| Poline Bala, Prof. Dr. Perempuan Kelabit yang cerdas dan bernas. Sumber gambar: https://expert.unimas.my/profile/355 |
Prof. Dr. Poline Bala, putri Kelabit dari Bario, Sarawak, menembus Cambridge dan menjadi salah satu cendekiawan Dayak paling berpengaruh di dunia.Melalui antropologi, penelitian Borneo, dan inovasi e-Bario, oline Bala menjembatani pengetahuan adat dengan teknologi modern serta mengangkat perspektif masyarakat Dayak ke panggung akademik internasional.
Kehidupan Awal
Di peta dunia, Bario mungkin hanya sebuah titik kecil di
Dataran Tinggi Kelabit, Baram, Sarawak. Letaknya jauh di pedalaman Pulau
Borneo, dikelilingi pegunungan, hutan hujan tropis, dan lembah-lembah yang
selama berabad-abad menjadi ruang hidup masyarakat Kelabit.
Namun, dari kawasan
terpencil itulah lahir seorang perempuan Dayak yang kelak mengubah cara dunia
akademik memandang masyarakat adat Borneo. Ia adalah Prof. Dr. Poline Bala,
putri Kelabit yang membuktikan bahwa batas geografis tidak pernah mampu membatasi
keluasan cita-cita dan kecemerlangan intelektual.
Baca Senarai Penulis Dayak dan Bukunya Capai 1.183 Judul : Hasil Citizen Research WAG Literasi Dayak
Poline Bala lahir pada 5 Juni 1969 di Pa Umur, Bario. Masa
kecilnya dijalani dalam kehidupan masyarakat yang masih sangat dekat dengan
alam. Ia tumbuh di tengah tradisi rumah panjang, budaya gotong royong,
cerita-cerita para tetua, serta nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun.
Dari
lingkungan itulah ia belajar bahwa hutan bukan sekadar sumber kehidupan,
melainkan ruang budaya; bahwa adat bukan sekadar kebiasaan, melainkan sistem
pengetahuan yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Pengalaman hidup di pedalaman meninggalkan jejak mendalam
dalam cara berpikirnya. Ketika banyak orang melihat kawasan pedalaman sebagai
wilayah yang tertinggal, Poline justru melihatnya sebagai ruang yang kaya
pengetahuan. Kesadaran itulah yang kemudian menjadi benang merah seluruh
perjalanan akademiknya: membuktikan bahwa masyarakat Dayak bukan sekadar objek
penelitian, melainkan pemilik pengetahuan yang layak menjadi sumber ilmu
pengetahuan dunia.
Baca Literasi Dayak yang Lebih Tua dari Sekolah dan Taman Bacaaan
Pendidikan formal ditempuhnya di Bario Primary School dan
Bario Lower Secondary School sebelum melanjutkan ke Kolej Tuanku Haji Bujang di
Miri. Ketekunan belajar membawanya diterima di Universiti Malaya. Pada 1994 ia
meraih gelar Bachelor of Arts (Honours) bidang Southeast Asian Studies dengan
predikat Second Class Upper.
Keingintahuan yang besar terhadap masyarakat Asia
Tenggara membawanya melanjutkan studi ke Cornell University, Amerika Serikat,
dan memperoleh gelar Master of Arts dalam bidang Asian Studies pada 1998.
Puncak pendidikan akademiknya diraih di University of Cambridge, Inggris,
ketika memperoleh gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) dalam bidang Antropologi
Sosial pada 2008.
Disertasinya bertajuk "Desire for Progress: The Kelabit Experience
with Information Communication Technologies (ICTs) for Rural Development in
Sarawak, East Malaysia" menjadi tonggak penting dalam kajian antropologi
pembangunan.
Melalui penelitian akademik itu yang kuat, Poline menunjukkan bahwa teknologi modern
tidak harus mengikis identitas budaya. Sebaliknya, apabila dirancang dengan
menghormati kebutuhan masyarakat lokal, teknologi justru dapat memperkuat
kehidupan masyarakat adat.
Profesi dan Bidang Keahlian
Sekembalinya ke tanah air, Prof. Dr. Poline Bala memilih
mengabdikan seluruh kemampuan intelektualnya di Universiti Malaysia Sarawak
(UNIMAS). Ia berkembang sebagai dosen, peneliti, hingga akhirnya dikukuhkan
sebagai Profesor Antropologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora.
Kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin Institute of Borneo Studies
(Institut Kajian Borneo) menegaskan reputasinya sebagai salah seorang ilmuwan
paling otoritatif dalam kajian masyarakat Borneo.
