Dua Malam Hiburan Reuni Akbar 110 Tahun PKN Membuka Pintu Masa Lalu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)
![]() |
| Malam hiburan Reuni Akbar 110 tahun PKN: Ketika sepasang tangan yang saling menggenggam seakan enggan terlepas kembali. Ist. |
Malam itu sang surya telah lama tenggelam di balik megahnya lereng Gunung Poteng, digantikan oleh hamparan langit kelam bertabur bintang pada tanggal 4 dan 5 September 2026.
Sungguh suatu fenomena alam yang ganjil, sebab udara yang biasanya dingin menusuk sumsum di lembah itu, kini terasa cukup gerah. Jagat Nyarumkop tengah dikepung oleh puncak musim kemarau.
Hawa panas melingkupi pelataran, seolah-olah angin dari puncak Gunung Poteng enggan mengembuskan hawa dinginnya yang membekukan.
Angin gunung itu sengaja menahan diri. Diam membisu demi membiarkan para manusia purba. Ketika itu para pendekar dan mentrik tua alumni padepokan, larut sepenuhnya dan tenggelam dalam lautan nostalgia cinta pertama mereka!
Malam hiburan yang membuka pintu masa lalu
Di dalam lapangan sepakbola terbuka samping Wisma Emaus (dahulu Bruderan MTB) Padepokan Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN), suasana bergolak hebat laksana kawah candradimuka yang mendidih. Malam Hiburan Dua Malam Reuni 110 Tahun PKN tengah dilangsungkan pada tanggal tersebut, menjelma menjadi sebuah pintu gerbang gaib yang menjebol bendungan waktu.
Pintu gerbang itu melepaskan ribuan riak romantisme dan nostalgia purba yang telah terkunci rapat selama puluhan tahun di dasar sanubari para alumni.
Baca Sihir Band PTHB Tainam Menggelora Jiwa Muda dan Mengusik Tidur Malam Kami - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (96)
Lentera-lentera panggung yang kokoh megah dinyalakan benderang, memantulkan cahaya ke atas dekorasi hamparan bunga merah yang cantik di depan pentas utama.
Di sisi kiri dan kanan lapangan, berdiri tenda-tenda terbuka beratap kanvas menaungi lautan manusia lintas generasi yang berduyun-duyun memadati rerumputan basah.
Di satu sudut. Tampak beberapa pendekar sepuh bernostalgia. Mengenang sosok para guru, resi, dan pengasuh yang legendaris dari masa ke masa.
Mereka membicarakan nama-nama besar yang pernah menggembleng isi padepokan, mulai dari Tan Un Mao, Lin Kheng Siang, Willy Wagemakers, Heliodorus, hingga Fidelis. Namun malam ini, ingatan para pengelana tua itu tidak hanya tertambat pada ketatnya disiplin asrama. Jauh di lubuk hati yang paling dalam, gumpalan asmara pertamalah yang menghentak-hentak dinding dada, meminta untuk dikenang kembali!
Tiba-tiba, dari sound system gantung yang berjejer gagah di sisi panggung utama , petikan dawai gitar pusaka mulai berdenting melankolis, disusul oleh gebukan drum yang tertata rapi. Nada-nada magis dari lagu kuno "Sepanjang Jalan Kenangan" mulai mengalun, membelah keheningan malam dan menggetarkan udara di samping Wisma Emaus.
Gosewinus, OFM Cap. dan Visi Edukasi "Nyarumkop Song" yang tak Lekang Zaman - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (101)
Di atas panggung. Tampak para seniman legendaris alumni Padepokan Widya tampil memukau dengan rambut yang telah memutih perak. Suara vokal yang melankolis bersahut-sahutan dengan melodi gitar yang menyayat hati, laksana hembusan hawa sakti murni yang membongkar segel-segel ingatan masa lalu.
Deg! Srrrrrr!
Di tengah riuhnya penonton yang terhanyut oleh alunan nada gembira bercampur haru itu, sepasang manusia paruh baya mendadak kaku laksana patung batu.
Di sana berdiri Ciang Moi. Ia seorang mentrik yang empat puluh tahun lalu memiliki kecantikan murni laksana sekuntum bunga teratai yang tumbuh mekar lagi wnagi di telaga biru para bidadari Sekabu.
Pandangan matanya bertumbukan langsung dengan sosok pria Dayak bertubuh tinggi kurus yang berdiri beberapa tombak di hadapannya di atas rumput lapangan yang basah oleh embun. Seketika itu juga, jagat raya di sekeliling mereka seolah runtuh! Suara musik yang membahana mendadak senyap, waktu berhenti berputar, dan kabut kenangan masa lalu berkelebat dahsyat membutakan mata lahiriah mereka.
Sukma Ciang Moi melesat terbang ke masa ketika usianya baru tujuh belas tahun. Masa di mana ia nekat melakukan pengembaraan maut menembus belantara liar menuju suatu kawasan di sempadan (perbatasan Entekong), Paroki Kuala Dua, demi bisa bertatap muka dengan pemuda Dayak tinggi kurus tersebut.
