Sihir Band PTHB Tainam Menggelora Jiwa Muda dan Mengusik Tidur Malam Kami - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (96)
| Sihir musik dan alunan lagu PTHB Tainam yang menyihir para cantrik Wisma Widya sekaligus mengusik tidur malam mereka. Ist. |
Lima puluh tahun telah lewat semenjak angin asmara berembus di langit Sekabu. Namun, keharumannya masih tertinggal di dasar lubuk hati, seperti mustika yang tak kunjung pudar kilauannya. Waktu mengalir laksana air sungai yang tak pernah kembali ke hulu.
Malam itu....
Jagat raya seolah diselimuti misteri. Di sebuah loteng asrama yang bersahaja. Tempat bernaung para pemuda "Kelas Bawah", berjejer veld bed (ranjang-ranjang kanvas militer) yang kaku dan dingin oleh hawa angin malam lereng Poteng.
Baca Siasat Keluar Malam Mengelabui Pendekar Tan Un Mao menuju Panggung Hiburan di Tainam - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (95)
Di atas ranjang itulah para pengelana ilmu merebahkan tubuh yang penat setelah seharian digembleng di bawah tatapan tajam sang kepala sekolah SPG, seorang sepuh berwibawa bernama A.J. Tukiji, pemilik jurus "Wibawa Sejati Menundukkan Badai."
Dalam jagat persilatan pendidikan Nyarumkop, jika sosok Pak Tukiji dapat diibaratkan bagai Giam-lo-ong (Raja Akhirat) yang menggetarkan bumi dengan deru langkah sepatunya. Selain Giam-lo-ong Tukiji, ada Kepala Sekolah SMA St. Paulus dia tak lain RPL. Suyadi Kusumaprawira. Raden Jawa ini seorang Sian-jin (manusia dewa) yang berwatak tenang laksana telaga purba di puncak gunung. Kun-cu (seorang budiman) yang satu ini memang sungguh luar biasa!
Meski kesehariannya lebih banyak membisu, namun sepasang matanya yang tajam laksana kilat mampu menembus lubuk hati setiap eng-hiong (pendekar muda/para murid) yang mencoba bermain kucing-kucingan di lingkungan asrama. Di balik jubah pendidiknya yang bersahaja, tersembunyi “Seribu Jurus Ilmu Silat” yang maha dahsyat.
Tentu saja, ilmu silat beliau bukanlah ilmu liam-ciang (pukulan telapak besi) yang bisa menghancurkan batu karang, melainkan sebuah ilmu kebatinan tingkat tinggi dalam olah jiwa dan strategi mendidik.
Pembaca yang baik hatinya.
Kita tinggalkan dulu Giam-lo-ong Tukiji dan Sian-jin Suyadi. Kisah dan jurus-jurus ilmu silat mereka berdua ini akan dikisahkan pada episode tersendiri sehabis ini. Kita langsung ke isi kepala dan apa yang dialami para eng-hiong Wisma Widya yang tak bisa tidur nyenyak pada di malam Minggu. Apa yang sebenarnya yang sedang mengguncang jiwa muda mereka? Mari kita telisik secara saksama kisahnya.
Ketika sang surya tenggelam dan dewi malam mulai bertakhta, tibalah malam yang paling menggetarkan sukma: Malam Minggu.
Bagi para pemuda tanggung, malam Minggu adalah ujian batin. Hawa murni di dalam dada mendadak bergolak. Pikiran menolak terpejam, sementara jantung berdenyut tanpa sebab.
Keadaan itu kian diperparah oleh suara musik dari kejauhan, dari sebuah tempat yang kesohor dengan nama Panggung Hiburan Tainam.
Itulah petikan dawai dan tabuhan perkusi para pendekar musik yang tergabung dalam Band PTHB (Patah Tumbuh Hilang Berganti). Di barisan paling depan berdirilah sang juru suara yang amat kesohor, sesosok lelaki unik yang dijuluki Si Balande.
Kulit dan rambutnya putih polos laksana salju di puncak Gunung Himalaya. Keganjilan alam itu justru memancarkan daya pikat yang sukar diterangkan.
Baca Bruder Claudius dengan Ilmu Sin-kong Mengendus Kolak yang Disembunyikan di Kelas - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (94)
Malam itu, Si Balande mengerahkan jurus "Suara Menggetarkan Jagat", melantunkan lagu pusaka gubahan Maestro Besar Bang Haji Rhoma Irama: "Darah Muda".
"Darah muda... darahnya para remaja... yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah..."
Bait sakti itu menerjang keheningan malam.
Telinga para pemuda di loteng seketika menegak. Musik itu bukanlah jurus "Sihir Meninabobokkan Bayi" yang membawa kantuk, melainkan "Pembangkit Gairah Sembilan Dewa"!
Dinding loteng yang kusam seolah lenyap. Yang hadir dalam bayangan mereka hanyalah wajah-wajah jelita yang selama ini menghuni relung hati:
Para Bidadari Sekabu! Asmara, oh, asmara!
Itulah racun paling manis sekaligus pusaka paling berbahaya dalam dunia persilatan jiwa. Getaran asmara dari Panggung Tainam ditangkap sempurna oleh radar sanubari para pemuda loteng. Dengan jurus "Getaran Sukma Menembus Angin", mereka menghantarkan rindu itu melompati jarak, menuju Mahligai Sekabu, tempat para bidadari pujaan hati bersemayam.
Baca Sekolah 4 Tahun SMA St. Paulus Nyarumkop yang Terakhir - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (93)
Akan tetapi, mengetuk pintu hati para bidadari tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Mahligai Sekabu bukan tempat yang dapat dimasuki sembarang kumbang jantan. Benteng itu dijaga ketat oleh Sembilan Pendekar Perempuan Sakti Berkerudung Putih.
Sembilan wanita suci itu terkenal berdisiplin baja dan tidak pandang bulu. Sekali saja ada pemuda yang bertindak lancang atau mencoba merayap di dinding malam, mereka siap menyambutnya dengan jurus "Sapu Jagat Pengusir Kumbang" atau "Tepukan Dingin Pemutus Angan".
Di hadapan kerudung putih yang berkibar ditiup angin malam, keberanian para pemuda sering kali rontok sebelum bertempur.
Kini, setengah abad telah bergulir...
Rambut di kepala mungkin telah memutih laksana rambut Si Balande, dan tenaga dalam masa muda telah mengendap menjadi kebijaksanaan hidup. Namun, sepucuk pesan sarat kenangan dari seorang sahabat lama bernama Rosalina Nungkat mendadak membuka kembali pintu masa lalu.
Lima puluh tahun seolah lenyap....
Jiwa tua itu kembali merasakan bagaimana menjadi remaja dengan dada penuh api asmara. Sungguh benar filosofi nama band itu: Patah Tumbuh, Hilang Berganti.
Baca Teringat Benny Nungkat yang tak Ingin Menyendiri - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (92)
Zaman boleh berubah. Wajah-wajah boleh menua. Orang-orang boleh datang dan pergi. Namun, "Darah Muda" yang pernah bergolak di loteng SPG lima puluh tahun lalu tidak pernah benar-benar mati.
Ia hanya bersemayam dalam kenangan. Menunggu sebuah lagu dan sepucuk pesan untuk kembali menghidupkannya.
Dan malam itu, Sekabu kembali hidup....
Masri Sareb Putra
0 Comments