Sihir Magis "Susu Ibu" Poteng yang Memanggil Pulang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (110)

Gunung Poteng yang Memanggil Pulang
Poteng tampak dari Singkawang. Sumber gambar: www.singkawang.info

Malam itu di tahun 2014. Jarum jam berputar sangat lambat di dalam kamar Hotel Dangau, Singkawang. Secara fisik, tubuhku memang sedang merebah di atas kasur empuk hotel setelah seharian menuntaskan agenda dinas luar kota dalam sebuah muhibah literasi. Namun, jiwa manusia bukanlah sepotong daging yang bisa dikurung oleh dinding batako. 

Ketika keheningan kota Singkawang mulai merayap. Sukmaku melesat pergi. Melompati jarak belasan kilometer menembus kegelapan malam, ditarik oleh kekuatan gaib yang tak kasatmata. Sihir magis Gunung Poteng yang penuh misteri tengah memanggil sukmaku untuk pulang!

Baca RPL Suyadi Kusumaprawira, Jurus Melawan Kantuk di Kelas dan Doa "Bapa Kami" Sebelum Pelajaran yang Dinyanyikan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (109)

Dalam perjalanan batin yang terasa amat nyata dan menggetarkan sanubari. Aku seolah-olah sedang melayang turun menuruni lereng-lereng sunyi Poteng yang diselimuti kabut basah nan mencekam. Kaki ruhaniku meniti jalan setapak yang dahulu begitu akrab dengan derap langkah masa mudaku. 

Kabut putih berarak laksana jubah para dewa, menyelimuti rimbunnya pepohonan purba yang berdiri angkuh di sepanjang jalan. Sayup-sayup terdengar suara gemercik air dari lembah Sungai Sekabu, berbisik lirih membelah kesunyian malam yang mendebarkan. Seakan-akan menyanyikan kidung kuno tentang rahasia alam fana. Langkah spiritual yang sunyi itu akhirnya terhenti tepat di depan gerbang sebuah tempat yang amat sakral di dalam ingatanku: Wisma Widya.

Baca Frans Tsai dan Moses Alep: Alumni Tertua Reuni Akbar 110 Tahun PKN dengan Aura Kasih - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (107)

Ah, entah kekuatan gaib apa yang telah menambat hatiku begitu erat di tempat ini! Reminiscences of the past, yaitu kilasan kenangan masa lalu yang membara bagai api unggun di tengah kegelapan, tiba-tiba bangkit mengguncang segenap dadaku.

Rasa-rasanya, detik itu juga aku benar-benar sedang melangkah di atas lantai papannya yang mulai berderit, menghirup aroma kayu tua asrama yang sarat akan wewangian waktu, dan kembali menginjakkan kaki di padepokan rohani tempat jiwaku dahulu digembleng dengan disiplin baja yang luar biasa keras. Wisma Widya juga merupakan wisma yang menghiasi jalur tepian Sungai Sekabu, seolah menjadi rangkaian permata spiritual yang berjajar anggun menjaga kesucian lembah sunyi tersebut.

Gunung Poteng sendiri bukanlah gunung sembarangan. Namanya telah menggetarkan seantero jagat Kalimantan Barat. Wahai pembaca budiman, panahkanlah ujung matamu ke puncak Poteng! Apa yang kau lihat di balik keangkuhan mega-mega itu?

Janganlah engkau terburu-buru berburuk sangka! Itu semata-mata adalah lambang suci dari sebuah puting kehidupan, sebuah hulu spiritual di mana setiap insan yang bernama "manusia" pernah datang untuk menyesap air hidup darinya.

Mungkin filosofi gaib itulah yang menjadi rahasia besar mengapa Poteng senantiasa meniupkan angin mantra, memanggil-manggil pulang setiap orang yang pernah hidup dan menempa diri di lembahnya. Sebuah panggilan sakral yang sarat akan kehangatan, bagaikan bisikan kasih seorang ibu kandung kepada anak-anaknya! Apabila dipandang dari kejauhan, pesonanya sungguh mencuri pandang, wujud siluet puncaknya menyerupai sepasang bukit dada seorang dara dewasa yang tengah telentang tidur menghadap langit cakrawala.

