Acara Tetap Memikul Kayu di Jungkit, Sidomet, dan Sungai Tangket - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (114)

Mikul kayu sebagai acara tetap anak-anak Wisma Widya
Mikul kayu sebagai acara tetap anak-anak Wisma Widya. Ist.

Lonceng besar di Padepokan Persekolahan Katolik Nyarumkop baru saja berhenti bergema menembus sunyinya belantara kaki Gunung Poteng. Waktu telah merayap tepat pada pukul 15.00 sore, menandakan saat bagi para cantrik muda untuk menyudahi masa rehat satu jam. Mereka setelah lelah memeras otak di ruang kelas dan mengisi perut pada tengah hari.

Matahari sore di ufuk barat mulai memancarkan cahaya kemerahan yang garang, memanaskan tanah berlumpur di jalan setapak. Di sanalah tampak para pemuda dari Wisma Widya berbaris tegak laksana barisan ksatria tangguh yang hendak turun gunung. 

Aku tak Peduli: Kidung Senja Lereng Poteng - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (113)

Pundak-pundak belia mereka yang berkulit tipis bersiap memikul gelondongan kayu karet besar yang getahnya masih menetes pekat menantang bumi.

Asap dapur umum

Bagi sebuah perguruan besar yang menampung ratusan jiwa, urusan perut adalah urusan hidup dan mati. Sejak awal berdirinya sekolah, memikul kayu telah menjelma menjadi titah harian sore hari yang amat sakral. 

Baca Gunung Poteng dan Rahasia Sunyi di Puncak Langit - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (113)

Bonggol kayu yang sudah dipotong gerjaji kayu inilah yang menjadi bahan utama pemantik asap dapur umum agar tungku-tungku raksasa asrama tetap mengepulkan kehangatan. Tanpa adanya pengorbanan keringat dari anak-anak Wisma Widya di sore hari, niscaya tidak akan ada bulir nasi-bulgur yang matang untuk menyambung hidup seluruh penghuni padepokan. 

Tantangan di balik batang karet

Sebagaimana yang telah diabadikan dalam bait kedua syair legendaris "Nyarumkop Song" gubahan Pastor Gosewinus, rute perjalanan ini dipenuhi aral rintangan yang menguji nyali. 

Langkah kaki-kaki telanjang para pemuda ini harus melintasi wilayah Jungkit, Sidomet, hingga Sungai Tangket yang terkenal liar.

Baca RPL Suyadi Kusumaprawira, Jurus Melawan Kantuk di Kelas dan Doa "Bapa Kami" Sebelum Pelajaran yang Dinyanyikan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (109)

Di sanalah ranah tempat pohon karet tua tumbuh kokoh. Batang-batang karet yang baru digergaji itu basah, padat, dan luar biasa berat laksana bongkahan batu hitam raksasa. 

Sungguh sebuah tantangan hebat yang memaksa urat-urat leher menegang hebat menahan beban.

Gemblengan lahir batin kaum muda

Rentang tahun 1970 hingga 1990-an menjadi saksi betapa asrama ini berdiri kokoh sebagai kawah candradimuka melalui opus manuale (karya tangan/ kerja kasar). Para murid digilir menjelang senja untuk mencangkul bumi, menyabit rumput umpan sapi, hingga mencabut ubi keladi demi pakan babi.

Di sinilah ingatan Pendekar Benediktus bergetar penuh haru. Sambil menyeka peluh yang membutakan mata, ia mengenang betapa tubuh mereka yang masih sekecil anak tekek harus memeluk gelondongan kayu gergajian yang ukurannya 1.5 kali lebih besar dari lingkar dada mereka sendiri! 

Ketika kaki-kaki ringkih itu mulai goyah dan napas memburu hendak roboh, indahnya persaudaraan asrama pun tercipta. Para kakak seperguruan yang bertubuh lebih kekar dengan sigap melompat maju, mengulurkan tangan kokoh mereka untuk berbagi beratnya beban di atas pundak sang adik.

Kitab catatan sang juru tulis

Jangan sekali-kali ada cantrik yang berpikiran licik untuk menggunakan ilmu silat mata atau tipu muslihat murahan demi menghindari tugas! Di ujung jalan setapak, telah berdiri seorang administratur bertangan besi dengan pandangan setajam mata elang. 

Setiap jengkal kayu karet yang dipikul keluar dari kegelapan hutan akan diperiksa saksama dan diberi label khusus. Sang juru tulis tahu benar membedakan bobot sejati. Ia dapat melihat mana pemuda yang jujur memikul kayu hidup bergetah berat, dan mana yang mencari kemudahan dengan membawa kayu mati yang kering ringan. Semua terekam abadi tanpa dusta di dalam kitab catatan besar padepokan.

Tepat pada pukul 17.00 sore. Ketika sang surya hampir tenggelam sempurna di balik benteng lambaian cemara Gunung Poteng, selesailah tugas besar itu. 

Di atas tanah merah yang mereka injak. Terbenam watak, kejujuran, dan kedisiplinan baja para pendekar muda ini. Mereka ditempa habis-habisan demi mempersiapkan diri menjadi ksatria-ksatria unggul yang siap mengarungi samudera kehidupan di masa depan.

Tangsel, malam 9 Oktober 2026.


0 Comments

Type above and press Enter to search.