Rentak Irama Drum Desember yang tak Terjebak Overplaying | Belajar Plus dari Murry (13)

Lagu "Desember" ditulis oleh Murry sebagai bentuk refleksi sentimental atas dualisme rasa dalam sebuah hubungan. Liriknya menangkap esensi romantisme masa lalu yang kontradiktif. 

Lagu ini menggambarkan momen jatuh cinta yang indah di akhir tahun (bulan Desember). Namun, di sisi lain harus dijalani dengan penuh penderitaan dan air mata. Bagi Murry, Desember menjadi simbol waktu penutup yang abadi untuk sebuah fase hidup yang tidak akan pernah ia lupakan.

Menariknya, momentum perilisan lagu ini pada Juli 1973 bertepatan dengan fase transisi besar Koes Plus yang hijrah dari label Dimita ke Remaco. Murry sengaja menyuguhkan lagu ini dengan dinamika upbeat ceria untuk membawa energi baru bagi band di bawah naungan studio baru mereka.

Melalui lagu "Desember", Murry tidak hanya mengetuk drum. Ia mengetuk hati para pendengarnya. Lagu ini menjadi bukti nyata bahwa ruang kreativitas di dalam Koes Plus begitu demokratis. Di sana seorang pemain drum diberikan panggung utama untuk menyuarakan isi hatinya secara utuh, didukung penuh oleh petikan gitar Yon dan Tonny, serta kawalan bass Yok.

Keharmonisan kerja sama ini tentu tidak luput dari dinamika di balik layar studio Remaco. Sebagai satu-satunya personel yang bukan dari klan Koeswoyo. Bagaimana Murry menjaga ritme persaudaraan dan komunikasi bermusik yang setara dengan rekan-rekannya?

Sinkronisasi Jiwa dan Ketukan dalam "Desember"

Lagu bertema perpisahan atau kenangan pahit biasanya dibungkus dalam aransemen yang mendayu-dayu. Namun, formula itu dipatahkan secara elegan oleh Kasmuri, atau yang lebih kita kenal sebagai Murry, lewat mahakaryanya yang bertajuk "Desember".

Dirilis asli pada bulan Juli 1973 dalam album ikonik Volume 8 di bawah label Remaco. Lagu ini bukan hanya pelengkap diskografi Koes Plus. "Desember" adalah pembuktian kelas seorang Murry sebagai maestro, pencipta lagu, sekaligus pionir singing drummer di Indonesia.

Denyut Pop Keroncong dalam Ragam Ketukan "Kutunggu" | Belajar Plus dari Murry (12)

Melalui artikel ini, kita akan membedah bagaimana rentak irama drum Murry tidak hanya berfungsi sebagai penjaga tempo. Ia juga sekaligus ruh yang menggerakkan dualisme rasa dalam lagu ini.

Ketukan ceria untuk lirik melankolis

Jika kita menelaah liriknya, "Desember" membawa narasi yang cukup kelam tentang penderitaan, masa lalu yang pahit, dan air mata. Namun, alih-alih membawa pendengar ke dalam suasana duka yang cengeng, Murry justru meracik aransemen musiknya dengan nuansa upbeat yang ceria.

Baca "Ibu dan Lagunya" yang Bikin Malam Saya Ingat Mama | Belajar Plus dari Murry (9)

Murry menerapkan pola ketukan pop-rock straight dengan sukat 4/4 yang konstan. Permainan hi-hat dibuat rapat dan dinamis, sementara ketukan snare jatuh dengan tegas pada ketukan kedua dan keempat. Pukulan drum yang stabil dan bertenaga ini memberikan dorongan energi (drive) yang kuat. Kontras ini sangat cerdik; Murry seolah ingin menyampaikan pesan bahwa meski masa lalu itu perih, kehidupan harus tetap berjalan dengan optimisme.

Sebagai seorang pemain drum, salah satu jebakan terbesar adalah keinginan untuk pamer teknik (overplaying). Namun, dalam "Desember", kita bisa belajar banyak tentang kedewasaan bermusik dari seorang Murry.

"Senja demi Senja", Jurus Tabuh Keroncong sang Maestro yang Keluar Pakem | Belajar Plus dari Murry (11)

Fill-in atau gebrakan transisi yang ia mainkan di lagu ini tergolong sederhana, rapi, dan efisien. Murry menahan egonya. Ia menempatkan variasi pukulan drum secara presisi hanya sebagai jembatan yang manis untuk mengantarkan perpindahan dari bait lirik (verse) menuju bagian chorus. Pendekatan ini membuat aransemen drum terasa sangat harmonis, menyatu erat dengan petikan gitar Tonny dan Yon Koeswoyo, serta kawalan bass dari Yok Koeswoyo.