Baca Ketika Sihir Gunung Poteng Memanggil Pulang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (106)

Keasrian dan kesejukan alamnya begitu memesona hingga namanya abadi dalam untaian lirik jonggan, lagu daerah Dayak Kanayatn yang legendaris. Namun, ketahuilah bahwa alam senantiasa menyimpan rahasia watak manusia yang penuh tipu daya. Gunung ini adalah perwujudan nyata dari pepatah kuno "cantik gunung". Jika dilihat dari kejauhan tampak molek luar biasa, namun apabila engkau berani mendaki hingga ke tajuk puncaknya yang sangat sempit, yakni berdiameter sekitar enam meter, keindahan itu lenyap seketika, berganti dengan medan yang buruk, terjal, dan liar.

Bukankah demikian pula dengan dunia fana? Banyak hal tampak berkilau indah dari kejauhan, namun mendatangkan kekecewaan yang mendalam ketika didekati. Ada sebuah keunikan yang menggelitik hati jika kita merenungkan wujud alam di padepokan ini. Di bawah kolong langit, hukum alam biasanya menciptakan gunung dalam wujud kembar yang berdiri gagah bersisian, laksana sepasang pendekar kembar yang mengawal bumi. Namun, Gunung Poteng adalah sebuah perkecualian yang penuh misteri.

Ia berdiri kokoh secara tunggal. Hanya sebatang kara menantang badai! Namun pembaca, ketunggalannya justru menjadi pusat keagungan yang tiada taranya. Lihatlah puncaknya yang menyembul tegak menantang awan, sebatang kara namun memberi kehidupan bagi semesta di bawah kakinya. Sebuah filosofi mendalam bahwa pada akhirnya, manusia lahir dan menghadap Sang Pencipta dalam kesendirian yang mutlak.

Baca Misionaris yang Bertaruh Nyawa, Menabur, Menyiram, dan Memelihata PKN - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)

Saat jemari ruhaniku menyentuh tiang kayu Wisma Widya yang dingin membeku malam itu, sebuah getaran aneh merayap masuk ke dalam sumsum tulangku. Getaran ini membawa sebuah firasat samar yang amat mendebarkan tentang masa depan. Kelak, dua belas tahun dari sekarang, takdir yang digariskan oleh Dewa Agung akan membawa diriku kembali ke tanah suci ini. Bukan lagi sebagai penziarah sunyi yang meraba kegelapan malam, melainkan dalam sebuah perayaan akbar yang gemuruh dan disaksikan oleh ribuan pasang mata.

Di masa depan yang cerah itu, aku akan berdiri dengan kepala tegak, membawa sekeranjang buah kepenulisan hasil tempaan hidup, memegang sebuah buku tebal bermotif klasik, dan disambut oleh pelukan hangat ratusan pendekar alumni yang matanya berkaca-kaca. Namun, sebelum gerbang masa depan itu terbuka lebar, sukmaku kembali ditarik paksa oleh pusaran angin waktu, mundur jauh ke belakang, ke masa ketika batu pertama padepokan ini bahkan belum ditanam oleh para leluhur...

Awal mula darah dan pelita 1905 – 1916

Sukmaku terlempar hebat menembus tirai waktu, mendarat di tahun 1905. Angin pegunungan bertiup menderu-deru laksana lolongan serigala kelaparan yang tengah memburu mangsa, menghantam lereng Gunung Poteng yang menjulang angkuh membelah kabut Nyarumkop. Di bawah bayang-bayang puncak yang diselimuti kemisteriusan alam itu, seolah sedang terjadi pertarungan gaib antara kekuatan kegelapan malam dan seberkas cahaya suci yang mencoba bertahan hidup.

Baca Dua Malam Hiburan Reuni Akbar 110 Tahun PKN Membuka Pintu Masa Lalu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)

Di atas tanah cadas inilah, darah, keringat, dan air mata manusia berbaur menjadi satu dalam sebuah kisah perjuangan yang mampu mengguncang sukma bagi siapa saja yang mendengarnya. Semua ini bermula ketika takdir menuntun langkah para pater dari Ordo Kapusin untuk menginjakkan kaki di bumi Borneo Barat yang liar pada tahun 1905. Mereka datang ke tanah seberang ini bukan dengan niat menjajah, bukan pula membawa bedil yang menyemburkan peluru maut atau meriam yang menghancurkan kota.

Tidak, pembaca! Mereka datang semata-mata berbekal sepotong salib di dada dan pelita ilmu yang membara dari provinsi Belanda. Dari bumi Pontianak, para pengelana spiritual ini bergerak dengan tabah menyusuri garis pesisir yang ganas, menembus belantara Singkawang, hingga akhirnya tiba di ujung paruh parigi Pemangkat. Jiwa mereka berkobar oleh satu tekad yang suci: membebaskan anak-anak pedalaman dari cengkeraman hitam kebodohan!

