RPL Suyadi Kusumaprawira, Jurus Melawan Kantuk di Kelas dan Doa "Bapa Kami" Sebelum Pelajaran yang Dinyanyikan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (109)

 

RPL Suyadi Kusumaprawira, Jurus Melawan Kantuk di Kelas dan Doa "Bapa Kami" Sebelum Pelajaran yang Dinyanyikan
RPL Suyadi Kusumaprawira, SMA Seminari St. Paulus Nyarumkop dengan jurus lucu yang tegas. Ist.

Malam telah jatuh. Luruh sepenuhnya melingkupi rimba raya belantara Kalimantan Barat dengan jubah hitamnya yang pekat. Di bawah lindungan langit kelam yang bertabur bintang, bertumpu pada lereng Gunung Poteng yang angkuh dan diselimuti misteri. Berdirilah kompleks bangunan tua SMA Seminari St. Paulus Nyarumkop bagaikan sebuah benteng sunyi yang memancarkan aura wibawa magis. 

Hawa dingin yang menusuk kalbu mengalir bersama riak jernih Sungai Sekabu, yang airnya terus mengalir membelah kesunyian malam tanpa henti. 

Baca  - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (108)

Angin gunung berhembus sedingin es, mendesau di antara celah jemari daun tua laksana bisikan halus para leluhur yang sedang menguji keteguhan iman. Dalam keheningan Nyarumkop yang begitu mutlak pada ketika itu, suara jangkrik pun seolah enggan mengusik malam, menciptakan atmosfer yang mencekam sekaligus suci. 

Bayang-bayang pohon raksasa merayap perlahan di dinding asrama, meliuk-liuk seperti cakar monster kegelapan yang siap menerkam sukma. Di dalam padepokan suci tempat mencetak para calon gembala ini, atmosfer ketegangan merayap halus, begitu pekat hingga mampu menusuk tulang sumsum.

Doa "Bapa Kami" yang dinyanyikan sebelum pelajaran

Di saat-saat kritis bertaruh nyawa melawan kantuk ketika pelajaran Geografi dan PMP itulah. Suyadi Kusumaprawira melangkah dengan gagah ke depan kelas. Langkah kakinya seringan kapuk, tiada bersuara, seolah menyatu dengan gemercik gaib air Sungai Sekabu, namun getaran auranya begitu kuat menekan seisi ruangan. Meskipun beliau bukanlah seorang penggawa mata pelajaran Agama, keluhuran budinya tak pernah melupakan Sang Pencipta. 

Baca Frans Tsai dan Moses Alep: Alumni Tertua Reuni Akbar 110 Tahun PKN dengan Aura Kasih - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (107)

Sebelum jurus-jurus ilmu niaga yang rumit dilepaskan, Sang Guru selalu mengawal pelajaran dengan mengajak para siswanya menaikkan Doa "Bapa Kami" sebelum Pelajaran yang dinyanyikan. Uniknya, doa itu tidak diucapkan secara kaku, melainkan dialunkan dalam sebuah kidung suci yang indah, menggetarkan tiang-tiang bangunan di tengah sunyinya Nyarumkop: 

"Bapa kaami yang di surga, dimuliakan namaa-Mu, datanglah kerajaan-Mu, di bumi dan di surga..."
Manakala bait kidung sakral itu menyentuh baris "berilah kami rejeki hari ini", seketika atmosfer kelas berubah menjadi sangat khusyuk, hening, sekaligus mengundang senyum geli yang tertahan. Tampak Pak Suyadi mengatupkan kedua belah tangannya di depan dada dengan takzim. Kepalanya menengadah ke atas laksana seorang pertapa suci yang sedang memohon wahyu dari langit, dan kedua matanya terpejam rapat dengan penuh kepasrahan jiwa.

Suasana begitu khidmat lagi sakral bagai di puncak gunung suci. Seolah-olah jika ada satu helai rambut murid yang jatuh ke lantai, suaranya akan terdengar seperti dentuman meriam. Sebuah pemandangan spiritual yang mendalam, memperlihatkan kepatuhan mutlak seorang manusia sebelum ia meledakkan seisi kelas dengan jurus banyolan mautnya.

Amukan jurus pemancing tawa

 ketenangan spiritual itu hanyalah sebuah awal dari badai yang akan mengguncang malam. Begitu bait doa terakhir selesai dikumandangkan, suasana hening itu pecah seketika. Dari sepasang bibirnya yang kaku, Sang Guru langsung melepaskan jurus pamungkas yang tak terduga!

Baca Ketika Sihir Gunung Poteng Memanggil Pulang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (106)

Bagaikan anak panah rahasia yang melesat cepat di kegelapan lereng Poteng, kata-kata selorohnya meluncur deras tanpa peringatan. Ajaibnya, serangan verbal ini bukannya mematikan, melainkan memancing gelak tawa yang meledak hebat bagaikan petir di siang bolong, seketika menghancurkan sisa-sisa hawa kantuk dan keheningan malam yang sunyi.

Di tengah-tengah para murid yang terpingkal-pingkal memegangi perut dan mandi air mata menahan tawa, wajah Sang Guru tetap lempeng, dingin, polos, dan tenang tanpa riak. Beliau berdiri tegak laksana patung batu giok yang tak berdosa, seolah tidak pernah melepas jurus pemancing tawa sama sekali. Sungguh sebuah tingkat pengendalian emosi yang telah mencapai maqam tertinggi!

