Ketika Tonny Menjemput Takdir Murry | Belajar Plus dari Murry (5)

Belajar Plus dari Murry
Murry (kanan pembaca)  di antara Koes Bersaudara yang menjadikan Koes Plus. Ist.

Kasmuri, sang penggebuk drum legendaris, adalah mata air kreativitas yang tak pernah kering.

Kisah hidup Murry bagaikan sumur tua tak pernah kering. Tetap ada terus isinya wlaupun diulik, digali, ditimba, dan ditulis tanpa ujung. Meski setiap hari timba-timba sejarah menurunkan wadahnya ke dalam sanubari sang maestro, kandungan isinya tak kunjung surut. 

Baca Murry Mengubah Hambatan Menjadi Peluang dan Badai Dinasti Keluarga Koeswojo | Belajar Plus dari Murry (4)

Melalui sosok Murry, kita dapati sebuah laku hidup yang agung: bagaimana menjadi "Plus", yaitu memberi nilai tambah nyata pada sebuah entitas mapan yang tengah diuji badai zaman.

Ketika Tonny Koeswoyo melayangkan pandangan mencari pengganti Nomo Koeswoyo yang memilih menepi ke rimba bisnis, keraguan sempat membayang. 

Sanggupkah pemuda luar dinasti Koeswoyo memenuhi ekspektasi publik?
Jawabannya termaktub dalam sejarah. Murry menepis segala skeptisisme dengan sebuah pembuktian musikalitas yang tiada banding.

Di jagat persilatan musik Nusantara, pergulatan ini laksana seorang pendekar muda yang menginjakkan kaki di padang yang telah dikuasai oleh para tetua tangguh. Langkah Kasmuri bukan semata-mata mengayunkan kaki ke muka, melainkan sebuah makrifat bunyi. 

Baca Arsitektur Dayak dalam Pose Sampul Kaset Jadul Koes Plus | Belajar Plus dari Murry (3)

Di bawah asuhan spiritualitas seni yang dalam, ia tidak datang untuk meruntuhkan kuil yang lama, melainkan membawa seberkas cahaya baru demi menyempurnakan tiang-tiang penyangga yang mulai goyah akibat ditinggal pergi oleh salah satu pilarnya.

Takdir sang penabuh drum dari timur

Kasmuri dilahirkan di Surabaya pada tanggal 18 Juni 1949. Masa mudanya tumbuh ranum di era kekuasaan Orde Lama yang mengetatkan sensor terhadap musik Barat yang dicap kapitalis. Akses untuk menimba inspirasi dari The Beatles begitu terbatas. Namun, bakat bawaan (aanleg) tak bisa dipasung. 

Sebelum takdir mempertemukannya dengan Tonny Koeswoyo, Murry telah mengasah kelihaian jemarinya sebagai pencabik gitar utama sekaligus penabuh drum pada Band Patas asal Surabaya milik Kejaksaan.

Baca Bukan hanya Koes Plus Mania | Belajar Plus dari Murry (2)

Saat badai keretakan melanda Koes Bersaudara akibat mundurnya Nomo, sang penghubung Tommy Darmo mengenalkan Murry kepada Tonny Koeswoyo di Jakarta. 

Hadirnya Murry (bersama Totok AR pada bass) mengubah struktur dinasti keluarga tersebut menjadi sebuah entitas baru yang revolusioner: Koes Plus. Kata "Plus" menjadi penanda abadi masuknya darah segar di luar trah Koeswoyo. Murry adalah perlambang dari wong cilik yang memahat takdirnya sendiri lewat ketukan bilah-bilah kayu. Ia memahami bahwa musik bukan cuma perkara memukul membran kulit lembu, melainkan sebuah dialektika sunyi antara detak jantung manusia dengan deru zaman yang bergolak.

Kerikil tajam debut Dheg Dheg Plas

Jalan menuju puncak tidaklah ditaburi kelopak mawar. Album perdana mereka yang bertajuk Dheg Dheg Plas (1969) garapan label Melody Records awalnya meledak di pasar sebagai kegagalan komersial. Putus asa akibat ketiadaan pemasukan, Murry bahkan sempat memilih pulang kampung ke Surabaya. Di kota pahlawan itu, ia menyambung hidup dengan bermain musik bersama musisi legendaris Gombloh, dengan bayaran yang semata-mata cukup untuk membeli sembako.