Namun, iblis angkara murka rupanya tidak rela melihat pelita suci itu bersinar terang di atas bumi. Di hulu Sungai Sebangkau, di sebuah tempat sunyi yang bernama Pelanjau, para pater sempat mendirikan sebuah asrama sekolah yang bersahaja pada tahun 1911. Apa daya, manusia boleh merencana, namun badai cobaan datang menerjang tanpa ampun!

Baca Rentak Musik dan Volley PKN Sanggau Plus 1978: Promosi Jitu Zaman Itu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (105)

Bangunan kayu yang menjadi tumpuan harapan itu mendadak roboh, hancur lebur rata dengan tanah akibat diterjang alam yang ganas. Usianya sungguh amat pendek, hanya seumur jagung! Kegagalan itu merupakan pukulan yang amat telak, yang nyaris menghancurkan semangat dan mematahkan bara perjuangan mereka. Di tengah puing-puing bangunan yang berserakan, para pater menangis meratapi nasib.

Namun ketahuilah! Iman yang sejati tidak akan pernah luntur oleh penderitaan lahiriah! Mereka bangkit kembali, menyeka air mata, lalu memindahkan seluruh sisa kekuatan mereka menuju Nyarumkop, sebuah tempat yang strategis lagi asri di kaki Gunung Poteng, namun ternyata menyimpan bara pertempuran batin yang jauh lebih dahsyat dan mencekam. Tepat pada hari yang bersejarah, 3 September 1916, batu pertama persekolahan Nyarumkop diletakkan di atas tanah yang tandus.

Dan di sinilah penderitaan yang sesungguhnya dimulai! Musuh terbesar yang harus mereka hadapi bukanlah binatang buas atau alam yang belum terjamah, melainkan saudara sebangsa mereka sendiri dari benua Eropa.

Pemerintah kolonial Kompeni yang menganut aliran Protestan garis keras memandang pergerakan misi Katolik ini dengan pandangan mata merah penuh kebencian dan rasa curiga. Tekanan, ancaman, dan intimidasi datang bertubi-tubi bagai gelombang samudra menghantam karang yang rapuh.

Kompeni yang berhati culas tidak sudi melihat anak-anak suku Dayak di pedalaman menjadi cerdas dan melek aksara! Mengapa? Karena mereka ingin kaum bumiputera tetap hidup dalam kegelapan kebodohan agar selamanya mudah ditindas dan dihisap darahnya demi keuntungan penjajah! Tetapi, langit yang maha adil tidak pernah tidur membiarkan kebajikan dihancurkan.

Di tengah kepungan angkara murka itu, berdirilah seorang raksasa rohani yang gagah berani: Mgr. Pacifikus Bos! Sang Prefek Borneo Barat ini memiliki keberanian yang melampaui batas kemampuan manusia biasa. Dengan kenekatan yang membaja dan jiwa yang telah dipasrahkan sepenuhnya untuk hancur demi tugas suci dari Yang Maha Kuasa, ia berdiri di garis paling depan menantang maut.

Bagai seekor singa jantan yang melindungi anak-anaknya dari cengkeraman serigala, Mgr. Pacifikus Bos berani menantang moncong meriam hukum yang dikeluarkan oleh Kompeni. Berkat perjuangan hidup-mati yang menguras air mata dan tetesan darah para pater, akhirnya berdirilah Standaardschool! Sebuah benteng aksara pertama yang lahir dari rahim penindasan yang kejam.

Barisan pendekar aksara tua, 1922

Waktu kembali bergulir dengan cepat laksana desing anak panah yang terlepas dari busurnya, melompat maju menuju tahun 1922. Sekolah dasar yang didirikan dengan air mata itu menolak untuk mati di tengah jalan. Ia bahkan mengepakkan sayapnya lebih lebar dengan membuka kelas lanjutan yang dinamakan Vervolgschool.

Di antara deretan murid bumiputera yang duduk dengan tubuh kurus akibat kurang makan, namun memiliki sepasang mata yang menyala-nyala oleh rasa haus akan ilmu, tampaklah seorang anak muda yang memiliki garis wajah cergas dan tegas.Honorius Pius Kumis namanya!

