Tukiji dan Suyadi: Siasat Sepasang Naga di Lorong Perguruan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (97)

Tukiji dan Suyadi
Duo penguasa SPG dan SMA Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) di masanya: Tukiji (Giam-lo-ong) dan Suyadi (Sian-jin). Dokpri.

Di bawah bayang-bayang Gunung Poteng yang mistis dan berselimut kabut gaib di bumi Nyarumkop, jagat persilatan pendidikan Nyarumkop bergetar hebat dalam cengkeraman sepasang naga sakti yang melegenda: Pak Tukiji sang Giam-lo-ong (Raja Akhirat) yang menggentarkan nyali lewat ketegasan sabetan hukum PMP-nya, dan sang Kepala Sekolah SMA, RPL. Suyadi Kusumaprawira sang Sian-jin (Manusia Dewa) yang menundukkan pemberontakan jiwa lewat "Seribu Jurus" mata batin serta hamparan ilmu Geografi buana yang maha luas! 

Perpaduan kedahsyatan disiplin baja dan kearifan olah rasa ini laksana benturan awan dan petir di atas langit Kalimantan Barat, bersatu padu menempa raga. Menyucikan moral, serta mengukir abadi takdir para pendekar muda dalam sebuah kitab sejarah yang takkan pernah lekang oleh waktu!

Baca Sihir Band PTHB Tainam Menggelora Jiwa Muda dan Mengusik Tidur Malam Kami - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (96)

Siasat Sepasang Naga dan Guncangan di Lorong Perguruan

Suasana di dalam ruang kelas SMA St. Paulus Nyarumkop pagi itu begitu hening, laksana sunyinya kuil tua di puncak gunung. Kabut tebal dari puncak Gunung Poteng turun menyelimuti jendela-jendela kayu, membawa hawa sedingin es yang menusuk tulang. 

Namun, di dalam ruangan, para murid justru sedang mereguk kehangatan ilmu buana dari sang Sian-jin, Pak Suyadi Kusumaprawira.

Raden Jawa yang bijaksana itu berdiri di depan sebuah peta topografi Kalimantan Barat yang besar. Sembari membelai janggut imaginer-nya dengan ketenangan seorang dewa, sepasang matanya yang tajam menatap barisan murid. Beliau sedang menjabarkan rahasia alam, mengaitkan ilmu bumi dengan kemurnian batin manusia.

"Anak-anakku," kata Pak Suyadi dengan suara yang halus namun bergaung. Laksana dikirim oleh tenaga dalam Sian-thian-khian-khang (Tenaga Dalam Murni Tingkat Tinggi). 

"Geografi bukan sekadar menghafal garis lintang dan rupa bumi. Ilmu bumi adalah kompas bagi seorang ksatria. Jika batinmu buta akan hamparan jagat buana, engkau akan tersesat di dalam rimba kehidupan, laksana pendekar tanpa mata."

Baca
Siasat Keluar Malam Mengelabui Pendekar Tan Un Mao menuju Panggung Hiburan di Tainam - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (95)

Beliau kemudian menunjuk gambar puncak Gunung Poteng yang berselimut kabut. Cara beliau menerangkan seolah-olah sedang menjabarkan jurus Cui-ko-li-thian (Dewa Mabuk Menembus Langit) yang bebas tak berwujud.

"Kabut pagi yang menutup jalur setapak di Gunung Poteng ini," lanjut beliau dengan senyum misterius, "hanyalah perlambang dari kekalutan pikiran manusia yang dipenuhi hawa nafsu. Seseorang yang menguasai ilmu bumi sejati, tahu ke mana harus melangkah meskipun pandangan matanya tertutup oleh tebalnya mega."

Para murid terkesima, terhanyut oleh wejangan batin yang maha luas itu. Namun, keheningan yang suci itu mendadak buyar!

Dug! Dug! Dug!

Dari ujung lorong sekolah yang beralaskan papan, terdengar suara langkah kaki yang luar biasa berat dan mantap.

Lantai-lantai papan berguncang hebat. Ddebu-debu di langit-langit kelas berguguran laksana rontoknya daun-daun di musim gugur. Tidak salah lagi! Itulah deru langkah sepatu lars milik sang Giam-lo-ong, Pak Tukiji!

