Pukulan yang Seolah Salah dalam “Kembali ke Jakarta” | Belajar Plus dari Murry (18)
Di tengah riuh rendah kota yang terus berubah rupa. Terselip sebuah lagu yang tetap memanggil jiwa pulang dengan lembut namun pasti. “Kembali ke Jakarta” milik Koes Plus bagai lonceng tua yang berdentang di relung kenangan.
Dirilis pada 1 November 1969 dalam album "Dheg Dheg Plas" di bawah bendera Melody, lagu ini lahir di ruang rekaman Studio Dimita di Bandengan, Jakarta.
Di sanalah Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Totok Adji Rachman, dan Kasmuri yang lebih dikenal sebagai Murry, meramu nada-nada yang kelak menjadi legenda.
Ketukan Kudus di Ujung Stik Kasmuri | Belajar Plus dari Murry (17)
Tempo lagunya mengambang di angka sembilan puluhan denyut per menit. Birama empat per empat, dalam kunci F mayor. Namun di balik kesederhanaan itu tersembunyi sebuah keajaiban: pukulan drum Murry yang tidak pernah berteriak, tetapi selalu hadir sebagai tiang yang menopang seluruh bangunan lagu.
Lagu ini tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari pergulatan, dari pergantian personel, dari keputusan berani mengubah nama keluarga menjadi nama yang lebih terbuka. Ketika Nomo Koeswoyo memilih jalan lain, ruang drum menjadi kosong. Masuklah Murry, pemuda dari Jember yang sebelumnya menggebuk beduk di band Patas milik Kejaksaan. Kehadirannya mengubah nama Koes Bersaudara menjadi Koes Plus. Kata “Plus” itu sendiri menjadi pengakuan bahwa ada sesuatu yang ditambahkan, sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Di Studio Dimita, di antara keterbatasan teknis rekaman era itu, Murry menorehkan gaya yang berbeda. Ia tidak datang dengan niat menjadi bintang. Ia datang membawa rasa, membawa denyut yang seolah-olah salah menurut kaidah ketat, namun justru lebih enak didengar.
Baca Keberanian Menghentak Pertama dalam "Penyanyi Muda" | Belajar Plus dari Murry (15)
Album "Dheg Dheg Plas" menjadi titik balik. Lagu “Kembali ke Jakarta” berdiri di dalamnya sebagai salah satu puncak. Liriknya bercerita tentang kerinduan, tentang rumah yang dibungkus kabut biru, tentang hati yang sedih di hari Minggu. Yon menyanyikannya dengan getar yang mengingatkan pada suara Barry Gibb atau Robin Gibb. Tonny mengiringi dengan organ yang lembut. Namun yang menahan seluruh rasa agar tidak runtuh adalah rentak drum Murry. Tanpa pukulan itu, lagu ini mungkin hanya menjadi ratapan biasa. Dengan pukulan itu, ratapan berubah menjadi tekad: “Ke Jakarta aku kan kembali, walaupun apa yang kan terjadi.”
Tangan dan kaki Murry yang punya mata
Murry tidak memukul drum seperti kebanyakan penabuh di zamannya. Ia memperlakukan alat itu bagai kendang dalam karawitan. Ada kelembutan yang tiba-tiba diselingi aksen tajam, ada kesenyapan yang justru memberi ruang bagi vokal untuk bernapas. Yon Koeswoyo pernah berkata bahwa cara Murry memukul sering terdengar seolah-olah salah, namun ketika didengarkan ulang, justru lebih enak dari yang benar. Itulah keunikan yang tidak bisa diajarkan di sekolah musik. Itu lahir dari rasa yang diolah oleh pengalaman, dari perjalanan panjang seorang pemuda yang meninggalkan Surabaya menuju Jakarta, membawa hanya satu tekad: bermain musik dengan jujur.
Baca "Ibu dan Lagunya" yang Bikin Malam Saya Ingat Mama | Belajar Plus dari Murry (9)
Di lagu-lagu mellow Koes Plus, Murry sering menyisipkan fill yang tak terduga. Ia tidak memamerkan kecepatan. Ia memamerkan kepekaan. Di “Kembali ke Jakarta”, kepekaan itu terasa jelas.
