Wid Bros, Grup Band PKN Sing Ada Lawan di Masanya: Reminiscence of the Past - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (98)
| Personel kelompok musik Wid Bros di era kejayaannya. Ist. |
Malam itu. Panggung aula Nyarumkop berubah menjadi gelanggang persilatan. Di balik tirai pembatas dari kain blacu tebal, suasananya riuh seperti markas perguruan yang sedang bersiap menghadapi serbuan musuh.Bunyi senar gitar bersahut-sahutan, tring-treng-trong, kadang merdu, kadang sumbang, kadang terdengar seperti senjata beradu. Para pendekar musik Widbros sedang mempersiapkan "senjata" masing-masing untuk menghadapi pertempuran besar malam itu, yakni acara perpisahan kakak kelas tahun 1977.
Baca Tukiji dan Suyadi: Siasat Sepasang Naga di Lorong Perguruan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (97)
Dengan dada membusung dan senyum yang terkembang, para ksatria gitar dan vokal dari Wisma Widya pun melangkah maju. Tirai segera terbuka. Cahaya panggung menyambut mereka, sementara aula Nyarumkop telah menunggu.
Malam itu mereka turun ke gelanggang bukan dengan pedang atau golok, melainkan dengan gitar, suara, keberanian, dan semangat persaudaraan. Mereka belum tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, ketika rambut telah memutih dan langkah tidak lagi seringan masa muda, malam di Nyarumkop itu akan tetap hidup dalam ingatan mereka sebagai salah satu pertempuran paling indah dalam perjalanan hidup.
| Personel Wid Bros yang masih berkelana. Ist. |
Roda waktu terus berputar, melintasi rentang lima dekade yang penuh perubahan. Rambut kribo, kaus bergaris melintang ala Ali Topan, dan petikan gitar bolong di aula Nyarumkop tahun 1977 kini telah berganti menjadi guratan pengalaman pada wajah-wajah para pendekar sepuh ini.
Inilah potret enam anggota Widbros yang masih tersisa.
Pendekar 1 (Adrianus Asia Sidot) berdiri di barisan paling kiri atas dengan pakaian adat yang megah. Sang pemegang gitar utama yang dahulu berdiri di depan mikrofon kini telah menjelma menjadi sosok pembesar yang berkiprah di kancah nasional, membawa nama bumi Kalimantan ke tingkat negeri +62.
Baca Sihir Band PTHB Tainam Menggelora Jiwa Muda dan Mengusik Tidur Malam Kami - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (96)
Pendekar 2 (Thadeus Yus) berada di tengah atas dengan kemeja kotak-kotak merah. Tatapannya tetap tenang, menyimpan pengalaman panjang setelah puluhan tahun mengembara jauh dari padepokan Wisma Widya.
Pendekar 3 (Surminto Lie) berada di kanan atas dengan kemeja batik yang necis. Sang ksatria kaus bergaris melintang, si Ali Topan pemburu pisang goreng hangat di dapur asrama, kini tampil bersahaja dengan senyum ramah yang tetap bertahan hingga usia senja.
Pendekar 4 (Herman Yosef Maliki) berada di kanan bawah mengenakan jaket hitam. Pemuda yang dahulu sibuk menyisir rambut kribonya demi memikat bidadari Wisma Rini sebelum naik pentas, kini menatap masa tua dengan ketenangan dan kebijaksanaan yang ditempa pengalaman.
Pendekar 5 (Petrus Kanisius) berdiri di tengah bawah dengan kaus berkerah dan menyandang tas. Dahulu ia begitu tekun menyetem senar gitar yang sumbang; kini ia tetap bugar menapaki jalan kenangan sebagai saksi perjalanan panjang Widbros.
Baca Siasat Keluar Malam Mengelabui Pendekar Tan Un Mao menuju Panggung Hiburan di Tainam - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (95)
Pendekar 6 (Honoratus Vitalis) berada di kiri bawah dengan pakaian santai bergaris. Sosok necis berkemeja putih di panggung 1977 itu kini menikmati hari-hari tuanya dengan tenang, tetap menjaga tali persaudaraan yang telah terjalin sejak masa Wisma Widya.
Biarpun Fransiskus Syuniarno dan Martinus Ugah telah terlebih dahulu menghadap Sang Khalik menuju Yerusalem Abadi, keenam sahabat yang tersisa menjadi bukti bahwa persaudaraan yang ditempa sejak masa asrama tidak mudah lekang oleh waktu.
Masa muda boleh berlalu. Tetapi kenangan tentang Widbros dan perjalanan mereka bersama akan tetap hidup dalam ingatan.
0 Comments