Ketika Sihir Gunung Poteng Memanggil Pulang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (106)

Gunung Poteng yang memanggil pulang
Kami jadul  (1978) dan latar Gunung Poteng. Dok. Elisabeth. 

Gunung purba itu berdiri dengan megah. Puncaknya menjulang tinggi menembus awan. seolah menjadi saksi bisu dari segala gejolak persilatan di tanah Borneo. 

Sejauh apa pun kaki melangkah menembus rimba Kalimantan Barat. Ada satu kekuatan gaib  tak kasatmata yang selalu mengikat sukmamu.

Entah mantra apa yang tertanam di sana? Sihir magis Gunung Poteng senantiasa memancarkan daya pikat luar-biasa yang sanggup merontokkan keteguhan hati. 

Baca Rentak Musik dan Volley PKN Sanggau Plus 1978: Promosi Jitu Zaman Itu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (105)

Di bawah kakinya yang kokoh, berdiri dengan anggun Wisma Widya dan Wisma Rini, serta kawah candradimuka tempat para pemuda ditempa, yaitu SMA dan SPG Nyarumkop. Ke mana pun angin membawa para alumni pergi. Maka pesona magis sang gunung suci selalu membisikkan kidung kerinduan, memanggil jiwa-jiwa yang haus untuk kembali pulang ke pangkuannya.

Di kakinya yang diselimuti misteri. Bersemayam Padepokan Nyarumkop. Sebuah tempat penggemblengan batin yang tersohor lantaran disiplinnya yang sekeras baja. Namun, roda takdir terus berputar laksana pedati.

Semenjak melangkah keluar meninggalkan pintu gerbang padepokan itu, sekian lama diri ini jarang menjejakkan kaki kembali ke tanah yang penuh kenangan. Sang waktu terus menggelinding tanpa bisa ditahan oleh kesaktian manusia mana pun.

Pada tahun 1980, suratan nasib membawa saya berkelana jauh ke bumi Lawang Kuwari di daerah Sekadau guna merampungkan tingkatan ketiga dari olah ilmu peradaban. Dari sana, perantaraan nasib menuntun langkah lebih jauh lagi, menyeberangi lautan luas menuju tanah Malang untuk semakin memperdalam luasnya cakrawala pengetahuan.

Ingatan manusia memang mudah pudar seperti kabut yang tersapu angin di lereng gunung, namun seingat saya, baru pada tahun 1987 jalannya garis tangan membukakan kembali pintu kesempatan untuk menengok tempat lama itu.

Waktu itu, sebuah perhelatan besar yang menggetarkan jagat rohani sedang digelar. Para tetua dan padri suci, yaitu para pastor se-Keuskupan Agung Pontianak, tengah mengadakan pertemuan agung di Gedung Pasifikus. Sungguh sebuah kebetulan yang digariskan santo-santa. Saya dipercaya mengemban tugas penting sebagai pencatat kitab pertemuan alias sang notulen.

Di sanalah. Di tengah riuh rendahnya pertemuan para tokoh suci. Pandangan mata ini kembali membentur dua sosok lama yang amat disegani, yaitu Tan Un Mao dan Lim Kheng Siang.

Waktu telah menempa mereka menjadi pribadi yang matang dan penuh kearifan. Kini, mereka telah menjelma menjadi sahabat karib dan rekan bertukar pikiran yang amat menyenangkan hati. Lagipula, saat itu saya telah menyandang predikat sebagai koresponden dari Kitab Berita Mingguan Hidup (ketika itu kantornya di samping Katedral, Jakarta baru kemudian di bilangan Kebon Jeruk, ketika saya menjadi  salah satu Redaktur). Pada acara penting itu, saya  bertugas khusus untuk mengabarkan jalannya pertemuan agung tersebut kepada khalayak ramai di empat penjuru angin.

Ada satu kejadian menarik yang menggelitik benak saya. “Sebermula…” Ah, kata itu laksana sebuah mantra sakti yang kerap dirapalkan oleh Lim Kheng Siang, yang di dunia sekuler dikenal pula dengan julukan Patrik Hartadi, setiap kali ia hendak mengawali ujaran untuk menyatakan kata "pada mulanya".