Namun, seni sejati selalu menemukan jalannya pulang. Pelan tapi pasti, lagu-lagu di dalam album tersebut mulai merayap di gelombang udara radio dan merebut hati pendengar. Tonny Koeswoyo kemudian menyusul Murry ke Surabaya, menjemput sang drummer pulang ke Jakarta menumpangi kereta malam berselimut sarung. Sejarah kemudian mencatat bahwa album Dheg Dheg Plas bertransformasi menjadi salah satu album tersukses dengan penjualan lebih dari 1,8 juta kopi, dan dinobatkan oleh majalah Rolling Stone Indonesia sebagai Peringkat ke-4 dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa. Mahakarya seperti "Kelelawar", "Manis dan Sayang", "Derita", dan "Kembali ke Jakarta" menjelma menjadi warisan kebudayaan yang abadi (evergreen).

Di sinilah letak heroisme seorang Kasmuri. Bagai seorang pengembara yang terlunta-lunta di gurun gersang, ia tidak mencaci takdir yang membenturnya. Ia membiarkan jiwanya ditempa oleh kemiskinan dan penolakan, hingga pukulan drumnya kelak tidak lagi terdengar kosong, melainkan berisi jeritan, harapan, dan tawa riang manusia-manusia jelata yang merindukan kebebasan.

Mengubah kritik menjadi mahakarya

Di bawah naungan label Remaco sejak era 1970-an, Koes Plus menjelma menjadi mesin pencetak hit yang sangat produktif. Corak pukulan drum Murry menggebrak pakem pop melankolis masanya. Pukulannya bertenaga, lincah, dinamis, dan penuh sinkopasi rock 'n roll layaknya Ringo Starr, namun tetap memiliki sensitivitas lokal yang kental.

Dimensi MusikKarakteristik Murry Nilai plus pada Koes Bersaudara
Pola DrummingEnergik, penuh variasi, dan menyimpang dari pakem pop konvensional pada masanya.Memberikan struktur ketukan (beat) rock yang bertenaga dan modern pada lagu pop tanah air.
Eksplorasi EtnikMengadopsi langgam ketukan kendang tradisional Melayu dan Nusantara ke atas perangkat drum modern.Mengangkat derajat musik Pop Melayu dan lagu daerah ("Mak Engket", "O Lala") ke level yang megah dan dinamis.
ProduktivitasKemampuan multi-instrumentalist dan pencipta lagu yang andal.Memungkinkan grup merilis puluhan album lintas genre (Pop, Rock, Keroncong, Dangdut, Jawa) dalam waktu singkat.

Meski sempat diterpa badai kritik miring, mulai dari tuduhan plagiator The Beatles hingga cap musik "kampungan" karena liriknya yang lugas, para personel Koes Plus tetap bergeming. Mereka menjawab cibiran itu dengan dedikasi tinggi pada passion dan panggilan hidup. Di bawah pukulan tangan Murry, kritik-kritik pedas itu luluh lantak menjadi harmoni yang justru menyatukan bangsa dari sabang sampai merauke.

Nilai plus sang Murry

Peran Murry bukan semata-mata pelengkap atau penabuh di balik bayang-bayang Koeswoyo bersaudara. Dialah yang meniupkan roh baru, meruntuhkan sekat eksklusivitas komunal, dan menyuntikkan energi modernitas pada musik Koes Plus.

Melalui ketukan jemarinya pada lagu-lagu seperti "Mak Engket", "Cinta Mulia", hingga pola drum yang berderap kencang dalam seri lagu "Nusantara", Murry membuktikan bahwa nilai tambah sejati lahir dari keberanian berinovasi tanpa kehilangan pijakan akar budaya.

Baca Murry yang Membuat Koes Bersaudara menjadi: Koes Plus | Belajar Plus dari Murry (1)

Langkah kakinya di atas pedal drum adalah wujud keteguhan batin seorang ksatria yang tidak goyah oleh sanjungan dan tidak tumbang oleh makian. 

Hingga akhir hayatnya pada 1 Februari 2014 di Bekasi. Murry tercatat sebagai personel non-Koeswoyo yang paling awet, tangguh, dan setia menjaga denyut nadi legasi Koes Plus menembus batas waktu. 

Murry telah tuntas menunaikan tugasnya sebagai sang pembuat nilai plus, mengukir namanya dengan tinta emas yang tak akan luntur oleh pusaran zaman.

(Bersambung)

Masri Sareb Putra
Duren Sawit, senjakala 02-10 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.