Siasat Keluar Malam Mengelabui Pendekar Tan Un Mao menuju Panggung Hiburan di Tainam - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (95)

 

Siasat mengelabui Tan Un Mao
Siasat kakak kelas atas mengelabui pendekar Tan Un Mao meninggalkan guling yang diselimuti lalu jalan kaki ke panggung hiburan di Tainam. Ist.

Malam pun jatuh menyelimuti Wisma Widya, membawa sunyi dingin yang merayap di sela-sela dinding bisu. Ketika raga kami anak-anak kelas bawah telah terbaring di atas veld bed, rasa kantuk yang semestinya datang berkunjung mendadak buyar entah ke mana. Ketika berperang melawan mata tak kunjung terpejam, tetap terbuka menatap langit-langit kamar dalam gelap yang senyap. Ternyata ada satu rahasia yang baru terbuka 50 tahun kemudian. Siasat kakak-kakak kelas yang cerdas mengelabui  pendekar sakti mandraguna bernama Tan Un Mao. Sembunyi-sembunyi dengan ilmu ginkang, mereka menuju Panggung Hiburan di Tainam yang kami tak tahu selama setengah abad!

Bukan karena hati sedang gundah gulana memikirkan rumus matematika Bruder Claudius yang rumit tadi siang, melainkan karena sepasang kekuatan luar biasa sedang menyerang indra kami. Nyala lampu bohlam sudut ruangan sudah padam. Namun tidak demikian dengan bohlam kelopak mata kami yang tetap menyala meski gulita.

Baca Bruder Claudius dengan Ilmu Sin-kong Mengendus Kolak yang Disembunyikan di Kelas - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (94)

Gulita telah mengunci malam dalam pelukannya. Berpadu dengan gelombang suara dahsyat yang menggelegar dari pengeras suara. Sumbernya datang dari arah panggung hiuran Tainam, yang biasanya selalu menggelar keramaian setiap Malam Minggu.

Alunan musik menggema bertalu-talu. Memecah keheningan dan menggetarkan dada para cantrik yang sedang berusaha memejamkan mata. 

Di loteng pengap itulah. Kami hanyalah tunas-tunas muda yang masih hijau, anak-anak kelas bawah, kelas I SPG dan SMA. Sebagai murid baru, kamar tidur kami terpisah dari para kakak kelas. Kami ditempatkan di sebuah loteng di atas kelas SPG, berjuang memejamkan mata di tengah gempuran irama Melayu dari panggung Tainam.

Dari kejauhan. Mengalun sebuah lagu dengan irama aduhai menusuk kalbu. Liriknya sarat dengan petuah bijak:

"Berakit-rakit ke hulu.... berenang ke tepian, bersakitlah dahulu bersusah dahulu baru kemudian... bersenang-senang..."

Lantunan syahdu itu menyusup hingga ke kamar kami. Diiringi orkes irama Melayu yang rancak, tetapi sekaligus menyayat kalbu. Kami yang mendengarnya pun terkesima. Sungguh sebuah pertunjukan yang luar biasa!

Warna pita suaranya begitu mirip! Cengkoknya begitu hidup. Seolah-olah sang maestro legendaris pelantun aslinya, Rhoma Irama, sedang tampil langsung di atas panggung dunia persilatan musik!

Baca Sekolah 4 Tahun SMA St. Paulus Nyarumkop yang Terakhir - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (93)

Di atas veld bed masing-masing....
Kami hanya bisa tersenyum sendiri. Terbayang ucapan jenaka Bruder Claudius tentang "kesimpulan yang harus kita menarik", juga ingat akan "butuh" Pak Slamet.

Kami juga membayangkan para bidadari Sekabu yang kami kenal dan jumpai pagi hingga siang tadi. Semua itu berpadu dengan lagu perjuangan hidup yang mengalun dari panggung hiburan Tainam. Mungkin siang hari mereka sudah bersesongkol dengan Salikin. Rumahnya di Tainam.  Salikin siswa SPG sepantaran mereka. Ia tidak tinggal di asrama. Ternyata di balik kepolosan anak-anak muda, kadang tersimpan satu rahasia yang sering lolos dari sensor amatan para resi.

Malam Minggu itu pun terasa begitu berkesan bagi jiwa-jiwa muda kami yang sedang menimba ilmu.

Ilmu mengubah bayangan di balik tirai malam

Namun, di balik keheningan loteng bawah malam itu, suasana di kamar loteng sebelah atas justru mendadak mencekam dan penuh intrik.