Puluhan tahun telah bergulir bagai air sungai yang mengalir ke samudra, namun keindahan untaian kata jenaka penuh magis dari Sang Guru tetap menggema abadi di dalam sanubari para cantriknya:

• "Selamat siang, Hitung Dagang!"

Sebuah salam pembuka yang menggelegar membelah keheningan kelas, seolah-olah beliau sedang memanggil khodam dari kitab niaga kuno untuk bangkit dan menari di atas meja.

• "Dahulu siswa-siswa seminari di sini, jangankan melirik cewek, bersiul pun wajib lagu Jubilate!"

Baca Misionaris yang Bertaruh Nyawa, Menabur, Menyiram, dan Memelihata PKN - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)

Sebuah kelakar suci yang diucapkan dengan nada sedingin salju lereng Poteng, melukiskan betapa ngerinya disiplin besi masa lalu, di mana setiap desah napas harus bermuara pada kidung pujian.

• "Sang Raja Minyak Rockefeller, kalau diambil sampel darahnya yang keluar oli."

Kalimat ini diucapkan dengan tatapan mata yang tajam menembus sukma, sebuah metafora tingkat tinggi yang menggambarkan betapa jiwa kapitalis sang miliarder telah menyatu dengan cairan mesin.

• "Kalian anak asrama Widya hebat; Jangan minder. Makanannya kebarat-baratan, bulgur."

Sebuah mantra penghibur di tengah kegelapan malam, mengangkat derajat bubur asrama yang sederhana menjadi kuliner mistis berkelas internasional demi menyalakan kembali api semangat yang nyaris padam.

Baca Dua Malam Hiburan Reuni Akbar 110 Tahun PKN Membuka Pintu Masa Lalu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)

• "Lagu Pak Sakerah..."

Beliau memberi nama baru bagi lagu daerah Madura Tanduk Majeng dengan suara berbisik yang berat, memberi kesan mistis seolah-olah sosok Pak Sakerah yang legendaris sedang mengawasi mereka dari balik tirai jendela kelas.

• "Putussibau tidak jauh dari Putussambung..."

Sebuah permainan kata yang membolak-balik logika ilmu bumi, seketika meruntuhkan seluruh atmosfer tegang dan mencekam dengan derai tawa yang membebaskan jiwa dari belenggu kedukaan.

Seloroh Pak Suyadi yang khas, sebenarnya menyindir, masih segar dalam kepala salah satu muridnya, Bonefasius.
"Yesus saja berpuasa 40 hari 40 malam tidak mengeluh. Kalian yang makan 3 kali sehari dengan kangkung, bulgur tambah susu aji sudah mengeluh. Saya bukan ahli kitab dan taurat. Saya hanya gemar membaca."

Demikian canda beliau yang mengocok perut.

Sebuah satire khas ningrat Jawa yang disampaikan secara halus namun menohok melalui perbandingan spiritual yang kontras. Beliau menyentil mentalitas manusia yang mudah mengeluh dengan membandingkan keteguhan Yesus yang berpuasa 40 hari 40 malam tanpa keluhan, terhadap kehidupan para murid yang sebenarnya sudah berkecukupan karena bisa makan tiga kali sehari dengan menu kangkung, bulgur, hingga susu.

Sindiran ini ditutup dengan kalimat yang mencerminkan sikap andhap asor (kerendahan hati) khas Jawa, di mana Pak Suyadi menegaskan bahwa dirinya bukan ahli kitab melainkan hanya gemar membaca. Ungkapan ini menunjukkan bahwa pemahaman spiritual yang mendalam tidak selalu lahir dari status atau gelar keagamaan, melainkan dari ketajaman rasa dan kebiasaan merenungkan esensi kehidupan yang diperoleh lewat membaca.

Obor penerang sanubari cantrik

Maka, benarlah kata pepatah kuno: Senjata yang paling ampuh di jagat raya ini bukanlah sebilah pedang pusaka yang haus darah, bukan pula pukulan tenaga dalam yang mampu meruntuhkan gunung. 

Baca Rentak Musik dan Volley PKN Sanggau Plus 1978: Promosi Jitu Zaman Itu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (105)

Senjata sejati adalah ketulusan hati yang dibalut kebaikan. Banyak pendekar mengira bahwa kepatuhan dapat dipaksakan melalui ketakutan, padahal ketakutan hanyalah melahirkan kepalsuan.

Pak Suyadi telah membuktikan kepada dunia persilatan pendidikan, bahwa menaklukkan jiwa-jiwa muda tidak perlu dengan hawa membunuh yang pekat atau cambuk amarah yang menyiksa. Lewat ketenangan wajahnya yang polos dan pancaran humor yang membebaskan, beliau telah menanamkan benih ilmu di dalam tanah sanubari yang subur. 

Tawa yang beliau ledakkan adalah obat penawar bagi jiwa yang lelah, dan kenangan yang beliau tinggalkan adalah obor penerang yang tak akan pernah padam, meski raga telah lama dipisahkan oleh jarak dan waktu.

Masri Sareb Putra
Based on a true story seperti dikisahkan Bang Maliki kepadaku.
Tangsel, pagi 8 Oktober 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.