Dalam hati, saya berseru kagum, "Lihai betul Pak Aki ini membolak-balik kata dan merangkai sastra! Sungguh tinggi tingkat ilmu pedalaman hatinya, sedalam samudra yang tak tampak dasarnya!"

Baca Dua Malam Hiburan Reuni Akbar 110 Tahun PKN Membuka Pintu Masa Lalu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)

Kami pun terlibat dalam percakapan dan diskusi yang mendalam. Sebagai seorang jurnalis yang bebas merdeka bagai burung rajawali di angkasa, jiwa ini tak lagi terkekang dan leluasa menentukan arah pilihan hidup. Namun, di dalam ruang pertemuan pastoral tempat berkumpulnya para gembala paroki se-Keuskupan Agung Pontianak itu, hubungan kami telah mencair.

Ke mana pun angin membawa para alumni pergi. Maka pesona magis sang gunung suci selalu membisikkan kidung kerinduan, memanggil jiwa-jiwa yang haus untuk kembali pulang ke pangkuannya.
Saya menjumpai mereka bukan lagi dalam ikatan kaku antara seorang enghiong (pendekar muda) dengan mahagurunya yang diagungkan, melainkan sebagai sesama saudara seperguruan yang saling hormat-menghormati di atas panggung dunia yang luas ini.

Namun pembaca budiman!
Perjumpaan dengan Tan Un Mao dan Lim Kheng Siang sang maestro sastra cukuplah kita simpan dulu di dalam kotak kenangan. Kini, mari kita alihkan pandangan pada jalinan takdir berikutnya. Usai helatan agung di gedung pertemuan itu paripurna, entah kekuatan gaib apa yang menuntun ego, sanubari ini mendadak bergetar hebat. Padepokan Nyarumkop seolah melambaikan tangan, memanggil pulang anak asuh yang telah lama melanglang buana.

“Sudah berapa purnama diri ini tak menginjakkan kaki di sana?” pikir saya dalam hati.

Baca Misionaris yang Bertaruh Nyawa, Menabur, Menyiram, dan Memelihata PKN - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)

Ah, ternyata belum terlampau lama, baru tujuh tahun berselang. Namun, kepulangan kali ini sungguh berbeda. Diri ini bukan lagi bocah ingusan yang ringkih, melainkan seorang pemuda yang telah mapan berdiri di atas kaki sendiri. Jiwa ini telah ditempa menjadi seorang jurnalis, yaitu seorang koresponden dari Majalah Mingguan Hidup, sebuah kitab kabar berkala yang wajib dimiliki dan dibaca oleh setiap paroki di seluruh penjuru negeri pada masa itu.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Jalannya nasib mempertemukan saya dengan Heliodorus, sang ketua  Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) yang kebetulan hendak bertolak pulang menuju Nyarumkop mengendarai kuda besi miliknya. Tanpa canggung untuk membuang tempo, ia mengajak saya untuk turut serta. Dengan suka-hati tawaran itu saya terima.

Matahari mulai condong ke barat ketika kami memulai perjalanan. Roda berputar membelah jalanan, hingga tak terasa ketika kaki menapak di wilayah Sungai Pinyuh, tirai malam telah sepenuhnya menutup angkasa.

Gerimis yang titis, mulai turun membasahi bumi membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Sungguh aneh bin ajaib, di atas boncengan kuda besi yang melaju membelah rintik hujan itu, kelopak mata saya justru terasa berat hingga akhirnya saya tertidur lelap.

Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih! Tepat di jalur sunyi sebelum mencapai jembatan Sungai Mempawah, sebuah petaka kecil terjadi. Ban kuda besi yang kami tunggangi mendadak bocor secara gaib. Keseimbangan goyah seketika! Saya dan padri Helio terlempar dari atas kendaraan. Tubuh saya melayang dan terjerembap masuk ke dalam semak-semak belukar di tepi jalan sebelum akhirnya terduduk lemas.

