Frans Tsai dan Moses Alep: menjadi buah mulut Reuni Akbar 110 PKN
Frans Tsai dan Moses Alep: menjadi buah mulut Reuni Akbar 110 tahun PKN.
Dok. Marsell Hary Ane
.
 
Tirai waktu akhirnya tersingkap pada hari yang telah lama dinanti-nantikan, tepatnya pada siang hari tertanggal 4 September 2026. Di atas tanah lapang sepakbola yang terbuka luas, genderang perhelatan agung Pembukaan Reuni Akbar 110 Tahun PKN mulai ditabuh bertalu-talu. 

Fajar menyingsing di cakrawala Nyarumkop. Menyibak kabut putih yang menyelimuti gerbang masuk kompleks Wisma Emaus. Dahulu orang mengenalnya sebagai Bruderan MTB. Pintu gerbang kayu berbahan ulin purba itu tegak berdiri laksana gapura sebuah padepokan sakti. Diapit oleh pohon-pohon rindang yang dedaunannya gemerisik berbisik ditiup angin lereng gunung Poteng seolah melantunkan mantra-mantra kuno yang menjaga kesucian lokus tersebut. 

Setiap pasang mata yang melangkah melintasi ambang gerbang itu akan seketika merasakan hawa batin yang hening namun berwibawa. Sebuah pertanda jelas bahwa tempat ini adalah kawah candradimuka bagi jiwa-jiwa yang haus akan kebenaran.

Di balik dinding-dinding sunyi itulah. Dahulu kala para bruder MTB yang berjiwa baja dan penuh kasih menggembleng para cantrik muda. Bagai empu yang menempa sebilah pedang pusaka di atas bara api, para bruder tidak hanya mengajarkan ilmu kanuragan lahiriah, melainkan memahat keteguhan batin, kedisiplinan tingkat tinggi, dan kemurnian akhlak ke dalam sanubari para muridnya. 

Di bawah tatapan mata para pembina yang tegas namun memancarkan sari pati kebijaksanaan luhur, para cantrik digodok siang dan malam. Agar kelak ketika masanya mereka turun gunung menapakkan kaki di jagat persilatan fana, mereka menjadi manusia-manusia tangguh yang mampu menerangi kegelapan dunia.

Baca Ketika Sihir Gunung Poteng Memanggil Pulang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (106)

Pada hari yang cerah itulah....
Di balik tembok warna putih Wisma Emaus 
dengan tinggi lebih dua meter. Suasana di padepokan terbuka tampak berbeda dari biasanya. Laksana aliran air sungai yang mendadak tenang namun menyimpan getaran batin yang dalam, segera menyedot perhatian khalayak ramai yang memadati tempat tersebut. 

Di tengah lautan manusia lintas generasi. Pandangan segenap mata seketika tertambat pada kehadiran dua orang pendekar yang paling senior dari sisi usia: dr. Dr. Med. Frans Tsai dan Moses Alep, Bsc, HK.

Sosok yang disebut pertama bukanlah orang sembarangan di dalam rimba persilatan. Dahulu di era sembilan puluhan, ia dikenal luas sebagai tokoh tangguh yang menjabat Ketua Industri Farmasi serta pengurus PKN se-Jabodetabek.

Kehadiran sepasang resi sepuh yang telah melompati angka delapan puluh tahun ini laksana dua tiang pusaka yang turun gunung. Memancarkan aura karisma tingkat tinggi yang membangkitkan rasa takzim membubung di dalam dada setiap cantrik yang memandang. Frans Tsai bukan hanya peserta yang sebenarnya dihadang sang putri keluar rumahnya di Bogor. Ia juga menjadi narasumber seminar yang digelar 4 September 2026 di aula Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) samping kapel seminari. Paparannya sederhana tapi memukau. Artikulasinya jelas. Khas seorang maha-resi memancarkan aura dalam yang tak habis tenaganya.

