Enam Tokoh Lulusan Pendidikan Nyarumkop di Parlemen Nasional - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (100)
| Enam lulusan Pendidikan Nyarumkop di Parlemen Nasional. Siapa mereka? Ist. |
Dalam bentangan sejarah politik dan parlemen Indonesia, Nyarumkop memiliki posisi historis yang unik. Dari lembaga pendidikan di kaki Gunung Poteng ini, lahir sejumlah tokoh yang berhasil melangkah ke panggung pengabdian nasional di Jakarta.Hal yang membanggakan adalah bahwa terdapat enam tokoh yang tercatat pernah menduduki posisi di lembaga perwakilan tingkat nasional: F.C. Palaunsoeka, Agustinus Djelani, J.C. Oevaang Oeray, Aloysius Aloy, Agus Clarus, dan Adrianus Asia Sidot.
Baca 4 Uskup Alumni PKN - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (99)
Untuk menjaga kerapian akademis dan ketepatan historis, istilah “lulusan pendidikan Nyarumkop” dalam tulisan ini diberi batasan yang ketat. Lulusan didefinisikan sebagai mereka yang menyelesaikan dan menamatkan suatu jenjang atau program pendidikan resmi di Nyarumkop. Istilah ini tidak digunakan bagi mereka yang sekadar pernah belajar singkat, menumpang tinggal, mengajar, atau memiliki hubungan organisatoris semata.
Batasan ini penting agar korelasi antara latar belakang pendidikan tokoh dan kontribusi politik mereka tetap kukuh. Pendidikan yang dimaksud di sini mencakup berbagai konfigurasi sistem yang diselenggarakan Nyarumkop pada zamannya, mulai dari Cursus Volkschool Onderwijzer (CVO), pendidikan seminari, hingga pendidikan menengah.
Baca Kiu-tiok Sin-ni (Sembilan Pendekar Kerudung Putih) Penjaga Bidadari Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (99)
Melalui batasan tersebut, keenam tokoh ini dikaji sebagai representasi kontinuitas kontribusi Nyarumkop terhadap lembaga perwakilan nasional yang melintasi berbagai era kemerdekaan, mulai dari DPR-RIS, Senat RIS, Konstituante, hingga DPR RI.
1. F.C. Palaunsoeka: Pionir dari Nyarumkop ke Parlemen Republik
Franciscus Conradus Palaunsoeka merupakan generasi awal luar biasa dari Nyarumkop yang menembus belantara politik nasional. Ia menyelesaikan pendidikan Cursus Volkschool Onderwijzer (CVO) di Nyarumkop pada 1941. Memulai karier sebagai guru, ketajaman intelektualnya membawa Palaunsoeka masuk ke dunia pergerakan hingga bermuara ke DPR-RIS dan DPR RI.
Sejak 1950, Palaunsoeka telah mengamankan kursi di parlemen pusat. Pengabdiannya berjalan impresif selama puluhan tahun, melintasi era Demokrasi Parlementer, Demokrasi Terpimpin, hingga fajar Orde Baru. Namanya abadi sebagai pelopor keterwakilan putra Kalimantan Barat di tingkat nasional. Bagi Nyarumkop, keberhasilan Palaunsoeka membuktikan bahwa pendidikan yang tangguh mampu mengantarkan putra daerah dari pedalaman menuju episentrum kekuasaan Republik.
Baca Wid Bros, Grup Band PKN Sing Ada Lawan di Masanya: Reminiscence of the Past - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (98)
2. Agustinus Djelani: Arsitek Politik Dayak di Masa Awal Republik
Agustinus Djelani (1919–1977) adalah figur kunci dalam konsolidasi politik masyarakat Dayak sekaligus bukti mutu pendidikan Nyarumkop. Selepas menyelesaikan CVO Nyarumkop, ia melanjutkan studinya ke Seminari Menengah Pontianak. Jaringan pendidikan Katolik ini kelak membentuk kapasitas kepemimpinannya saat membesarkan Partai Persatuan Dayak.
Kiprah legislatornya di tingkat makro tercatat mapan sejak masa awal kemerdekaan. Pada era Republik Indonesia Serikat, Djelani dipercaya sebagai anggota Senat RIS. Konsistensi politiknya berlanjut pada Pemilu 1955, ketika ia terpilih sebagai anggota Konstituante. Djelani menjadi representasi nyata bagaimana lulusan Nyarumkop langsung terlibat dalam peletakan dasar-dasar konstitusional negara.
3. J.C. Oevaang Oeray: Tokoh Sentral Daerah dan Nasional
Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray adalah alumni CVO dan pendidikan seminari Nyarumkop yang memiliki karier politik multidimensional. Sebagai salah satu pendiri Partai Persatuan Dayak, ia berhasil menembus kursi Konstituante lewat Pemilu 1955.
Baca Tukiji dan Suyadi: Siasat Sepasang Naga di Lorong Perguruan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (97)
Selepas berkiprah di lembaga legislatif nasional, pengabdian Oevaang Oeray beralih ke ranah eksekutif daerah yang krusial. Ia menjabat sebagai Bupati Sintang dan menorehkan sejarah sebagai Gubernur Kalimantan Barat pertama dari kalangan Dayak. Hubungannya dengan parlemen nasional kembali terajut pascabergabung dengan Golkar, di mana namanya tercatat sebagai calon anggota DPR nasional pada Pemilu 1977. Perjalanan Oevaang Oeray mencerminkan fleksibilitas dan luasnya ruang pengabdian alumni Nyarumkop.