Baca Sihir Band PTHB Tainam Menggelora Jiwa Muda dan Mengusik Tidur Malam Kami - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (96

Suasana begitu pekat. Kegelapan malam gulita mencengkeram tempat itu. Di tengah sunyi, lamat-lamat terdengar suara Helio yang juga terjatuh. Jarak di antara kami rupanya terpisah sejauh enam meter, terhalang oleh pekatnya malam hingga tak saling bersitatap.

“Masri, kamu di mana?!” seru Helio memecah kesunyian. Telinga saya menangkap jelas suaranya srag-srag basah tanda cemas mendalam.

“Di sini!” sahut saya setengah berteriak.

Bagaikan dua orang buta di tengah rimba, kami saling meraba dan mencari dalam gulita. Beruntung, takdir masih melindungi, tangan kami saling bertaut kembali. Karena ban besi telah lumpuh, Helio dengan sisa tenaganya terpaksa mendorong kuda besi tersebut. Kami berjalan kaki hampir satu kilometer jauhnya, namun tanda-tanda keberadaan bengkel tak kunjung tampak.

Baca Teringat Benny Nungkat yang tak Ingin Menyendiri - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (92)

Ketika harapan mulai menipis, sebuah kereta roda empat jenis pick-up melintas. Sang pengemudi adalah seorang asing asal Singkawang yang sama sekali tidak kami kenal. Sungguh berhati mulia, ia menghentikan keretanya dan menawarkan bantuan. Kuda besi segera dinaikkan ke bak belakang.

Saya dan Helio pun melompat naik. Di atas bak terbuka itu. Di bawah siraman angin malam menuju Pasir Panjang, kami berdua tak ubahnya seperti sepasang bocah yang sedang pergi bertamasya kegirangan.
Tiupan angin malam yang bertiup kencang menderu-deru, membawa serta titik-titik air gerimis yang masih titis menembus pekatnya kegelapan, sungguh mendatangkan hawa dingin luar biasa yang menusuk hingga ke tulang sumsum dan menggigilkan seluruh badan. Namun, bukan pendekar namanya jika musti menyerah kalah dan bertekuk lutut di hadapan ujian alam yang demikian rupa! Sejatinya, sepasang musafir ini adalah singa-singa jantan yang berjiwa baja, yang pantang goyah walau digempur badai sedahsyat apa pun.

Di antara cengkeraman dinginnya malam yang mencekam dan cuaca buruk yang sama sekali tidak bersahabat itu, kedua orang muda hasil didikan gemblengan kawah candradimuka perguruan PKN sama sekali tak hendak berkeluh kesah, apalagi sampai mengeluarkan kutukan terhadap keadaan. Jiwa mereka telah ditempa menjadi sekokoh batu karang di lautan, memandang segala kesulitan di tengah rimba persilatan ini hanyalah sebagai ujian kecil demi mematangkan keteguhan batin dan kemurnian ilmu kanuragan yang mereka miliki.

Kereta beroda empat penolong itu terus melaju membelah sisa malam, bergulir laksana roda takdir yang membawa sepasang pengembara Nyarumkop keluar dari cengkeraman kegelapan rimba persilatan. Hingga akhirnya, sang waktu mengantarkan mereka tiba di kota raja Singkawang tepat ketika sang surya bersiap menyemburatkan fajar, mengusir kabut kelam dan menyambut menyingsingnya pagi yang damai. 

Sang penolong misterius berhati mulia itu menghentikan laju keretanya, menurunkan kedua musafir beserta kuda besi mereka tepat di pelataran depan kediamannya yang anggun. Sempat sekilas sepasang mata Masri memandang takjub pada kemegahan arsitektur rumah tersebut; dari ukiran kayu dan tiang-tiang penyangganya yang kokoh, kuat dugaan sang pendekar bahwa pemilik rumah ini bukanlah orang sembarangan, melainkan seorang pembesar atau pejabat terhormat dari kalangan ningrat Melayu.

Sungguh, budi baik dan ketulusan hati yang ditunjukkan oleh sang penolong yang tak dikenal itu sedalam samudera dan setinggi langit, sebuah kebajikan murni yang tiada mengharapkan pamriah apa pun di dunia persilatan ini. Menyaksikan kemurahan hati yang melintasi batas golongan tersebut, ingatan batin Masri seketika terlempar pada wejangan luhur kitab suci kuno tentang kisah Seorang Samaria yang Murah Hati. 