Baca Rentak Musik dan Volley PKN Sanggau Plus 1978: Promosi Jitu Zaman Itu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (105)

Sementara itu, alam semesta ikut menari menyambut kedatangan para pengembara. Angin dari lereng Gunung Poteng pada bulan September berembus semilir. Membawa hawa sejuk yang membelai lembut kulit. Namun, cakrawala di atas bumi Nyarumkop siang itu nampak menyingkapkan tabir yang sedikit berbeda. Kabut asap tipis merayap turun, meningkap suasana menjadi sedikit gelap dan menahan pancaran cahaya matahari murni.

Meskipun sang surya terhalang oleh pekatnya kabut asap, kegelapan alam sama sekali tiada mampu meredupkan api yang menyala di dalam sanubari. Hawa kegembiraan yang luar biasa tetap membuncah, mengalir dengan deras menyelimuti hati-hati yang telah lama didera rindu.

Rasa suka cita melintasi sekat-sekat zaman. Menurunkan aura kasih. Mengembus angin segar. Menyatukan kembali jiwa-jiwa yang telah puluhan tahun terpisah, kini pulang ke rumah yang sama di bawah perlindungan abadi Gunung Poteng.

Baca Dua Malam Hiburan Reuni Akbar 110 Tahun PKN Membuka Pintu Masa Lalu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)

Suasana pun bergeser ke sudut ruang perjamuan. Di sana pandangan mata masih terus terpaku pada pemandangan yang memancarkan kewibawaan tingkat tinggi dari kedua tokoh suci tersebut. dr. Frans Tsai berdiri dengan gagah, memancarkan aura seorang mahaguru kedokteran yang telah mencapai tingkat kesempurnaan batin yang amat tinggi.

Rambut dan janggutnya yang telah memutih seputih kapas menubuatkan betapa luasnya samudra ilmu yang telah ia arungi di sepanjang perjalanan hidupnya. Siang itu, tubuhnya dibalut jubah batik pusaka bermotif aksara kuno berlatar hitam merah, lengkap dengan selempang kuning keemasan penanda kehormatan luhur sebagai penasihat agung ikatan alumni.

Tepat di hadapannya, duduk dengan tenang Moses Alep. Pendekar sepuh berdarah pejuang yang dikenal luas sebagai Mantan Ketua DPRD Mempawah ini duduk dengan gaya yang amat santai namun tetap menyimpan kesiagaan seorang tokoh kawakan. Kepalanya dilindungi oleh sekat topi bundar bergaya klasik dengan lingkar kain merah, menaungi sorot matanya yang penuh rasa takzim sekaligus menyimpan sejuta kisah petualangan masa muda yang takkan pernah habis diceritakan.

Baca Misionaris yang Bertaruh Nyawa, Menabur, Menyiram, dan Memelihata PKN - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)

Berbeda dengan sang tabib sakti, Moses Alep mengenakan pakaian seragam kuning keputihan milik barisan pendekar PKN, lengkap dengan sulaman nama perguruan di kerah bajunya. Sikap tangannya yang bertumpu di atas meja dan tatapan matanya yang mendongak takzim ke arah dr. Frans Tsai memperlihatkan keindahan tali persaudaraan batin yang sangat kokoh. Sebuah tangkapan gambar ikatan persahabatan sejati yang telah diuji oleh tempaan badai zaman selama puluhan tahun lamanya. Diapit oleh deretan kaleng minuman dan botol air penawar dahaga, kehadiran mereka berdua membuat ruang waktu seolah berhenti berputar di atas bumi Nyarumkop.

dr. Dr. Med. Frans Tsai (kiri)
Frans Tsai dan Moses Alep: dua resi dengan aura kasih. Dokpri.

Di sela-sela riuh rendahnya perkumpulan agung tersebut. Saya melangkah mendekat dan memberanikan diri untuk mengajukan sebuah pertanyaan kepada sang resi yang paling tua di padepokan kita, yakni dr. Dr. Med. Frans Tsai yang kini telah genap berusia 84 tahun.

"Wahai maha-resi yang budiman. Apakah gerangan yang membuat Anda tetap memelihara jenggot naga yang memutih dan menjuntai indah di dagu itu?"

