Rentak Musik dan Volley PKN Sanggau Plus 1978: Promosi Jitu Zaman Itu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (105)

Sore itu. Ketika sang surya mulai condong ke barat menyisakan semburat merah yang membakar ufuk langit. Bermulalah sebuah perjalanan besar pada liburan akhir tahun 1978.

Laksana iring-iringan kereta pusaka dari sebuah perguruan sakti yang sedang turun gunung. Tiga unit minibus colt-diesel melaju kencang membelah debu jalanan yang beterbangan.

Tour Siswa PKN Sanggau Plus yang memukau sekaligus promosi

Kendaraan itu membawa rombongan tour anak-anak Asrama Nyarumkop menuju ke daerah Sanggau Kapuas. Keberangkatan para pendekar muda ini dipenuhi oleh semangat yang berkobar-kobar di dalam dada, siap untuk mengukir cerita dan menancapkan nama besar padepokan mereka di tempat yang baru.

Baca Telaga Biru Sekabu dan Rahasia Para Bidadari Mandi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (104)

Gulungan debu jalanan yang mengepul di belakang roda-roda colt-diesel menjadi saksi bisu betapa derasnya aliran darah muda mengalir di pembuluh nadi mereka, berpacu dengan waktu menuju bumi pengembaraan yang baru.

Hal yang unik, dan patut digoreskan dengan tinta emas, kepala pasukan yang memimpin perjalanan besar itu tak tanggung-tanggung kesaktian prinsipnya: Pendekar Tan Un Mao, alias Pastor Petrus Rostandy.

Entah mengapa, sebuah misteri batin tersendiri menyelimuti watak sang guru besar pembina asrama ini. Sehari-hari di dalam benteng padepokan Wisma Widya, ia terkenal teramat galak laksana macan tutul, bermata awas, dan siap menerjang siapa saja cantrik yang berani melanggar disiplin baja perguruan. Namun, keajaiban watak justru terjadi ketika rombongan berada di tengah pengembaraan tour eksibisi di bumi Sanggau Kapuas. 

Selama perjalanan tersebut, sang pendekar linuwih berubah menjadi baik bukan main, mencurahkan perhatian yang teramat tulus kepada seluruh anak asuhnya. Sikapnya menjadi begitu teduh dan penuh belarasa, bagaikan perpaduan kehangatan seorang ayah dan belaian kasih seorang ibu sekaligus yang sedang menjaga anak-anak kandungnya di perantauan fana.

Setibanya rombongan pengembara itu di bumi Sanggau. Pembagian tempat bernaung segera diatur dengan ketat demi menjaga sopan santun serta tata krama perguruan. Kelompok putra segera diinapkan di asrama SMP milik Pastoran Sanggau, sedangkan para bidadari kelompok putri mendapatkan tempat menginap di asrama putri yang terletak di dalam komplek Susteran Sanggau. 

Namun, untuk urusan "kampung tengah" alias mengisi perut yang lapar, seluruh rombongan bersantap ria dengan penuh kehangatan di ruang makan asrama putri. Di sana suasana sunyi malam seketika mencair laksana es diterpa sang surya.

Kedatangan mereka disambut dengan teramat ramah oleh Pak Surajiyo, seorang guru dari SMPK Sugiyopranoto Sanggau, yang dengan cekatan mengatur penginapan kelompok putra di atas loteng bangunan sekolah yang sunyi.

Di atas loteng berlantai kayu itulah, di bawah lindungan atap yang bersahaja, para pendekar muda putra menggelar alas tidur mereka sambil bertukar canda, menanti hari esok dengan debar jantung yang tak menentu.

Baca Misionaris yang Bertaruh Nyawa, Menabur, Menyiram, dan Memelihata PKN - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)

Tour eksibisi ini bukanlah perjalanan santai semata, melainkan sebuah ajang unjuk ketangkasan fisik dan kehalusan budi lewat pertandingan olahraga serta pentas seni.

Pertandingan volley putra digelar dengan penuh keseruan dan sorak-sorai yang membelah angkasa di lapangan volley yang berada tepat di depan Gereja Hati Kudus Yesus Sanggau

Di barisan belakang, mulai dari kiri: Petrus Kanisius (wasit), Honoratus Vtalis, Kasianus Julin, H. Y. Maliki, Albinus, Darmo, Florentinus Anis dan Thadeus Yus. 
Adapun Team SMPK Sugiyopranoto Sanggau hanya terdeteksi satu nama: Yosef Joko Sintrajaya (Ajok) yang di depan F. Anis.


