“Kembali ke Jakarta” di Studio Rekaman Palangka Raya: Hanya Menyanyi, Cuma Bernyanyi

Di sebuah kampung ujung pulau Kalimantan yang waktu itu masih jarang disebut orang luar. Berdiri SMP Jangkang. Tahun 1976. Sekolah itu kecil. Bangunan sederhana, lantai tanah, atap rumbia. Jalan menuju ke sana masih tanah keras. Di waktu kemarau, berdebu. Di musim hujan, becek. 

Di sana ada guru seni suara yang bernama Bu Toni. Lengkapnya Antonia. Lulusan SPG Nyarumkop. Ia datang membawa buku teori musik dan lembaran not balok. Ia mengajarkan kami membaca notasi. Beberapa teman mulai bisa mengikuti. Saya mencoba. Berlatih. Tapi hasilnya tidak pernah bertahan. Not balok masuk ke kepala lalu hilang lagi. Yang tinggal hanyalah lagu. Lagu yang dihafal dari telinga ke telinga, dari mulut ke mulut, dari satu kesempatan ke kesempatan lain.

Baca Pukulan yang Seolah Salah dalam “Kembali ke Jakarta” | Belajar Plus dari Murry (18)

Saya pernah sebentar menjadi orang yang bisa membaca not. Namun kemudian lupa semua. Modal saya hanya hafal saja. Hafalan itu menjadi satu-satunya bekal. Ketika orang lain membuka lembaran dan menyanyi dari tulisan, saya menyanyi dari dalam. Lagu sudah ada di kepala sebelum mulut terbuka. Itulah cara saya mengenal musik sejak semula. 

Di kampung yang jauh dari keramaian kota, musik tidak datang lewat buku tebal atau alat mahal. Ia datang lewat radio yang kadang bunyi, lewat orang yang menyanyi di teras, lewat suara yang dibawa angin sore. Dan saya menghafalnya. Hafalan. Ya, hafalan adalah cara saya bertahan di dunia musik. 

Ketukan Kudus di Ujung Stik Kasmuri | Belajar Plus dari Murry (17)

Tidak ada yang istimewa di dalamnya. Hanya pengulangan. Lagu didengar, diulang, didengar lagi, sampai akhirnya menetap. Ketika Bu Toni menulis not di papan tulis, saya melihatnya seperti tulisan asing. Ketika ia menyanyi, saya langsung menangkap melodi. Perbedaan itu jelas sejak awal. Saya gagal di teori. Saya berhasil di ingatan. 

Lagu-lagu masuk satu per satu. Koes Plus datang lebih dulu dan paling dalam. Lalu The Mercys, Edi Siltonga, kemudian Dedi Dores dengan “Gagal dalam Cinta”, Obbie Messakh, dan Leo Waldy dengan “Pengadilan Cinta”.

Tapi terus terang, terang terus.  Koes Plus selalu di atas. Bukan karena saya memutuskan begitu. Hanya karena lagunya menempel lebih kuat. Ia tidak meminta saya memahami struktur. Ia hanya meminta untuk diingat.

Baca Keberanian Menghentak Pertama dalam "Penyanyi Muda" | Belajar Plus dari Murry (15)

Di kampung Jangkang, hafalan menjadi modal. Ketika ada acara kecil di sekolah atau di rumah orang, saya bisa ikut menyanyi tanpa perlu melihat kertas. Teman-teman yang bisa baca not kadang tertawa karena saya tidak pernah membawa lembaran. Tapi mereka juga ikut ketika refrain datang. Hafalan ternyata lebih praktis daripada tulisan di tempat yang jauh dari perpustakaan musik.

Rentak drum Murry

Di antara semua yang saya sukai dari Koes Plus, rentak drum Murry menempati tempat khusus. Badannya tak banyak gerak. Namun pesannya tegas.  Ia mengunci seluruh lagu seperti tiang yang menahan atap. Di atasnya, melodi berjalan bebas. Saya suka sekali cara itu. Sederhana tapi kuat. Tidak perlu rumit untuk terdengar kokoh.

