Kelopak Mawar yang Terkoyak: Bukan di Pemangkat Tertambat Cintanya! | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (116)
![]() |
| Bukan di Pemangkat tertambat cintanya! Ist. |
Kabut putih merayap perlahan menyusuri tebing-tebing curam di lembah Gunung Poteng. Angin malam bersuling liar, menggetarkan dinding-dinding papan Persekolahan Katolik Nyarumkop laksana rintihan arwah yang patah hati.
Di atas meja kayu Wisma Widya yang mulai lapuk. Sebatang lilin tipis bergoyang-goyang. Menyemburkan cahaya temaram. Menerangi tetesan demi tetesan air mata yang jatuh membasahi kertas kusam.
Baca Oevaang Oeray, Anak Seminari dengan Jurus-Rahasia Surat-surat Politiknya | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (115)
Di tengah keheningan yang mencekam sekaligus melankolis itulah. Sebuah kidung asmara yang mendayu-dayu lahir dari lubuk sanubari. Mengalir laksana air Sungai Sekabu yang tiada pernah berhenti menangis menembus pori-pori waktu.
Tapi syukurlah! Pendekar pena kemudian tahu dan memahami sebuah rahasia besar dalam jagat kesusastraan fana ini.
Bahwasanya untuk melahirkan sebuah kitab sejati yang dayanya mampu menggetarkan kolong langit dan menembus sekat-sekat zaman. Seorang pendekar pena tidak bisa hanya mengandalkan jurus-jurus kata yang kosong tanpa jiwa.
Acara Tetap Memikul Kayu di Jungkit, Sidomet, dan Sungai Tangket - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (114)
Mesin modern atau algoritma buatan mungkin bisa menyusun seribu kalimat indah dalam sekejap mata. Namun, kalimat yang tampak gagah dan necis itu tidak akan pernah memiliki darah kehidupan, detak nadi rasa. Ataupun napas pengalaman. Kata-kata sia-sia melayang abstrak, nir-pengalaman, dan jauh panggang dari api. Hal itu karena tidak lahir dari tempaan realita yang nyata.
Seorang pendekar kata sejati harus menempuh dan melewati dua jalan besar yang teramat terjal dan penuh onak duri:
Pertama, jatuh cinta sebuta-butanya. Menyerahkan seluruh jiwa dan raga ke dalam pusaran rasa yang meluap-luap tanpa batas. Merasakan getaran gaib yang menusuk jantung saat memandang sang dewi hati.
Kedua, kegagalan cinta yang menikam ulu hati luar biasa. Merasakan kepedihan yang teramat sangat, kepasrahan batin yang pekat, dan kerinduan terlarang ketika benang asmara diputus paksa oleh tangan takdir.
Ketika riak asmara remaja itu sedang membara di bawah bayang-bayang Gunung Poteng hingga ke pesisir Pemangkat. Jagat musik tanah air diguncang oleh tembang mahakarya sang empu lagu melankolis, Deddy Dores.
Judul lagu "Gagal dalam Cinta" mendadak menjadi begitu hits dan meledak di mana-mana. Laksana mantra pemanggil air mata bagi setiap hati yang terluka.
Syairnya yang teramat magis dan puitis. Benar-benar mencerminkan jalinan nestapa yang menusuk sukma:
Namun untuk apa kuharap darimu
batinku makin tersiksa
walau begitu dalam rasa cinta di hati
lebih baik sendiri
Senyum kehancuran, semua ku tutupi
resah hati ini
biarlah derita di telan alam
hilang terbawa angin.....
Gagal dalam Cinta . deddy dores
Hanya melalui dua gerbang ujian batin inilah. Sebuah kisah baru akan mempunyai daya kejut yang kuat. Mengandung tenaga dalam yang dahsyat, dan tampil teramat menarik di mata para pembaca.
Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Mengapa bisa demikian?
Hal itu tada lain karena seluruh jalinan cerita tersebut bukan hasil karangan bebas yang menipu, melainkan benar-benar dialami secara langsung. Dirasakan getaran emosinya, dan nyata-nyata meremukkan raga sang penulis di dunia rekaan ini!
Dua gerbang ujian batin sang pendekar pena
Maka kisah robeknya tirai kasih di kaki Gunung Poteng. Ketatnya kekangan para suster berkerudung putih di Sekabu. Keluguan para moi ciang. Hingga takdir asmara yang terlambat bersambut di pesisir Pemangkat, bukanlah sebuah kesia-siaan yang patut diratapi seumur hidup.
Pengkhianatan cinta monyet. Kesalahpahaman arah mawar berduri yang ditikamkan. Juga jurus pagar makan tanaman yang sempat membawa resah hati yang mendalam, justru menjelma menjadi modal tenaga dalam kebatinan yang tiada taranya bagi sang pendekar pena. Malapetaka rasa itu adalah perguruan terbaik yang menempa tubuh dan jiwa secara lahir batin.
Membuka kembali lembar kenangan dari masa lalu dari percakapan kita terdahulu, waktu laksana berputar mundur ke arah tahun 1978. Ketika itu di tengah kemeriahan perayaan Imlek yang berselimut rona merah. Langit Nyarumkop seakan menaburkan kehangatan yang tiada tara.