Pertandingan volley putra digelar dengan penuh keseruan dan sorak-sorai yang membelah angkasa di lapangan volley yang berada tepat di depan Gereja Hati Kudus Yesus Sanggau. Sementara perhelatan sepak bola yang menguras tenaga dan menguji ketahanan fisik diadakan di Lapangan Rawa Bhakti, Kelurahan Ilir Kota, Sanggau. 

Panggung hiburan di Gereja Sanggau

Ketika malam tiba melabuhkan tirainya yang hitam pekat dan angin malam mulai bertiup membawa hawa dingin dari perbukitan, malam pentas kesenian pun diselenggarakan di dalam gereja.

Ruangan suci itu seketika dipenuhi oleh ratusan pasang mata. Menampilkan acara hiburan dari rombongan Nyarumkop yang sanggup memukau hati setiap penonton yang hadir, baik tua maupun muda, terpesona oleh kehalusan rasa seni yang disuguhkan.

Acara malam gembira itu berlangsung teramat semarak dan menghanyutkan perasaan. Di antaranya menampilkan Paduan Suara yang menggelegar dahsyat membelah keheningan malam, membawakan lagu "Nyarumkop Song":
 Nyarumkop itu mama termasyhur,
asrama, penjara dan taman bakti.... 


Baca Sihir Band PTHB Tainam Menggelora Jiwa Muda dan Mengusik Tidur Malam Kami - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (96)

Suasana di dalam gereja terasa semakin hangat, syahdu, dan mengharukan saat Selly tampil. Ia melantunkan suara emasnya di bawah lagu ciamik yang diberi nama "Semua Sama" karya: Yok Koeswoyo / Koes Plus, 1977.

Oh mama engkau wanita yang mulia
Oh mama kau sayang papa o o o o
Oh papa engkau kebanggaan keluarga
Oh papa kau sayang mama o o o o

Pita suara Selly yang melengking merdu membuat hati para tetua yang hadir terenyuh mengingat budi kebaikan. Nada-nada asmara dan untaian emosi kian berkecamuk manakala A. Norius membawakan lagu "Kegagalan Cinta" lagu hits  Bang Haji (Rhoma Irama) pada ketika itu. Disusul oleh Gunawan yang dengan lantang menyanyikan lagu "Una Paloma Blanca" laksana seekor merpati putih yang terbang bebas mencari kebebasan.

Kerinduan yang mendalam pun menguar ke udara saat lagu penuh rindu "Hello Darling" dibawakan Maliki, kakak tertua "Duo Sareb Brothers". Diimbuhi pula dengan penampilan seronok mengejutkan di tempat sama dari Masri. Bocah ingusan yang belum selesai dibentuk Tuhan, maju ke depan altar membawakan sebuah tembang legendaris karya Charles Hutagalung  

Pada ketika itu dalam piringan hitam, lagu tersebut bertengger di nomor urut enam dengan judul "Inikah" dari album The Mercy's '79 Pop Melayu bertajuk Mana Tahan.

Ketika bait-bait lagu itu meluncur, terdengarlah seulas suara Masri yang sedang berada dalam masa puber. Maklum saja seorang cantrik yang baru menginjak akil balig! Suaranya terkadang pecah dan tidak stabil meniti nada-nada melayu yang meliuk.

Baca Teringat Benny Nungkat yang tak Ingin Menyendiri - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (92)

Para pembaca yang budiman!
Di balik kemegahan panggung Gereja Hati Kudus Yesus Sanggau malam itu, terseliplah sebuah fragmen batin yang teramat menggelikan sekaligus menyentuh sukma.

Ketika langkah kaki diayunkan maju ke depan altar, sesungguhnya sebongkah rasa gamang dan gugup yang teramat sangat berkecamuk di dalam dada. Di bawah panji kelompok Duo "Sareb Brothers" (Maliki dan Masri), Masri muda dengan nekat mencoba menantang takdir persilatan olah nada. Sok meniru lengkingan pita suara Charles Hutagalung yang terkenal tinggi melengking menembus awan.

