Kerubin OFM Cap., Padri Berjenggot Naga Penjaga Kemurnian dengan Teologi Pra-konsili Vatikan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (108)

Kerubin OFM Cap.,  Padri Berjenggot Naga Penjaga Kemurnian dengan Teologi Pra-konsili Vatikan
Pastor Kerubinus, OFM Cap,: penjaga kemurnian siswa seminari dengan Teologi Pra-Konsili. Dokpri.

Ia laksana sebatang pohon cemara tua yang berdiri kokoh di kaki Gunung Poteng tanpa goyah sedikit pun oleh terpaan angin badai fana. 

Siapakah sesungguhnya rahasia kekuatan batin tersembunyi yang bersemayam dalam dada sang pandita suci ini? Berpuluh tahun mengasingkan diri dari gemerlap dunia luar, jiwanya telah ditempa oleh keheningan lereng gunung dan kabut sunyi yang menyimpan seribu satu misteri tak terungkap. 

Baca Frans Tsai dan Moses Alep: Alumni Tertua Reuni Akbar 110 Tahun PKN dengan Aura Kasih - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (107)

Keindahan perilakunya yang agung. Namun diselimuti selubung misteri terdalam. Membuat siapa pun yang memandang akan bertanya-tanya dalam hati: kekuatan angkasa macam apakah yang melindungi sosok linuwih ini dari kehancuran jagat fana yang fana?

Dialah Pastor Kerubinus, OFM Cap. Seorang padri sakti dari Ordo Kapusin yang memiliki perbawa unik dan keteguhan rohani luar biasa. Perawakannya tinggi besar lagi tegap, memancarkan aura wibawa yang membuat seisi padepokan Wisma Widya dan Wisma Rini menaruh rasa jeri sekaligus hormat yang amat besar. 

Garis-garis wajahnya teramat tegas menyiratkan kedalaman prinsip hidup yang kaku, kontras dengan kacamata berbingkai tebal yang bertengger di hidungnya.

Di bawah tatapan matanya yang tajam, tumbuh seberkas kumis serta jenggot lebat yang unik; jenggot dan kumis itu akan bergerak naik turun dengan lincah sepadan dengan untaian kata yang keluar dari mulutnya tatkala ia membabarkan ajaran kebaikan ilmu Agama kepada para cantrik angkatan muda. 

Baca Ketika Sihir Gunung Poteng Memanggil Pulang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (106)

Di era kejayaan padepokan tersebut, beliau diserahi tugas untuk menggembleng batin para murid, sebelum akhirnya pada tingkat kelas dua tongkat estafet pengajaran digantikan oleh Suster Rosa.

Disiplin besi Teologi Konservatif

Sebagai pengasuh batin di lingkungan seminari, Pastor Kerubinus menerapkan disiplin yang sangat teguh. Konsep teologis kuno yang dianutnya memandang dengan sangat ketat bahwa awal mula kejatuhan manusia ke dalam jurang dosa pertama bermula dari godaan Hawa. 

Oleh karena itu, ia memegang erat-erat asas Teologi Pra-Konsili yang melarang keras anak-anak seminari untuk terlalu rapat atau berdekatan dengan kaum perempuan. Hati seorang calon imam harus menjaga kesucian batinnya agar tetap murni tanpa tergoar sedikit pun oleh getaran asmara keduniawian yang dapat meruntuhkan keteguhan rohani.

Manakala mata tajam Pastor Kerubinus menangkap basah kami, anak-anak seminari, kedapatan sedang berdekatan atau curi-curi pandang dengan kaum perempuan, seketika itu juga langkahnya akan terhenti. Wajahnya yang perkasa akan menampakkan gurat ketegasan, lalu ia akan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengacungkan jari telunjuknya, digerakkan ke kiri dan ke kanan memberikan isyarat peringatan yang sangat khas: ne ne ne! Sebuah isyarat tanpa kata yang maknanya lebih tajam dari sebilah pedang, mengingatkan para cantrik untuk segera kembali ke jalan keheningan rohani.