Pagi itu....
Suasana di halaman sekolah Nyarumkop terasa begitu hening dan khidmat, bahkan detak jantung setiap orang yang hadir seolah-olah dapat terdengar dengan jelas. Sebuah kamera tua berkaki tiga dipasang di tengah lapangan untuk mengabadikan sebuah momen yang kelak akan menjadi prasasti abadi di hari tua. Di sana di bawah atap kayu yang semata-mata sederhana dan tiang-tiang penopang bangunan yang jauh dari kata mewah, waktu seakan-akan berhenti berputar.

Sesosok tubuh agung berselimutkan jubah hitam pekat dengan janggut putih panjang yang menjuntai laksana rambut dewa, duduk dengan khidmat di pusat semesta kecil itu. Dialah Mgr. Pacifikus Bos, tokoh sakti yang berdiri dan duduk bagai batu karang iman di tengah kepungan badai kolonial yang mencekam. Wajah sang Prefek memancarkan keteguhan luar biasa, mencerminkan kekuatan batin seorang pendekar yang telah berhasil menaklukkan pelbagai rintangan duniawi. 

Mgr. Pacifikus Bos dia antara siswa Vervolgschool, Nyarumkop, 1922.
Mgr. Pacifikus Bos dia antara siswa Vervolgschool, Nyarumkop, 1922. Anjing pun ikut bergambar. Dok. Yakobus Kumis.

Di sekeliling beliau, anak-anak bumi Borneo Barat, khususnya anak-anak Dayak yang berhati bersih laksana air mata air namun memiliki semangat yang menyala bagai api unggun, berdiri berjejer dengan rapi memenuhi pelataran sekolah. Mereka berdiri tegak menatap masa depan yang kelam, menolak dengan tegas untuk tunduk pada kebodohan yang dipaksakan. Di barisan paling belakang, tampak berdiri sang kepala distrik Nyarumkop, tepat berada di urutan keempat dari kanan menurut pandangan mata pembaca.

Sang kepala distrik berdiri dengan gagah berani dalam pakaian kebesarannya, menyatukan jiwanya dengan perjuangan iman dan ilmu yang digerakkan oleh para pater Ordo Kapusin. Honorius Pius Kumis memandang jubah cokelat yang dikenakan oleh pater pengasuh mereka dengan pandangan mata penuh rasa takzim. Di bawah asuhan para pater yang memiliki jiwa sedalam samudra dan berhati sekeras batu karang di lautan itulah, Honorius dan kawan-kawannya ditempa lahir dan batin.

Mereka semua tahu betul bahwa di luar pagar sekolah, kaki tangan Kompeni senantiasa siap menerkam dan menghancurkan padepokan ilmu mereka kapan saja. Namun, demi melihat punggung sang pater yang berdiri tegak laksana benteng kokoh melindungi mereka, segala rasa takut yang sempat bersarang di dalam dada anak-anak pedalaman itu sirna seketika tanpa bekas! Ketakutan itu berganti menjadi sebongkah keberanian yang membara, yang siap mengguncang dunia fana di kemudian hari.

Di tempat terpencil di kaki Gunung Poteng inilah, sepasukan manusia-manusia baru dengan jiwa merdeka sedang dilahirkan untuk mengubah jalannya sejarah tanah air mereka!

Dinamika peralihan zaman

Pusaran kenanganku kembali meluncur maju, menembus kabut tebal jalannya waktu untuk menuju ke sebuah era di mana roda peradaban manusia mulai merayap naik dan lalu melahirkan pelbagai perubahan besar di bumi persekolahan Nyarumkop. Zaman terus berganti laksana perputaran roda pedati, menyingkap lembaran baru bagi setiap anak asrama yang berhasil menyelesaikan satu jenjang pendidikan berat, untuk kemudian melangkah naik ke anak tangga kehidupan berikutnya.

Jarak antara Nyarumkop dan Singkawang yang membentang sejauh 15 kilometer perlahan-lahan terasa kian dekat dan bersahabat. Angkutan kota yang bermesin besi mulai melintas dan memadati jalur Samalantan, Nyarumkop, hingga ke kota Singkawang. Kendaraan-kendaraan itu melaju di atas jalanan cadas yang berdebu, bertindak sebagai saksi bisu bagi kepulangan dan keberangkatan para pelajar muda yang membawa sejuta mimpi dan harapan di dalam dada mereka.

