4 Uskup Alumni PKN - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (99)
| Empat Uskup alumni PKN. Siapa mereka? Dokpri. |
Kali ini, mari kita merayap ke tepi rimba Kalimantan yang gelap gulita. Di sana, di mana pohon-pohon raksasa berdiri bagai raksasa hitam yang membisu, di mana matahari seolah segan dan takut menembus rimba tebal, kabut pagi bergulung-gulung bagai tirai putih yang membungkus tanah basah berlumut. Persekolahan itu ternyata mencetak orang-orang besar nan hebat. Salah empat di antanya: uskup.Angin malam bertiup menyayat kulit, berbisik-bisik lirih seperti rintihan arwah yang belum menemukan kedamaian dalam keabadian.
Baca Kiu-tiok Sin-ni (Sembilan Pendekar Kerudung Putih) Penjaga Bidadari Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (99)
Di tengah-tengah kesunyian yang mencekam itulah, tersembunyi sebuah tempat yang penuh rahasia batin. Orang awam hanya melihatnya sebagai rumah-rumah kayu beratap sirap yang usang. Orang bodoh menyebutnya tempat belajar biasa. Namun mereka yang memiliki mata batin tajam dan hatinya mampu bergetar karam, menyebutnya dengan nama yang menggetarkan seluruh sendi jiwa: Padepokan Keramat Nyarumkop!
Bukan, ini bukan padepokan tempat melatih besi-besi tajam yang haus akan darah. Ini bukan tempat untuk memperebutkan gelar nomor satu di kolong langit dengan cara saling menjatuhkan. Di bawah atapnya yang tiris diguyur hujan tanpa ampun, diterpa badai yang mengamuk bagai setan kelaparan di malam hari, tiga orang manusia pilihan digembleng dalam kawah candradimuka yang teramat sunyi.
Baca Wid Bros, Grup Band PKN Sing Ada Lawan di Masanya: Reminiscence of the Past - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (98)
Mereka tidak memegang golok. Mereka tidak menghunus pedang besi yang berkilau hawa maut. Mereka menempa sesuatu yang jauh lebih tajam, jauh lebih mematikan bagi kejahatan, dan jauh lebih abadi dari baja mana pun: iman dan cinta kasih!
Dari tempat bersahaja inilah lahir kisah empat pendekar yang jalannya bertabur air mata.
Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun
Mari kita lihat pendekar yang pertama. Dari desa Menawai Tekam yang terpencil di tanah Sekadau, tepat pada hari Jumat, tanggal lima Agustus tahun seribu sembilan ratus tiga puluh tujuh, di tengah tangis bayi yang memecah keheningan gubuk bambu, lahirlah Hieronymus Herculanus Bumbun. Ia adalah anak ketujuh dari tujuh belas bersaudara! Tubuhnya sangat kecil, tulangnya tipis bagai bilah bambu yang rapuh ditiup angin. Namun di dalam dada yang ringkih itu, bersemayam jiwa yang sekokoh Gunung ulin yang tak bergeming dihantam topan.
Alangkah pedih dan berdarah-darah perjalanan sang bocah ini! Demi menuntut ilmu di Sekolah Rakyat Semadu hingga menapakkan kaki di Nyarumkop pada tahun seribu sembilan ratus empat puluh sembilan, ia harus berjalan ratusan kilometer dengan kaki telanjang yang pecah-pecah berdarah.
Baca Tukiji dan Suyadi: Siasat Sepasang Naga di Lorong Perguruan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (97)
Setiap kali kakinya menginjak duri hutan yang tajam, ia tidak menangis, ia hanya tersenyum getir menahan perih. Perutnya keroncongan menahan lapar yang membakar usus, tenggorokannya kering bagai padang pasir, dan tubuh kecilnya menjadi sasaran ribuan nyamuk hutan yang menghisap darahnya hingga meninggalkan bintik merah meradang. Kabut tebal menutupi pandangannya, binatang buas mengintip di balik semak, namun anak sedarah Dayak ini tak pernah mundur walau selangkah!