Di tengah dunia yang penuh dengan tipu daya dan pertarungan kepentingan, sang penolong asing ini hadir laksana oase suci, membuktikan bahwa sejatinya mutiara kemanusiaan dan cinta kasih sejati akan selalu bersinar terang, menerangi sanubari jiwa-jiwa yang mengembara di bawah kolong langit.

Begitu mentari terbit, ban kuda besi yang bocor segera diperbaiki di sebuah bengkel Singkawang yang telah membuka pintunya. Tanpa membuang waktu, saya kembali membonceng padri Helio menuju tujuan akhir: Nyarumkop.

***

Perjalanan kali ini bukanlah perjalanan biasa, melainkan sebuah perjalanan pulang yang sarat akan gejolak emosi batin. Mereka baru saja bertolak dari tanah suci para pendekar ilmu, usai menghadiri upacara penutupan Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN). Kini, pada siang hari tertanggal 6 September 2026, kereta besi itu melaju kencang membelah jalur sunyi antara Nyarumkop menuju Pontianak.

Roda pedati waktu terus berputar laksana cakra berporos baja. Angin zaman telah membawa sang pengembara kata, Masri, duduk di dalam sebuah kereta beroda empat yang melaju membelah jalanan siang itu. Di balik kemudi, duduklah seorang cantrik setia bernama Akim. 

Ketika roda kereta mulai melindas bentangan jembatan lama, tatapan mata Masri menerawang keluar jendela. Detak jantungnya berdesir hebat saat matanya menangkap lokus yang mengorek kembali sisa kenangan lama.

Masri memecah keheningan di dalam kereta, suaranya berat mengandung getaran tenaga dalam yang menyimpan rahasia masa lalu. “Kim, di sinilah dulu suatu peristiwa ajaib pernah dialami dua alumni PKN, Helio dan saya.”

Mendengar penuturan yang singkat namun sarat misteri itu di tengah perjalanan pulang dari reuni September 2026 ini, mendadak paras wajah Akim berubah agak pucat. Sorot matanya yang semula tenang menatap aspal jalanan kini membelalak tegang. Sendi-sendi jemarinya memutih, mencengkeram kemudi pedati besi itu dengan begitu erat, seolah-olah ia sedang menahan gempuran tenaga dalam yang tak kasatmata.

"Ooo... tempat ini memang terkenal sangat angker, Bang!" ujar Akim dengan suara lirih yang bergetar, memotong jalannya angin siang yang menderu di luar jendela. "Dulu... konon katanya..."

Akim tidak melanjutkan kalimatnya. Kata-katanya menggantung lunglai di udara, mendadak terputus oleh cekikan atmosfer yang merapat secara tidak wajar. Seketika itu juga, hawa sedingin es merayap masuk entah dari mana, menusuk menembus pori-pori kulit. Udara di dalam ruang kereta mendadak berembun, menjadi begitu berat dan pekat hingga menyisakan rasa sesak di dada. Di luar jendela, riak air Sungai Mempawah yang hitam legam di bawah jembatan seolah berhenti mengalir, membisu di bawah bayang-bayang pepohonan hutan yang mendadak nampak laksana barisan raksasa bertangan seribu, siap menerkam siapa saja yang lengah.

Suasana di dalam kereta berubah bungkam, mencekam dalam keheningan yang meneror batin. Hawa mistis yang pekat seakan menjelma menjadi sesosok bayangan hitam yang duduk meringkuk di jok belakang, mengawasi setiap gerak-gerik mereka dengan pandangan kosong. Bulu kuduk kedua pria itu berdiri tegak, meremang hebat disengat ketakutan yang purba.

Mereka sama-sama tahu dan paham tanpa perlu bersuara. Tempat sunyi di atas bentangan jembatan Mempawah itu sesungguhnya memiliki "penjaga" gaib berilmu hitam yang sedang mengintai dari balik dimensi tak kasatmata. Rupa-rupanya, puluhan tahun yang lalu, para musafir yang melintas di jalur terkutuk tersebut sempat luput dan lupa mengucapkan satu mantra penghormatan yang paling mendasar di jagat persilatan tanah Kalimantan: permisi!

