Gosewinus, OFM Cap. dan Visi Edukasi "Nyarumkop Song" yang tak Lekang Zaman - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (101)

Gosewinus, OFM Cap sang penggubah "Nyarumkop Song"
Gosewinus, OFM Cap penggubah "Nyarumkop Song" sang jenius sekaligus visioner. Dokpri.

Mari kita singkap misteri pagi, sebuah tabir sejarah. Melintasi lorong waktu, memintas pulau dan benua. Ke era sebelum fajar Indonesia menyingsingkan merdeka. 

Pada era ketika bumi Kalimantan Barat masih dicengkeram sunyi belantara serta sekat-sekat kolonial. Ada seorang mahaguru sakti dari tarekat Kapusin Belanda. Ia melangkahkan kaki ke Lembah Nyarumkop. Orang itu tak lain tak bukan adalah Pastor Gosewinus, OFM Cap. 

Baca Enam Tokoh Lulusan Pendidikan Nyarumkop di Parlemen Nasional - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (100)

Bukan emas, perak, atau kekuasaan yang ia cari. Senjata utamanya bukanlah sebilah pedang pusaka, melainkan sebuah visi luhur yang melompati zamannya: literasi, kebudayaan, dan rasa kebangsaan.

Merajut Persaudaraan Dayak dan Tionghoa sebelum Indonesia Merdeka

Pada awal abad ke-20, pedalaman Kalimantan Barat masih terisolasi. Anak-anak suku Dayak di pedalaman hidup dalam keterbatasan akses ilmu, sementara komunitas Tionghoa di pesisir dan wilayah tambang mengisolasi diri dalam budaya leluhur mereka. Kolonialisme Belanda sengaja memelihara sekat-sekat ini agar bumi Borneo mudah dikuasai. 

Namun, Pastor Gosewinus melihat melampaui warna kulit dan garis keturunan. Dengan mendirikan kawah candradimuka di Nyarumkop, ia mengumpulkan anak-anak pedalaman Dayak dan anak-anak Tionghoa di bawah satu atap asrama yang sama

• Melek Budaya: Di asrama ini, anak-anak tidak dipaksa membuang identitas mereka. Sebaliknya, mereka diajak saling mengenal tradisi masing-masing. Terjadilah akulturasi yang damai di mana sastra lisan pedalaman bertemu dengan tradisi literasi Tionghoa.

• Melek Kebangsaan: Jauh sebelum pekik "Merdeka!" menggema di Jalan Proklamasi, Jakarta, Pastor Gosewinus telah menanamkan benih persatuan nasional. Di mata beliau, anak-anak asrama ini bukanlah "kaum pendatang" atau "suku terasing," melainkan tunas-tunas masa depan yang kelak akan membangun masyarakat. PKN diubahnya menjadi laboratorium kebangsaan pertama di Kalimantan Barat

Baca 4 Uskup Alumni PKN - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (99)

Visi Edukasi "Nyarumkop Song" yang tak Lekang Zaman

Kekuatan magis Pastor Gosewinus tidak hanya terletak pada ketegasannya mengajar. Juga ternyata pada kemampuannya merangkum kurikulum kehidupan ke dalam seuntai lagu yang bersahaja namun sakti mandraguna: Nyarumkop Song.

Syair gubahan sang pastor berjenggot lebat ini memiliki visi edukasi yang sangat kuat:

• Seni Menghargai Realitas dan Hal Kecil: Lirik yang menyebutkan bubur Pak Lelen, pikul kayu, kangkung, ubi jalar, hingga nyarden bukan semata-mata sebuah lelucon pengusir jenuh saja. Ini adalah metode pedagogi tingkat tinggi. Beliau mendidik anak-anaknya untuk memiliki literasi kehidupan nyata. Mereka diajar untuk bersyukur atas hal-hal paling bersahaja, tidak manja, dan menghargai kerja keras fisik.

• Kurikulum Kehidupan Holistik: Lirik yang memuat kegiatan ngerumpi, studi, piknik, melancong menggambarkan konsep pendidikan yang seimbang. Beliau tahu, mendidik manusia bukan sekadar menjejalkan rumus matematika di dalam kelas (studi), melainkan juga merawat kesehatan mental melalui interaksi sosial (ngerumpi) dan tadabur alam (piknik, melancong).

• Filosofi Solidaritas (Senasib Sepenanggungan): Bait "Hai kawan, kita senasib, mari bergembira" adalah mantra pemersatu. Di asrama, tidak ada perbedaan kelas sosial. Anak kepala suku atau anak pedagang miskin, semua memakan sayur cangkok yang sama. Kegembiraan harus dirayakan bersama, dan penderitaan harus dipikul bersama.

• Orientasi Sosial dan Turun Gunung: Kalimat penutup "Nyarumkop, masa bersiap untuk masyarakat" menunjukkan visi utama pendidikannya. Beliau menegaskan bahwa ilmu yang dituntut di padepokan PKN bukanlah untuk kesombongan diri atau memperkaya pribadi. Nyarumkop adalah tempat latihan, sebuah halte persiapan sebelum para pendekar "turun gunung" untuk memajukan, membela, dan mengabdi pada masyarakat luas. 

Baca Kiu-tiok Sin-ni (Sembilan Pendekar Kerudung Putih) Penjaga Bidadari Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (99)

Penghormatan bagi mahaguru

Waktu telah bergeser jauh melewati masuk ujung  2026 dengan ujung bulan “r”. Raga Pastor Gosewinus telah lama bersatu dengan tanah, namun warisan pemikirannya menolak untuk mati. Ketika para alumni dari berbagai latar belakang etnis berkumpul mengepung lukisan potretnya, mereka tidak hanya melihat seorang misionaris asing berkacamata dan bercambang lebat. Mereka juga melihat sesosok Pahlawan Literasi tanpa tanda jasa. 

Baca Wid Bros, Grup Band PKN Sing Ada Lawan di Masanya: Reminiscence of the Past - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (98)

Beliau adalah arsitek sosial yang berhasil menyatukan keberagaman Kalimantan Barat melalui jalur pendidikan berasrama.

Tabik hormat setinggi-tingginya untuk Mahaguru Gosewinus, OFM Cap. Semangatmu abadi di setiap rentak irama gembira: Nyarumkop Song! 

Pak jenggot panjang: abadi namamu dalam lagu!
Pak jenggot panjang: abadi namamu dalam lagu!

Pembaca yang budiman! Jika jemarimu memegang ponsel, pindailah QR code itu, pojok kanan bawah. Kau akan dengarkan syair dan lagu gubahan resi yang kini sudah bertapa di alam baka. Nyalakan pelita hatimu. Sisihkan waktu sedetik untuk mengenangnya.

Pak jenggot panjang: abadi namamu dalam lagu!

Masri Sareb Putra
Narasi berdasarkan riset mandiri ditopang oleh sumber tepercaya yang telah diverifikasi.
Tangsel, tatkala fajar menyingsingkan pagi 6 Oktober 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.