Datanglah sesosok ciang moi bagai desir cemara yang disisir angin dari pesisir Pemangkat. Melangkah dengan kelembutan yang sanggup meluluhkan kebekuan salju. Membawakan sekotak kue keranjang sebagai lambang perekat rasa yang manis lagi suci.
Senyum manisnya kala itu terpatri menjadi larik puisi paling indah yang pernah singgah di relung dada, sebuah rasa yang begitu ranum, yang tumbuh sebuta-butanya di bawah tatapan teduh pegunungan.
Namun, aduh! Roda takdir berputar teramat angkuh. Waktu bergulung maju menelan dasawarsa, menyisakan kerinduan yang teramat pekat di dalam sanubari.
Ketika lonceng Reuni Akbar PKN bertalu-talu hingga dua kali kesempatan, sang pendekar pena datang melangkah ke gelanggang dengan segenap asa yang tersisa di lubuk hati. Berharap sang dewi hati akan kembali muncul menampakkan diri membawa serpihan memori lama. Namun, takdir kembali menjatuhkan hukuman yang kejam.
Dua kali reuni agung itu dilewati. Dua kali pula bayangan dirinya lenyap ditelan kabut waktu; dia tidak ikut hadir,. Menyisakan kehampaan yang luar biasa pedih di sela-sela riuhnya gelak tawa para alumni.
Bukan di Pemangkat tertambat cintanya!
Di sinilah, di bawah bayang-bayang Gunung Poteng dan aliran Sungai Sekabu, batin sang pendekar terkunci mati.Pemangkat hanyalah tempat pelarian dan pelabuhan bagi sisa-sisa kelopak mawar yang terkoyak. Tetapi episentrum getaran jiwanya tetaplah berada di Wisma Widya. Ke manakah gerangan engkau berada, sekarang?
Gosewinus, OFM Cap. dan Visi Edukasi "Nyarumkop Song" yang tak Lekang Zaman - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (101)
Ke mana angin takdir telah menerbangkan kelopak mawar yang terkoyak itu? Hanya sunyi yang menjawab, membiarkan air mata menetes perlahan menembus pori-pori waktu, meratapi sebuah perjumpaan yang tak kunjung menjadi nyata.
Dengan senyum ketabahan yang kini menghias wajahnya, sang musafir kata menutup kitab kenangannya rapat-rapat. Luka lama yang pernah dititipkan di bawah langit senja Pemangkat kini telah menjelma menjadi untaian aksara yang hidup. Berdentum dan menggetarkan sukma siapa saja yang membacanya di layar WAG Reuni Akbar PKN masa kini.
Cerita cinta yang gagal itu tidak hilang menguap begitu saja terbawa angin malam, melainkan abadi menjadi karya sastra sejati yang lahir dari tetesan darah, keringat perjalanan, dan air mata yang nyata!
Terima kasih yang terlambat diucapkan
Ke mana gerangan ciang moi dari Pemangkat pergi, hingga bayangnya seolah lenyap ditelan kabut waktu yang bergulir semenjak Imlek tahun 1978 silam?
Dua kali perhelatan akbar reuni Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) telah digelar. Namun bangku yang dinanti tetap kosong. Sosok yang dirindukan tak kunjung menampakkan diri.
Sungguh, waktu boleh berjalan hampir setengah abad, namun ingatan itu tidak pernah berkarang. Angin malam yang berembus di lereng Gunung Poteng seolah tetap membawa getaran melankolis yang sama.
Andai saja takdir mengizinkan perjumpaan itu terjadi sekali lagi. Tak ada maksud lain di dalam hati selain sebuah ketulusan. Bahkan jikalau sang suami merasa keberatan dan melarang pertemuan itu, setidaknya dari jarak yang pantas.
Maka sebuah ucapan terima kasih yang terlambat selama empat puluh tahun ingin disampaikan dengan penuh takzim atas kebaikan sekotak kue keranjang di masa lalu.
Mari kita kenang kembali kehangatan yang pernah singgah di padepokan asrama Widya bawah itu:
Di bawah temaram lampu selasar asrama Widya bawah. Malam terasa lebih lambat berputar. Gerimis tipis di luar menyisakan aroma tanah basah yang menyusup hingga ke dekat ruang gabung, tempat di mana tawa-tawa kecil biasanya diredam oleh sepi.
Malam itu....
Ia datang membawa rindu yang dibungkus rapi. Amoi dengan senyumnya yang serupa fajar di ujung musim dingin mengulurkan sekotak kue keranjang. Manisnya bukan hanya seujung gula, melainkan sebuah janji tentang bertahan dan saling mendoakan di tanah perantauan.
Kue yang lekat dan manis itu dipotong perlahan, dibagi rata di antara para penghuni asrama yang kerap didera rindu rumah. Di dekat ruang gabung yang bersahaja. Dalam kunyahan yang khidmat. Mereka tidak hanya memakan sepiring penganan tradisional.
Anak-anak asrama Widya sedang merayakan kebersamaan yang rapuh namun hangat. Mengunyah sepi menjadi tawa. Lalu derai tawa mengikat hati dalam rasa kekeluargaan yang manis.
Semanis bumbu kasih yang dibawa ciang moi dalam bayangan malam itu....

0 Comments