Baca Rentak Musik dan Volley PKN Sanggau Plus 1978: Promosi Jitu Zaman Itu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (105)

Suasana mencekam seketika merayap laksana hawa dingin pegunungan yang menusuk tulang. Wibawanya yang laksana petir di siang bolong membuat para murid menaruh rasa jeri yang besar. Apabila sosok tinggi besar Pastor Kerubinus mulai tampak dari kejauhan melintasi selasar padepokan, serta-merta anak-anak seminari yang tadinya jenaka dan suka bersenda gurau akan langsung bungkam seribu bahasa. Udara di sekeliling mendadak membeku. Mereka serentak akan pura-pura alim, bersikap santun, dan tidak berani bernapas terlalu keras demi menghindari teguran kilat sang guru yang sanggup meruntuhkan nyali.

Guntur kilat di altar suci

Keunikan sang padri semakin nyata bilamana ia tengah memimpin upacara Misa Suci yang sakral. Bagi Pastor Kerubinus, keheningan di hadapan Sang Agung adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Suasana di dalam rumah ibadah haruslah senyap laksana keheningan malam di puncak gunung, bebas dari segala hiruk-pikuk keduniawian.

Baca Dua Malam Hiburan Reuni Akbar 110 Tahun PKN Membuka Pintu Masa Lalu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)

Namun, manakala kesunyian malam dikoyak oleh bisik-bisik lancang para cantrik, atmosfer di dalam gereja gotik itu seketika berubah mencekam. Hawa mistis yang pekat mendadak menekan dada. Sang pastor akan menghentikan Misa Suci seketika. Gerakannya terhenti, menciptakan jeda sunyi yang begitu mengerikan hingga detak jantung pun seolah terdengar. Bagaikan seorang pendekar linuwih yang menghunus pedang keadilan, ia membalikkan badan dengan sorot mata yang menyala di balik kacamata tebalnya. Jari telunjuknya teracung lurus menusuk kegelapan, mengarah tepat ke hulu sumber kegaduhan, disusul bentakan menggelegar yang membelah keheningan, 

"Kurang ajarrrr!"

Suara itu laksana guntur yang meruntuhkan tiang-tiang penyangga batin, membuat siapapun yang mendengarnya gemetar didera ketakutan gaib. Anehnya, seakan tanpa jeda sedikit pun dan tanpa menyisakan riak kemarahan di wajahnya, ia langsung berbalik kembali menghadap altar. Misa Suci berlanjut dalam khidmat yang luar biasa pekat, meninggalkan getaran jeri yang membekas dalam sanubari para cantrik, sebuah pelajaran batin bahwa di hadapan Yang Maha Kudus, manusia hanyalah debu yang harus tahu diri.

Badai karya Misi dan Katolik Indonesia

Jagad persilatan Misi dan Karya Katolik di Indonesia seketika diguncang badai besar yang dahsyat ketika Menteri Agama Alamsjah Ratuprawiranegara menurunkan dekret sakti berupa Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 70 Tahun 1978 tentang Pedoman Penyiaran Agama. 

Baca Misionaris yang Bertaruh Nyawa, Menabur, Menyiram, dan Memelihata PKN - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)

Pukulan ini semakin bertambah hebat dengan lahirnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Nomor 1 Tahun 1979 yang membatasi ruang gerak serta secara bertahap melarang kehadiran tenaga rohaniwan asing berkarya di bumi Nusantara.

Kebijakan ini laksana jurus pamungkas yang menghantam jantung pertahanan pendidikan Katolik dengan atmosfer ketidakpastian yang mencekam. Selama berpuluh tahun, jalannya padepokan-padepokan ilmu di pedalaman sangat bergantung pada bimbingan serta tenaga dalam dari benteng rohaniwan seberang lautan. Dampak dari rentetan regulasi KMA No. 70/1978 dan SKB No. 1/1979 ini memaksa dunia misi melakukan reorganisasi sosial secara radikal dari dalam, memicu kecemasan hebat sekaligus menuntut para aktor lokal untuk segera bangkit menjadi tulang punggung yang mandiri.

