Rebung Bonti: Ketika Kearifan Lama Bertemu Peluang Baru (2)
| Bambu dan rebung Bonti: keunggulan bersaing lokal. Ist. |
Pagi masih muda ketika saya menyusuri sudut-sudut kota kecil Bonti. Mata menangkap pemandangan unik lagi khas: ada rumpun bambu, di sela-sela tanaman rumahan lain.
Embun belum sepenuhnya terangkat dari dedaunan. Di kejauhan. Hamparan rumpun bambu berdiri rapat. Hijau. Teduh. Menjadi bagian dari lanskap yang akrab bagi masyarakat setempat.
Baca Rebung Bonti yang Digarami Pak Alui : Citarsa tak ada Duanya (1)
Ketika asyik menikmati suasana pagi itu. Telepon seluler saya berdering. Dari seberang sana terdengar suara yang ramah dan akrab.
"Halo! Om di mana?" tanya Nery. Salah seorang panitia Gawai Nosu Minu Podi Bonti 2026.
Saya tersenyum. Sapaan itu terdengar hangat. Tidak sekadar formalitas kepanitiaan. Ada nuansa kekeluargaan yang khas dalam kehidupan masyarakat Dayak. Dari be-purih (hitung ulang sillisah) di rumah Hendhry Ayes siang kemaren. Ternyata Nery adalah ponakan saya.
Berkeling Bonti, mengamati "dari dalam"
Saya seorang yang serba-ingin tahu. Manusia yang tidak puas hanya berdiri di tepi makna. Saya cenderung mengamati “dari dalam”. Mencoba masuk ke ruang pengalaman orang lain. Meraba cara mereka memberi arti pada dunia yang mereka hidupi. Emic, istilah kerennya dalam tradisi Grounded Theory (GD).
Sekadar untuk pengetahuan. Bahwa dalam GD, peneliti bukan sebatas label metodologis. Tapi lebih merupakan sikap. Di mana seseorang menanggalkan jarak. Menahan godaan untuk cepat menghakimi dari luar. Membiarkan makna tumbuh dari dalam konteks itu sendiri. Mengosongkan hati dan pikiran untuk menerima dan menyerap hal baru.
Dari situ muncul isi baru. Dari lapangan (grounded). Bukan dari asumsi. Teori ini sudah saya kuasai. Sudah saya pahami cukup dalam. Dan saya gunakan dalam penelitian disertasi.
Dalam posisi itu, saya belajar bahwa pengetahuan tidak selalu datang sebagai kesimpulan yang rapi. Namun lahir dari sebuah proses yang berantakan, cair, dan kadang saling bertabrakan. Tapi justru di situlah ia menjadi hidup.
Baca Dominikus, Camat Bonti dan Potensi Nilai Ekonomi Rebung Lokal
Maka sejak pagi saya memang berkeliling Bonti. Menyusuri jalan-jalan kecamatan yang kontur tanahnya tidak rata. Naik turun mengikuti lekuk perbukitan yang membentuk bentang alam wilayah ini.
Kawasan yang relatif datar hanya terdapat di sepanjang tepian Daerah Aliran Sungai Sekayam. Di sanalah aktivitas masyarakat berlangsung lebih ramai. Sementara pada bagian lain. Hamparan kebun sawit mendominasi pemandangan.
Namun Bonti bukan hanya sawit. Di sejumlah tempat masih tampak pohon-pohon kelapa yang tumbuh menjulang. Dan yang paling menarik perhatian saya adalah rumpun-rumpun bambu yang tetap bertahan di belakang rumah warga. Di tepian sungai. Di batas kebun. Maupun di sudut-sudut kampung.
Bambu hadir tanpa banyak bicara. Namun keberadaannya seperti denyut nadi yang diam-diam menopang kehidupan masyarakat.
Kearifan Lama yang Masih Tersisa
Pemandangan rumpun bambu itu mengingatkan saya pada diskusi sehari sebelumnya dalam sebuah seminar di Bonti.
Di hadapan peserta. Saya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana.
"Orang Dayak zaman dahulu kala. Jika ada tiga rebung dalam satu rumpun. Maka hanya dua yang diambil. Satu lagi dibiarkan tumbuh menjadi bambu. Apakah kebiasaan ini masih berlaku hingga hari ini?"
Ruangan sejenak hening. Sebagian peserta tersenyum. Sebagian lainnya mengangguk perlahan.
Baca Karakter Baik Orang Bonti sebagai Modal Sosial dan Finansial
Pertanyaan itu bukan sekadar soal rebung. Pertanyaan tersebut menyentuh cara pandang masyarakat Dayak terhadap alam. Nenek moyang mereka memahami bahwa hutan bukan hanya untuk hari ini. Melainkan juga untuk anak cucu.