Gaya Vokal: Murry vs. Yon Koeswoyo

Dalam lagu "Desember", Murry bertindak sebagai vokalis utama dengan kawalan harmoni dari Yon dan Tonny Koeswoyo. Kombinasi ini menampilkan kontras vokal yang sangat unik:

Dalam lagu "Desember", Murry bertindak sebagai vokalis utama dengan kawalan harmoni dari Yon dan Tonny Koeswoyo. Kombinasi ini menampilkan kontras vokal yang sangat unik:
KarakteristikGaya Vokal MurryGaya Vokal Yon Koeswoyo
Warna Suara (Timbre)Cenderung lebih tebal, empuk, dan membumi dengan artikulasi pop yang lugas.Lebih melankolis, berkarakter tenor tinggi, dan memiliki vibra ratapan yang khas.
Penjiwaan & EmosiMenampilkan ketegaran; menyanyikan lirik sedih dengan pembawaan yang tenang, lugas, dan stabil.Sangat ekspresif dalam menguras emosi pendengar, cenderung dramatis dan menyayat hati.
Kontrol NapasSangat efisien dan terjaga demi mengimbangi fisiknya yang sedang menggebuk drum.Lebih leluasa memainkan dinamika volume dan panjang-pendeknya nada karena berfokus pada gitar ritme.

Alat musik Koes Plus era 1973

Tahun 1973 merupakan lompatan teknologi rekaman bagi Koes Plus. Studio Remaco saat itu baru saja memperbarui sistem mereka ke mesin recording 16 track (meningkat pesat dari Dimita yang masih menggunakan 8 track). Hal ini membuat detail instrumen mereka di album Volume 8 terdengar jauh lebih jernih, tebal, dan terpisah dengan baik.

Yang berikut ini adalah pos dan perkiraan alat musik yang mereka gunakan pada era tersebut:
1. Tonny Koeswoyo (Kibor & Gitar): Menggunakan kibor elektrik/organ ikonik era 70-an (seperti Farfisa atau Vox Continental) yang menghasilkan suara drawbar organ tipis dan tajam pada lagu pop, dipadukan dengan gitar elektrik Fender Stratocaster.

2. Yon Koeswoyo (Gitar Ritme): Setia dengan gitar elektrik semi-hollow body (seperti Epiphone atau Ibanez lawas) untuk memberikan ketebalan pada ritme dasar lagu.

3. Yok Koeswoyo (Bass): Menggunakan bass guitar elektrik Fender Jazz Bass atau Precision Bass dengan karakter senar flatwound yang menghasilkan dentuman low-end bulat khas pop 70-an.

4. Murry (Drum): Set drum akustik vintage era 70-an (kemungkinan besar Ludwig atau Pearl vintage) dengan konfigurasi sederhana: satu snare, satu kick drum, satu rack tom, satu floor tom, hi-hat, dan satu crash/ride cymbal.  Karakter snare-nya disetel cukup kering (dry) namun empuk, sangat pas untuk ketukan konstan 4/4.


Nilai "Plus" dari Murry

Baca "Ibu dan Lagunya" yang Bikin Malam Saya Ingat Mama | Belajar Plus dari Murry (9)

Aktivitas ini membutuhkan koordinasi motorik tingkat tinggi, kontrol napas yang prima, dan pembagian fokus yang seimbang. Ketukan drum Murry di lagu ini bertindak layaknya metronome hidup bagi band. Sementara di saat bersamaan, suaranya harus tetap stabil melantunkan nada-nada melodius. Kesederhanaan pola drum yang ia pilih justru menjadi kunci keberhasilannya menjaga stabilitas vokal tanpa merusak tempo lagu.

Melalui "Desember", Murry memberikan pelajaran berharga bahwa kekuatan sebuah lagu tidak selalu terletak pada kerumitan tekniknya, melainkan pada ketepatan rasa dan efisiensi aransemen. 

Murry berhasil membuktikan bahwa seorang drummer di balik simbal dan tom-tom tidak hanya bertugas di "dapur" ritme. Ia juga mampu berdiri di depan sebagai pemegang kemudi estetika sebuah lagu.
(Bersambung)

Masri Sareb Putra

Tangsel senjakala 04 November 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.