Baca Pak Slamet: Butuh Jawa Beda dengan Butuh Dayak yang Bikin Kelas Grrr - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (90)

Padahal apa mau dikata. Tenggorokannya saat itu tengah diguncang hebat oleh badai puber akil balig, sebuah masa di mana pita suara seorang remaja pria sering kali pecah, serak, dan tak setia meniti nada-nada yang terjal! Beruntung, gelombang kecemasan itu berhasil dilewati dengan selamat malam itu. Kelak, setelah melintasi rentang waktu yang panjang serta melewati banyak latihan dan gemblengan waktu yang keras, barulah ia bisa menguasai jurus pamungkas menggunakan suara perut yang bulat, kokoh, dan bertenaga.

Namun malam itu. Di hadapan ratusan pasang mata yang memandang, ia tetap nekat mengalirkan larik-larik lagu penuh rindu dari album The Mercy's '79 Pop Melayu:

Lama kita tak jumpa, lama kita tak bermesra
Rindu rasa hatiku kepadamu
Ingin rasa hatiku ingin selalu dekatmu
Sayang belum saatnya kekasihku....

Suasana di dalam gereja seketika menjadi begitu magis, seolah waktu melambat. Penonton tua dan muda menahan napas, ikut terhanyut oleh kepolosan rasa yang dialirkan dari atas panggung. Hingga tibalah lagu itu merayap naik meniti bagian yang paling terjal dan tinggi, sebuah rintangan berat yang harus ditaklukkan:

Inikah mesranya cinta, inikah rasa bahagia
Baru ini aku tahu, ooo senangnya...

Tepat di bagian yang tinggi dan meliuk itulah, getaran suara pubernya bergetar hebat laksana selembar daun diterpa angin kencang. Ia nyaris tergelincir jatuh ke dalam jurus sumbang! Namun sungguh mustajab, ketulusan rasa yang memancar dari sukmanya justru membuat bait-bait asmara baru itu terdengar begitu jujur, menyentuh relung hati terdalam setiap insan yang mendengarnya.

Baca Teringat Benny Nungkat yang tak Ingin Menyendiri - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (92)

Meskipun suaranya belum sempurna, bayang-bayang kebesaran sang abang yang berjaga di belakang dan kehangatan belarasa malam itu berhasil menyelamatkannya dari kegagalan, mengubah riak puber menjadi sebuah kenangan manis yang takkan pernah layu digilas roda zaman. Penampilan solo Masri malam itu kemudian ditutup dengan sangat manis dan memukau lewat pita suara yang lebih matang oleh H.Y. Maliki. Sang abang bagai seorang petani yang bertugas menutup lubang dan seorang yang khusus disewa untuk menutup malu.
Ketika suara Masri tak sampai menjangkau not tertinggi, ia berhenti. Di situlah Maliki menutup malu, lalu meneruskannya. Orang mengira itu saling sahut, padahal... tidak! Orang mengira itu improvisasi, padahal berhenti karena takut sumbang!

Itulah rahasia tipu-muslihat panggung sandiwara!

Di tengah riuhnya gemuruh malam pentas kesenian tersebut, suasana gereja luas itu seketika semakin memuncak manakala Gunawan melangkah maju dengan dada membusung penuh percaya diri, membawakan nomor tembang legendaris bertajuk "Una Paloma Blanca". Begitu petikan pengiring mengalun, pendekar muda ini langsung menghentak panggung dengan rentak irama Amerika Latin yang rancak dan penuh gairah, memamerkan gaya panggung yang begitu khas, lincah, dan sarat dengan energi bertenaga yang meledak-ledak.

Di bawah sorot kerlap-kerlip lampu gereja yang seakan-akan dengan sengaja hanya berpijar terang untuk menyinari kemegahan auranya malam itu, Gunawan benar-benar menjelma menjadi pusat semesta jagat pertunjukan; ia menyanyi laksana seekor merpati putih sakti yang terbang bebas membelah angkasa, memikat hati dan membius rasa takjub di dada seluruh penonton tua maupun muda yang tak henti-hentinya bergoyang mengikuti ketukan ritmenya.

Sebagai penghormatan bagi tamu yang datang dari jauh, disuguhkan pula tarian adat yang teramat anggun dari siswa-siswi Persekolahan Katolik Sanggau di bawah pimpinan Gregorius Olen. Langkah kaki yang berirama tetap, dipadukan dengan gerakan lincah dan gemulai laksana kelebat bayangan bidadari dari para penari jelita seperti Paulina Ellan, Maria Bernadetha, Paula Elni, dan Emiliana Cani, benar-benar meruntuhkan ketegangan persilatan dan membius rasa takjub di dada seluruh penonton.

