Kongres Internasional Literasi Dayak (KLD) I di Sekadau 16 Mei 2026: Mereka yang Berkanjang hingga Akhir
| Kongres Internasional Literasi Dayak (KLD) I di Sekadau 16 Mei 2026: Mereka yang berkanjang hingga akhir. Ist. |
Diam-diam, saya memperhatikan dengan saksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya 127 peserta aktif Kongres Literasi Dayak (16 Mei 2026) di bumi Lawang Kuwari, Sekadau.Pengamatan saya sudah tentu bersifat subjektrif. Juga reflektif dan partisipatif. Tidak dimaksudkan sebagai pemetaan yang mutlak. Apalagi final.
Meski demikian, dari keseluruhan dinamika yang berlangsung sejak pembukaan hingga penutupan kegiatan, tampak satu pola yang cukup terang. Tidak semua hadir berarti bertahan.
Baca Iban Dream dan Pelajaran dari MURI
Tidak semua yang duduk di kursi seminar sungguh-sungguh menyelesaikan perjalanan intelektualnya. Hanya sebagian yang benar-benar setia. Berkanjang. Dan mengikuti seluruh rangkaian kongres secara utuh. Dari awal hingga akhir.
Dalam lanskap kegiatan ilmiah dan literasi seperti Kongres Literasi Dayak (KLD), daya tahan intelektual sering kali tidak kalah penting dibandingkan kapasitas berbicara atau kemampuan menyampaikan gagasan di podium.
Justru di balik panggung utama yang penuh sorotan, terdapat kerja sunyi yang jauh lebih melelahkan. Mendengarkan secara saksama tanpa kehilangan fokus. Mencatat secara disiplin tanpa putus perhatian. Menjaga konsentrasi dalam rentang waktu yang panjang tanpa jeda mental yang signifikan. Inilah bentuk ketekunan akademik yang kerap tidak terlihat. Tetapi sesungguhnya menjadi fondasi bagi tumbuhnya ekosistem literasi yang sehat dan berkelanjutan.
Baca Struktur Epistemologis Kongres Internasional I Literasi Dayak Sekadau 2026
Dari 127 peserta aktif tersebut, saya mencatat sekurang-kurangnya terdapat lima kategori peserta yang menunjukkan kesetiaan dan ketahanan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.
Sebuah awal senantiasa dan sejatinya tidaklah mudah. Jika toh ada perbedaan, dan dinamika, hal itu merupakan "ribut tukang", untuk rapi. Untuk beres! Untuk selesai!
Pertama. Terdapat 43 peserta yang berasal dari aktivis Gerakan Keling Kumang (GKK). Kelompok ini memperlihatkan disiplin partisipatif yang kuat. Mereka tidak hanya hadir secara fisik. Tetapi juga hadir secara mental dan intelektual. Kehadiran mereka bukan sekadar simbolik. Melainkan keterlibatan penuh dalam proses menyimak, mencatat, berdialog, dan merespons gagasan-gagasan yang berkembang dalam forum. Dalam konteks gerakan literasi, kelompok ini dapat dipandang sebagai tulang punggung partisipasi yang memiliki komitmen jangka panjang terhadap pengembangan pengetahuan berbasis komunitas. Bukan sekadar konsumsi wacana sesaat.
Kedua. Peserta yang datang dari Kalimantan Tengah. Khususnya Palangka Raya. Kehadiran mereka menunjukkan dimensi lintas wilayah dalam gerakan literasi Dayak yang semakin menguat. Mobilitas geografis yang mereka tempuh bukan hal sederhana. Ia melibatkan energi, waktu, dan biaya. Namun yang lebih penting dari sekadar kehadiran fisik adalah ketekunan mereka mengikuti seluruh proses hingga akhir. Mereka tidak berhenti pada euforia awal. Tetapi tetap bertahan hingga sesi terakhir. Ini menjadi indikator kuat kesungguhan intelektual. Patut dicatat dalam sejarah kecil kongres ini.
Baca Dr. Yansen TP : Gerakan Literasi sebagai Jalan Memajukan Dayak
Ketiga. Peserta dari Kalimantan Selatan. Kelompok ini memperlihatkan karakter yang relatif sama. Konsistensi. Ketekunan. Dan kesetiaan dalam mengikuti keseluruhan rangkaian kegiatan. Dalam banyak forum ilmiah, sering terjadi fenomena partisipasi parsial. Hadir di awal. Lalu meninggalkan forum sebelum selesai.
Namun kelompok ini menunjukkan hal yang berbeda. Mereka bertahan. Menyimak. Mencatat. Dan mengikuti alur diskusi secara utuh. Dalam perspektif pendidikan orang dewasa. Ini adalah bentuk self-discipline yang tidak sederhana. Karena melawan rasa jenuh dan distraksi.
Keempat. Peserta dari Kalimantan Utara. Kelompok ini tidak hanya hadir sebagai peserta pasif. Mereka juga aktif dalam menghubungkan berbagai gagasan yang tersebar di ruang kongres. Mereka melakukan connecting the dots. Menyambungkan ide antar panel. Antar narasumber. Bahkan antar sesi yang berbeda. Dalam konteks literasi, kemampuan ini adalah kecerdasan sintesis. Kemampuan merangkai fragmen pengetahuan menjadi pemahaman yang utuh. Mereka tidak sekadar mendengar. Mereka mengolah. Menghubungkan. Dan menghidupkan gagasan menjadi kesadaran baru.