Baca Bruder Claudius dengan Ilmu Sin-kong Mengendus Kolak yang Disembunyikan di Kelas - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (94)

Pak Tukiji sedang melakukan patroli keliling. Ia mengawal ketertiban sekolah dengan mata elangnya. Aura kepemimpinannya begitu menegangkan, seolah-olah beliau sedang mengerahkan ilmu gedor To-thian-hong-pat-pau-ciang (Pukulan Badai Langit Meruntuhkan Gunung) melalui deru langkah kakinya. Setiap murid yang mendengar suara itu spontan menegakkan punggung mereka, tidak berani lagi bersandar malas, apalagi mencoba mengantuk.

Langkah kaki Pak Tukiji yang menggetarkan bumi bergema melewati pintu kelas Geografi. Di sana, sang Giam-lo-ong sempat menghentikan langkahnya sejenak. Melalui jendela yang menganga, sepasang mata tajamnya yang biasa mengawal pelajaran Civics (PMP) melirik ke dalam kelas. Sinar matanya seolah memancarkan jurus Cian-li-yan (Mata Kilat Seribu Li), memeriksa apakah ada eng-hiong muda yang berani berbuat kurang ajar di jam pelajaran sang Kepala Sekolah?

Setelah memastikan seluruh kelas tunduk patuh dalam disiplin yang sempurna, Pak Tukiji melanjutkan langkah kakinya. Kembali menjaga batas-batas hukum moral perguruan.

Pak Suyadi yang berada di dalam kelas hanya tersenyum tipis menyaksikan bayangan sang rekan pelindung persekolahan berlalu. 

Baca Sekolah 4 Tahun SMA St. Paulus Nyarumkop yang Terakhir - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (93)

Sungguh sebuah perpaduan yang sempurna di Nyarumkop! Yang satu menggetarkan nyali dengan ketegasan laksana jurus Pek-ha-sin-ciang (Pukulan Sakti Bangau Putih), sementara yang lain menyeimbangkannya dengan kelembutan yang menyerap semua benturan laksana jurus Sian-li-twa-cin (Dewi Memetik Sawi). 

Di bawah gemblengan sepasang naga inilah, mentalitas para Si-to-pau-hak (siswa seminari) dan Pang-beng-su (calon guru) benar-benar ditempa menjadi sekeras baja dan sebening kristal!

***

Sabetan Gada Kitab Negara dan Seribu Bayang di Bawah Rembulan

Bagian Pertama: Badai Tanya-Jawab di Kelas Civics

Matahari baru saja naik sepenggalah, namun hawa di dalam kelas Pendidikan Moral Pancasila (PMP) sudah terasa sekeras tungku pembakaran besi.

Di depan kelas, sang Giam-lo-ong Pak Tukiji berdiri tegak laksana panglima perang yang siap menerjang musuh. Di atas meja kayu, tergeletak sebuah kitab PMP tebal, seolah-olah siap menjelma menjadi senjata gada yang mematikan.

"Hari ini, kita mengadakan ujian dadakan!" suara Pak Tukiji menggelegar, menggunakan khian-khang (tenaga dalam) yang membuat daun telinga para murid berdengung. Beliau tidak memberikan tanda-tanda sebelumnya, sungguh sebuah serangan mendadak laksana jurus Sin-piau-lot-te (Anak Panah Sakti Meluncur ke Bumi)!

Sepasang mata elang beliau berputar, menyapu seluruh ruangan. Tiba-tiba, telunjuknya yang kuat menunjuk ke arah seorang murid bertubuh kurus yang duduk di bangku tengah.

"Kau! Sebutkan apa dasar moral paling utama bagi seorang pendekar warga negara dalam mempertahankan keadilan sosial!" bentak Pak Tukiji.

Ini adalah jurus tanya-jawab mematikan yang disebut Sian-jien-ci-lu (Dewa Menunjukkan Jalan). Pertanyaan itu dilemparkan dengan kecepatan kilat, menuntut jawaban yang mutlak tepat tanpa boleh ada keraguan barang sekejap pun.