Ketika fajar Minggu pagi menyingsing membawa kesegaran udara pegunungan dan kilau embun yang murni, diadakanlah Misa Kudus yang dipimpin dengan penuh wibawa spiritual oleh Pastor Petrus Rostandy.

Perayaan suci ini berlangsung dengan sangat agung dan menyentuh sukma, dimeriahkan oleh alunan koor dari anak-anak Nyarumkop dengan iringan musik dari Band Widbros yang dipandu oleh konduktor kondang yang tangannya seolah menari di udara mengatur tempo, Ferdinandus (Pong).

Selesai bersantap siang bersama untuk mengisi tenaga yang mulai susut, rombongan mengisi waktu luang mereka dengan berkeliling Kota Sanggau menggunakan sepeda.

Baca Buih-Buih Tepian Sungai Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (91)

Laksana arak-arak pasukan berkuda, mereka menyusuri jalanan tanah, melihat dari dekat Komplek Projal (Colombo Plan) di Bunut, serta mengagumi dari dekat kemegahan Jembatan Gantung yang membentang kokoh menantang arus di muara Sungai Sekayam. Di atas jembatan itu, angin bertiup kencang memainkan rambut mereka, mengunci setiap fragmen kebersamaan menjadi sebuah kenangan yang terpatri mati di dinding ingatan.

Hingga akhirnya, ketika hari berikutnya tiba, berakhirlah sudah masa pertemuan yang penuh kenangan manis ini. Bertepatan dengan datangnya masa liburan akhir tahun, rombongan besar itu pun membubarkan diri secara tertib, melangkah pulang menuju tempat tujuan masing-masing membawa seulas kisah teramat indah yang takkan pernah luntur oleh sapuan waktu.

Cara promosi PKN ketika itu

Roda pedati waktu terus menggelinding tanpa henti menembus kabut takdir fana. Belasan tahun kemudian, bibit-bibit ingatan yang ditanam di bumi Sanggau Kapuas pada malam gembira tahun 1978 itu rupanya tumbuh subur laksana pohon flamboyan yang berbunga lebat di musimnya.

Baca Pernikahan Silang Dayak-Tionghoa sebagai Bu-tong Literasi Budaya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (85)

Siapa yang menyangka, riak gempita pentas kesenian dan megahnya ketangkasan olahraga dalam Tour Sanggau Plus malam itu telah menebarkan pesona magis yang luar biasa di dalam sanubari anak-anak setempat. 

Yanto dan Agus Benedi, yang ketika perhelatan agung itu berlangsung masih mengenakan seragam SMP, bersama seorang dara jelita bernama Titin, dengan jujur mengaku bahwa sukma mereka telah sepenuhnya terpukau! 

Paolus Hadi, pemuda belia yang menonton pertunjukan malam itu. Ia yang puluhan tahun kemudian  Bupati Sanggau, duduk terpaku di bangku di antara kerumunan penonton mengaku benar-benar terhipnotis oleh pesona magis panggung kesenian malam itu. Membuktikan bahwa aura pertunjukan tersebut tidak hanya menyihir para siswa yang bersekolah di PKN, tetapi juga menyuburkan benih kecintaan mendalam pada budaya Nusantara di dalam jiwa sang calon pemimpin daerah sejak masa mudanya.

Tatapan mata mereka terkunci rapat. Sementara hati mereka bergetar hebat menyaksikan kehebatan serta kehalusan budi yang dipamerkan oleh para pendekar muda dari kaki Gunung Poteng. 

Pesona tak terlupakan itulah yang akhirnya menuntun langkah kaki mereka untuk membulatkan tekad merantau dan menuntut ilmu ke Persekolahan Katolik Nyarumkop. 

Sungguh sebuah siasat yang amat mustajab. Sebab begitulah waktu itu caranya promosi padepokan dilakukan. Bukan dengan selebaran kertas kosong yang mati, melainkan dengan unjuk ketangkasan, keluhuran seni, dan kehangatan belarasa yang hidup serta mampu menggetarkan jiwa generasi penerus!

Masri Sareb Putra
Based on a true story seperti dikisahkan Bang Maliki kepadaku.
MALAM ketika kian larut, 6 Oktober 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.