Kelima. Mereka yang oleh sebab satu dan lain hal harus meninggalkan forum lebih awal. Namun tidak pergi tanpa jejak intelektual. Mereka tetap meninggalkan catatan. Gagasan. Percikan ide. Dan energi awal yang ikut menggerakkan dinamika kongres. Dalam pengertian tertentu. Mereka tetap bagian dari ekosistem ini. Meskipun tidak menyelesaikan seluruh sesi secara fisik. Mereka ikut menyalakan api literasi yang kemudian diteruskan oleh peserta lain yang bertahan hingga akhir.
Baca Simbol Burung Enggang yang Mengibarkan Harapan Literasi Dayak
Perlu diberi catatan reflektif. Dalam konteks seminar, kongres, atau forum ilmiah, pihak yang paling lelah bukanlah pembicara. Bukan narasumber. Bukan panelis. Bahkan bukan moderator. Mereka bekerja dalam waktu yang relatif terbatas. Dengan ritme yang tersegmentasi. Sebaliknya, pihak yang paling menguras energi adalah mereka yang memilih untuk mendengarkan secara penuh. Mencatat secara kontinu. Dan menjaga fokus dalam durasi panjang tanpa kehilangan konsentrasi. Aktivitas ini menuntut ketahanan kognitif. Kesabaran intelektual. Dan disiplin diri yang tidak kecil.
Oleh karena itu, mereka yang mampu bertahan hingga akhir sesungguhnya telah memperlihatkan sebuah prestasi tersendiri. Berkanjang hingga akhir bukan sekadar kehadiran administratif. Melainkan pencapaian intelektual yang patut diapresiasi. Dalam ekologi literasi yang sedang kita bangun bersama. Dalam tradisi akademik yang sehat. Ketekunan seperti ini semestinya tidak hanya dicatat. Tetapi juga diberi ruang penghargaan yang layak.
Mencatat dan menyebut mereka sebagai contoh adalah bentuk apresiasi sederhana. Namun bermakna. Ini bukan sekadar pujian. Tetapi penegasan nilai. Bahwa dalam dunia literasi, ketekunan sama pentingnya dengan kepandaian berbicara. Bahkan dalam banyak kasus. Ketekunan jauh lebih menentukan daripada retorika yang gemilang tetapi cepat hilang.
Baca Dekolonisasi Narasi Identitas: Warisan Kolonial dan Rekonstruksi Identitas Dayak di Borneo
Patut untuk diteladani. Sebab dalam perjalanan panjang pembangunan budaya literasi, yang kita butuhkan bukan hanya mereka yang pandai berbicara. Tetapi juga mereka yang setia mendengar. Tekun mencatat. Mampu menghubungkan gagasan. Dan berkanjang hingga akhir.
Di sanalah letak prestasi yang paling sunyi. Tetapi justru paling bermakna.
Menurut saya pribadi, pukul rata, Kongres Literasi Dayak telah berjalan sesuai dengan tujuan yang dirumuskan sejak awal. Arah, substansi, dan dinamika diskusi menunjukkan bahwa forum ini tidak sekadar seremonial, melainkan sebuah ruang intelektual yang hidup, dialogis, dan produktif. Di dalamnya terjadi pertukaran gagasan yang cukup intens antara pengalaman lapangan, refleksi akademik, serta visi kebudayaan yang lebih luas.
Apabila terdapat hal-hal yang belum sepenuhnya tersampaikan dalam forum lisan, hal tersebut tidak dapat dipandang sebagai kekurangan yang fatal. Sebab, masih tersedia dokumen pendukung berupa PPT, paper, dan makalah yang bersifat terdokumentasi dan abadi. Materi-materi tersebut memiliki daya tahan intelektual yang panjang dan dapat terus direfleksikan, dikembangkan, serta dikritisi dalam ruang akademik berikutnya.
Dengan demikian, pengetahuan tidak berhenti pada momen kongres, tetapi berlanjut dalam bentuk arsip ilmiah yang hidup.
***
Salah satu capaian penting dari kongres ini adalah terbukanya ruang untuk connecting the dots (menghubungkan berbagai gagasan yang sebelumnya tersebar, terfragmentasi, dan berdiri sendiri.; selain menghubungkan relasi dan koneksi untuk kolaborasi).
Proses ini memungkinkan lahirnya sintesis baru yang lebih utuh dan sistematis dalam membaca realitas literasi Dayak.
Kesempatan yang sama untuk semua peserta KLD telah dibuka. Dan kini bola ada di tangan masing-masing. Menjadi tanggung jawab bersama para peserta dan pemerhati untuk melanjutkan, memperdalam, dan mengontekstualisasikannya dalam kerja-kerja intelektual yang berkelanjutan.
***
Demikian pula, segala keterbatasan (berbeda dengan kekurangan) yang dikerjakan Tim Panitia, karena ini murni ministry demi kerja-literasi dan literasi-yang bekerja (literacy that works), kerja sosial, patut untuk diapresiasi.
Sebuah awal senantiasa dan sejatinya tidaklah mudah. Jika toh ada perbedaan, dan dinamika, hal itu merupakan "ribut tukang", untuk rapi.
Untuk beres!
Untuk selesai!
Jakarta, Sabtu pagi, 23 Mei 2026.
0 Comments