Di Padepokan Nyarumkop, setelah dipermandikan pada tahun seribu sembilan ratus lima puluh, gurunya, Pastor Martinus van Stralen OFM Cap., melihat kilatan baja di mata bocah ini dan memasukkannya ke Seminari Menengah Santo Paulus Nyarumkop. Di sinalah tirakat yang sesungguhnya dimulai. Ketika anak-anak seusianya bermain, Bumbun duduk bersila di dalam kapel yang remang-remang, bertarung melawan rasa kantuk dan dinginnya malam yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Air matanya menetes di atas lantai kayu saat memohon kekuatan untuk bangsanya.
Latihan batin itu dilanjutkannya hingga ke novisiat Kapusin di Parapat, Sumatera Utara. Dan lihatlah! Orang Dayak kecil yang dahulu dihina dan kelaparan itu bangkit bagai naga sakti yang keluar dari gua gelap! Pada tanggal dua puluh tujuh Juli tahun seribu sembilan ratus enam puluh tujuh ia ditahbiskan menjadi imam. Dan garis takdir membawanya menjadi Uskup Auksilier Pontianak pada sembilan belas Desember tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh lima, menerima tahbisan episkopal pada dua puluh tujuh Mei tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh enam, hingga puncaknya pada tanggal dua puluh enam Februari tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh tujuh, ia resmi menjadi Uskup Agung Pontianak, pendekar Dayak pertama yang memegang tongkat gembala di atas tanah leluhurnya sendiri!
Namun di balik jubah kebesarannya, moto yang terukir di dadanya ditulis dengan tinta darah: Amor non amatur! (Cinta tidak mencintai). Ia memilih berjalan di jalan yang sunyi, mendatangi kaum pinggiran yang bau dan kotor bagai pengembara yang terluka parah. Di mana ada rakyatnya menangis karena ditindas, di situ ia hadir memeluk mereka. Di mana ada anak kelaparan, ia memberikan makanannya sendiri walau perutnya sendiri melilit. Ia menghabiskan seluruh sisa tenaga batinnya demi umat, hingga pada tanggal tiga puluh September tahun dua ribu dua puluh empat, di usia delapan puluh tujuh tahun, sang naga tua ini mengembuskan napas terakhirnya. Ia tidak tumbang dengan ratapan, melainkan rebah dengan senyuman yang teramat indah di wajahnya. Selesai sudah tugasnya, tuntas sudah sumpahnya hingga titik darah penghabisan!
Mgr. Agustinus Agus
Siapakah pendekar kedua yang meniti jalan pedih ini? Dari kampung Lintang Kapuas di tanah Sanggau yang waktu itu masih gelap gulita dicekam kebodohan dan keterpencilan, tepat pada hari Selasa, tanggal dua puluh dua November tahun seribu sembilan ratus empat puluh sembilan, lahirlah Agustinus Agus, putra dari pasangan Markus Budjang dan Maria Djoi.
Baca Sihir Band PTHB Tainam Menggelora Jiwa Muda dan Mengusik Tidur Malam Kami - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (96)
Anak kampung ini tumbuh di antara derasnya sungai keruh yang berbahaya dan hutan belantara yang mengerikan. Pada zaman itu, jangankan kemewahan, listrik pun belum menjamah kampungnya, sinyal suara belum dikenal. Hidupnya hanya dikelilingi oleh peluh yang bercucuran, air mata kemiskinan yang seolah tak pernah mengering, dan tekad yang berkobar bagai lahar gunung berapi di dalam dadanya.
Nyarumkop-lah yang merubah batu kali ini menjadi permata yang berkilauan. Di padepokan keramat itu, Agus menempa diri tanpa ampun. Tubuhnya dipukul oleh kedisiplinan yang amat keras bagai baja yang dihantam berulang-ulang di atas landasan besi. Hati dan pikirannya disucikan. Kesunyian malam Nyarumkop menjadi saksi bagaimana pemuda ini bergulat dengan badai batin, membuang segala keinginan duniawi demi memeluk salib suci.