Demi membahas urusan genting yang mengancam masa depan persekolahan ini, datanglah petinggi Bimas Katolik berkunjung ke Nyarumkop. 

Utusan yang memimpin rombongan itu adalah Brigjen TNI Ign. Djoko Moeljono, seorang perwira tinggi militer berseragam tegas laksana panglima perang yang turun ke medan laga. Sebuah musyawarah besar segera digelar di aula terbuka, dihadiri oleh para guru, pastor, siswa-siswa PKN, serta sang pemimpin tertinggi, Uskup Agung Mgr. Hieronymus Bumbun, OFM Cap.

Baca Sihir Band PTHB Tainam Menggelora Jiwa Muda dan Mengusik Tidur Malam Kami - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (96

Di hadapan sang jenderal tentara yang membawa mandat kekuasaan negara, suasana diskusi berlangsung penuh ketegangan dan tanda tanya besar. Di tengah situasi krusial itulah, Pastor Kerubinus berdiri tanpa rasa jeri sedikit pun. Sebagai seorang padri linuwih yang paham betul bahwa regulasi ini akan mengubah peta bumi misi dan benteng pendidikan Katolik secara drastis, ia langsung melontarkan pertanyaan yang sangat menusuk ke inti perkara mengenai apa hal yang relevan serta apa yang menjadi konsekuensi nyata dari berlakunya SK tersebut. Pertanyaan itu merupakan refleksi kritis seorang pendekar iman yang bersiap menghadapi transformasi zaman, demi membela masa depan paroki serta kelangsungan pendidikan anak bangsa di tanah kelahirannya.

Penjaga kemurnian seumur-umur

Waktu berputar laksana roda pedati fana, dan sepuluh tahun pun berlalu tanpa terasa dalam panggung sejarah dunia. Garis takdir kemudian membawa saya melangkah ke bumi Khatulistiwa, di mana pada tahun 1988, sepasang mata ini kembali dipertemukan dengan sosok Pastor Kerubinus. Pertemuan yang tak disangka-sangka itu terjadi di dalam ruang makan pastoraan Katedral Pontianak yang anggun. 

Siang itu, suasana terasa begitu agung dan khidmat karena saya mendapat kehormatan untuk ikut serta dalam sebuah jamuan makan siang bersama para petinggi dan tetua suci Keuskupan.

Usai perjamuan yang dipenuhi obrolan berbobot mengalir tenang, kami bersama-sama melangkah ke halaman dalam pastoraan katedral untuk mengabadikan momen tersebut dalam lembaran foto bersama. Di bawah naungan langit Pontianak yang terik, saya menatap lekat-lekat sosok tua yang berdiri di sana.

Baca Teringat Benny Nungkat yang tak Ingin Menyendiri - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (92)

Sebuah refleksi mendalam seketika mengetuk pintu kesadaran saya. Manusia boleh berubah, zaman boleh bergeser, dan badai modernitas bisa saja meruntuhkan apa yang dianggap usang. Namun dari getaran aura kepanditannya serta tutur kata yang tersaji sepanjang siang itu, keyakinan di dalam hati saya tak tergoyahkan barang seujung rambut pun: Pastor Kerubinus tetaplah sosok yang dulu, seorang pendekar iman yang teguh memegang erat-erat asas Teologi Pra-Konsili Vatikan.

Bagi jiwanya yang sekokoh cemara tua, kemurnian ajaran lama bukanlah belenggu masa lalu, melainkan sebuah sauh yang menjaga jangkar rohani agar tidak hanyut tersapu ombak zaman yang kian tak menentu. 

Kerasnya disiplin yang dahulu dirasa mencekam, kini mewujud menjadi keindahan sebuah kesetiaan mutlak. Sebuah bukti otentik. Bahwa di tengah dunia yang terus berubah. Kita bersyukur, masih ada jiwa-jiwa linuwih yang memilih diam membatu demi menjaga api tradisi tetap menyala hingga embusan napas terakhir.

Masri Sareb Putra
Tangsel, pagi yang dini 8 Oktober 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.