tali ID card reuni, tanda ia adalah peserta sah ujian rindu kali ini. Dengan kaos putih dan celana abu-abu, jemarinya memegang seutas tali suvenir. Wajahnya memancarkan ketenangan seorang pendekar yang telah hidup damai di bumi khatulistiwa, dikelilingi oleh cinta sejati serta sahabat sejati.
Sementara di sisi kanan, berbarislah para penjaga tangga Wisma Emaus. Duduk tepat di sebelah Surminto, seorang pendekar pria berkaos putih kerah hitam mengacungkan jempol mantap. Dialah sang enghiong dulu di asrama Widya tidak bisa dikerangkeng oleh waktu, yang menuliskan seluruh rangkaian kisah ini. Ia percaya adagium kuno dalam bahasa malaikat, "Verba volant, scripta manent" bahwa segala kata yang terucap berlalu, tapi yang dituliskan: abadi.
Di belakangnya, bersandar pada sekat kayu, tampak pendekar wanita berkaos biru toska nomor 05 menatap teduh. Merapat ke undakan tangga batu bawah, tiga pendekar wanita duduk berjajar dengan rapi laksana barisan sajak indah; salah satunya mengenakan kaos putih, dan yang paling ujung berkaos biru toska lengkap dengan tas selempang cokelat berlambang lingkaran.
Namun pembaca budiman, di balik riuhnya gelak tawa dan jepretan kamera yang mengocok perut itu, suasana perlahan-lapan bergeser seiring sang surya yang tenggelam di balik cakrawala. Malam pun tiba membawa keheningan yang magis.
Ketika jamuan makan malam digelar di aula terbuka, seluruh pendekar alumni duduk bersila melingkari hidangan sederhana namun penuh berkah. Di bawah sinar lampu yang temaram dan desau angin malam yang menusuk tulang, Masri Sareb perlahan berdiri. Di tangannya, ia memegang sebuah buku tebal yang belum lama ini rampung ia susun dengan cucuran keringat dan air mata.
Seketika itu juga. Suasana riuh berubah senyap laksana kuburan purba. Kata-kata sejarah yang meluncur dari bibir Masri laksana mantra gaib yang menyentuh bagian terdalam dari sukma setiap manusia yang hadir. Tak pelak lagi, runtuhlah pertahanan hati para pendekar perkasa itu!
Air mata mulai mengambang di sudut-sudut mata yang telah berkeriput, lalu perlahan menetes membasahi pipi. Tangis bombay yang sedari sore ditahan kini pecah tak terbendung lagi. Pria-pria berbadan kekar dan wanita-wanita paruh baya itu menahan haru. Saling merangkul bahu satu sama lain di bawah kesaksian malam Nyarumkop.
Di satu saat mereka bisa tertawa hingga pinggang mau patah, namun di saat lain mereka menangis bombay hingga dada terasa sesak oleh rasa haru yang teramat sangat.
Sungguh malam itu menjadi bukti abadi. Bahwa di Nyarumkop, cinta dan persaudaraan adalah mata air yang tak akan pernah kering selamanya.
Altar suci bagi sang pendekar tenor
Rupanya, seluruh olah vokal fajar di kamar mandi Asrama Widya puluhan tahun silam itu tidak pernah berakhir sia-sia. Siapa yang menyangka bahwa gemblengan hawa dingin pancuran masa remaja itu justru menjadi kawah candradimuka yang menempa urat suaranya?
Kini sang pendekar vokal mengabdikan bakat legendarisnya untuk jalan yang suci, aktif bergabung dalam tim koor gereja dan mantap memegang posisi sebagai penyanyi suara tenor di Paroki Gembala Baik, Pontianak.
"Kau sesekali Misa lah di sana, Masri," sebuah pesan singkat masuk di gawaiku siang tadi. Kalimat jenaka nan sarat makna yang dikirimkan oleh Surminto (atau yang akrab kami sapa Minto) seolah membawa embusan angin masa lalu yang hangat tepat di tengah hari yang terik. Mungkin saja maksud Minto agar saya bisa menyaksikan sendiri bahwa kini tak ada lagi bunyi "ngiuk" pada nada tertinggi yang dulu tak bisa ia lintasi saat remaja.
Puluhan tahun kemudian, barulah semua orang mafhum bahwa latihan spartan yang dulu sempat mengganggu tidur kawan-kawan seasrama kini telah berubah menjadi berkat. Ilmu melengking yang dulunya meliuk tinggi mencakar langit, kini menjelma menjadi puji-pujian sakral yang indah menggetarkan altar suci paroki.
Di kota Pontianak, tempat ia kini hidup bahagia bersama belahan jiwanya, Surminto terus mengalirkan getaran tenaga dalam vokalnya, membuktikan bahwa bakat yang ditempa sejak masa belia akan selalu menemukan altar terbaiknya untuk mengabdi.
Baginya segala lika-liku. Kejenakaan dan perjalanan takdir dari bilik mandi asrama hingga ke altar suci. Semua adalah garis hidup yang indah.
C'est la vie! Begitulah hidup!
Masri Sareb Putra
Tangsel, senjakala 8 Oktober 2026.

0 Comments