Perjalanan ilmunya melesat jauh hingga ke Seminari di Yogyakarta, bahkan menyeberangi samudra luas hingga ke Amerika Serikat. Namun setinggi apa pun ia terbang, jiwanya tetaplah jiwa anak kampung yang bersahaja. Pada tanggal enam Juni tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh tujuh, ia ditahbiskan menjadi imam di Gereja Santo Petrus Paulus Sekadau. Air mata ibunya menetes melihat sang anak kini telah menjelma menjadi abdi Tuhan.
Langkah saktinya tak terbendung. Pada tanggal dua puluh sembilan Oktober tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan ia diangkat menjadi Uskup Sintang dan ditahbiskan pada enam Februari tahun dua ribu. Lalu pada tanggal tiga Juni tahun hai dua ribu empat belas, Paus Fransiskus menunjuknya untuk menduduki kursi Uskup Agung Pontianak, melanjutkan tongkat estafet dari pendekar sepuh Monsinyur Bumbun yang mulai renta.
Baca Siasat Keluar Malam Mengelabui Pendekar Tan Un Mao menuju Panggung Hiburan di Tainam - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (95)
Orang-orang menggelarinya Uskup Pembangunan. Mengapa? Karena jurus andalannya yang digetarkan ke seluruh bumi adalah Instaurare Omnia in Christo, Membangun kembali segala sesuatu di dalam Kristus! Tetapi bertanyalah wahai pembaca, dengan apa ia membangun? Ia membangun bukan sekadar dengan tumpukan bata dan semen yang dibeli dengan uang, melainkan ia memeras keringatnya, menyumbangkan kesehatannya, mengorbankan tulang dan dagingnya sendiri demi berdirinya rumah-rumah ibadah dan tempat bernaung bagi kaum papa!
Bahkan ketika masa jabatannya usai pada tahun dua ribu dua puluh kesembilan atau dua ribu dua puluh lima, ia tidak memilih beristirahat di tempat yang mewah. Dengan langkah yang mulai melambat dan tangan yang gemetar dimakan usia, ia kembali ke padepokan keramat Nyarumkop. Di sana, di atas tanah yang melahirkannya kembali secara rohani, ia meletakkan batu pertama rumah istirahat. Air mata menetes di pipinya yang berkerut, sebuah pemandangan yang menghancurkan hati siapa pun yang melihatnya, karena sang pendekar sejati tidak akan pernah melupakan tempat di mana jiwanya pertama kali ditempa!
Mgr. Samuel Oton Sidin
Lalu siapakah pula pendekar ketiga yang menyempurnakan trilogi agung ini? Dari tanah Peranuk, Teriak, Bengkayang yang tanahnya keras bagai batu dan udaranya menusuk kalbu, tepat pada hari Minggu, tanggal dua belas Desember tahun seribu sembilan ratus lima puluh empat, munculah Samuel Oton Sidin.
Penampilannya sungguh gagah, tubuhnya tegap lurus bagai pohon ulin purba yang tak akan tumbang walau diamuk badai dan taufan terkencang sekalipun. Pandangan matanya selalu teduh dan tenang, menenangkan jiwa yang gundah bagai permukaan danau di tengah badai. Namun jangan salah, hatinya adalah besi baja yang telah disepuh seribu kali di dalam api cobaan hidup!
Di Nyarumkop, ia menerima pembentukan awal yang teramat keras, sebuah proses pembersihan diri yang mengiris jiwa hingga ke sumsum tulang yang paling dalam. Ego dan kedagingannya dihancurkan sampai lumat, ego manusiawinya dimatikan agar diganti dengan kerendahan hati yang sejati. Pada tanggal dua belas Januari tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh tujuh, ia melangkah mantap memasuki novisiat Kapusin Santo Fidelis Sigmaringen di Parapat. Janji setia sehidup semati berupa Kaul Kekal diucapkannya dengan suara bergetar penuh keyakinan pada delapan belas Juli tahun seribu sembilan ratus delapan puluh dua, hingga akhirnya pada tanggal satu Juli tahun seribu sembilan ratus delapan puluh empat, ia ditahbiskan menjadi imam di tanah kelahirannya sendiri.