Pada bagian verse, pukulannya menahan diri. Kick dan snare menjaga stabilitas seperti detak jantung orang yang sedang merenung. Hi-hat atau ride mengalir pelan, tidak mengganggu. Ketika chorus datang, intensitas naik sedikit. Snare menjadi lebih tegas, seolah memberi dorongan pada kata-kata “walaupun apa yang kan terjadi”. Tidak ada gebrakan yang berlebihan. Hanya ada rasa yang tepat pada tempatnya.
Ada yang bilang bahwa Murry memukul drum seperti orang yang sedang bermain gendang. Ada yang menganggap pukulannya terlalu keras untuk lagu ballad. Ada pula yang memuji bahwa justru di situlah letak keunikannya. Ia tidak tunduk sepenuhnya pada kaidah drum barat yang kaku. Ia membawa rasa lokal, rasa yang longgar, rasa yang membiarkan sedikit ketidaksempurnaan menjadi keindahan. Dalam dunia musik yang sering kali terlalu sibuk mengejar kesempurnaan teknis, Murry memilih jalan lain. Ia memilih menjadi manusia yang bermain musik, bukan mesin yang menghasilkan ketukan.
"Senja demi Senja", Jurus Tabuh Keroncong sang Maestro yang Keluar Pakem | Belajar Plus dari Murry (11)
Pengaruh Bee Gees pada lagu ini memang terasa, terutama pada “Massachusetts”. Namun Murry memberi warna yang berbeda. Ia tidak meniru ketukan barat secara kaku. Ia menambahkan rasa lokal yang membuat lagu ini terdengar seperti milik Indonesia, bukan sebatas tiruan dari luar. Di era rekaman Dimita yang masih mengandalkan take langsung, konsistensi dan feel menjadi segalanya. Murry membuktikan bahwa ia menguasai keduanya. Ia tidak hanya menjaga ketukan. Ia menjaga jiwa lagu.
Rentak Murry di balik nada
Jika kita duduk diam dan memejamkan mata sambil mendengarkan lagu ini, kita akan menemukan bahwa Murry membangun struktur irama seperti seorang arsitek yang membangun rumah dari dalam. Verse menjadi fondasi. Chorus menjadi atap yang melindungi. Fill menjadi pintu yang menghubungkan keduanya. Tempo sembilan puluhan denyut per menit memberi ruang bagi setiap ketukan untuk bernapas. Tidak ada yang terburu-buru. Segalanya mengalir seperti sungai yang tahu ke mana harus menuju.
Baca "Ibu dan Lagunya" yang Bikin Malam Saya Ingat Mama | Belajar Plus dari Murry (9)
Pada bagian verse, kick biasanya jatuh pada ketukan satu dan tiga, sementara snare menjawab di ketukan dua dan empat. Pola dasar ini sederhana, hampir seperti detak jantung. Namun di tangan Murry, pola itu hidup. Ia memberi sedikit tekanan di sana-sini, sedikit penundaan di tempat tertentu, sedikit aksen yang membuat ketukan terasa lebih manusiawi. Hi-hat atau ride mengalir dengan konsisten, tidak terlalu keras, tidak terlalu lembut. Ia menjadi lapisan yang menjaga agar lagu tidak kehilangan arah.
Ketika chorus tiba, ada perubahan intensitas yang halus. Snare menjadi lebih tegas. Kick sedikit lebih dalam. Ada dorongan yang tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk membawa kata-kata Yon naik ke permukaan. Fill yang muncul di antara bagian-bagian lagu tidak pernah terlalu panjang. Ia hanya sekejap, seperti napas yang diambil sebelum berbicara lagi. Murry tahu bahwa di lagu ballad, fill yang berlebihan justru bisa merusak suasana. Ia memilih menjadi pelayan lagu, bukan penguasa panggung.
Pengaruh Bee Gees pada lagu ini memang terasa, terutama pada “Massachusetts”. Namun Murry memberi warna yang berbeda. Ia tidak meniru ketukan barat secara kaku. Ia menambahkan rasa lokal, rasa yang longgar, rasa yang membiarkan sedikit ketidaksempurnaan menjadi keindahan. Di era rekaman Dimita yang masih mengandalkan take langsung, konsistensi dan feel menjadi segalanya. Murry membuktikan bahwa ia menguasai keduanya. Ia tidak hanya menjaga ketukan. Ia menjaga jiwa lagu.