4. Aloysius Aloy: Bentuk Konsistensi dan Pengabdian Panjang di DPR
Jika Palaunsoeka dan Oevaang Oeray mewakili dinamika era awal kemerdekaan, maka Aloysius Aloy adalah simbol stabilitas dan ketahanan politik di era berikutnya. Politikus kawakan dari Golongan Karya ini lahir di Entuma, Sanggau, pada 8 September 1942, tepat pada masa pendudukan Jepang. Latar belakang akademisnya diperkuat dengan menyelesaikan pendidikan tinggi di Universitas Katolik Parahyangan.
Dalam sejarah parlemen modern, namanya mengukir catatan historis yang luar biasa sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Daerah Pemilihan Kalimantan Barat. Masa jabatannya membentang tanpa terputus selama 25 tahun, terhitung sejak 28 Oktober 1971 hingga 1 Oktober 1997 (mencakup lima periode masa bakti Orde Baru).
Baca Sihir Band PTHB Tainam Menggelora Jiwa Muda dan Mengusik Tidur Malam Kami - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (96)
Pada Pemilu 1977, Aloysius Aloy berada di nomor urut dua daftar calon Golkar untuk DPR RI, mendampingi seniornya, Oevaang Oeray. Sepanjang seperempat abad di Senayan, ia menjadi representasi dari ketangguhan alumni Nyarumkop yang konsisten menyuarakan aspirasi pembangunan daerah Kalimantan Barat di tingkat pusat.
Agus Clarus: Estafet Kepemimpinan di Era Reformasi
Agus Clarus mewakili generasi baru yang lahir dari rahim modernisasi sistem pendidikan Nyarumkop. Ia merupakan lulusan SMA Seminari St. Paulus Nyarumkop pada 1981. Karier politiknya matang secara bertahap, dimulai dari tingkat daerah sebagai anggota DPRD Kalimantan Barat (1999–2004).
Kematangan politik tersebut membawanya melangkah ke Senayan sebagai anggota DPR/MPR RI periode 2004–2009. Di parlemen pusat, Agus Clarus memegang peran strategis sebagai Wakil Sekretaris Fraksi PDI-P, anggota Komisi II, serta Ketua Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI Indonesia-Australia. Kehadirannya menjaga mata rantai kontribusi lulusan Nyarumkop agar tetap relevan di era Reformasi.
6. Adrianus Asia Sidot: Membawa Nilai Nyarumkop ke Parlemen Modern
Adrianus Asia Sidot adalah tokoh keenam yang melengkapi daftar emas ini. Menyelesaikan pendidikan di SMA Seminari Menengah Santo Paulus Nyarumkop pada 1979, ia meniti karier birokrasi dan eksekutif yang cemerlang sebagai Wakil Bupati dan Bupati Landak.
Baca Siasat Keluar Malam Mengelabui Pendekar Tan Un Mao menuju Panggung Hiburan di Tainam - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (95)
Rekam jejak eksekutif yang kuat menjadi modal berharga saat ia melangkah ke Senayan. Adrianus berhasil terpilih sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar (Dapil Kalimantan Barat II) untuk periode 2019–2024 dan kembali mempertahankan kursinya untuk periode 2024–2029. Ikatan emosional dan ideologisnya dengan almamater tetap terjaga erat, yang dibuktikan dengan amanah yang diembannya sebagai Ketua Umum Ikatan Alumni Persekolahan Nyarumkop (IAPN) periode 2010–2020.
Dari Pendidikan Nyarumkop ke Pusat Pengabdian
Keenam tokoh di atas hidup dan berjuang dalam lanskap politik yang berbeda-beda. Palaunsoeka, Djelani, dan Oevaang Oeray menjadi saksi sekaligus aktor fajar kemerdekaan Indonesia. Aloysius Aloy merawat aspirasi daerah di tengah ketatnya sistem Orde Baru. Sementara itu, Agus Clarus dan Adrianus Asia Sidot membawa nilai-nilai tersebut ke dalam alam demokrasi modern pasca-Reformasi.
Baca Menjaga Sekabu dalam Pusaran Konflik Madura-Dayak 1979 di Sendoreng - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (88)
Meskipun menempuh jalur program yang bervariasi, mulai dari sekolah guru CVO, pendidikan ketat seminari, hingga sekolah menengah umum, keenamnya disatukan oleh satu poros geometris yang sama: pendidikan mereka berakar di Nyarumkop.
Nyarumkop bukan semata-mata tempat belajar, melainkan sebuah kawah candradimuka. Dari lembaga di kaki Gunung Poteng inilah, nilai-nilai disiplin, intelektualitas, dan pengabdian ditempa, lalu dibawa oleh para lulusannya untuk mewarnai jalannya sejarah politik, tata negara, dan parlemen di Republik Indonesia.
Narasi berdasarkan riset mandiri ditopang oleh sumber tepercaya dan telah diverifikasi.
Tangerang Selatan, siang jelang senjan 5 Oktober 2026.
0 Comments