***

Kembali ke kisah Helio dan saya malam yang aneh separuh seram di tahun 1988.

Setibanya di kompleks pastoran....
Kkami disambut hangat oleh Bruder Paulus Tikui. Bruder tegas penuh wibawa yang suka mengenakan pakaian longgar jubah cokelat itu dari Batang Tarang dan tahun 1970-an pernah bertugas di Jangkang. Keahliannya adalah bertukang. Dengan penuh keramahan, ia mengantar langkah saya menuju sebuah kamar tamu pastoran untuk beristirahat.

Serta-merta melangkahi pintu kamar tersebut, jantung saya berdesir hebat. Pikiran saya langsung melayang ke masa lalu. Kamar ini… bukankah ini adalah kamar Pak Aki? Ruangan sakral yang dahulu, di masa muda yang penuh gejolak, saya bersama Mateus Juli, Julin, dan Sutar pernah mencoba merangsek masuk dengan paksa!

Baca Pak Slamet: Butuh Jawa Beda dengan Butuh Dayak yang Bikin Kelas Grrr - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (90)

Akal sehat saya sampai tak habis mengerti. Mengapa kini diri ini justru dipersilakan melangkah bebas ke dalam ruangan yang dulunya dianggap tabu dan sangat rahasia? Bahkan kini saya diizinkan melewatkan malam dan menginap di atas ranjangnya! Sungguh, inilah salah satu bentuk keajaiban dunia yang tak terpikirkan oleh benak manusia. Sebuah kepulangan yang manis dan penuh magis ke Nyarumkop, setelah tujuh tahun lamanya berkelana meninggalkan tempat suci ini!

Ketika tubuh ini akhirnya direbahkan di atas ranjang yang dahulu teramat disakralkan itu, keheningan malam di kamar Pak Aki perlahan-lahan menyedot kesadaran saya. Rasa lelah yang teramat sangat setelah menempuh perjalanan penuh marabahaya bersama padri Helio seolah menjadi jembatan gaib yang menarik jiwa saya melompati pembatas waktu, kembali ke masa tujuh tahun berselang.

Tidur di kamar Pak Aki

Maka terbukalah tirai ingatan lama, menyajikan fragmen-fragmen masa lalu yang penuh dengan gejolak darah muda....

Sore itu, lereng Gunung Poteng mengembuskan hawa kering yang ganjil. Sebuah hukuman disiplin yang berat baru saja dijatuhkan kepada anak-anak Wisma Widya. Hanya karena ada salah seorang di antara kami yang mencuri barang dan tidak ada yang mau mengaku, seluruh penghuni asrama dihukum tidak boleh makan! Hukuman kolektif itu seketika memicu bara di dada para pendekar muda. Revolusi memang kerap meletus ketika perut yang lapar mendahului akal sehat.

Di bawah komando rasa lapar, saya bersama tiga saudara seferguruan yang terkenal tegar, yaitu Julin, Sutar, dan Mateus Juli, nekat melakukan aksi protes. Dengan langkah berderap dan dada membusung, kami berdemo menyusuri koridor, mendatangi pastoran demi menuntut keadilan. Sasaran utama kami tidak lain adalah kamar Pak Aki, sang guru besar Lim Kheng Siang! Kami ingin meminta keterangan langsung dari bibir sang resi: mengapa perut-perut kami harus menanggung dosa orang lain?

Setibanya di depan pintu kamar Pak Aki, suasana mendadak berubah mencekam. Pintu kayu jati itu tertutup rapat, kokoh laksana gerbang benteng gaib yang tak tertembus. Tak ada sahutan dari dalam. Keheningan itu justru membakar darah muda kami.

"Buka pintunya! Kita harus masuk!" bisik Julin dengan mata menyala.

"Pak Aki! Keluar!" seru Sutar sembari mengepalkan tangan.