Karena itu. Tidak semua yang tersedia harus diambil. Selalu ada bagian yang harus ditinggalkan agar alam dapat memperbarui dirinya sendiri.
Dalam konteks bambu. Kearifan itu sangat masuk akal. Jika seluruh rebung dipanen. Maka rumpun bambu akan kehilangan regenerasinya. Sebaliknya. Jika sebagian dibiarkan tumbuh. Maka siklus kehidupan bambu akan terus berlangsung.
Kearifan semacam ini mungkin tidak pernah ditulis dalam buku-buku akademik. Namun hidup dalam praktik sehari-hari masyarakat. Dari generasi ke generasi.
Dari Rebung Dapur Menjadi Produk Bernilai
Selama bertahun-tahun. Rebung hanya menjadi bagian dari menu rumah tangga masyarakat Bonti. Sebagian dijual dalam keadaan segar ke pasar tradisional. Harganya tidak tinggi. Bahkan sering kali tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan untuk memanen dan mengangkutnya.
Masalah utama terletak pada daya simpannya. Rebung cepat rusak setelah dipanen. Jika tidak segera diolah. Kualitasnya menurun dan harga jualnya ikut merosot.
Keadaan itu berlangsung cukup lama. Hingga muncul kesadaran baru di tengah masyarakat. Mengapa rebung hanya dijual mentah? Mengapa tidak diolah agar memiliki nilai tambah?
Pertanyaan tersebut menjadi titik awal berbagai eksperimen.
Masyarakat mulai mencoba mengolah rebung menjadi produk kering. Rebung dibersihkan. Diiris tipis. Kemudian dikeringkan agar lebih tahan lama. Hasilnya cukup menjanjikan. Rebung kering lebih mudah disimpan. Lebih mudah dibawa. Dan memiliki peluang pasar yang lebih luas.
Keberhasilan itu mendorong lahirnya inovasi berikutnya. Rebung diolah menjadi keripik.
Prosesnya tidak mudah. Dibutuhkan berbagai percobaan untuk menemukan rasa yang tepat. Tekstur yang renyah. Dan kualitas yang dapat diterima konsumen.
Ada produk yang gagal. Ada yang kurang diminati pasar. Namun masyarakat tidak menyerah. Mereka terus belajar. Terus memperbaiki kualitas. Hingga akhirnya keripik rebung menjadi salah satu produk unggulan yang mulai dikenal masyarakat luas.
Ketika Bambu Mendatangkan Cuan
Perubahan yang terjadi di Bonti menunjukkan bahwa nilai ekonomi tidak selalu lahir dari sesuatu yang baru. Kadang-kadang. Potensi terbesar justru berasal dari apa yang selama ini dianggap biasa.
Bambu adalah contoh nyata.
Selama puluhan tahun. Ia tumbuh di belakang rumah warga. Di tepi sungai. Di batas kebun. Menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari tanpa banyak diperhitungkan sebagai sumber ekonomi.
Kini keadaan mulai berubah. Masyarakat melihat bambu dari sudut pandang yang berbeda. Bukan hanya sebagai bahan bangunan atau tanaman pelengkap halaman. Melainkan sebagai sumber daya yang mampu menghasilkan nilai tambah.
Rebung yang dahulu hanya menjadi sayur dapur kini diolah menjadi produk komersial. Sebagian dikeringkan sebagai oleh-oleh khas. Sebagian diolah menjadi keripik. Dan bukan tidak mungkin. Di masa depan akan lahir produk-produk lain yang lebih beragam.
Yang menarik. Transformasi ini tidak meninggalkan kearifan lama. Justru sebaliknya. Semangat keberlanjutan yang diwariskan leluhur menjadi fondasi penting dalam pengembangan ekonomi bambu di Bonti.
Karena itu. Kisah rebung Bonti bukan semata-mata cerita tentang makanan atau usaha kecil. Ini adalah cerita tentang bagaimana masyarakat menemukan kembali nilai dari sumber daya yang telah lama berada di depan mata.
Baca Rumah Betang "Piri Juru" Jadi Simbol Persatuan Dayak di Kecamatan Bonti
Dari rumpun bambu yang tumbuh alami. Dari rebung yang dahulu dipandang biasa. Kini tumbuh harapan baru. Harapan yang memberi penghasilan. Membuka peluang usaha. Dan pada saat yang sama mengajarkan bahwa alam harus dimanfaatkan tanpa kehilangan keseimbangannya.
Penulis Masri Sareb Putra
(Bersambung)
0 Comments