Mendengar pertanyaan tersebut. Sang tabib sakti tersenyum simpul. Sorot matanya berbinar. Memancar sari pati kebijaksanaan yang amat dalam saat ia menguraikan jawaban pertamanya.

"Ketahuilah, adindaku! Jenggot ini adalah pralambang kepasrahan batin untuk mengikuti jejak suci para padri, jagoan Kapusin yang berjanggut panjang. Ini adalah sebuah laku hidup yang alami, sebuah wujud ketundukan mutlak seorang manusia fana terhadap jalannya hukum kodrat alam semesta."

Baca Sihir Band PTHB Tainam Menggelora Jiwa Muda dan Mengusik Tidur Malam Kami - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (96

Namun, belum sempat saya mengagumi kedalaman filsafatnya. Seulas senyum di bibir sang resi mendadak berubah menjadi sebuah seringai jenaka. Seakan-akan menyiratkan secuil taktik cerdik yang kerap digunakan oleh para gembong kawakan di dalam rimba persilatan.

Sang maha-resi lalu menerangkan jurus silatnya.

"Adapun alasan yang kedua ini, harus kuakui cukup nakal," bisik sang resi sembari terkekeh lirih. "Ini adalah sejenis siasat batin di dunia fana. Bilamana aku melakukan perjalanan jauh melintasi perbatasan dan melawat ke negeri orang, segenap manusia yang memandang jenggot putih orang tua ini akan seketika didera rasa iba serta kasihan. Tanpa perlu mengerahkan jurus gertakan, sosok sepuh yang tampak ringkih ini justru mendatangkan banjir pertolongan, membuatku dihujani banyak hak istimewa, privilege, serta pelbagai kemudahan khusus yang tak terduga di bawah kolong langit!"

Dialektika WAG: Khotbah batin para pendekar

Perbincangan mengenai rahasia "jenggot naga" dan ketangguhan fisik sang resi tua rupanya tidak berhenti di ruang perjamuan saja.

Gelombang dayanya terus merembet hingga membakar ruang obrolan pusaka WAG "REUNI AKBAR (MAGNA REUNIO) 110 TAHUN PKN", memicu dialektika dan tanggapan hangat lintas generasi pasca-reuni. Para pendekar muda dan cantrik PKN yang tersebar di pelbagai penjuru mata angin ramai-ramai mempertanyakan rahasia panjang umur dan ketahanan batin tersebut.

Baca Teringat Benny Nungkat yang tak Ingin Menyendiri - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (92)

Di tengah riuh rendahnya tebakan dan kekaguman dari segenap anggota grup, muncullah sebuah komentar bijak yang dilontarkan oleh seorang pendekar budiman bernama Supardi. Bagaikan hembusan angin segar yang menyejukkan sanubari, ia mengalirkan petuah batin yang sangat mendalam bagi segenap saudara seperguruan.

"Yang penting di hari tua kita sehat dalam menikmati hidup. Kita tetap berusaha, Tuhan yang Maha Kuasa yang menentukan. Semoga kita tetap sehat semuanya. Amin.🙏"

Pernyataan sakti dari Supardi ini menggarisbawahi bahwa tugas manusia di atas bumi hanyalah sebatas ikhtiar untuk menjaga titipan raga dan batin agar senantiasa sehat, sehingga sisa hari tua dapat diisi dengan menikmati indahnya kehidupan dengan penuh rasa syukur.

Baca Prof. Dr. H. Rizali Hadi dan Masri Sareb Putra : Saling Bertukar Buku Ciri Dua Akademisi Jika Bertemu

Belum kering tinta wejangan dari pendekar Supardi, suasana di dalam ruang obrolan pusaka WAG kembali digetarkan oleh sambutan seuntai kalimat pendek namun sarat akan kandungan ilmu kebatinan yang sangat tinggi. Kalimat itu meluncur dari jemari seorang pendekar kawakan bernama Bartolomeus Barto.