Ketika kami sibuk melawan kantuk. Diam-diam ternyata para kakak kelas yang cerdik ternyata sedang menyusun taktik rahasia yang luar biasa lihai: sebuah operasi senyap yang membutuhkan keberanian tingkat tinggi!

Baca Teringat Benny Nungkat yang tak Ingin Menyendiri - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (92)

Untuk lolos dari pengawasan ketat. Kakak-kakak kelas yang cerdas hendak mengelabui sang pamong asrama yang disegani, pendekar Tan Un Mao sang mahasakti.

Langkah kaki sang pamong yang berat kerap terdengar saat meronda koridor, seperti pendekar tangguh yang siap meringkus siapa saja yang melanggar pantangan malam. Salah langkah sedikit saja, hukuman berat pasti dijatuhkan.

Dalam cekaman ketakutan itu, taktik mengelabui mata yang mereka sebut Ilmu Mengubah Bayangan pun dilancarkan. Guling dan bantal dibungkus dengan selimut di atas veld bed. Dalam remang kegelapan, gundukan itu tampak persis seperti tubuh mereka sendiri yang sedang mendengkur pulas mengarungi mimpi.

Setelah umpan terpasang sempurna, jantung mereka berdebar menahan tegang. Satu per satu, para pendekar muda itu melompat keluar melalui jendela, lalu berjalan kaki menembus malam menuju Tainam untuk menyaksikan pertunjukan musik secara langsung.

Tentu saja, selain memuaskan telinga dengan lagu Rhoma Irama. Terselip sebuah maksud tersembunyi yang tak kalah penting: mencari "ayam kampung" untuk menyegarkan pandangan mata!

Pertarungan melawan fajar dan kantuk

Kakak-kakak kelas yang culas namun cerdas rupanya telah berpesta menikmati malam di bawah panggung Taiman. Para pemuda tampan larut dalam riuh dunia luar yang penuh warna. Namun, waktu tidak pernah menunggu siapa pun.

Ketika fajar mulai menyingsing dan garis terang perlahan mengusir gelap, mereka pun melangkah pulang dengan langkah seribu tanpa suara.

Baca Pak Slamet: Butuh Jawa Beda dengan Butuh Dayak yang Bikin Kelas Grrr - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (90)

Dengan gerakan seringan kapas agar tak menimbulkan bunyi sekecil apa pun, mereka menyusup kembali ke barak dan masuk ke balik selimut masing-masing.

Tanpa sempat melepas lelah atau merebahkan punggung, mereka langsung menuju pancuran untuk mencuci muka dengan air sedingin es, berharap kantuk berat segera lenyap.

Lalu, dengan pakaian rapi dan wajah alim tanpa dosa, mereka bersiap mengikuti Misa pagi. Sungguh sebuah sandiwara tingkat tinggi yang dijalankan dengan nyali baja dan tak pernah terendus oleh pendekar Tan Un Mao kala itu!

Rahasia yang Terbelah oleh sang waktu

Waktu berlalu laksana aliran sungai yang deras, tak mungkin dibendung. Gunung Poteng tetap tegak berdiri, sementara Sungai Sekabu terus mengalir di bawahnya. Manusia, sebaliknya, tumbuh dan menua dalam pusaran takdir. Siapa nyana, rahasia besar di balik malam Minggu yang riuh itu baru terungkap 50 tahun kemudian.

Baca Terkenang Herman Ahie : Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (82)

Setengah abad berlalu. Bang Adri (Adrianus Asia Sidot), dengan senyum penuh arti dan tawa jenaka, akhirnya membocorkan rahasia hitam masa muda itu kepadaku. Kami yang kini telah berambut perak hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil mengenang masa lalu yang begitu indah.

Manusia boleh saja membuat tipu daya paling cerdik di bawah kolong langit, tetapi waktu jualah yang pada akhirnya menelanjangi setiap rahasia. 

Sungguh masa muda yang dipenuhi riak kenakalan dan kecerdikan itu kini telah menjelma menjadi kenangan manis yang tak ternilai harganya. Mengalir tenang laksana Sungai Sekabu di kaki Gunung Poteng, menghibur jiwa-jiwa yang kini telah sepuh.

Masri Sareb Putra

Based on a true story seperti dikisahkan Bang Adri kepadaku.
Minggu siang yang tenang, 4 Oktober 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.