Namun di tengah segala deru mesin zaman baru itu, Gunung Poteng tetap berdiri dengan kokohnya tanpa berubah barang seujung rambut pun! Ia tetap tegak dengan segala wibawa mistisnya yang agung, menyaksikan anak-anak manusia tumbuh, belajar, dan silih berganti menuntut ilmu di bawah kakinya. Tempat yang pada masa awal perintisannya dahulu dipenuhi sepi yang mencekam dan diliputi ketegangan politik kolonial, seiring berjalannya waktu kini telah berubah wujud menjadi sebuah oase yang sejuk bagi manusia-manusia dari pelbagai penjuru mata angin.

Jiwa-jiwa yang letih dan dahaga akan ketenangan dari kota Pontianak, Pinyuh, Sambas, hingga ke Pemangkat, datang berbondong-bondong pada hari libur demi menghirup kesejukan udara pegunungan, melarikan diri sejenak dari kepungan asap hitam kendaraan kota yang menyesakkan dada. Di kaki gunung yang menyimpan sejarah panjang dan genangan keringat para suci itu, sang waktu terus berjalan membawa kedamaian baru bagi umat manusia.

Di atas tanah tempat para pendekar aksara terdahulu meneteskan air mata perjuangan, generasi demi generasi berikutnya kelak dapat tertawa lepas dengan riang gembira, menikmati kesejukan pemandian alam tirta waterboom serta keindahan tempat rekreasi bersahaja yang kerap dijuluki orang sebagai "taman cinta". 

Perubahan zaman yang menakjubkan ini seolah-olah mempertegas satu nasihat berharga bagi setiap alumnus yang pernah menapakkan kaki di sana: bahwa keindahan sejati dari Nyarumkop tidaklah semata-mata terletak pada pesona alam fisiknya yang memanjakan mata, melainkan pada adanya kekuatan gaib di tempat ini yang mampu menyembuhkan penatnya jiwa, merajut tali persaudaraan lintas generasi agar tetap abadi, serta bertindak sebagai benteng rohani yang amat kokoh bagi siapa saja yang berani datang untuk menempa diri menjadi manusia sejati!

Reuni Akbar 110 Tahun PKN 4-6 September 2026

Firasat samar dan getaran gaib yang dahulu sempat kurasa ketika menyentuh tiang kayu asrama di kamar hotel yang sunyi, kini telah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan! 

Roda takdir yang dikendalikan oleh Sang Maha Kuasa telah berputar menggenapi masanya, membawa langkah kakiku untuk kembali berdiri di atas tanah suci Nyarumkop ini. Namun kali ini, aku datang dalam sebuah perhelatan agung yang luar biasa meriah, yakni kemegahan Reuni Akbar 110 Tahun PKN yang berlangsung pada tanggal 4-6 September 2026.

Gunung Poteng, lereng-lerengnya yang terjal serta lembah Sungai Sekabu yang sunyi, terbukti masih tetap memancarkan sihir magis yang sama dahsyatnya; sebuah mantra kuno dari alam yang tak pernah gagal untuk memanggil pulang anak-anak didiknya ke pangkuan ibu asrama, meskipun mereka telah merantau hingga ke empat penjuru angin dunia fana. Namun pembaca, suasana pada hari perayaan itu diselimuti oleh tantangan alam yang amat berat lagi mencekam.

Di antara kepungan asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan yang tengah melanda hebat di pelbagai daratan Kalimantan, pesona benteng rohani Nyarumkop ini sama sekali tidak berkurang atau memudar walau hanya setitik jua! Kabut asap yang kuning pekat boleh saja menutupi pandangan mata lahiriah manusia dan menyesakkan dada, namun kekuatan hitam itu tidak akan pernah berdaya untuk meredupkan kilau cahaya persaudaraan lintas generasi yang telah membara dengan hebatnya di dalam dada para alumni PKN.

Ada sebuah mukjizat kecil yang bersahaja namun amat menyentuh jiwa kurasakan di tengah-tengah gerahnya suasana musim kemarau panjang yang membakar bumi kala itu. 

Air pegunungan yang mengalir murni di dalam bak-bak penampungan serta kran-kran persekolahan Nyarumkop ternyata tetap terasa sejuk dan dingin! Setiap tetes air yang mengalir dengan murni, laksana ketulusan hati para perintis terdahulu yang tak pernah luntur oleh zaman.

Air itu terasa amat menyegarkan ketika membasahi wajahku yang legam dan letih didera usia, dan seketika itu juga mampu melegakan tenggorokan yang kering kerontang. 