Dengan sikap takzim seorang ksatria yang telah paham akan pasang surutnya gelombang kehidupan di bawah kolong langit, ia menyela obrolan sembari melemparkan pandangannya jauh menembus batas cakrawala takdir.

Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

"Kemungkinan ada, cuma kepastiannya di tangan Tuhan Mas."

Sebuah sahutan kilat yang membawa segenap pembicaraan kembali membumi. Di dalam kalimat singkat Barto tersebut terkandung pemahaman rohani yang amat kokoh, sebuah ketundukan mutlak pada garis suratan takdir. Manusia boleh saja menghitung kemungkinan dan membagikan jurus-jurus rahasia untuk bertahan hidup, namun ketetapan dan kepastian terakhir mengenai nafas kehidupan sepenuhnya berada di bawah kuasa mutlak Sang Pencipta Jagat Raya.

Mazmur 90:10 yang ngeri ngeri sedap

Maka, bilamana bait-bait suci Mazmur 90:10 kita bentangkan di depan mata, runtuhlah segenap keangkuhan kita sebagai manusia fana di bawah kolong langit. Kitab suci telah menyuratkan dengan sangat jujur dan tegas mengenai hakikat batasan umur manusia: "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." Ayat suci yang digubah oleh Nabi Musa ini bertindak sebagai kesimpulan teologis dan spiritual yang mengikat erat seluruh rangkaian kisah perjalanan hidup kita.

Lihatlah betapa ajaibnya rajutan takdir yang telah kita lewati. Mulai dari lembaran sejarah kelam di masa lalu, hingga karunia luar biasa yang terpampang nyata pada helatan akbar Reuni 110 Tahun PKN. 

Kehadiran dr. Frans Tsai yang telah menginjak usia 84 tahun bersama Moses Alep adalah wujud nyata dari kemurahan ilahi yang berhasil melompati batas rata-rata usia manusia yang disuratkan dalam Mazmur. 

Mereka berdua tegak berdiri bagaikan sepasang pohon cemara purba di lereng Gunung Poteng, menjadi bukti hidup bahwa mukjizat kekuatan batin dan fisik yang murni itu benar adanya.

Namun, di balik kekaguman yang membubung tinggi menyaksikan kebesaran dua sosok tetua sakti tersebut. Terbentang sebaris rasa takjub yang mendalam tiba-tiba berganti rupa menjadi sebuah bayang-bayang ketakutan yang merayap sunyi di dalam dada. Sebuah gugatan batin yang mengusik tidur malam mendadak bergaung hebat: "Mampukah kita kelak mengikuti jejak ketangguhan mereka saat hari tua menjemput?"

Baca Telaga Biru Sekabu dan Rahasia Para Bidadari Mandi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (104)

Melihat diri sendiri yang bertarung di tengah dunia baru yang bergerak terlalu cepat, penuh dengan kepalsuan, serta hati manusia yang gampang goyah oleh tiupan angin duniawi.Sebuah kecemasan yang teramat sangat serta-merta menyergap sanubari. 

Ada rasa ngeri dan takut yang mencengkeram batin. Sebuah kekhawatiran yang nyata bahwa ketika sang waktu membawa usia ini melintasi angka delapan puluh tahun kelak. Ketika raga kita telah telanjur rapuh dimakan zaman, hingga tak lagi memiliki daya dan kekuatan untuk melangkah pulang mengikuti perhelatan reuni PKN di masa depan. 

Menjadi tua adalah hukum alam yang mutlak dan tak dapat ditolak oleh siapa pun juga. Namun, untuk bisa menjadi sepuh yang tetap memiliki kesehatan prima, tetap setia memijak bumi dengan langkah tegap laksana kedua senior PKN itu? 

Itu semua adalah sebuah anugerah agung dari Sang Khalik. Perkara yang terasa begitu jauh untuk diraih oleh sepasang langkah kaki kita, yang penuh dengan keterbatasan ini.

Masri Sareb Putra
Berdasarkan masukan banyak warga WAG PKN.
Tangsel, ketika kelam memeluk malam 7 Oktober 2026.