Murry Mengubah Hambatan Menjadi Peluang dan Badai Dinasti Keluarga Koeswojo | Belajar Plus dari Murry (4)
Bagi siapa pun yang ingin memahami lebih dalam, cara terbaik adalah mendengarkan original berulang-ulang dengan fokus hanya pada drum. Matikan sementara perhatian pada vokal dan gitar. Biarkan telinga hanya menangkap kick, snare, dan hi-hat. Rasakan di mana snare jatuh. Rasakan seberapa dalam kick menyentuh. Rasakan bagaimana fill diposisikan relatif terhadap frasa vokal. Jangan terlalu bersih. Biarkan ada sedikit getaran manusia di dalamnya. Itu adalah warisan yang sesungguhnya.
Hingga hari ini, “Kembali ke Jakarta” masih sering dibawakan, dicover, dan dikenang. Ada yang membawakannya dengan irama reggae, ada yang dengan gaya akustik, ada yang dengan aransemen besar. Namun yang selalu terasa hilang jika tidak hati-hati adalah fondasi drum yang dibangun Murry. Ia tidak pernah menjadi pusat perhatian. Ia memilih menjadi tulang punggung. Dalam kesederhanaan itu, ia justru menjadi abadi.
Serial “Belajar Plus dari Murry” ini bukan hanya tentang teknik drum. Ia tentang bagaimana seseorang bisa menjadi penambah tanpa harus mencuri cahaya. Murry datang sebagai orang luar keluarga Koeswoyo. Ia pergi meninggalkan jejak yang lebih dalam daripada nama di sampul album.
Ketika kita mendengar “Kembali ke Jakarta” hari ini, kita tidak hanya mendengar lagu. Kita mendengar denyut seorang drummer yang tahu kapan harus diam dan kapan harus berbicara dengan pukulannya. Di situlah letak kebesarannya. Di situlah letak pelajaran yang terus hidup, meski tubuhnya telah kembali ke tanah.
Belajar plus dari Murry
Dari permainan Murry pada lagu ini, kita bisa memetik beberapa pelajaran yang melampaui teknik.
Pertama, groove lebih penting daripada kecepatan atau kerumitan. Tempo yang sedang justru menuntut kepekaan yang lebih tinggi.
Kedua, dinamika adalah napas. Drummer yang baik tahu kapan harus menahan dan kapan harus mendorong. Murry menahan di verse dan memberi dorongan di chorus dengan sangat bijaksana.
Ketiga, aksen yang “salah” kadang justru menjadi kebenaran musikal.
Baca Arsitektur Dayak dalam Pose Sampul Kaset Jadul Koes Plus | Belajar Plus dari Murry (3)
Keberanian menempatkan pukulan di tempat yang tidak biasa hanya dimiliki oleh mereka yang telah melewati banyak malam latihan dan banyak kekecewaan.
Keempat, adaptasi adalah kekuatan. Murry datang dari background yang lebih keras, namun ia mampu menyesuaikan diri dengan material ballad tanpa kehilangan jati diri.
Kelima, konteks studio membentuk karakter. Keterbatasan teknisi era Dimita memaksa setiap pemain menjadi solid sejak take pertama. Tidak ada ruang untuk berpura-pura.
Bagi generasi yang datang kemudian, pelajaran ini tetap relevan. Di tengah derasnya teknologi yang memungkinkan segalanya disempurnakan di komputer, kehadiran rasa manusia menjadi semakin berharga. Murry mengingatkan kita bahwa musik yang bertahan lama bukan selalu yang paling rumit atau paling sempurna secara teknis.
Musik yang bertahan lama adalah yang membawa denyut, yang membawa jejak manusia, yang membawa kejujuran. Dan di “Kembali ke Jakarta”, kejujuran itu terdengar jelas di setiap pukulan drum yang seolah-olah salah, namun justru menjadi benar.
(Bersambung)
Masri Sareb Putra
Tangsel pagi 06 November 2026.
0 Comments