Saya belajar dari cara Koes Plus sendiri memperlakukan lagu. Mereka tidak membuat lagu menjadi ujian. Lagu langsung masuk telinga, langsung bisa dinyanyikan, langsung bisa dibawa ke mana saja. Itu yang membedakan. Lagu mereka tidak meminta banyak syarat. Cukup ingat, cukup rasakan, lalu nyanyikan. Rentak drum Murry menjadi semacam pondasi di kepala saya. Bahkan ketika tidak ada alat drum yang dimainkan, saya masih mendengarnya.

“Kembali ke Jakarta”

“Kembali ke Jakarta” adalah lagu yang paling sering muncul dari semua hafalan itu. Lagu pendek. Pengulangan kuat. Lirik tidak bertele-tele. 

“Ke Jakarta aku kan kembali, walaupun apa yang kan terjadi.”

 Kalimat itu terasa seperti keputusan yang sudah diambil jauh sebelumnya. Tidak ada perdebatan panjang. Hanya tekad. Saya kerap menyanyikannya sendirian di perjalanan, di tempat yang jauh, atau bersama orang lain yang kebetulan ingat.

Setiap kali "Kembali ke Jakarta" dinyanyikan, ada rasa yang sama: seseorang yang sedang menuju suatu tempat, meski tempat itu tidak selalu Jakarta. Lagu itu tidak pernah benar-benar hilang dari kepala. Ia muncul ketika sedang sendirian, ketika sedang di perjalanan jauh, atau ketika suasana tiba-tiba membutuhkan sesuatu yang familiar. 

"Ah, Bang Mas (panggilan orang kampung Jangkang pada saya) sudah nyanyi lagu itu. Pasti ia rindu pulang rumah," Nei Pin, adik ipar saya komentar manakala lagu itu saya dendangkan tanpa atau sedang karoke. 

Baca "Ibu dan Lagunya" yang Bikin Malam Saya Ingat Mama | Belajar Plus dari Murry (9)

Tak syak lagi. Dalam hidup, Koes Plus memberi saya lagu yang bisa dibawa tanpa beban. Tidak perlu not. Tidak perlu pengiring lengkap. Cukup suara dan ingatan. Rentak yang dulu disukai tetap berjalan di dalam, meski dunia di luar sudah berubah.

Hanya menyanyi, cuma bernyanyi 

Seiring waktu, “Kembali ke Jakarta” menjadi lagu yang sering saya nyanyikan dalam berbagai kesempatan. Ketika dinas luar kota, di perjalanan darat yang panjang, di tempat yang jauh dari rumah, lagu itu keluar dengan sendirinya. Kadang hanya bersenandung pelan. Kadang dinyanyikan lebih jelas. Orang-orang di sekitar kadang ikut, kadang hanya mendengarkan. Tidak ada yang menganggapnya istimewa. Tapi justru karena itu, lagu itu terasa dekat.

Di pesta-pesta sederhana juga sama. Bukan pesta besar dengan panggung dan sound system lengkap. Hanya kumpulan orang, makanan sederhana, percakapan yang mengalir, lalu tiba-tiba ada yang meminta dinyanyikan. “Kembali ke Jakarta” hampir selalu bisa diandalkan. Orang-orang tahu lagunya. Mereka bisa ikut di bagian refrain. 

Suasana menjadi lebih hangat. Lagu itu tidak pernah meminta banyak. Ia hanya meminta diingat dan dinyanyikan. Saya tidak pernah merasa perlu menjadi penyanyi yang baik untuk menyanyikannya. Karena lagunya sendiri sudah cukup. Rentak drum Murry yang saya sukai sejak dulu masih terasa di kepala, meski tidak ada yang benar-benar dimainkan. 

Melodi Koes Plus yang sederhana itu tetap berjalan. Dan saya, orang yang tidak bisa baca not, hanya mengandalkan hafalan, tetap bisa ikut. Ada semacam kebebasan di situ. Kebebasan orang yang tidak terikat pada tulisan. Musik hidup di dalam, lalu keluar ketika dibutuhkan. Itu yang saya pelajari sejak SMP di kampung Jangkang. Bu Toni mengajar teori dan not. Saya gagal di situ. Tapi saya berhasil di tempat lain: menghafal, membawa, dan menyanyikan. Lagu menjadi teman perjalanan. Ia tidak menghakimi. Ia hanya hadir.