Di situlah aku tersadar dan memuji keagungan Yang Maha Kuasa, bahwa meskipun waktu telah bergulir lebih dari satu abad lamanya sejak Mgr. Pacifikus Bos menancapkan tiang pertama Standaardschool, mata air kehidupan yang mengalir di kaki Gunung Poteng ini tidak akan pernah kering untuk mengasuh dan memberi minum bagi jiwa para pendekar berani hidup!

Pelukan jiwa di rahim rohani 2014

Wusss! 

Pusaran angin batin yang dahsyat itu akhirnya menarik kembali sukmaku melewati lorong waktu yang gelap, melemparnya masuk kembali menembus jendela kaca kamar Hotel Dangau di tahun 2014. 

Aku terkesiap, lalu perlahan-lahan membuka kedua mataku di atas tempat tidur hotel yang sepi dan dingin. Napasku sedikit terengah-engah laksana orang yang baru saja menempuh perjalanan ribuan mil, namun anehnya, seluruh lubuk sanubariku saat itu dipenuhi oleh rasa hangat, kedamaian, dan keharuan yang luar biasa mendalam.

Perjalanan spiritual yang baru saja kualami menembus tiga dimensi waktu. Mulai dari sejarah kelam masa kolonial tahun 1905, dinamika peralihan zaman, hingga kilasan megah Reuni Akbar tahun 2026, telah mengkristalkan sebuah pelajaran filsafat kehidupan yang amat berharga di dalam dadaku.

Mengapa tempat bersahaja di kaki gunung itu bisa memiliki daya pikat sedahsyat itu di dalam hidupku?

Mengapa kamar hotel modern yang serba nyaman dan mewah ini kalah memikat jika dibandingkan dengan kebersamaan bersahaja di kaki gunung?

Jawabannya semata-mata karena di sanalah, di bawah naungan payung-payung gaib sang Gunung Poteng, setiap jengkal tanah cadasnya telah merekam dengan setia jejak pencarian jati diriku yang rapuh, menyimpan gaung suara tawa renyah persahabatan sejati, dan menampung tetesan keringat ketika aku pertama kali belajar merajut kata demi kata di atas papan majalah dinding asrama.

Maka ketahuilah pembaca, Wisma Widya itu bukanlah semata-mata sebuah bangunan kayu mati yang lapuk dimakan usia! Tidak, ia adalah sebuah rahim rohani yang hidup, yang telah melahirkan karakter, menanamkan prinsip hidup yang suci, dan membentuk napas kehidupan yang masih kuhirup dengan setia hingga hari ini. 

Hotel Dangau pada malam itu hanyalah bertindak sebagai tempat berteduh sementara bagi ragaku yang fana, namun Wisma Widya yang tegak di kaki Gunung Poteng adalah rumah abadi yang sejati, tempat di mana sukmaku akan selalu menemukan jalan untuk pulang ke pangkuan kedamaian.

Bagi Honorius Pius Kumis, Yakobus, diriku pribadi, dan bagi setiap anak manusia yang jiwanya telah terikat erat di sana, Nyarumkop di bawah kaki Gunung Poteng yang laksana dada susu ibu itu bukanlah semata-mata sebuah titik hitam kecil di atas peta dunia fana. 

Poteng adalah sebuah tempat yang kudus. Tempat di mana sepasukan manusia-manusia tangguh dilahirkan ke bumi dengan jiwa yang diguncang hebat oleh kekuatan alam yang magis dan diikat erat oleh kehangatan tali persaudaraan sejati yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh kematian sekalipun!

Masri Sareb Putra
Tangsel, siang jelang petang 8 Oktober 2026.
Based on a true story diperkaya sumber bacaan yang berikut ini.
  • Bank, Jan. 1999. Katolik di Masa Revolusi Indonesia. Jakarta: PT Grasindo.
  • Buku Kenangan 75 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) 1916 - 1991.
    Nuku Kenangan 75 Tahun Mandirinya Gereja Katolik Kalimantan Barat.
  • Capuchin Franciscans. 2023. Work with the Poor Ministry Documentary Series Epiosde 4.
  • Sareb Putra, Masri. 2017. Hidup, Karya, dan Perjuangan Yakobus Kumis. Jakarta: Penerbit Lembaga Literasi Dayak.
  • Sareb Putra, Masri dan Corry Soesana. 2022. TJHAI CHUI MIE: Wanita Walikota Etnis Tionghoa. Jakarta: Penerbit Lembaga Literasi Dayak.

0 Comments

Type above and press Enter to search.