IKN dan Dayak sebagai Penduduk Lokal yang Ditinggalkan
IKN dan Dayak yang ditinggalkan. Sumber gambar: FB IKN. |
Di peta, tanah bisa ditarik dengan garis. Di atas meja rapat, ia dapat dihitung dalam hektare. Namun, bagi orang Dayak, tanah tidak pernah berhenti sebagai sebidang ruang.
Di sana ada nama-nama leluhur yang tak lagi disebut. Ada jejak kaki yang hilang ditelan musim. Ada kubur yang dijaga hening. Ada hutan yang menjadi doa tanpa kata. Tanah bukan sekadar milik. Tanah adalah ingatan yang berakar.
Baca Angeline Fremalco: Politisi Dayak, Pemimpin Perempuan, dan Penggerak Pelayanan Sosial
Karena itu, ketika Ibu Kota Nusantara (IKN) tumbuh dengan segala kemegahan yang dijanjikan, pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah berapa tinggi gedung akan didirikan atau seberapa canggih teknologi akan dipasang.
IKN dan penduduk asli yang ditinggalkan
Pertanyaannya jauh lebih sederhana, sekaligus lebih sukar dijawab: Masihkah mereka yang sejak ratusan tahun menjaga Borneo dipandang sebagai pemilik rumah, atau hanya menjadi tamu yang diminta bergeser pelan-pelan dari halaman sendiri?
Pembangunan selalu membawa bahasa. Sayangnya, bahasa kekuasaan kerap kehilangan kelembutan. Ketika keraguan para aparatur sipil negara dijawab dengan ejekan, yang terluka bukan hanya mereka yang enggan pindah. Yang retak adalah keyakinan bahwa negara masih bersedia mendengar sebelum memerintah. Kata-kata yang merendahkan tidak berhenti sebagai bunyi. Ia menjelma menjadi cara memandang manusia.
Baca Cornelis Dipercaya Masuk Panja Kawal Pembahasan RUU Pertanggungjawaban APBN 2025 di DPR RI
Orang Dayak memahami bahwa berpindah tempat bukan hanya sebatas memindahkan tubuh. Yang berpindah adalah sejarah, kebiasaan, makam keluarga, sungai tempat anak-anak belajar berenang, dan pohon-pohon yang mengenali nama setiap musim.
Rumah baru dapat dibangun dalam hitungan bulan. Akan tetapi, rasa memiliki memerlukan waktu sepanjang beberapa generasi. Tidak ada apartemen yang dapat menggantikan akar.
Borneo bukan tanah kosong yang menunggu disentuh pembangunan. Pulau ini telah lama memiliki penjaga. Mereka membuka ladang tanpa memusuhi hutan, menamai sungai tanpa menguasainya, dan hidup bersama alam tanpa merasa menjadi pemilik tunggal.
Di tangan masyarakat adat, hutan bukan sebatas sumber ekonomi. Hutan adalah ruang hidup yang menyimpan etika, pengetahuan, dan cara memandang dunia.
Dayak yang ditinggalkan
Ironisnya, penduduk yang paling lama menjaga tanah justru paling sering diminta membuktikan haknya atas tanah itu. Mereka diminta menunjukkan sertifikat untuk sesuatu yang diwariskan jauh sebelum republik ini lahir. Mereka diminta memahami logika pembangunan, sementara pembangunan sering kali tidak berusaha memahami logika mereka.
Baca Hetty Kus Endang: Menganyam Warisan Dayak melalui Kain Pantang dan Pemberdayaan Perempuan
Barangkali inilah kesedihan terbesar Borneo. Yang dipertaruhkan bukan hanya bentang alamnya, melainkan martabat orang-orang yang telah menjadikan pulau ini tetap bernapas. Jika suara mereka makin pelan di tengah deru alat berat, maka yang hilang bukan sekadar hutan. Yang hilang adalah kesaksian bahwa negeri ini pernah dibangun di atas penghormatan kepada mereka yang lebih dahulu ada.
Orang datang ke Kalimantan bukan hanya untuk melihat gedung-gedung baru. Mereka mencari sungai yang masih mengalir jujur, hutan yang masih menyimpan burung enggang, rumah panjang yang masih menghidupi cerita, dan masyarakat yang masih tersenyum tanpa kehilangan harga diri. Pariwisata lahir dari keaslian, bukan dari pencitraan. Dunia ingin menyaksikan Borneo apa adanya, bukan Borneo yang kehilangan dirinya sendiri.
Baca Nicholas anak Gani: Arkeolog Dayak di Pentas Dunia
Mungkin kelak IKN akan berdiri megah. Jalan-jalannya lebar. Lampunya terang. Sistemnya cerdas. Namun sejarah selalu mengajukan pertanyaan yang tidak pernah dapat dijawab oleh beton. Apakah kemajuan itu dibangun bersama mereka yang memiliki tanah ini, atau justru di atas kesunyian mereka?
Kota yang berdiri di atas semen akan ditinggalkan
Sebuah ibu kota tidak hanya berdiri di atas fondasi semen. Suatu kota berdiri di atas kepercayaan. Adapun kepercayaan hanya tumbuh ketika negara tidak lupa menyapa dengan hormat mereka yang sejak awal telah menjadi pemangku, penjaga, sekaligus pemilik ingatan atas tanah Borneo.
Jika yang tersisa bagi orang Dayak hanyalah kenangan tentang tanah yang perlahan menjauh dari genggaman mereka, maka IKN mungkin berhasil menjadi ibu kota baru. Namun, ia gagal menjadi rumah bersama.
Penulis: Apen Panlelugen
0 Comments