Dalam banyak kesempatan dinas luar kota, lagu itu menjadi pengisi keheningan. Di mobil yang berjalan jauh, di tempat istirahat yang sepi, di malam yang panjang, “Kembali ke Jakarta” muncul seperti kebiasaan lama. Tidak perlu alasan besar. Cukup karena ia sudah menjadi bagian dari cara saya mengingat sesuatu yang familiar di tempat yang asing.

Masuk studio rekaman di Palangka Raya

Tahun 2017, di Palangka Raya. Kesempatan yang tidak direncanakan datang. Bang Sur atau Prof. Suriansyah, yang mahir bergitar dan suaranya merdu, mengajak saya merekam. Tidak ada persiapan. Tidak ada latihan khusus. Tidak ada diskusi panjang tentang aransemen. Hanya ajakan spontan. Studio sederhana. Dua orang. Satu lagu: “Kembali ke Jakarta”.

Baca "Ibu dan Lagunya" yang Bikin Malam Saya Ingat Mama | Belajar Plus dari Murry (9)

Rekaman pertama hancur. Benar-benar hancur. Suara tidak pas, timing kacau. Semuanya berantakan. Kami mencoba lagi. Yang kedua lebih tenang. Lebih jujur. Tidak ada usaha untuk terdengar sempurna. Hanya dua orang yang sedang menyanyi lagu yang sudah lama dihafal. Gitar Bang Sur berjalan sederhana. Suara kami bertemu di refrain yang sudah dikenal sejak dulu. Tidak ada kejutan besar. Tapi ada kejujuran yang tidak bisa dibuat-buat.

Rekaman itu kini ada di YouTube. Channel Suriansyah Murhaini. Judulnya sederhana: Kembali ke Jakarta, Koes Plus. 

Setelah enam tahun, hanya ditonton 254 kali. Angka itu kecil. Tidak ada yang viral. Tidak ada komentar panjang. Tapi justru karena itu, rekaman itu terasa seperti milik orang yang memang sedang menyanyi, bukan sedang berusaha tampil. Ia terdengar seperti kelanjutan dari semua kesempatan sebelumnya: di perjalanan dinas luar kota, di pesta sederhana, di saat-saat ketika lagu dibutuhkan tanpa banyak syarat.

Ada jarak empat puluh satu tahun antara anak SMP di kampung Jangkang yang tidak bisa baca not dan hanya mengandalkan hafalan, dengan dua orang yang merekam lagu yang sama di studio Palangka Raya. Jarak itu panjang. Tapi lagunya tidak berubah. Rentak yang dulu disukai masih terasa. Keputusan untuk menyanyi tanpa persiapan juga sama. Dan rasa yang dibawa lagunya tetap sederhana: seseorang yang akan kembali, walaupun apa yang akan terjadi.

Saya tidak pernah menjadi pembaca not yang baik. Saya hanya orang yang hafal. Dan dari hafalan itu, satu lagu berhasil dibawa jauh, dinyanyikan berkali-kali di berbagai tempat, lalu akhirnya direkam sekali, tanpa banyak perhiasan. 

Itu cukup. Karena musik, setidaknya musik yang seperti ini, tidak selalu membutuhkan kesempurnaan. Kadang ia hanya membutuhkan orang yang masih mengingatnya, dan berani menyanyikannya lagi.

Di balik semua itu. Ada perjalanan yang tidak tertulis di not balok mana pun. Dari SMP Jangkang tahun 1976, dari suara Bu Toni yang mengajarkan teori yang tidak pernah benar-benar saya kuasai, dari rentak drum Murry yang menempel di kepala, dari lagu yang dinyanyikan di perjalanan dan di pesta sederhana, sampai ke studio kecil di Palangka Raya. 

Semuanya terhubung oleh satu hal: hafalan yang tidak pernah benar-benar hilang. Lagu "Kembali ke Jakarta" tetap ada. Ia menunggu. Dan ketika kesempatan datang, meski tanpa persiapan, meski hanya sekali, ia dinyanyikan lagi. Bukan untuk dikenang orang banyak. Hanya untuk menegaskan bahwa sesuatu yang dihafal sejak lama masih bisa hidup, masih bisa dibunyikan, masih bisa menjadi jembatan antara masa lalu yang jauh dan saat ini yang tiba-tiba ada.

Masri Sareb Putra

Tangsel malam ketika banyak orang sudah terlelap, 07 Novembr 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.