Aku tak Peduli: Kidung Senja Lereng Poteng - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (113)
![]() |
| Kidung senja lereng Poteng yang membasuh wajah jiwa kami. Ist. |
Kabut putih yang bergulung dari puncak Gunung Poteng sore itu turun lebih pekat. Laksana selimut cinta yang merayap perlahan, meraba atap-atap beralur sirap Wisma Widya Nyarumkop. Getar dawai asmaranya. Sampai juga di tepian Sungai Sekabu.
Di bawah temaram langit senja yang kian sekarat menuju malam. Aliran Sungai Sekabu berbisik teramat lirih. Seolah ikut meratapi sisa-sisa kisah yang tak pernah sanggup dihanyutkan oleh derasnya air.
Baca Gunung Poteng dan Rahasia Sunyi di Puncak Langit - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (113)
Bagi seorang anak remaja yang baru saja menginjakkan kaki di kelas I SMA. Sudut aula terbuka itu adalah sebuah altar suci tempat segala rasa sunyi, rindu rumah, dan bait-bait puisi lebur menjadi satu.
Di sanalah....
Di balik pilar-pilar kayu yang membisu. Detak waktu mendadak berhenti berputar setiap kali sekelompok pendekar musik asrama mulai memetik senar gitar. Memanggil pulang sukma-sukma yang terluka.
Kilau cahaya di aula terbuka
Berdiri di tepi pelataran aula itu selalu saja mendatangkan rasa sesak yang menghimpit dada, sebuah perpaduan antara rasa sungkan yang menggunung dan kekaguman yang membuncah hingga ke hulu hati. Namun gigil hawa pegunungan itu seketika lumer manakala sepasang mata menangkap sosok Bang Maliki. Ia sang cahaya keluarga yang berdiri dengan gitar melodi erat di dekapannya.
Berkat kelembutan hati sang senior. Benteng aula yang semula terasa angkuh itu senantiasa terbuka lebar bagi langkah kaki saya yang gemetar. Di kala siang yang memanggang semangat batin. Atau sore yang meremang pilu menjelang malam, saya diizinkan duduk bersila di sudut lantai semen yang dingin.
Menatap dengan takzim bagaimana Kanis mulai menjinakkan betotan gitar bassnya, menyaksikan Jayaseputra memukul detak tempo pada drum dengan penuh perasaan, dan sesekali Adri atau Akong menimpali demi menebalkan jalinan chord musik panggung.
Mereka adalah Wid Bros. Skuad kakak kelas yang karismanya begitu menggetarkan sanubari dan sanggup menyihir seribu bidadari Sekabu waktu itu. Namun pelukannya teramat hangat mendekap jiwa remaja yang masih rapuh dan mencari arah.
Serpihan estetika di atas meja kayu
Di atas sebuah meja kayu yang telah kusam dan tergores oleh kejamnya waktu. Tergeletak selembar benda pusaka yang menjadi kiblat dari segala mimpi anak-anak asrama saat itu: selembar cover kaset album Koes Bersaudara bertajuk Pop Indonesia Volume 2.
Dengan tape recorder merek Sony. Kaset yang merekam lagu itu kami putar sebelumnya. Maklum tak semua bisa baca not. Jujur banyak lagu yang didendangkan dan diiringi Wid Bros modal: dengkul sebenarnya, alias modal: hafal.
"Hello Darling" atau "Sonya" yang dilantunkan dengan syahdu oleh Bang Maliki, hingga alunan "Dream of Me" yang dikumandangkan oleh Bang Adri yang syair rindunya begitu dahsyat sampai menembus kokohnya penjagaan benteng Sekabu dan membuat para gadis di sana tak bisa tidur; semua itu dihafal dan dirapalkan berkali-kali tanpa bosan.
Juga lagu "Sepanjang Jalan Kenangan" yang didendangkan Surminto dengan nada tinggi melengking itu. Syahdu mengalun membuncah langit biru, menggetar hati amoi-amoi sehingga membuat tidur mereka malam itu terganggu; juga lahir dari: hafal berkali-kali di kamar mandi setiap pagi sore.
Barulah kemudian hari saya tahu. Guru-besar kami Aristoteles, pernah berpetuah:
"You are what you repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit." Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Maka kehebatan dan kesempurnaan bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari sebuah kebiasaan!
