Petrus Gunarso Mohon Izin dan Restu Membangun Rumah Buku Dayak di Yogyakarta

Model Rumah Buku Dayak yang akan dibangun Petrus Gunarso
Model Rumah Buku Dayak yang akan dibangun Petrus Gunarso, sosok Jawa berhati Dayak. Ist.

Petrus Gunarso, Ph.D. seorang Jawa berhati Dayak mohon izin dan restu membangun rumah buku Dayak di Yogyakarta. Rumah Buku Dayak hadir sebagai pusat literasi, dokumentasi budaya, dan transformasi pengetahuan Dayak menuju era digital global dengan konsep arsitektur rendah karbon khas Borneo. 

Di tengah perubahan dunia yang bergerak sangat cepat akibat digitalisasi dan perkembangan teknologi informasi, masyarakat adat menghadapi tantangan baru.

Baca Struktur Epistemologis Kongres Internasional I Literasi Dayak Sekadau 2026

Pengetahuan lokal yang selama ratusan tahun diwariskan secara lisan perlahan mulai terdesak oleh arus modernisasi. Banyak tradisi, cerita rakyat, pengetahuan pengobatan, hingga filosofi hidup masyarakat adat yang terancam hilang apabila tidak segera didokumentasikan.

Kesadaran itulah yang melahirkan gagasan besar tentang Rumah Buku Dayak.

Konsep ini diperkenalkan oleh Petrus Gunarso dalam paparannya pada sesi pembuka narasumber utama Kongres Internasional Literasi Dayak I di Sekadau, Kalbar, 16 Mei 2026. Dalam struktur manajemen Penerbit Lembaga Literasi DayakPetrus Gunarso adalah Direktur Kelembagaan dan Kerja Sama dengan visi “From Dayak to the World.” 

Petrus Gunarso
Petrus Gunarso, Ph.D. : Jawa berhati Dayak. Ist.
Rumah Buku Dayak dirancang sebagai pusat pengembangan literasi dan transformasi pengetahuan Dayak ke dalam bentuk buku, karya digital, arsip budaya, dan berbagai produk kreatif lainnya. 

Gagasan ini menunjukkan bahwa literasi tidak lagi dipahami hanya sebatas membaca dan menulis. Literasi kini dipandang sebagai cara masyarakat Dayak menjaga identitas, memperkuat posisi budaya, dan membangun masa depan generasi muda.

Baca Dr. Yansen TP : Gerakan Literasi sebagai Jalan Memajukan Dayak

Selama ini banyak pengetahuan masyarakat Dayak tersimpan dalam ingatan kolektif para tetua adat dan praktik kehidupan sehari-hari di kampung-kampung. Namun, pengetahuan seperti itu rentan hilang apabila tidak didokumentasikan. Rumah Buku Dayak diharapkan menjadi tempat untuk menghimpun, menulis, merekam, dan menyebarluaskan seluruh kekayaan pengetahuan tersebut.

Rumah Buku Dayak bukan sekadar perpustakaan atau gedung penyimpanan buku. Ia diproyeksikan menjadi pusat peradaban baru masyarakat Dayak yang menghubungkan budaya tradisional dengan dunia modern.

Menggabungkan Arsitektur Tradisional dan Konsep Modern

Salah satu hal menarik dari konsep Rumah Buku Dayak adalah pendekatan arsitekturnya yang tetap berpijak pada identitas budaya lokal. Dalam konsep yang dipresentasikan, bangunan Rumah Buku Dayak menggunakan sekitar 85 persen material bambu, kayu, dan kaca. 

Baca Tim Perumus Kongres Internasional I Literasi Dayak di Sekadau, Kalbar, 16 Mei 2026

Penggunaan material tersebut bukan hanya soal estetika, tetapi juga menunjukkan filosofi masyarakat Dayak yang hidup dekat dengan alam. Sejak dahulu, bambu dan kayu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Dayak, mulai dari pembangunan rumah panjang hingga berbagai perlengkapan tradisional lainnya.

Konsep ini juga menekankan pendekatan rendah karbon dan jejak lingkungan minimal.  Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap isu perubahan iklim dan kerusakan hutan tropis, konsep bangunan yang ramah lingkungan menjadi sangat relevan.

Rumah Buku Dayak tidak ingin tampil sebagai bangunan modern yang terputus dari akar budaya. Sebaliknya, bangunan ini ingin menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan berdampingan.

Selain itu, Rumah Buku Dayak juga dirancang sebagai ruang interaktif hybrida.  Maksudnya, aktivitas literasi tidak hanya berlangsung secara fisik, tetapi juga melalui ruang digital. Pengetahuan Dayak nantinya dapat diakses dalam bentuk buku elektronik, arsip digital, video dokumenter, podcast, hingga platform media sosial.