Sebuah cinta buta silang etnis yang teramat murni, hingga raga halusnya harus roboh digerogoti demam malaria yang mematikan di dalam gubuk reot tengah hutan. Panasnya demam kala itu tak sebanding dengan gejolak rindu di dadanya.
Baca Enam Tokoh Lulusan Pendidikan Nyarumkop di Parlemen Nasional - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (100)
Kini sang waktu yang kejam telah mengubah rupa mereka, menghadirkan rambut seputih perak dan guratan usia. Sungguh merupakan rahasia alam semesta yang amat mengherankan! Siapa yang menduga, setelah sama-sama tumbuh tua dan mengalami banyak perubahan dalam badai pengembaraan hidup, watak asli sepasang manusia ini justru membalikkan keadaan.
Sosok pria Dayak yang dahulu gagah itu kini melangkah mendekat dengan sangat canggung. Ketika berhadapan dengan Ciang Moi. Sepasang matanya berkedip-kedip gelisah, wajah senjanya mendadak memerah, dan seluruh tubuhnya dirundung oleh rasa malu-malu yang teramat besar!
Bimbernya terkunci rapat, tak berani mengeluarkan patah kata, persis laksana seorang murid pemula yang gemetar di hadapan gurunya. Sifat jantannya seolah luluh lantak oleh wibawa asmara masa lalu.
Melihat kepolosan pria yang dahulu sangat dipujanya itu, bangkitlah keberanian dan ketulusan rasa di dalam sukma Ciang Moi. Hilang sudah keraguan sang mentrik jelita! Mengikuti gejolak batinnya yang menolak dikalahkan oleh waktu, sang Ciang Moi justru mengambil inisiatif tertinggi.
Baca 4 Uskup Alumni PKN - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (99)
Dengan gerakan yang anggun namun tegas. Ia mengulurkan sepasang lengan halusnya dan langsung menarik tangan pria Dayak itu!
Jerrr...! Air mata Ciang Moi pecah mengalir deras membanjiri pipinya saat jemari mereka bertautan kembali.
Sebuah sengatan tenaga dalam rasa yang maha dahsyat mengalir ke seluruh pembuluh darah mereka, meruntuhkan sisa-sisa dinding kecanggungan. Di balik ketegasan sikapnya menarik tangan sang mantan kekasih, di dalam lubuk hati yang paling sunyi perempuan Hakka menjerit haru menahan duka dan bahagia yang bercampur aduk.
Ia menyadari betapa indahnya masa muda yang telah hanyut, namun malam ini, kepasifan sang pria justru menyalakan kembali api keberaniannya demi merayakan pertemuan yang suci ini.
Sembari menuntun tangan sang pria yang masih gemetar dan diselimuti rasa jengah, tarian joget mereka bermula di atas rerumputan hijau samping bangunan tua Bruderan MTB tersebut. Gerakan sepasang raga senja yang tengah memadu rindu dengan cara yang unik ini seketika mengunci perhatian seisi lapangan terbuka.
Kawan-kawan sekitar, para alumni lintas generasi Dayak dan Tionghoa. Berangsur-angsur menghentikan langkah mereka. Suasana mendadak hening dan sakral di bawah naungan tenda-tenda terbuka.
Kawan mereka, Benediktus yang biasanya gemar berkelakar dan mengocok perut, kini terdiam seribu bahasa dengan kerongkongan tersumbat dan mata memerah menahan haru. Beberapa mentrik di sudut lapangan mulai menyeka air mata mereka dengan saputangan, menyaksikan bagaimana sang mentrik jelita dengan gagah berani menuntun joget sang mantan pria pujaan yang tersipu malu.
Hawa keharuan menjalar cepat laksana hawa sakti kasatmata; mereka semua menangis karena melihat ketulusan cinta yang tidak mampu diubah, melainkan justru dipertegas oleh sifat malu-malu yang abadi di sisa usia.
Malam Hiburan Dua Malam Reuni 110 Tahun PKN benar-benar telah menjadi sebuah prasasti yang hidup.
Di bawah langit Nyarumkop yang keramat. Cinta monyet yang dahulu kusam oleh debu zaman, malam ini memancarkan kilau cahayanya yang paling agung dan suci.
Mereka tahu raga mereka harus kembali menempuh jalan pedang dan takdir yang berbeda di luar sana. Namun di tempat ini, sepotong jiwa mereka telah menyatu, abadi, dan takkan pernah mampu dihancurkan oleh sang waktu!
Ketika sepasang tangan yang saling menggenggam perlahan terlepas
Tatkala kidung asmara perlahan-lahan menyurut membelah kesunyian malam di samping Wisma Emaus dan tirai kegelapan kian larut menyelimuti pelataran Padepokan Nyarumkop. Sepasang tangan yang saling menggenggam erat itu pun perlahan-lahan terlepas kembali.
Raga mereka kembali terpisah, melangkah pulang memeluk takdir dan garis kehidupan masing-masing yang telah digoreskan oleh Sang Khalik di bawah kolong langit yang berbeda. Namun, di dalam keheningan malam yang gerah itu, sebuah pergolakan batin yang teramat dahsyat membumbung tinggi, mengetuk-ngetuk dinding sanubari hingga melahirkan sebuah perenungan hidup yang teramat dalam.