Ia sempat mencurahkan ilmunya sebagai pastor rekan di Paroki Santa Maria Nyarumkop, sebelum akhirnya terbang ke kota abadi Roma, menuntut ilmu spiritualitas di Universitas Kepausan Antonianum hingga meraih gelar Doktor. Kebijaksanaannya membuat ia dipercaya dua kali memimpin sebagai Provinsial Kapusin Provinsi Pontianak. Namun, di luar tembok-tembok biara, pendekar ulin ini juga turun ke hutan-hutan yang gundul, menanam pohon dengan tangannya sendiri, membela alam yang dirusak oleh keserakahan manusia hingga negara menganugerahinya penghargaan Kalpataru!
Saat langit seolah terbelah dan panggilan suci datang bagai petir di siang bolong, pada tanggal dua puluh satu Desember tahun dua ribu enam belas ia diangkat menjadi Uskup Sintang dan ditahbiskan pada dua puluh dua Maret tahun dua ribu tujuh belas. Di dalam dadanya yang bergemuruh, ia menggenggam erat senjata batinnya: Non ego sed Christus in me. Bukan aku, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku!
Kini, sejak tanggal tiga puluh Agustus tahun dua ribu dua puluh lima, pendekar berbaju cokelat ini berdiri tegak sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak. Tangannya yang kasar memegang tongkat estafet kepemimpinan yang masih sangat basah, basah oleh tetesan keringat yang mengucur deras dan air mata haru dari dua pendekar pendahulunya. Senjatanya bukanlah pedang yang menebas leher, jurusnya bukan pukulan yang meremukkan dada musuh. Senjatanya adalah kesetiaan mutlak yang tak akan pernah goyah atau retak, bahkan jika langit di atas kepalanya harus runtuh dan bumi terbelah sekalipun!
Mgr. Victorius Dwiardy, OFM Cap
Gumpalan awan putih menaungi bumi Sebalos, Sango, Sanggau Ledo, Bengkayang, tempat lahirnya seberkas cahaya rohani pada 14 Desember 1968. Anak petani sederhana dari umat Gereja Santo Pius X Bengkayang ini diberi nama lengkap Mgr. Victorius Dwiardy, OFM Cap.
Sejak belia, pendekar muda ini telah digembleng oleh kerasnya alam Kalimantan Barat serta nilai kesederhanaan hidup yang ditanamkan keluarganya. Setelah menamatkan pendidikan dasar di SMP Negeri Sanggau Ledo, panggilan suci menuntunnya menuju sebuah padepokan legendaris di kaki Gunung Poteng, yaitu SMA Seminari Menengah Santo Paulus Nyarumkop, Singkawang. Di bawah gemblengan disiplin tinggi Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN), watak dan karakter sang calon ksatria rohani ditempa hingga menjadi sekuat baja, siap untuk mengarungi samudra pengabdian yang luas di kolong langit.
Demi meresapi ilmu spiritual tingkat tinggi, sang pengembara menyeberangi lautan menuju padepokan STFT Santo Yohanes di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada rentang tahun 1989 hingga 1998 untuk membedah kitab filsafat dan teologi suci. Ketekunan luar biasa ini mengantarkannya pada hari agung Tahbisan Imam pada 10 Oktober 1998. Sejak saat itu, langkah kaki pelayanannya melesat tiada tertahankan di medan bakti rohani. Kecakapan batin serta ketulusan sikapnya membawa sang imam menduduki posisi penting sebagai Sekretaris Keuskupan Agung Pontianak pada kurun waktu 2008 hingga 2012, sebelum akhirnya terpilih menjadi Minister Provinsial Kapusin Provinsi Pontianak pada 2012 sampai 2013.
Keharuman nama dan kebijaksanaan luhur Mgr. Victorius Dwiardy, OFM Cap bahkan terdengar hingga ke pusat dunia di benua seberang. Takhta Suci memanggilnya ke kota abadi Roma, Italia, untuk mengemban amanat internasional yang amat berat sebagai Anggota Konsili Umum Ordo Saudara Dina Kapusin selama satu dasawarsa penuh dari tahun 2013 hingga 2023. Di sana, ia bergaul erat dengan para petinggi gerejani sedunia, namun jiwanya tetap teguh mempertahankan kesederhanaan sejati seorang anak petani seberang lautan.