Baca 101 Tokoh Dayak: Orang Dayak Menulis Sejarahnya Sendiri
Karier akademiknya tidak hanya diukur dari jabatan, tetapi
terutama dari kontribusinya dalam memperluas horizon ilmu pengetahuan tentang
Dayak. Ia pernah menjabat Ketua Departemen Antropologi dan Sosiologi UNIMAS,
Deputi Direktur Centre of Excellence in Rural Informatics, Research Fellow pada
Institute of Social Informatics and Technological Innovations, serta Ketua
Editor Journal of Borneo Kalimantan. Kiprahnya juga diakui secara internasional
ketika menjadi Visiting Scholar di Centre for World Austronesia and Indigenous
Peoples, National Tsing Hua University, Taiwan. Kini ia memimpin Indigenous
Digital-Environment System Coalition yang didukung UNESCO Chair in ICT for
Development.
Bidang kepakarannya meliputi antropologi sosial, masyarakat
adat, identitas Dayak, studi perbatasan, pembangunan pedesaan, teknologi
informasi dan komunikasi untuk pembangunan (ICT for Development), warisan
budaya, serta pengetahuan tradisional Borneo. Dalam seluruh karya ilmiahnya, ia
konsisten menggunakan perspektif masyarakat adat sebagai titik berangkat.
Baginya, pembangunan tidak boleh dipaksakan dari luar, melainkan harus bertumpu
pada pengalaman, nilai, dan kekuatan komunitas itu sendiri.
Baca Iban Dream dan Pelajaran dari MURI
Salah satu kontribusi terbesarnya adalah keterlibatan
sebagai perintis e-Bario, program kemitraan antara universitas dan masyarakat
yang menghadirkan akses internet ke kawasan pedalaman Kelabit. Program yang
telah berlangsung lebih dari dua dekade itu kemudian menjadi rujukan
internasional tentang bagaimana teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan
kualitas hidup masyarakat adat tanpa mengorbankan identitas budaya mereka.
Pengalaman tersebut diperluas melalui pembangunan jaringan telecentre bagi masyarakat
Orang Asli di Semenanjung Malaysia yang menjangkau lebih dari dua puluh desa
terpencil.
Di sisi lain, Poline Bala juga aktif mendokumentasikan
tradisi lisan, situs-situs megalitik, sejarah migrasi masyarakat Kelabit,
perubahan sosial di kawasan perbatasan Borneo, hingga dinamika identitas Dayak
dalam menghadapi globalisasi.
Penelitian-penelitian Poline Bala memperlihatkan bahwa
masyarakat adat memiliki modal sosial, pengetahuan ekologis, dan kearifan lokal
yang sangat relevan bagi pembangunan berkelanjutan pada abad ke-21.
Legasi dan motivasi
Prof. Dr. Poline Bala telah menunjukkan bahwa seorang anak
Dayak dari pedalaman Bario dapat menembus universitas-universitas terbaik dunia
tanpa harus meninggalkan akar budayanya. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang
diraihnya, semakin kuat pula komitmennya untuk kembali mengabdi kepada
masyarakat yang membesarkannya. Itulah yang membedakan perjalanan
intelektualnya. Menara gading tidak menjauhkannya dari kampung halaman; justru
menjadi tempat untuk memperjuangkan suara masyarakat adat agar didengar dunia.
Baca Alena Murang: Penjaga Warisan Sape' dan Suara Dayak Kelabit di Pentas Dunia
Legasi terbesarnya terletak pada keberhasilannya mengubah cara pandang dunia akademik terhadap masyarakat Dayak. Selama bertahun-tahun, masyarakat adat kerap diposisikan sebagai objek penelitian. Melalui karya-karya ilmiahnya, Poline Bala memperlihatkan bahwa masyarakat Dayak adalah produsen pengetahuan, pemilik tradisi intelektual, dan mitra sejajar dalam membangun ilmu pengetahuan. Ia berhasil menjembatani tradisi dengan modernitas, antropologi dengan teknologi digital, serta pengetahuan lokal dengan percakapan akademik global.
Bagi generasi muda Dayak, perjalanan hidup Prof. Dr. Poline
Bala merupakan pesan yang sederhana tetapi sangat kuat: jangan pernah merasa
kecil karena berasal dari pedalaman. Ilmu pengetahuan dapat membawa seseorang
menjelajahi dunia, tetapi jati diri akan selalu mengingatkan dari mana ia
berasal. Dari Bario ia berangkat, ke Cambridge ia menimba ilmu, lalu kembali ke
Borneo untuk membangun tanah leluhurnya.
Baca Gregorius Herkulanus Bala: Kepemimpinan yang Tumbuh dari Pengabdian
Dalam perjalanan itulah, Prof. Dr.
Poline Bala telah menegaskan bahwa kecerdasan sejati bukan hanya diukur dari
gelar akademik yang disandang, melainkan dari kemampuan menggunakan ilmu bagi
kemajuan masyarakat. Ia bukan sekadar guru besar antropologi, melainkan penjaga
ingatan kolektif, penyambung suara masyarakat adat, dan salah seorang
cendekiawan Dayak yang telah mengangkat martabat Borneo di mata dunia.
Periset dan penulis │ Masri Sareb Putra
0 Comments