Dengan nekat, kami berempat bahu-membahu, mengerahkan seluruh tenaga untuk mendobrak pintu kamar yang dikenal tabu dan wingit itu! Tangan kiri mencengkeram kusen, kaki menendang, dan tubuh menghantam pintu dengan sisa tenaga yang ada. Brakkk! Brakkk! Suara hantaman kayu berdentum memecah malam, menggetarkan tiang-tiang pastoran. Itulah tindakan paling berani sekaligus paling bodoh yang pernah kami lakukan, mencemari kehormatan guru dan resi di padepokan sendiri!

Namun, pintu itu tidak juga jebol. Yang jebol justru nasib kami sendiri. Akibat aksi pembangkangan yang luar biasa berani itu, keberadaan saya langsung terdeteksi sebagai gembong pembangkang melawan tindakan guru. Sore itu juga, keputusan berat telah diketuk. Saya diputuskan untuk angkat kaki dan diusir dari Wisma Widya setelah semester berakhir! Hanya Mateus Juli yang kelak di kemudian hari diperbolehkan tinggal hingga akhirnya ia menempuh jalan suci menjadi seorang padri.

Malam pendobrakan itu menjadi awal dari babak baru perjalanan hidup yang tragis. Takdir seketika memisahkan kami berempat, melempar tubuh kami ke empat penjuru mata angin. Julin dan Sutar, dua kawan seperjuangan yang malam itu bahu-membahu mendobrak pintu bersamaku, kini telah tiada mendahului kita semua, bersemayam tenang di alam baka.

Mengingat wajah mereka di dalam kamar sunyi ini, tak terasa ada setitik air hangat yang meleleh membasahi pipi, meratapi betapa mahalnya harga dari sebuah pemberontakan masa remaja.

Angin segar lereng Poteng

Wusss... Embusan angin pagi yang sejuk mendadak menerpa wajah, seketika membuyarkan mimpi buruk masa lalu itu. Kelopak mata saya terbuka perlahan. Perlahan-lahan kesadaran saya kembali seutuhnya, berpadu dengan isak haru yang masih tersisa di dada.

Kini, fajar telah menyingsing di ufuk timur, membawa pemandangan alam Padepokan Nyarumkop yang tiada taranya...

Saat saya bangkit berdiri dan melangkah menuju jendela kamar Pak Aki, sepasang mata ini langsung dimanjakan oleh hamparan mahakarya alam yang luar biasa indah. Suasana gereja tua yang berdiri megah di bawah, tepat di depan bangunan pastoran itu, tampak begitu syahdu berbalut kabut pagi yang putih bersih laksana sutra dewa. Kabut itu berarak perlahan, menyelimuti atap-atap bangunan dan padang rumput yang masih basah oleh embun suci.

Di bagian depan gereja, berdiri dengan megah jajaran pohon cemara yang dahan-dahannya bergerak perlahan ditiup angin pegunungan, laksana barisan pengawal hijau perkasa yang sedang tegak berdiri menyambut datangnya sang surya.

Sementara di bagian belakang gereja, tegakan pohon kelapa yang meliuk tinggi berpadu rimbun dengan pohon sawo yang berdaun lebat dan bercabang banyak, seolah-olah mempertegas kesunyian dan kemurnian tempat suci itu dari hiruk-pikuk dunia luar.

Sambil memandang sapuan kabut pagi yang berarak perlahan di antara pucuk-pucuk cemara, jemari saya mulai bergerak gatal. Hati ini mendesak untuk segera mengambil pena dan kertas, menggoreskan barisan aksara yang telah lama mengendap di dasar sanubari. Panggilan tugas sebagai seorang jurnalis sejati tak lagi bisa ditunda-tunda. Saya harus segera menyusun catatan jurnalisme yang tajam namun penuh penjiwaan mengenai potret dan kondisi Padepokan Nyarumkop saat ini, demi memenuhi lembaran Kitab Berita Mingguan Hidup.

Namun pikiran saya justru melayang jauh, menerobos tembok-tembok kelas menuju sebuah sudut lorong padepokan. Di sanalah tegak berdiri sebuah papan kayu sederhana yang penuh coretan tinta, yaitu Majalah Dinding Padepokan!