Sesungguhnya, apakah sejatinya yang terjadi dengan hati manusia tatkala sang waktu melesat pergi?
Mengapa dahulu kala, puluhan tahun yang silam di bawah selimut kabut pagi Nyarumkop, sebuah tatapan mata yang sederhana dan saling pandang yang terjadi hanya dalam sekedipan mata, sudah sanggup membuat seluruh persendian tubuh gemetar hebat?
Mengapa dahulu, ketika sepasang mata saling berbenturan di koridor padepokan, dada seketika berdebar kencang bagaikan ditabuh oleh ribuan jagoan tabuh, dan aliran darah bergolak hebat melebihi letupan tenaga dalam tingkat tinggi?
Mengapa sebuah senyuman malu-malu di masa remaja sudah cukup untuk meruntuhkan pertahanan batin, membuat malam-malam dilalui dengan gelisah, bahkan sanggup membuat seorang mentrik jelita nekat mempertaruhkan nyawa menembus belantara maut Beduai demi sebuah perjumpaan?
Sungguh suatu misteri alam semesta yang teramat mengherankan! Kini, setelah rambut sama-sama memutih perak laksana puncak gunung salju, setelah guratan-guratan usia mengukir wajah mereka, dan raga telah kenyang dirundung pahit getirnya badai pengembaraan hidup, mengapa rasa di dalam dada justru telah jauh berbeda?
Ke mana perginya cinta yang dahulu meledak-ledak laksana gunung berapi memuntahkan laharnya? Ke mana sirnanya getar-getar asmara yang dahulu begitu mendebarkan dan membutakan mata lahiriah?
Ketahuilah, wahai manusia yang budiman, bahwa di kala sang waktu merenggut ketampanan dan kecantikan lahiriah, ia sesungguhnya tengah menuntun sukma manusia menuju gerbang kesucian rasa yang lebih tinggi.
Gejolak asmara yang meledak-ledak di usia remaja tak ubahnya laksana kobaran api pada semak kering; ia tampak menyala hebat, membakar angkasa, namun cepat sekali musnah menjadi abu oleh tiupan angin badai kehidupan.
Baca Penerbit dan Percetakan Lembaga Literasi Dayak (LLD) Perluas Jejaring Literasi Dayak di Sarawak Literature Festival 2026
Tatkala usia telah senja, api asmara yang membara itu kini telah luluh, menyurut perlahan, dan bertransformasi menjadi aliran air telaga yang teramat tenang, jernih, dan menyejukkan.
Rasa cinta yang dahulu menuntut untuk memiliki, kini telah luntur dan menjelma menjadi rasa kasih sayang yang tulus antara sesama saudara tua seperguruan! Sebuah hubungan batin yang teramat suci, di mana tiada lagi tuntutan duniawi, tiada lagi cemburu yang membakar hati, melainkan berganti menjadi rasa belarasa, hormat, dan saling menjaga laksana saudara kandung yang lahir dari rahim perguruan yang sama.
Mengapa sebuah tatapan mata dahulu menimbulkan gejolak? Karena kala itu ego manusia masih menguasai dada, dipenuhi oleh keinginan dan impian-impian semu masa muda.
Namun malam ini, di bawah langit September 2026 yang gerah. Tatkala Ciang Moi menarik tangan pria Dayak itu, tatapan mata mereka tidak lagi melahirkan gejolak badai, melainkan melahirkan kedamaian batin yang sejati.
Kehangatan yang menjalar di antara jemari mereka adalah kehangatan tangan seorang saudara tua yang saling menguatkan. Sebuah pengakuan tanpa kata bahwa mereka telah sama-sama berhasil melewati kejamnya gelombang ujian zaman.
Maka hilangnya getar asmara masa lalu bukanlah sebuah kedukaan, melainkan sebuah hakekat kemenangan hidup! Kehidupan manusia ini tak ubahnya laksana selembar daun kering yang hanyut pasrah di dalam sungai waktu.
Kita tidak selalu bisa memilih ke mana arus deras akan membawa kita pergi. Namun, bilamana jiwa manusia sudah dipenuhi oleh samudra ilmu kehidupan dan ketulusan rasa yang sejati, maka cinta murni yang pernah tumbuh di masa muda tidak akan pernah punah sia-sia.
Ia hanya bertukar rupa, melepaskan pakaian asmaranya yang fana. Demi mengenakan jubah persaudaraan yang abadi dan takkan pernah mampu dihancurkan oleh sang waktu!
Sebab di dunia persilatan literasi dan kehidupan yang sejati.
Puncak tertinggi dari ilmu asmara bukanlah tentang bagaimana cara saling memiliki di masa muda... melainkan tentang bagaimana sepasang sukma mampu saling memandang dengan senyuman penuh damai dan rasa persaudaraan yang suci di masa tua.
Masri Sareb Putra
Tangsel siang jelang petang, 6 Oktober 2026.
Kepada: siapa saja yang merasa pelaku dan tersentil oleh kisah nyata ini.

0 Comments