Baca Setelah Kongres Literasi Dayak Internasionnal I dan The 1st Dayak Book Fair 2026 Usai

Pendekatan seperti ini penting karena generasi muda saat ini hidup di era internet dan teknologi digital. Jika budaya Dayak tidak hadir di ruang digital, maka generasi muda akan semakin jauh dari akar budayanya sendiri.

Karena itu, Rumah Buku Dayak dirancang bukan sebagai museum budaya yang pasif, tetapi sebagai ruang hidup yang terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.

Literasi Dayak Memasuki Era Digital

Kehadiran Rumah Buku Dayak juga menunjukkan perubahan cara berpikir baru dalam gerakan literasi Dayak. Selama ini, kegiatan literasi sering hanya dipahami sebagai seminar, diskusi, atau penerbitan buku cetak. Padahal, perkembangan dunia digital telah mengubah cara manusia belajar dan mengakses informasi.

Melalui konsep transformasi menjadi buku dan karya digital,  Rumah Buku Dayak ingin memastikan bahwa pengetahuan masyarakat Dayak dapat hadir di berbagai platform modern.

Ini menjadi penting karena persaingan global hari ini tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh penguasaan informasi dan produksi pengetahuan. Masyarakat yang mampu menulis, mendokumentasikan, dan mempublikasikan budayanya sendiri akan memiliki posisi lebih kuat dalam percakapan global.

Dalam konteks itu, Rumah Buku Dayak dapat menjadi pusat lahirnya penulis, peneliti, dokumentator budaya, dan kreator konten Dayak generasi baru.

Pengetahuan tradisional yang selama ini hanya diwariskan secara lisan dapat diubah menjadi buku, jurnal penelitian, film dokumenter, hingga konten digital yang dapat diakses masyarakat internasional.

Rumah Buku Dayak juga dapat menjadi ruang kolaborasi antara intelektual kampus dan intelektual kampung. Peneliti akademik dapat bekerja bersama tokoh adat, seniman, dan masyarakat lokal untuk mendokumentasikan berbagai pengetahuan yang selama ini belum banyak ditulis.

Pendekatan seperti ini penting karena banyak aspek budaya Dayak yang sebenarnya sangat kaya, tetapi belum terdokumentasikan secara memadai. Pengetahuan tentang hutan, pertanian tradisional, tanaman obat, hukum adat, hingga filosofi hidup masyarakat Dayak memiliki nilai penting, baik secara budaya maupun akademik.

Rumah Buku Dayak diharapkan tidak hanya menjadi simbol fisik, tetapi juga menjadi pusat produksi pengetahuan Dayak di era modern.

Warisan Dayak untuk Dunia

Pada bagian akhir presentasinya ditegaskan bahwa Rumah Buku Dayak berdiri bukan semata-mata karena bangunannya, melainkan karena adanya restu dan dukungan penuh masyarakat Dayak.  Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan utama gerakan literasi Dayak terletak pada keterlibatan masyarakat itu sendiri.

Dalam tradisi Dayak, berbagai pekerjaan besar selalu dilakukan secara bersama-sama. Semangat kolektif itu pula yang menjadi dasar lahirnya Rumah Buku Dayak.

Tagline “Warisan Kita Untuk Dunia”  memperlihatkan bahwa budaya Dayak dipandang bukan hanya sebagai identitas lokal, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan peradaban dunia.

Istilah “Ari Bansa Dayak Ngerembai ke Dunya” dapat dimaknai bahwa masyarakat Dayak kini sedang memperluas perannya ke tingkat global. Di era keterbukaan informasi saat ini, masyarakat adat tidak bisa hanya berada di ruang-ruang lokal. Dayak dituntut hadir dalam percakapan dunia melalui pendidikan, literasi, penelitian, teknologi, dan publikasi.

Karena itu, tantangan masyarakat Dayak hari ini bukan hanya mempertahankan adat dan tradisi, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas budaya.

Generasi muda Dayak perlu menguasai teknologi digital, media informasi, dan dunia pengetahuan modern. Pada saat yang sama, mereka tetap harus memahami akar sejarah dan nilai budaya mereka sendiri.

Baca Simbol Burung Enggang yang Mengibarkan Harapan Literasi Dayak

Dalam konteks inilah Rumah Buku Dayak menjadi penting. Kehadirannya diharapkan menjadi pusat pengembangan literasi, dokumentasi budaya, dan transformasi pengetahuan Dayak ke dalam bentuk modern yang dapat diakses generasi masa depan.

Rumah Buku Dayak tidak hanya berbicara tentang masa lalu masyarakat Dayak. Lebih dari itu, ruma buku ini mengantar masyarakat Dayak mempersiapkan masa depannya sendiri di tengah perubahan dunia yang terus berlangsung.
Penulis Masri Sareb Putra

0 Comments

Type above and press Enter to search.