Kebiasaan itulah rupanya yang membuat Wid Bros bersinar. Mereka sering latihan. Berulang. Berkali-lagi. Hanya satu lagu. Cuma sebuah lagu!
Bagi para mahaguru dan maestro musik yang bersemayam di menara gading, segala nada yang sumbang dan melenceng dari pakem dianggap sebagai sebuah improvisasi yang genius.
Sungguh aneh bin ajaib! Bahkan ketidakmampuan untuk membaca barisan not balok yang berjejer laksana semut hitam di atas kertas putih dengan entengnya disebut sebagai aksi pura-pura belaka demi mencari keunikan. Singkat kata, ketidakbisaan dibungkus rapi dengan jubah kepalsuan intelektual yang tinggi!
Tetapi pembaca yang budiman. Janganlah terburu-buru berkerut kening!
Memang begitulah potret diri kami pada masa yang silam itu. Itulah kami waktu itu! Sekelompok pendekar muda nekad yang maju ke depan gelanggang tanpa bekal pengetahuan kitab musik yang mumpuni, namun memiliki keberanian setinggi langit untuk terus mendendangkan lagu kehidupan!
Koes Bersaudara idola
Gambar empat bersaudara yang berpose penuh kehangatan, berbanjar berundak di tengah rimbunnya hamparan ilalang. Dipandangi dengan mata berkaca-kaca laksana sebuah potret keluarga yang hilang. Demi menyamai sang idola, segala daya batin dikerahkan di depan cermin asrama yang buram.
Potongan rambut gaya gondrong bergelombang yang cute disisir berulang kali dengan jemari yang gemetar, lalu dipadukan dengan kebanggaan tertinggi memakai celana cut bray yang ketat menjepit paha namun melebar dengan gagahnya di bagian bawah. Penampilan itu sungguh bukan hanya urusan sandang fana semata, melainkan sebuah proklamasi harga diri, sebuah benteng air mata untuk menyembunyikan rasa rindu pada pelukan ibu di kampung halaman yang teramat jauh.
Tikaman syair yang menembus kalbu
Ketika jemari Bang Maliki mulai memetik introduksi gitar yang menyayat hati. Segala keriuhan pakaian modis itu seketika lenyap. Runtuh berhamburan digantikan kesunyian yang mencekam laksana liang lahat.
Aula terbuka itu mendadak menjelma menjadi ruang pengakuan dosa yang teramat sakral manakala tembang "Aku Tak Peduli" mulai berkumandang membelah malam.
Nada demi nada mengalir begitu perih. Merayap di sela-sela tiang asrama. Lalu melesat bebas mencium langit gelap Nyarumkop yang mahaluas. Sampai juga akhirnya deru cinta itu menembus batas ke asrama bidadari Sekabu....
Ke sanalah sebenarnya arah lagu sendu itu dikirmkan!
Lagu itu laksana belati gaib yang menyayat dada. Hendak mengisahkan kepada seseorang ketabahan tak bertepi dari seorang anak manusia yang memilih berjalan seorang diri di tengah badai. Menolak untuk mengemis belas kasihan dunia meski hatinya telah hancur luluh berkeping-keping.
Udara di aula itu mendadak terasa habis. Membuat dada sesak dan hancur. Sehingga akhirnya petikan gitar tiba pada ujung nadanya. Menutup malam dengan baris-baris lirik terakhir yang menusuk-nusuk relung kalbu terdalam hingga air mata runtuh tak terbendung lagi:
Aku Tak Peduli
Dan orang lain tak mengerti
Di dalam hati tersembunyi
Mendung menutupi, hujan membasahi
Pura-pura aku tak peduli....
Aku tak perduli: kidung poteng yang memanggil pulang
Malam akhirnya sepenuhnya jatuh di pelataran Nyarumkop. Menelan bayang-bayang menara lancip gereja dan menyisakan siluet Gunung Poteng yang berdiri angkuh berselimut kabut.
Aula terbuka yang tadinya bergemuruh oleh petikan melodi Bang Maliki, betotan bass Kanis, dan ketukan drum Jayaseputra perlahan-lahan lengang, menyisakan gema yang merayap pergi ke arah Sungai Sekabu.