Si murid kurus seketika pucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung bercucuran di dahinya.

Dengan suara gemetar. Ia coba mengerahkan seluruh daya ingatannya untuk menangkis sabetan pertanyaan tersebut. "Dasar… dasar moralnya adalah… menghormati hak orang lain dan menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, Pak!"

Mendengar jawaban itu, ketegangan di wajah Pak Tukiji tidak berkurang, namun beliau mengangguk kecil. Sabetan gada kata-katanya berhasil ditangkis dengan baik.

"Bagus! Jangan hanya dihafal di dalam batok kepalamu, tapi tanamkan di dalam pembuluh darahmu!" seru beliau seraya melanjutkan ujian yang menguras tenaga batin seluruh isi kelas tersebut.

Bagian Kedua: Siasat Malam Hari dan Sapuan Mata Batin

Ketika sang rembulan telah bertahta di langit tertinggi dan malam mencapai puncaknya, kompleks asrama Nyarumkop tenggelam dalam kesunyian. Namun, di sudut barak yang gelap, empat orang eng-hiong muda (para murid) sedang merencanakan sebuah siasat besar. Mereka hendak melanggar pantangan asrama: menyelinap keluar demi mencari hiburan di Kota Singkawang!

Dengan mengandalkan malam yang gelap, mereka bergerak tanpa suara. Menggunakan ilmu meringankan tubuh tiruan alias Khin-kong amatiran, mereka melompati jendela barak dan mengendap-endap di bawah bayangan pohon-pohon besar, menuju pagar pembatas luar.

"Aman… Pak Tukiji tampaknya sedang berada di barak selatan," bisik salah seorang murid dengan hati penuh kemenangan. Mereka merasa siasat mereka telah sesakti jurus Kim-si-tho-khak (Jangkrik Emas Menanggalkan Kulit).

Namun, tepat ketika kaki mereka baru saja hendak melompati pagar, sebuah suara batuk kecil terdengar dari arah belakang.

"Ehem..."

Suara itu sangat halus, bertolak belakang dengan bentakan Pak Tukiji, namun getarannya sanggup menghentikan aliran darah keempat murid tersebut seketika. Tubuh mereka mendadak kaku laksana patung batu.

Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Ketika mereka membalikkan badan dengan pelan dan gemetar, di bawah temaram sinar rembulan, berdirilah sang Kepala Sekolah, Pak Suyadi Kusumaprawira. Beliau berdiri bersedekap dengan jubahnya yang berkibar ditiup angin malam, tampak begitu anggun laksana Sian-jin (manusia dewa) yang turun dari langit.

Rupanya, sejak awal gerakan mereka telah terbaca oleh "Seribu Jurus" mata batin milik Pak Suyadi. Beliau tidak perlu berlari mengejar atau membentak keras. Cukup dengan mengandalkan ilmu ketenangan kebatinan tingkat tinggi, beliau tahu-tahu sudah berdiri memotong jalur pelarian mereka.

"Malam begitu indah, anak-anakku," kata Pak Suyadi dengan suara yang sangat lembut, namun mengandung wibawa yang meruntuhkan nyali. "Apakah keindahan Geografi tadi siang itu kurang luas, sehingga kalian harus mencari jalan setapak yang keliru di luar sana?"

Mendengar teguran yang begitu halus namun menembus relung hati itu, keempat murid (Masri, Benyamin, Doraman, dan Jitmen) langsung berlutut di atas tanah yang dingin.  Sedangkan Chun Kho dan Gunawan menutup muka dengan kitab lama: Eelmenta Linguae Latinae. Patrisius menyaksikan dari kejauhan, tidak berkutik. Ia hanya bisa menggigit bibir. Sedangkan murid yang lain pura-pura alim.


Air mata penyesalan mulai mengalir. Kekuatan batin Pak Suyadi yang luhur membuat mereka merasa jauh lebih bersalah ketimbang jika mereka dihukum fisik. Inilah rahasia  kehebatan sejati dari sang Raden Jawa: menundukkan lawan tanpa perlu mengeluarkan sebilah pedang pun!

Masri Sareb Putra

Minggu ketika gulita kian memeluk malam, 4 Oktober 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.