Puncak dari penggalan kisah pengabdian ini terjadi ketika fajar baru menyingsing bagi umat di tanah Kalimantan Selatan. Pada 8 Juli 2023, Bapa Suci Vatikan secara resmi menunjuknya untuk memimpin umat sebagai Uskup Banjarmasin, yang kemudian disusul oleh upacara Tahbisan Uskup yang amat agung dan syahdu pada 4 November 2023.
Di bawah panji motto pelayanan "Ardere Et Lucere" yang bermakna: Berkobar dan Bercahaya, pemimpin yang dikenal sangat sederhana dan bijaksana ini kini berdiri tegak di garis depan. Beliau siap membaktikan seluruh jiwa raganya demi menyalakan pelita iman sejati serta melayani Gereja dan masyarakat luas dengan ketulusan hati yang murni lahir batin di kolong langit Nusantara.
Baca Menjaga Sekabu dalam Pusaran Konflik Madura-Dayak 1979 di Sendoreng - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (88)
Jangan sekali-kali engkau berani berkata bahwa masa silat dan kepahlawanan telah lenyap dari muka bumi! Jangan mengira bahwa jagoan-jagoan sejati hanya ada dalam dongeng kuno masa lalu!
Selama masih ada manusia-manusia suci yang rela menanggalkan segala kenyamanan hidup demi menegakkan kebenaran dan keadilan…
Selama masih ada orang yang dengan sukarela memilih berjalan di atas jalan terjal yang berlumuran darah dan penuh duri, daripada duduk santai di atas kursi empuk yang dilumuri madu duniawi…
Selama masih ada orang yang dengan gagah berani menghunus tanda salib sebagai senjata utama untuk membalas kejahatan dengan pengampunan…
Baca Pernikahan Silang Dayak-Tionghoa sebagai Bu-tong Literasi Budaya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (85)
Di tengah-tengah riuh rendahnya rimba persilatan modern yang penuh kepalsuan ini, empat nama agung itu akan terus hidup, terus abadi, dan terus digoreskan di dalam lubuk hati umat manusia dengan tinta emas yang tak akan pernah pudar oleh sang waktu:
- Hieronymus Herculanus Bumbun (Lahir Jumat, 5 Agustus 1937)
- Agustinus Agus (Lahir Selasa, 22 November 1949)
- Samuel Oton Sidin (Lahir Minggu, 12 Desember 1954)
- Mgr. Victorius Dwiardy, OFM Cap. (Lahir pada 14 Desember 1968
Mereka adalah Empat Pendekar Sejati yang dilahirkan dari rahim Padepokan Sunyi Nyarumkop! Empat jiwa suci yang berhasil menaklukkan dan menundukkan keangkuhan dunia, bukan dengan kekejaman mata pedang baja, melainkan dengan ketajaman cinta kasih yang jauh lebih tajam dari seribu bilah pedang, lebih dahsyat dari sejuta jurus maut. Dan lebih kekal daripada gunung-gunung tinggi yang menjulang menembus langit tirai awan!
Demikianlah kisah yang mengharu biru ini ditorehkan dengan tangan yang gemetar menahan getaran rasa, dan hati yang tersedu-sedu.
Baca Tan Un Mao dan Lim Kheng Siang: Dua Resi Sakti PKN dengan Jurus Naga Api - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (83)
Agar anak cucu kelak di kemudian hari tahu dan ingat. Bahwa di balik kesederhanaan sebuah komplek sekolah di desa kecil yang selalu diliputi kabut dingin, tersembunyi sumber mata air kekuatan rohani yang mampu mengguncang langit dan bumi!
Masri Sareb Putra
Narasi based on facts and a true story.
Tangerang Selatan, siang yang tenang, 5 Oktober 2026.
0 Comments