Keheningan malam asrama kembali berkuasa. Namun di dalam dada seorang anak remaja kelas I SMA. Ada sesuatu yang telah patah dan tumbuh pada saat yang bersamaan.
Tembang “Aku Tak Peduli” bukan lagi hanya lagu pop yang mengalun dari pita kaset Vol. 2. Lebih dari itu, ia mantra batin yang mengunci rapat seluruh rasa rindu, perih, dan air mata di bawah kaki gunung bagai susu ibu itu.
Kini puluhan tahun telah berlalu laksana hembusan angin malam yang lewat sekilas. Waktu mengalir tanpa kompromi. Membawa kaki melangkah jauh melintasi berbagai medan kehidupan fana, memahat jarak yang kian membentang dengan masa-masa di bawah bimbingan para pendekar dan master asrama.
Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Lembaran cover kaset idola yang dahulu dipandangi dengan takzim kini telah usang, celana cut bray kebanggaan telah lama lenyap, dan rambut cute remaja itu kini telah menua dimakan usia. Namun setakat ini. Manakala badai rindu melanda tanpa permisi di tengah kesunyian hidup, dan pesona magis Gunung Poteng kembali memanggil-manggil sukma untuk pulang, tirai ketegaran itu runtuh berhamburan. Lagu lama itu kembali diputar. Membebaskan menung yang selama ini terkunci rapat di hulu hati.
Di bawah langit masa kini yang asing. Air mata seorang dewasa yang telah kenyang oleh asam garam dunia akhirnya menetes juga. Jatuh membasahi pipi tanpa bisa dibendung lagi. Jiwa terbang layang. Pulang dengan tangis yang pecah ke sudut lantai semen aula terbuka tahun 1978 yang dingin itu.
Sungguh getir menyadari. Bahwa ruang dan waktu itu takkan pernah bisa diraih kembali. Dan sahabat-sahabat masa remaja telah tercerai-berai digulung takdir masing-masing.
Di hadapan dunia yang kerap kali menuntut untuk selalu tegar. Kita hanya bisa tersenyum getir, mengangkat dagu. Sembari berbisik lirih bersama sisa-sisa napas senja di lereng Poteng.
Lalu kelopak sore terkoyak.
Senja datang menjelang. Sayup terdengar sebuah lagu. Bagai hujan badai yang datang dari arah lereng Poteng yang memintas Sekabu:
dan orang lain tak mengerti
di dalam hati tersemvunyi
mendung menutupi
hujan membasahi
pura-pura aku tak peduli
Ditutup:
biarlah aku merana
inilah hidup di dalam dunia......
Lagu kenangan itu kembali mengalun. Lirih tetapi meresap menusuk sampai ke relung hati. Setiap baitnya seperti suara dari masa silam yang memanggil-manggil rindu.
Ada sesuatu yang tak sanggup dijelaskan oleh kata-kata. Kian jauh kita melangkah meninggalkan masa lalu, makin jelas suara itu terdengar. Laksana suara ibu di ambang pintu yang memanggil anaknya pulang sebelum malam kelam, sebelum embun turun membasahi beranda rumah.
Ah, lagu itu!
Ia bukan lagi hanya rangkaian nada dan kata. Ia adalah jalan pulang menuju sebuah rumah besar di negeri yang jauh. Rumah yang mungkin masih berdiri di sana, di bawah langit yang sama, tetapi terasa kian jauh dari jangkauan.
Di sanalah kenangan berdiam. Di sanalah tawa pernah berderai, air mata pernah jatuh, dan orang-orang yang kita kasihi pernah berkumpul mengelilingi meja kehidupan. Kini, waktu telah membawa masing-masing ke persimpangan yang berbeda.
Dan ketika lagu itu berakhir, kita masih duduk terdiam. Hati telah lebih dahulu pulang, tetapi tubuh masih tertinggal di perantauan. Betapa anehnya kehidupan! Kita dapat pergi sejauh-jauhnya, menyeberangi lautan dan melintasi negeri, tetapi satu lagu lama sanggup membuat kita kembali menjadi anak kecil yang merindukan panggilan ibu.
Ada rumah yang tak pernah benar-benar kita tinggalkan. Meskipun seumur hidup kita tak kunjung menemukan jalan untuk pulang.
Duren Sawit, Jaktim 9 Oktober 2026.

0 Comments