Ah, majalah dinding itulah kawah candradimuka saya yang pertama. Di depan papan kayu itulah, bertahun-tahun lampau ketika masih menjadi seorang murid yang polos dan penuh gejolak, saya pertama kali belajar olah ilmu merangkai kata.

Di sanalah saya mengasah ketajaman pena, memahat kalimat demi kalimat, dan menempa hawa batin sebelum takdir membawa saya melanglang buana menjadi seorang pendekar kata yang bebas merdeka seperti hari ini.

Baca Telaga Biru Sekabu dan Rahasia Para Bidadari Mandi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (104)

Berawal dari goresan kapur dan tinta di majalah dinding asrama, kini pedang pena saya telah diakui untuk mengisi kitab berita yang dibaca oleh seluruh paroki di penjuru negeri.

Setitik air mata kembali jatuh, menetes tepat di atas lembaran kertas kosong, mengaburkan pandangan. Betapa ajaibnya jalannya dunia! Bocah keras kepala yang dahulu diusir dengan penuh kehinaan karena mencoba membobol kamar ini, kini justru disambut sebagai tamu terhormat, tertidur di ranjang milik sang guru, dan menatap keindahan padepokan dari balik jendela yang sama.

Pak Aki, dengan segala cambuk kedisiplinannya yang dingin dan mencekam, rupanya tidak pernah berniat menghancurkan saya; beliau hanya sedang menempa sebilah pedang besi yang tumpul agar menjadi sebilah pedang pusaka yang tajam di kancah persilatan dunia nyata.

Dengan tangan gemetar menahan gejolak rasa di dada. Saya mulai menumpahkan tinta pada baris pertama catatan jurnalisme saya:

Catatan dari Kaki Gunung Poteng:
Fajar Baru di Padepokan Nyarumkop

Menjejakkan kaki kembali di bumi Nyarumkop setelah tujuh tahun mengembara, laksana membuka kembali kitab pusaka lama yang sempat berdebu. Kompleks persekolahan yang berdiri megah di bawah perlindungan abadi Gunung Poteng ini masih memancarkan wibawa rohani yang kental, namun getaran zaman baru perlahan-lahan mulai merasuk ke dalam bilik-bilik kelasnya...

Tatkala sang musafir masih meraba-raba di dalam pekatnya rimba persilatan kata, ia mengayunkan kuas dan tintanya dengan membabi buta. Baginya, menulis hanyalah menulis; sebuah gerak refleks dari gejolak rasa di dalam dada. Sama sekali ia belum mampu membedakan mana yang disebut amunisi berita (news) yang lugas, dan mana jurus rahasia gubahan sastra (literary journalism). Keduanya masih bercampur baur bagaikan kabut di puncak Gunung Tay-san.

Namun, roda nasib suratan takdir memang tiada yang tahu. Jalannya waktu membawa sang pengembara menduduki kursi kehormatan sebagai seorang guru besar, mengajarkan ilmu kanuragan menulis kreatif (Creative Writing) di sebuah padepokan luhur bernama Universitas Multimedia Nusantara. Di sanalah bagaikan mendapat telisik petunjuk gaib dan pencerahan batin terbukalah tabir rahasia di depan matanya! Barulah ia mafhum dan paham seutuhnya, bahwa sejatinya ilmu yang ia dalami itu adalah Jurus Jurnalistik-Sastrawi—sebuah kombo ilmu silat kata yang tiada taranya.

Tiada puas hanya sampai di situ. Demi mewariskan ilmunya kepada generasi muda di dunia persilatan akademis, sang guru kemudian mengerahkan seluruh tenaga dalam dan sari pati pikirannya. Ia menyusun sebuah kitab pusaka; sebuah buku panduan how-to yang sangat sakti. 

Kini kitab wejangan tersebut telah turun ke hilir, dipelajari dan diamalkan dengan takzim oleh para cantrik di berbagai perguruan tinggi yang paling tersohor di seantero kota raja Jakarta. Bahkan di seluruh Indonsia. Bukan karena hebat. Tapi karena kitab itu pertama dalam genre-nya.

Masri Sareb Putra

Tangsel tengah hari, 7 Oktober 2026.


0 Comments

Type above and press Enter to search.